Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
Kepergok


__ADS_3

Ciuman Veronika semakin menggebu, bahkan dengan terang-terangan tangannya menyusur ke daerah pangkal pa-ha Samudra. Hingga akhirnya..... Plak!


Sebuah tamparan keras dari Samudra mendarat ke pipi gadis itu.


Veronika terkejut akan aksi tamparan Samudra, dia memegang pipinya yang serasa panas oleh jemari-jemari kuat Samudra.


"K-ka-mu-- jahat Am!" cicit Veronika seraya memegang pipinya. Netranya kini terliat berkaca-kaca. Rasa sakit yang ia rasakan akibat tamparan itu tidak seberapa jika dibanding dengan hatinya yang hancur.


"Maaf Ver, tapi kamu membuat aku melakukannya." Samudra hanya berdiri mematung di hadapan Veronika. Sementara air shower yang masih saja mengguyur tubuh mereka tak henti-hentinya mengucur deras.


"Kenapa kamu berubah? Apa mau kamu? Kamu udah gak cinta aku lagi, Am?" isak Veronika.


Netranya kini mendadak pedih, airmata kini bercampur dengan air hangat yang keluar dari shower semakin membuat kepalanya mendadak begitu berat.


"Aku minta maaf, Vero...." sesal Samudra.


Samudra menyesali kenapa dia bisa begitu ringan tangan terhadap gadis di hadapannya saat ini. Samudra memang marah namun ia juga tidak bisa membenarkan atas tindakannya barusan terhadap Veronika.


Samudra mematikan shower yang bermode heavy rain. Lalu meraih handuk dan melilitkannya ke tubuh Veronika yang setengah te-lanjang dan juga basah.


"I'm sorry...." bisik Samudra. Dia lalu meraih satu handuk lagi guna menutupi tubuhnya hingga sebatas pinggang. Samudra membawa Veronika keluar dari dalam kamar mandi. Dan mendudukkannya pada pinggiran kasur.


"Kamu tunggu sebentar, aku berpakaian dulu."


"Samudra...." Veronika menahan kepergian Samudra. Dengan reflek cepat, Veronika meraih lengan Samudra dan kembali memeluknya erat.


"Kenapa, Samudra? Kenapa kita menjadi seperti dua orang asing?" cicit Veronika lemah, tangisnya mulai pecah. Dia semakin mengeratkan pelukannya, bahkan saat Samudra berusaha menghindar dan melepaskan pelukan itu, Veronika berusaha tetap memeluk erat Samudra.


"Ver...."


"Aku mau memelukmu seperti ini dulu, Am." Veronika menggeleng kuat. Bahkan kedua lengannya kini semakin ia eratkan ke pinggang Samudra.


"Tapi Ver.... kamu bisa kedinginan nanti."


"Aku gak peduli! Aku hanya ingin seperti ini dulu," jawab Veronika.


Samudra menghembuskan napas berat. "Aku ambilin baju aku dulu, okey? badan kamu basah kuyup dan kamu bisa sakit, Ver."


"Biarin aku sakit, mati juga gapapa! Kamu udah gak peduli aku lagi...!" rengek Veronika.


Gadis itu semakin memeluk erat Samudra, bahkan dia bersikeras tidak melepaskan pelukannya di tubuh Samudra.


Samudra kini hanya bisa mengikuti kemauan Veronika. Dia pikir jika tidak ada salahnya membiarkan gadis itu memeluknya seperti sekarang. Itung-itung untuk menebus kesalahannya karena telah menampar Veronika tadi.


....


Samudra dan Veronika masih saja berpeluk untuk beberapa saat, hingga tiba-tiba saja terdengar suara knop pintu kamar terbuka dari luar.


"Samudra--- Momm--my--- nyuruh---"


Deg!


Samantha membulatkan kedua matanya begitu membuka knop pintu kamar Samudra.


Ia membelalak kaget melihat pemandangan yang begitu menyakitkan.

__ADS_1


Samudra dan Veronika saling berpelukan erat. Dengan kedua tubuh yang basah kuyup dan tubuh polos mereka hanya tertutup selembar handuk.


Samudra pun tak kalah kaget, melihat Samantha yang memergokinya sedang berpelukan dengan Veronika. Apalagi dengan keadaan tubuh yang setengah te-lanjang dan basah kuyup.


Samudra berfikir, pasti Samantha salah paham akan apa yang ia lihat barusan.


Sementara Samantha masih terdiam dan salah tingkah sendiri di hadapan Samudra dan Veronika.


"Mommy nyuruh makan malam bareng, tapi sepertinya kalian masih sibuk!" ucap Samantha ketus.


Dia pun keluar dan menutup pintu kamar Samudra dengan sedikit membantingnya keras.


Jeder...!


Samantha membanting pintu kamar keras-keras.


"Sammy....." panggil Samudra. Hendak saja Samudra melepas pelukan Veronika, tetapi Veronika bersikap seperti anak kecil. Dia tidak ingin ditinggal Samudra dan menahan tubuh pria itu.


"Jangan pergi, sayang! Please...." rengek Veronika.


....


Samantha berlari keluar dan menuju ke kamarnya sendiri. Dia tutup pintu kamar rapat.


Samantha menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk yang bisa memantul itu. Wajahnya ia tutup dengan bantal dan dalam sepersekian detik air matanya mengalir keluar membasahi bantal dan sprei nya.


"Samudra jahat....! Hiks....Hiks...!" Samantha semakin menangis, mencoba menahan suara isak tangisnya dengan membekap wajahnya sendiri menggunakan bantal serta guling. Samantha tidak ingin tangisnya terdengar hingga keluar kamar.


"Aaarrgghh.....!! Samudra jahat....!" pekik Samantha dengan tangis tertahan.


Ia usap kasar sudut matanya dengan jemari-jemari lentik. isak tangisnya pun tak tertahan lagi. Berkali ia mencoba menahannya namun air mata dan tangisnya selalu meledak.


Dengan mata kepalanya sendiri, ia menyaksikan Samudra dan Veronika yang tengah berpelukan tanpa busana. Hanya selembar handuk yang membungkus tubuh keduanya. Bahkan badan mereka yang basah, memberikan signal jika keduanya baru saja mandi bareng.


Bisa-bisanya Samantha terpedaya oleh kakaknya sendiri. "Sial...! Brengsek....!" maki Samantha.


Harusnya Samantha sadar jika rasa cintanya terhadap Samudra bagai bumi dan langit. Seperti siang dan malam. Keduanya mustahil untuk bisa bersama, bahkan restu semesta tidak akan pernah ada keajaiban.


Mereka adalah saudara kandung. Samudra kakaknya dan seharusnya Samantha tidak sebodoh dan senaif seperti ini.


Entah kenapa setiap bersama Samudra, akal sehat nya selalu saja bermasalah.


"Brengsek....!" teriak Samantha.


...


Tok... tok...tok...


"Sammy.... sayang.... kamu kenapa? Kamu gak kenapa-napa kan di dalam?" tanya Maya heran.


"Samantha.... buka dong pintunya." Maya kembali mengetuk pintu kamar anak gadisnya.


Masih tidak ada jawaban dari Samantha.


Gadis itu terlalu malu pada sang ibu, menunjukkan kelemahannya di depan Maya, apalagi kelemahan itu gara-gara kakaknya sendiri.

__ADS_1


Apa yang akan Samantha katakan pada Maya, hal bodoh jika dia mengaku Samudra lah yang membuatnya cemburu dan menangis seperti sekarang ini.


"Sammy.... oke kalo kamu gak mau cerita ke Mommy, Moms gak akan maksa, tapi kamu makan dulu ya sayang? Mommy ambilin makanan ke kamar kamu?" tanya Maya kembali, dan masih dari luar kamar yang terkunci.


Masih tidak ada jawaban dari Samantha. Maya membuang napas panjang lalu berbalik arah dari kamar Samantha.


Baru saja beberapa langkah, Maya meninggalkan depan pintu kamar Samantha. Tiba-tiba Samudra menghentikan langkah wanita itu.


"Mom, Samantha kenapa?" tanya Samudra dengan raut wajah khawatir.


Maya mengedikkan bahunya dengan kening yang sedikit berkerut. "Moms juga gak tau, tiba-tiba dari bawah Moms denger dia teriak."


Samudra terdiam, ekspresinya kini sangat khawatir.


"Padahal tadi pulangnya sama kamu, baik-baik aja kan tadi?" tanya Maya.


Samudra mengangguk.


"Apa di sekolah tadi dia ada masalah sama Bryan?" tanya Maya lagi.


Samudra menggeleng pelan. "Gak ada masalah sama Bryan kok, Mom."


"Atau coba deh kamu yang bicara sama dia? Kalau sama kamu, Sammy kan selalu nurut." Maya mengusulkan.


Tanpa pikir panjang, Samudra mengangguk pelan menyetujui usul ibunya.


"Sekalian kamu bawain adik kamu makan malam dia ya, Am? Bujuk dia supaya mau makan."


"Baiklah." Samudra mengangguk.


....


"Sayang..... kamu mau kemana? Makanan buat siapa itu? Buat aku ya?" Veronika menghentikan langkah Samudra.


"Ini buat Samantha."


"Harus ya kamu yang bawain? Manja banget sih!" Veronika mendengus kesal.


Sementara Samudra tidak berkomentar apa-apa. Dia bahkan mengacuhkan Veronika dan berjalan ke kamar Samantha dengan baki berisi makanan di tangannya.


"Samudra! Udah deh biar bibik aja yang bawa itu ke kamar adik kamu." Veronika mencibir, mengerucut kesal melihat Samudra yang begitu perhatian terhadap Samantha.


"Aku disuruh Mommy, dan kamu makan aja duluan. Moms dan Daddy udah nunggu di bawah."


"Terus kamu?"


"Ntar aku nyusul."


"Tapi aku---"


Samudra tidak menghiraukan Veronika, dia kembali berjalan lurus ke arah kamar Samantha.


"Samudra...!" panggil Veronika, namun lagi-lagi panggilan gadis itu tidak pernah di respon Samudra.


Veronika cemberut kesal, menghentakkan kedua kakinya ke lantai.

__ADS_1


Se-penting itukah Samantha di mata Samudra? batin Veronika kesal.


to be continue. .


__ADS_2