
"Kalo kakak bilang kamu yang nyosor duluan gimana? Percaya?" Ucap Samudra setengah berbisik.
Rona merah kembali menghias pipi Samantha. Netranya membulat menatap pria itu. Bibirnya pun mengerucut lucu, seperti biasa.
"Tapi kakak nggak ngapa-ngapain Sammy kan?"
"Kalo kamu yang ngapa-ngapain kakak gimana?" Samudra menyeringai.
"Nggak mungkin!"
"Kenapa enggak?" timpal Samudra lagi. Rasanya ia belum puas menggoda dan ngerjain gadisnya itu.
"Kakak ih....! Jawab! Semalam kita nggak ngapa-ngapain kan?"
Samudra diam, menatap tajam ke arah gadis yang saat ini tengah berdiri di hadapannya dengan tatapan seolah memohon dirinya untuk berkata 'tidak'.
"Hahahaha!" Tawa Samudra mendadak pecah.
"Kok malah ketawa sih?!"
"Habisnya lucu liat ekspresi ketakutan kamu." Samudra masih terkekeh kecil.
"Kakak jahat ih...!" kerucut Samantha. Ia melipat kedua lengannya sebatas pinggang sembari membelakangi Samudra.
"Okey-okey kakak minta maaf. Habisnya kamu rakus, minum nggak diliat-liat dulu."
"Kakak yang salah! Ngapain juga naruh kaleng bir sembarangan, hm?! Lagian katanya udah berhenti minum alkohol?" gadis itu tetap mengerucut sebal. Sampai Samudra memutar tubuh rampingnya ia tetap saja cemberut dengan kedua netra yang membola tajam.
"Iya kakak minta maaf."
"Nggak mau!"
"Terus, maunya apa biar kakak dimaafin?" Samudra menatap ke arah Samantha dengan tatapan serius. Kedua tangan besarnya memegang erat dua bahu Samantha.
"Jangan lagi minum bir, wiski, wine, tequila atau minuman yang bikin mabok lainnya!"
"Iya, kakak janji!"
"Janji?!"
"Hm," angguk Samudra mantap.
"Tapi---semalam kita nggak ngapa-ngapain kan?"
"Kalo ngapa-ngapain emang kenapa, hm?" Goda Samudra.
"Kakak....!!"
"Hahahaha!"
.....
Seharian ini Samantha mengurung diri di kamar. Menghabiskan waktunya bersama Meo. Ia hanya keluar kamar untuk sarapan, itu saja ia harus mengendap-endap seperti pencuri di rumahnya sendiri. Demi apapun ia masih merasa malu jika bertemu Samudra. Alkohol sialan! hanya karena minum minuman kaleng yang ia tidak ketahui kalau itu alkohol, dirinya jadi mabuk dan berperilaku aneh. Tapi masak sih dia nyosor duluan?
"Meo! Huhuhu masa aku gitu sih? Nyosor kak Am duluan? Riil kah?
Kucing itu hanya melirik Samantha kemudian kembali sibuk menjilati bulu-bulu halusnya, tanpa berniat me-ngeong untuk menjawab.
"Pasti kak Am bohong, kan?" Samantha mendengus sedih.
Melihat jam yang ada di layar handphonenya, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Entah kenapa tiba-tiba saja dirinya merasa haus, Samantha memutuskan untuk bangkit dan keluar dari dalam kamarnya. Ia melangkah ke dapur. Suasana rumah besar itu sudah sepi. Beberapa lampu ruangan sudah dimatikan. Walau keluarganya sangat kaya raya, tapi harus tetap menghemat energi untuk menyelamatkan bumi dari krisis energi. Mungkin bibik dan mbak Pur serta para ART lainnya sudah masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.
__ADS_1
Ditinggal Maya dan Samuel ke London tentu saja bukan hal baru buat Samantha. Namun entah kenapa malam ini ia merasa kesepian. Ditambah lagi Benua yang juga ikut-ikutan menyusul kedua orang tuanya ke London. Kembaran-nya itu benar-benar sudah yakin memutuskan bersekolah di kota indah bak negeri dongeng tersebut.
Haduh kenapa sepi banget sih malam ini? batin Samantha. Ia lalu meneguk minumannya dengan cepat hingga menghabiskan tanpa sisa air putih di dalam gelas kacanya. Samantha tidak mau ceroboh lagi meminum minuman dalam kaleng, alih-alih minuman soda. Ia takut jika bir yang ia minum seperti kejadian semalam.
Dipertengahan kegiatannya, Samantha dibuat terkejut lantaran mendengar sesuatu yang entah darimana asalnya.
Samantha menghela napas panjang, "Cuma ambil minum kok. Beneran, jangan gangu ya." Gumamnya sendiri. Padahal biasanya ia tidak pernah merasa ketakutan seperti ini di rumahnya sendiri.
Dengan jantung yang berdegup kencang, ia mencoba mencari tahu suara apa yang barusan ia dengar.
Jangan-jangan maling? batin Samantha. Bisa jadikan? Rumah keluarga Perdana ini besar sekali. Mendeskripsikan keluarga yang sultan banget! Bisa saja ada orang jahat yang berniat mencuri atau merampok? Eh tapi di luar kan ada dua orang security yang berjaga?
Samantha mengibaskan pelan kepalanya, mencoba kembali mengumpulkan sisa keberaniannya untuk mencari tahu suara apa yang barusan tadi.
Suara itu tidak berhenti, malah jika ia dengarkan seksama, suara itu mirip seperti suara air yang tertimpa sesuatu. Samantha otomatis menoleh ke arah kolam renang indoor yang terletak di ruangan paling belakang. Kembali dengan jantung yang berdegup kencang, Samantha perlahan melangkah mendekat. Apa iya setan main air? batinnya.
Saat gadis itu mulai mendekat ke arah kolam renang indoor, ia mulai bersiap-siap teriak. Entah yang dijumpai nantinya beneran pencuri atau hantu. Tapi teriakannya kembali ia telan saat mendapati sosok pria yang tengah mengayunkan tangan dan kakinya di dalam air kolam renang.
"Kak Am?"
Astaga! benar kan itu kak Am?
Mendengar namanya dipanggil, pria itu lantas berhenti ketika sudah berada di tepian kolam renang. Ia pun menyugar rambutnya ke belakang, mengusap wajahnya yang basah, kemudian ia menoleh.
"Belum tidur?" Tanyanya pada gadis yang hanya mengenakan hotpants serta atasan tank-top yang tengah berdiri dengan jarak tiga langkah dari tepi kolam.
"Kak Am ngapain di sini?" Alih-alih menjawab pertanyaan Samudra, gadis itu malah balas bertanya.
"Renang lah, emang ngapain lagi?"
"Iya tau renang, tapi kenapa malem-malem gini? Nggak dingin emang? Kenapa nggak besok pagi aja? Atau siang? Atau sore kek? Masuk angin biar tau rasa!" cibir Samantha.
"Seger airnya, cobain sini."
"Nggak! Nggak usah macem-macem!" Samantha menggeleng dan melangkah mundur. Seolah-olah menghindari Samudra yang bisa saja meraih tubuhnya dan membawanya ke dalam kolam renang. Padahal ia sendiri tahu jika hal itu tidak mungkin, jarak Samudra yang lumayan jauh darinya tidak bakal memungkinkan pria itu untuk melakukannya.
"Emang sejak kapan kakak pulang dari rumah sakit? Kok aku nggak denger?"
"Kamu sibuk menghindari kakak sih, makanya kakak datang kamu ngga tau."
Samantha merasa tidak enak hati, rupanya pria itu sadar kalau saat ini dirinya memang tengah menghindar darinya karena malu atas kejadian kemarin malam.
"Beneran kamu nggak mau berenang malem?" Tanya Samudra untuk kembali memastikan.
"Nggak mau!, aku sih tim berenang pagi atau siang." Kata gadis itu kekeh dengan pendiriannya. "Emang kalo aku nyemplung trus ntar besoknya kalo aku sakit, emang kakak mau tanggung jawab?"
"Iya, ntar kakak yang tanggung jawab."
Samantha berdecak, lihat! Samudra bahkan selalu bisa membalas semua perkataannya. Menyebalkan sekali!
"Weh...! Kakak mau ngapain?"
Samudra tersentak kaget mendengar ucapan Samantha, sehingga dia mengurungkan niatnya yang hendak keluar dari dalam air. Sontak saja kedua tangannya menjadi tumpuan di tepian kolam renang.
"Mau ambil handuk."
"Eh-eh-eh! Biar Sammy aja yang ambilin, yang mana handuknya? Ini?"
Samudra tergelak melihat gadis itu yang heboh sendiri. Ia tidak tau saja kalau Samantha tengah menahan diri dari segala tindakan salah tingkahnya akibat perut sixpack dan dada bidang telanjang Samudra yang hampir terpampang nyata di depan matanya.
__ADS_1
Selalu bisa membuat Samantha menelan ludahnya sendiri saat melihat penampakan Samudra yang seperti itu. Bahkan otak kotornya kini bermain-main riang di benaknya.
Pokonya setelah menyerahkan handuk putih di tangannya dia harus segera pergi dari situ. Itu niatnya semula.
Sayangnya Samantha lupa jika sang kakak angkat adalah sosok pria titisan dewa yang dipenuhi oleh segala kelicikan dan akal bulus jika sedang bersamanya.
Samudra memang mengambil handuk yang diserahkan padanya. Namun tanpa Samantha duga, Samudra tiba-tiba saja menarik lengannya dengan cepat. Memanfaatkan kelengahan Samantha. Sebelah tangan Samudra yang lain digunakan untuk mencekal pergelangan tangan Samantha dan menariknya hingga tercebur.
Byurr...!
Spontan Samantha terkaget, air memercik ke segala arah saat gadis itu tercebur. Samantha yang merasa tidak siap berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya. Ia menggerakkan tangan ke sana kemari agar tidak tenggelam.
Melihat gadisnya yang gelagapan di dalam air, Samudra dengan sigap meraih tubuh gadis itu. Menariknya hingga ke tepi kolam renang, membiarkan lehernya dipeluk erat oleh Samantha.
Samudra membantu mengusap wajah Samantha yang basah dan menyingkirkan rambut panjang yang menutupi sebagian wajah gadis itu.
"Kakak ih....!!" kerucut Samantha.
"Udah dibilangin aku nggak mau nyemplung! Jahat!" gadis itu masih saja mengerucut sebal, matanya bahkan melirik kesal ke arah Samudra. Anehnya bukannya merasa bersalah karena sudah membuat Samantha basah kuyup, pria itu malah terkekeh sembari mengusap puncak kepala Samantha.
"Seger kan airnya?"
"Seger, seger, mulutnya!" kerucut Samantha.
"Besok kalo aku kena flu gimana? Kakak mau tanggung jawab?"
Samudra terkekeh sembari menarik pipi Samantha dengan gemas.
"I will take care of you my princess..."
"Bohong! Kakak kan sibuk kerja terus."
"Kakak kerja kan buat masa depan kita juga."
"Eh?" Samantha mengerjapkan mata beberapa kali.
"Kakak nggak mau istri kecil kakak kesusahan nanti," bisik Samudra.
Ah ucapan pria itu selalu saja bisa membuat kedua pipinya merona.
"Ish, kakak jahat! Pokoknya aku aduin ke Mommy." Ucap Samantha salah tingkah. Hampir saja ia keluar dari dalam air, dengan tiba-tiba tangan Samudra kembali menarik salah satu lengannya. Samudra menahan tengkuknya dengan sebelah tangan dan sesuatu yang kenyal tepat berada di bibirnya. Samantha terkejut, matanya terbelalak. Tapi dengan cepat kesadarannya terkumpul saat merasakan Samudra menggerakkan bibirnya.
Memang bukan ciuman pertama dari Samudra buatnya, namun sapuan bibir lembut pria itu selalu menjadi sesuatu yang memabukkan bagi Samantha. Bahkan lebih memabukkan dari minuman kaleng ber-alkohol yang ia minum kemarin.
"Sammy," bisik Samudra. Perhatiannya kembali ia pusatkan pada wajah cantik gadis yang tengah basah kuyup dan kedinginan itu.
Samantha sendiri sudah tidak tahu harus ngomong apa, yang jelas jantungnya semakin ber-ritme cepat, dia bahkan tidak tahu harus berkata apa pada Samudra. Yang jelas, kakak angkatnya itu selalu membuatnya salah tingkah dan seperti orang bodoh.
Samudra mengusap pelan bibir Samantha dengan ibu jarinya. Mendekatkan wajah dan bibirnya seolah bersiap untuk merasakan kembali manis dari bibir gadis itu.
"That was what exactly we did last night in my room," bisik Samudra lagi.
"Kita hanya berciuman, just it. Janjiku masih berlaku, aku nggak akan pernah menyentuhmu lebih dari ini sebelum kita menikah." Ucap Samudra lagi.
"So, never avoid me again. Okey?" (Jadi jangan pernah menghindari aku lagi. Oke?)
Seolah tubuhnya membeku, Samantha hanya bisa mengangguk pelan. Netranya terus memandang wajah tampan Samudra.
Kembali perlahan pria itu mengulangi apa yang ia lakukan tadi, tanpa bisa lagi Samantha menolaknya.
to be continue...
__ADS_1