Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
After Prom


__ADS_3

Samudra memasuki ballroom khusus yang dimiliki oleh gedung SMA Unggulan. Ruangan itu terlihat begitu meriah berhias pernak-pernik khas pesta prom night pada umumnya. Pita-pita berwarna-warni, balon-balon berbentuk hati yang juga beraneka warna menarik dan juga gemerlap lampu disco menjadi pelengkap acara tersebut. Meski jam Rolex di pergelangan tangan Samudra menunjukan pukul sepuluh malam, kemeriahan pesta masih terlihat jelas. Buktinya masih banyak murid-murid kelas dua belas yang berkerumun sembari bercanda dengan teman-teman seangkatan meski dari kelas yang berbeda. Ada juga yang sebagian asik berdansa dengan pasangan masing-masing, mengikuti alunan lagu yang DJ sajikan.


Tampak juga beberapa guru SMA Unggulan berada di sekitar sana, mengawasi kelangsungan pesta perpisahan para murid-murid mereka. Pihak sekolah tentunya tidak ingin ada kejadian yang tidak diharapkan selama acara prom night tersebut.


Sebenarnya acara ini bukan yang pertama kalinya diadakan oleh pihak sekolah. Semenjak tahun 2015 acara ini sudah menjadi tradisi dari SMA Unggulan. Termasuk ketika dulu saat Samudra lulus dari sekolah tersebut. Kemeriahan yang sama bisa ia rasakan seperti beberapa tahun silam.


Netra Samudra berotasi ke sekeliling, mencari sosok gadis yang menjadi miliknya. Samudra mencari Samantha yang mengenakan gaun berbahan chiffon dengan aksen renda yang menjadi pemanis, gaun berwarna lilac tampak begitu anggun membalut tubuh indah Samantha. Bahkan sanggup membuat Samudra hampir meneteskan air liurnya saat ia menjemput gadisnya itu, Samudra melihat Samantha menuruni anak tangga mansion mereka dengan sangat menakjubkan. Bahan chiffon yang begitu ringan membuat gerakan anggun ketika gadis itu berjalan menuruni satu persatu anak tangga melingkar tersebut.


Samudra bahkan seperti melihat seorang bidadari yang turun dari khayangan. Lebih dari bidadari, bagi Samudra, Samantha lebih seperti malaikat buatnya.



"Kak Am!" seru sebuah suara yang sudah pasti ia hafal.


Ia berotasi mencari suara tersebut, hingga akhirnya seorang gadis yang sedari tadi ia cari-cari, kini ada di depan matanya. Rambut ikal yang tetap tergerai indah seperti saat ia mengantarnya tadi masih tampak begitu memukau. Membuatnya tampak bagai seorang princess


Samudra melayangkan senyuman sebelum ia berjalan mendekat ke arah gadis yang selama ini menjadi candunya.


"Acara di hotel kakek Baskoro udah selesai?" tanya Samantha begitu jarak keduanya semakin dekat.


Samudra mengangguk pelan, tersenyum sembari melihat sosok yang kini berdiri begitu dekat dengannya.


"Mau aku ambilin minum?" tawar Samantha.


"No thanks. Kamu di sini aja, kakak masih kangen sama kamu," bisik Samudra lembut dan selalu bisa membuat Samantha tersipu merona.


"Gimana prom-nya? Menyenangkan?"


Samantha mengangguk cepat. "Hm, sangat menyenangkan," jawabnya semangat.


"Udah dansa?" tanya Samudra lagi. Netranya menatap tajam saat menunggu jawaban dari Samantha.


"Aku belum berdansa dari tadi."


Samudra sekilas menarik napas lega. Senyum kecilnya pun tertarik sempurna saat mengetahui jika gadisnya ini benar-benar menunggunya.


"Why?" tanya Samudra memancing.


"Don't you ask me why. I'm waiting for you darling." Samantha menjawab sembari memutar bola matanya nakal.


Samudra lalu menjulurkan tangannya tepat di hadapan Samantha sembari sedikit membungkuk. "Would you dance with me, my princess?" ucap Samudra, persis seperti adegan film Cinderella yang sering Samantha lihat saat kecil dulu.


Samantha tersenyum melihat apa yang pria itu lakukan, ia pun menerima tangan Samudra dan menyatukan kedua telapak tangan mereka.


Keduanya lalu berdansa mengikuti alunan musik yang kebetulan saat itu ber-irama slow dan romantis.


Samantha terlihat tidak kesulitan sama sekali mengikuti gerakan Samudra, dengan anggun gadis itu dapat mengimbangi gerakan dansa Samudra. Keduanya saling menempelkan dada masing-masing, Samudra melingkarkan lengannya ke pinggang kecil Samantha dan menatap lembut manik mata coklat Samantha. Sesekali kecupan kecil ia daratkan di kening gadis kecilnya. Tentu saja Samudra berusaha menahan hasrat untuk mencium bibir gadis itu, Ia tidak ingin membuat heboh seluruh orang yang berada di sana. Terutama para pengajar dan pihak sekolah yang lain.


"Kakak berharap kita tidak sedang berada di prom sekolah." Samudra berbisik lembut. Sembari terus menggerakkan kedua tubuh mereka mengikuti alunan musik romantis, kedekatan keduanya tentu saja mendapat respon iri dari seseorang yang berdiri di seberang mereka.

__ADS_1


Sosok itu berdiri dengan mengepalkan telapak tangannya kuat. Netranya pun tampak melihat nyalang ke arah keduanya.


....


"Kakak malam ini balik ke apartemen?" tanya Samantha setelah keduanya sampai di depan halaman mansion mereka.


"Iya, maaf ya." Samudra menjawab dengan nada lemah.


"Sebenarnya pengen banget tidur di sini malam ini, tapi ada materi yang harus kakak siapin buat seminar besok." Samudra menjeda sebentar, memandang ke dalam manik mata gadis yang saat ini berada di sampingnya.


"Dan bahan-bahan materi itu ada di laptop kakak. Dan---sayang sekali laptop kakak ada di apartemen," lanjut Samudra.


"I'm sorry...." cicit Samudra penuh penyesalan.


"Iya, ngga papa kok."


Sejenak keadaan menjadi hening.


"Kamu kapan sih wisudanya?"


"Rabu besok, emang kenapa?" Samantha mengerutkan keningnya.


"Rabu besok ini?"


"Iya," angguk Samantha. "Emang kenapa sih kak?" kini gadis itu menatap Samudra penuh selidik.


"Ngga.... ngga papa," geleng pria itu.


"Ngga ada apa-apa, sayang..."


"Bohong!"


"Beneran!" Samudra terkekeh geli melihat ekspresi ke-kepo-an Samantha.


"Udah kamu masuk dulu gih, kasian Moms-Dad, mereka pasti nungguin kamu pulang."


"Hm," Samantha mengangguk.


"Kakak hati-hati di jalan ya. Jangan ngebut-ngebut." Samantha memanyunkan bibir lucu.


"Iya tuan putri..."


Samantha tersenyum sebentar sebelum akhirnya ia keluar dari sedan hitam mengkilat Samudra sembari tangannya melambai ke arah Samudra.


"Masuklah dulu, kakak pengen memastikan kamu selamat sampai ke dalam rumah."


Samantha terkekeh geli. Ada-ada saja Samudra ini, batinnya.


....

__ADS_1


Seusai menghadiri seminar yang diadakan oleh pihak rumah sakit Centra Medika. Samudra mencoba mendekati Baskoro, namun laki-laki setengah baya itu terlihat masih sibuk berbincang dengan jajaran direksi rumah sakit yang lain. Dan Samudra dengan sabar menunggunya hingga kedua laki-laki yang sama-sama berusia setengah baya tersebut selesai berbicara empat mata.


"Kek, bisa minta waktunya sebentar?"


"Tentu saja, kita ke ruangan kakek?"


"Kita bicara di sini saja, Kek."


"Oh-baiklah, sekarang bicaralah."


"Aku mau melamar Samantha," ucap Samudra to the point.


"Dan Am, minta restu dari kakek. Karena hanya kakek lah keluarga kandung yang Samudra miliki." Samudra melanjutkan.


Tak ada jawaban langsung dari Baskoro, laki-laki itu terlihat berekspresi seperti memikirkan sesuatu.


"Kamu sudah yakin dengan gadis kecil itu, Am?" tanya Baskoro kemudian.


"Samudra yakin, Kek! Setelah wisuda kelulusan Samantha. Aku berencana melamar dia dan aku harap kakek bersedia menjadi wali Samudra nanti."


"Apa dia tidak terlalu muda buat kamu, Am? Kalian sebelumnya tumbuh bersama dan---" Baskoro tidak meneruskan ucapannya. Laki-laki setengah baya itu memandang tajam ke arah Samudra.


"Samudra yakin dengan pilihan Samudra sendiri, Kek!"


Terlihat Baskoro membuang napas kasar saat mendengar pengakuan cucunya.


"Kek! peristiwa itu bahkan sudah lama berlalu." Ucap Samudra akhirnya. Seolah mengetahui apa yang sedang kakeknya itu pikirkan.


Seketika kedua mata tua Baskoro membola nyalang. Mengingat kejadian beberapa puluh tahun yang lalu. Memang Baskoro masih tidak bisa memaafkan Samuel dan kedua orang tuanya ketika dahulu pria itu meninggalkan Martha, anak gadisnya. Demi seorang perempuan yang bernama Maya, dan sekarang kedua orang itu adalah orang tua Samantha, gadis yang ingin dinikahi Samudra, cucunya.


"Sebelum Mommy meninggal, Moms bahkan sudah melupakan perselisihan mereka. Dan Moms sangat mencintai Daddy."


"Tapi bagi kakek, Samuel dan keluarga tetap tidak bisa dimaafkan. Apalagi perempuan yang bernama Maya itu!"


Samudra membuang napas kasar. Dia tidak tahan lagi dengan sikap kekanakan yang ditunjukkan oleh kakeknya sendiri.


"Mereka tidak salah, Kek. Mereka lah yang merawat Samudra selama ini. Mereka mencintai Samudra, bahkan opa Permana dan omah Anita--- mereka menganggap Samudra seperti cucu mereka sendiri. Lalu kakek...? Dimana kakek dulu saat Samudra ditinggal oleh Moms-Dad?" Jawab Samudra berapi-api. Ia menjeda sejenak untuk mengambil napas sebentar. Samudra mencoba menata kembali emosinya.


"Bahkan ketika anak perempuan kakek satu-satunya, ibu kandung Am meninggal---kakek bahkan tidak menghadiri pemakaman beliau, iya kan, Kek?!"


Baskoro terhenyak mendengar perkataan cucunya. Dia menatap Samudra dengan tatapan mata menyesal, namun bibirnya seolah tertutup rapat.


Hanya ada keheningan sementara, hingga Samudra berdiri dari duduknya.


"Dengan atau tanpa persetujuan kakek, Samudra akan menikahi Samantha." Samudra akhirnya berlalu meninggalkan Baskoro yang masih duduk mematung di ruangan luas dengan banyak kursi yang mengitari sebuah meja bundar.


Samudra keluar dari ruangan itu, meninggalkan Baskoro yang tetap diam mematung. Laki-laki tua itu hanya bisa menatap punggung Samudra yang berjalan keluar dari balik pintu. Hingga sosok gagah cucunya akhirnya benar-benar menghilang di balik pintu ruangan.


Baskoro membuang napas perlahan. Dendam masa lalu itu kini seolah hadir kembali melalui rencana cucunya.

__ADS_1


to be continue....


__ADS_2