Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
Don't be late


__ADS_3

Suara motor sport milik Bryan terdengar menderu dari kamarnya di lantai dua, dan membuat Samantha bergegas turun ke lantai satu untuk segera berangkat ke sekolah bersama Bryan.


"Mom, Sammy berangkat dulu ya," ucap Samantha sembari meminum segelas susu hangatnya dengan terburu-buru.


"Sayang.... kamu gak sarapan dulu?"


"Nanti aja di sekolah."


Samantha mencomot asal roti selai buatan Maya dan memakannya cepat-cepat.


"Sammy, biar kak Am yang antar kamu ya?" ucap Samudra tiba-tiba.


Entah datang darimana, Samudra pagi itu dengan tiba-tiba saja telah berdiri di balik tubuh Samantha.


"Kak Am....?" ucap Samantha kaget.


"Biar kakak yang antar kamu."


"Tapi Bryan udah jemput aku."


Samudra memandang tajam ke arah Samantha, seolah ia tidak ingin jika adek perempuannya membatah apa yang menjadi perintahnya barusan.


Dint.... dint....dint...dint...


Sementara klakson motor sport Bryan kembali berbunyi beberapa kali, agar Samantha segera keluar dan bisa mengejar waktu untuk segera ke sekolah.


"Lain kali aja ya, Kak?" ucap Samantha. Sebenarnya ia juga bimbang. Dalam hati kecilnya ia ingin sekali berangkat diantar oleh Samudra, namun di sisi lain Samantha tidak enak jika harus menolak Bryan pagi itu. Lagipula apa yang akan dipikirkan Bryan nanti jika dengan tiba-tiba ia membatalkan berangkat bareng dan memilih berangkat dengan kakaknya.


"Iya, Am. Lain kali aja kamu anter Sammy, kasian juga kan Bryan udah nunggu di depan."


Samantha bisa bernapas lega. Ucapan ibunya bagai angin segar dalam ketegangan-nya bersama Samudra. Meskipun ia bisa melihat jika Samudra masih menatapnya dengan sorot mata tajam.


"Kalo gitu ntar sore aja, kakak jemput kamu," jawab Samudra tanpa sedikit pun berniat untuk menyerah.


Samantha akhirnya mengangguk pelan. "Iya," jawabnya lirih. "Sammy berangkat dulu, Mom," pamit Samantha sembari mencium punggung tangan dan juga kedua pipi ibunya.


"Hati-hati di jalan."


"Iya," angguk Samantha dan kemudian berlalu dari hadapan Maya dan juga Samudra.


Netra Samantha sekilas melirik ke arah Samudra yang masih menatapnya tajam namun kali itu terlihat sedikit lembut.


....


Maya kembali menyiapkan sarapan pagi untuk Samudra dan Veronika, dibantu oleh bibik. Sementara Benua telah berangkat lebih dulu setelah Samantha.


"Bik, tolong ambilkan dua gelas bersih untuk den Samudra dan Veronika ya," ucap Maya ditengah kesibukannya menyiapkan dan menata masakannya di atas meja makan.


"Iya, Non."


Kebiasaan bibik dari dulu memang tidak pernah berubah, termasuk panggilan dia ke Maya. Entah kenapa bibik lebih suka memanggil Maya dengan sebutan Non, daripada Nyonya.


Tentu saja Maya tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut, dia bahkan berkali-kali meminta bibik untuk memanggil dengan sebutan 'Maya' saja namun bibik selalu menolaknya.


"Am....." panggil Maya begitu ia melihat Samudra berjalan menuruni anak tangga.


"Ya, Mom?"


"Kamu makan dulu gih. Panggil Vero sekalian ajak dia makan," ucap Maya lagi.


"Harusnya Mommy gak perlu repot-repot nyiapin makan buat kami. Aku dan Vero bisa kok ambil sendiri nanti."

__ADS_1


"Gak papa.... kamu kan jarang pulang jadi gak masalah buat Mommy nyiapin kalian makanan." Maya menepuk pundak Samudra sembari tersenyum.


"Thank's, Mom."


"Iya sama-sama. Sekarang kamu panggil Vero dan kalian makan, okey?"


"Hm," angguk Samudra. Ia pun mengeluarkan ponselnya dan menulis pesan buat Veronika.


"Kenapa kamu bilangnya gak ke kamar dia aja, Am?" lirik Maya ketika melihat Samudra mengeluarkan ponsel dari saku celana pendek casualnya.


"Lebih cepet lewat ponsel, Mom." Samudra sedikit terkekeh sembari menggaruk-garuk tengkuknya.


"Ish-kamu itu...." jawab Maya sembari geleng-geleng kepala heran.


》》


Veronika menelan perlahan suapan terakhirnya sebelum akhirnya ia meraih gelas berisikan air mineral dan meneguknya sampai habis.


"Tante pintar sekali ya masaknya, makanan yang Tante buat, enak..."


Maya membalas pujian Veronika dengan senyuman kecilnya. "Ah biasa aja kok," jawab Maya.


"Oh ya Samudra mana ya, Tant?"


"Lho tadi bukannya makan berdua sama kamu?"


"Iya tadi dia udah selesai duluan dan pergi gitu aja deh..." Veronika mengedikkan sedikit bahunya dengan kedua mata berotasi.


"Owh mungkin dia ada di kolam renang outdoor, coba aja kamu ke sana."


Veronika mengangguk, ia lalu berdiri dan bermaksud membawa piring kotor bekasnya dan Samudra untuk di bawa ke wastafel pantry. Namun segera dicegah oleh Maya. "Eh kamu mau ngapain?"


"Gak usah, udah tinggalin aja di situ, biar Mbak Pur aja yang bersihin nanti."


"Tapi Tant?"


"Udah, gak papa tinggalin aja di situ," jawab Maya sembari merapikan kembali gaun selutut yang ia pakai.


Wanita itu terlihat sangat cantik dan anggun di mata Veronika.


"Tante cantik sekali, emang mau keluar ya, Tant?" tanya Veronika.


"Iya, Tante mau ke cafe milik Tante, sebentar."


Veronika membulatkan kedua netranya. "Tante punya cafe?" tanya Veronika antusias.


"Iya," angguk Maya.


"Wah Tante hebat...." decak Veronika kagum.


"Pantas saja Tante pinter masak, punya cafe sendiri sih..." puji Veronika. Gadis itu pun tak henti-hentinya tersenyum semangat.


"Andai aja mama aku seperti Tante...." cicitnya kini. Kali ini ekspresi gadis itu sedikit berubah.


"Emang mama kamu kenapa?" kali ini Maya sedikit berekspresi heran.


Veronika kembali tersenyum kecil, namun kemudian bertingkah seperti menyembunyikan sesuatu. "Gak kok Tant, gak papa, heee..."


"Oh-ya udah kalo gitu Tante berangkat dulu ya."


"Iya Tant, bye...."

__ADS_1


Keduanya pun saling cipika cipiki sebelum akhirnya Maya melangkah menjauh dari Veronika.


Kedua netra Veronika masih memandang kepergian Maya. Baginya keluarga Samudra adalah keluarga impiannya sejak dulu. Mempunyai ayah yang sangat bertanggung jawab dan begitu family man serta memiliki ibu yang begitu anggun dan keibuan.


...


Benar saja, Veronika melihat jika Samudra saat itu tengah asik berenang di kolam renang yang ada di halaman belakang. Tubuh atletis pria itu terlihat meliuk luwes melakukan gerakan gaya berenang.


"Sayang....!" pekik Veronika. Ia pun mendekat dan berdiri di tepi kolam renang.


"What?" Samudra menghentikan pergerakannya dan mendongak memandang Veronika.


"Kamu udah janji bawa aku jalan-jalan hari ini," Veronika mengerucutkan bibirnya.


"Sekarang?" tanya Samudra yang masih melakukan gerakan mengapung bebas di dalam air.


"Iya sekarang."


"Oke beri aku waktu beberapa menit lagi."


"Hm," angguk Veronika. "Tapi cepet ya. Aku juga mau siap-siap dulu sih," lanjutnya lagi dan kemudian berlalu dari hadapan Samudra.


Perlahan hembusan napas panjang Samudra pun terdengar berat. Hingga akhirnya dia menghentikan pergerakannya di dalam air dan mengangkat tubuhnya naik dari dalam kolam renang.


....


Jam tangan Samudra menunjukkan pukul setengah lima sore, berkali-kali ia melirik gelisah ke arah jam Rolex yang melingkar di pergelangan tangannya.


Sementara Veronika masih saja sibuk berbelanja di pusat perbelanjaan yang letaknya dekat dengan cafe milik Maya.


Sore ini Samudra harus menjemput Samantha, dan ia tidak ingin terlambat apalagi jika Samantha lebih dulu pulang bareng Bryan.


Berkali-kali Samudra menarik napas panjang sembari terus melihat ke arah Veronika yang terlihat masih asik memilih beberapa sepatu ber-merk.


"Kamu masih lama milihnya?"


Veronika mengalihkan fokusnya ke arah Samudra. "Hm, aku masih bingung harus pilih mana," angguk Veronika.


"Kalau gitu kamu tunggu di sini dulu, aku tinggal bentar, ada urusan mendadak. Gimana?"


Veronika mengernyit heran. "Emang urusan apa sih yang lebih penting dari aku, sayang?" jawab Veronika asal dan masih sibuk dengan beberapa model sepatu heels yang ia coba.


Sementara Samudra terdengar kembali menghela napas panjang. "Kamu tunggu aja di sini dulu. Atau kamu nunggu di cafe nya Mommy? Deket kok dari sini."


"Oh ya?"


"Hm, ada di ujung jalan. Cafe dengan banyak tanaman bunga krisan dan daisy." Samudra menjawab dengan ekspresi gelisah.


"Owh-ya udah...." jawab Veronika akhirnya. Sekilas gadis itu memandang wajah Samudra.


"Sorry, aku tinggal bentar ya."


"Hm, pergi aja," angguk Veronika.


Samudra tersenyum sekilas dan tanpa ciuman perpisahan, dia hanya menyodorkan sebuah kartu kredit platinum ke arah Veronika dan ia pun bergegas keluar dari toko sepatu di pusat perbelanjaan itu. Dengan tergesa-gesa Samudra keluar dari pusat perbelanjaan dan menuju ke ruang basement parkiran.


Dia harus cepat-cepat sampai ke SMA Unggulan sebelum Samantha terlalu lama menunggunya.


Mobil berjenis SUV mengkilat itu pun kemudian melaju kencang keluar dari parkiran mall tersebut.


to be continue....

__ADS_1


__ADS_2