
"She's your girl friend? Are you kidding me, Am?" (Dia pacar lo? Lo ngga becanda kan, Am?) Cameron sedikit mencibir.
Cameron memandang Samantha dari ujung rambut hingga kaki. Dia masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Samudra. Jangan bilang Samudra berubah menjadi seorang fedofil, batin Cameron.
Samudra melotot ke arah Cameron dan William. Seolah memberi isyarat, shut up, dude! kepada kedua pria blesteran itu.
Seketika William dan Cameron langsung kicep. Tidak berani untuk berkomentar apa pun lagi. Senyum simpul dari keduanya pun terkembang ke arah Samantha yang saat itu duduk di salah satu kursi tempat mereka duduk tadi.
Sementara Cameron serta William menarik lengan Samudra dan mereka berdiri tidak terlalu jauh dari Samantha duduk, saat ketiganya berbicara.
"Kak, aku ke toilet sebentar ya." Pamit Samantha, membuat Samudra mengangguk pelan.
"Kakak anterin?"
"Ngga usah! I'm not a kid!" Samantha menjawab pelan.
Samudra mengerutkan keningnya heran. Gadis itu tiba-tiba berubah sikap, apa dia mendengar ucapan si Cameron kampret tadi? batin Samudra.
....
"I'm serious, kampret!" Geram Samudra setelah kepergian Samantha ke toilet.
"Shut up your stupid mouth, Cam!" (Tutup, mulut bodoh mu itu, Cam!)
Samudra memberi peringatan sekaligus perintah.
"Sorry, Am! I'm just surprised with your girl friend. Come on Am, she's still a kid." (Maaf Am! Aku terkejut dengan sosok kekasih mu itu. Ayolah, dia bahkan masih anak-anak)
"She's not a kid. She's been seventeen years old. And soon nineteen. And I will marry her." (Dia bukan anak kecil. Dia sudah tujuh belas tahun. Dan akan berusia sembilan belas nanti. Dan aku akan menikahi-nya)
Kembali wajah kedua sahabatnya itu terlihat terkejut. Menikah? Bahkan dengan Veronika saja, Samudra masih tidak yakin akan perasaannya. Tapi sebegitu cepat dia ingin menikahi gadis SMA itu? pikir Cameron.
"Lo ngga salah kan Am?" tanya William.
"No, I'm serious! Gue benar-benar mencintai dia."
"You marry her, Is not because she's pregnant right?" (Kamu menikahi dia, bukan karena dia hamil, kan?) Cameron masih tidak percaya. Samudra menikahi gadis yang usianya bahkan jauh di bawahnya?
"Of course not! I will never even touch her before we get married." (Tentu saja tidak! Aku tidak akan menyentuh dia sebelum kami menikah)
Samudra menarik napas panjang, lalu kembali menyesap minuman soda miliknya. Kemudian beberapa cerita mengalir dari mulut Samudra. Cameron dan juga William mendengar dengan seksama, sesekali kepalanya mengangguk-angguk pelan tanda mereka menyimak apa yang Samudra ceritakan.
...
"Jadi kalian saudara angkat? Dan lo udah cinta Samantha sejak dia masih SMP?" William bertanya dengan wajah serius.
Samudra mengangguk pelan, dan kembali menyesap minuman soda dalam kemasan kaleng miliknya.
"Samantha memang cantik, but... I didn't expect you to love the girl she was so far below you. Seventeen years old, Am! Oh My God...!" (Gue ngga menyangka saja lo bisa mencintai gadis yang umur nya jauh di bawah lo. Tujuh belas tahun, Am! OMG!)
Ucap Cameron dengan nada suara yang masih tidak percaya.
__ADS_1
Samudra menyeringai sebentar. "I don't know, this love just happened. And I'm really love her." (Aku tidak tau, cinta ini terjadi begitu saja. Dan aku benar-benar mencintai dia)
"Yeah, sometimes love can make us be stupid people." (Ya, terkadang cinta bisa membuat kita menjadi orang bodoh) Cameron menanggapi.
"Sial! Gue bukan orang bodoh kampret!" Dengus Samudra.
Dan tentu saja membuat William dan Cameron tertawa saat mendengar Samudra menanggapi idiom yang Cameron ucapkan tadi.
"I'm just kidding, Am! (Aku hanya becanda, Am) Hahaha!"
....
Samantha terkadang tersenyum ketika mendengar lelucon-lelucon dari Cameron dan William. Meski Cameron sempat menganggap remeh gadis yang kini dekat dengan Samudra, Kini anggapan Cameron terhadap Samantha berubah seratus delapan puluh derajat. Gadis cantik itu memang lain dari cewek-cewek yang pernah dekat dengan Samudra. Pantas saja Samudra benar-benar jatuh hati padanya, batin Cameron.
"All right! we have to go back to our room, Am!"
"Okay, dude! Besok kita jadi ke pantai?"
"Of course!" jawab Cameron.
"Okay good night dude!" Samudra berpamitan, tak lupa mendaratkan pelukan perpisahan sementara pada dua pria bertubuh atletis itu.
"Good night, Sammy! Nice to meet you."
"Good night, Cam-Will! Nice to meet you too. Bye..."
Samantha melambaikan tangan begitu Samudra mulai melangkahkan kaki meninggalkan kedua sahabatnya.
Samudra berjalan dengan menggandeng tangan Samantha ketika menyusuri lorong-lorong hotel.
"Kak,"
"Apa?"
"Tadi pas pertama kali mereka ketemu aku. Pasti mereka ngatain aku anak kecil ya?" Tanya Samantha sembari berjalan berdampingan dengan Samudra dan melingkarkan lengannya di lengan pria itu.
"Ngga kok."
"Bohong!" Bibir Samantha mengerucut tidak percaya.
Samudra tersenyum kecil. Keduanya kini berjalan berdampingan dan memasuki lift.
"Awalnya sih, Cameron kaget saat liat pacar kakak itu kamu." Samudra menjelaskan.
"Terus? Kak Cam pasti ngatain aku anak kecil, iya kan?"
Samudra menghentikan langkahnya, memandang Samantha dengan dua tangan yang memegang erat jemari gadis itu.
"Ngga usah dengerin perkataan Cam, dia emang gitu orangnya."
"Tapi emang bener kan? Aku ngga bisa seperti Veronika, Gaby atau kak Aisya saat jalan sama kakak." Samantha menunduk, menyadari begitu banyak perbedaan mereka.
__ADS_1
"Kamu ini ngomong apaan sih?! Kenapa tiba-tiba bersikap aneh gini, hm?! Kakak ngga suka!" Intonasi suara Samudra terdengar tinggi. Hingga membuat Samantha sedikit mengedikkan bahu karena kaget.
"Kamu ragu sama hubungan kita?"
"Ngga, bukan gitu."
"Lantas?!"
"Aku takut bikin kakak malu," cicit Samantha pelan. Wajahnya masih tertunduk, tidak berani menatap sorot tajam pria yang saat ini tetap memegang erat kedua punggung tangannya.
Samudra menghembuskan napasnya berat. Dia diam untuk beberapa saat. Hingga akhirnya lift berdenting satu kali dan terbuka.
Keduanya melangkah keluar. Samudra berhenti sebentar dan bersandar pada dinding hotel di sepanjang koridor.
"Kakak malah takut kehilangan kamu, Sammy." Samudra mengatakannya dengan lirih. Kini memandang lembut wajah gadis yang saat itu masih menunduk.
Dengan tiba-tiba Samudra membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. "Jangan pernah mempunyai pikiran bodoh seperti tadi!" cicit Samudra, pria itu kini menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Samantha yang tanpa penghalang sehelai rambut pun.
"Kita sedang liburan sekarang, dan nikmati aja moment kita. Aku ngga mau kamu nyebut-nyebut soal Veronika, Gaby ataupun Aisya."
Samudra kini memandang ke arah Samantha dengan kedua tangan menangkup wajah gadis itu.
"Maaf...." lirih Samantha menyesali ucapan bodohnya.
Mendapati keterdiaman Samantha, Samudra melirik gadis itu sekilas. "It's okay! Ngga usah dipikir lagi. Sekarang kamu kembali ke kamar dan siap-siap pakai eyeglasses. Kita ke pantai." Samudra tersenyum semangat.
Membuat Samantha yang tadinya diam tertunduk kini mengangkat wajahnya.
"Pantai? Sekarang?" Bola mata gadis itu berbinar.
"Ngga, bulan depan! Ya sekarang dong bawel!" Samudra terkekeh, membuat Samantha mencebik lucu.
Keduanya pun kembali berjalan menyusuri koridor hotel dan menuju ke kamar keduanya.
....
Perjalanan itu tidak membutuhkan waktu lama. Samudra menghentikan kendaraannya di depan sebuah halaman kosong yang luas. Samantha mengedarkan pandangannya. Merasa heran, Ia sama sekali tidak melihat pantai yang dijanjikan Samudra.
Samantha hanya merasakan aroma air laut serta angin yang menenangkan.
"Kak Am, mana pantainya? Sammy ngga liat apapun."
"Itu karena pantai-nya ada di dalam sana." Samudra menunjuk ke sebuah jalan setapak yang sempit, bahkan mobil tidak bisa melewati jalan tersebut. Kalau motor mungkin masih bisa.
"Harusnya kita nyewa motor aja tadi ya?" Ucap Samudra begitu keduanya turun dari dalam mobil.
"Ngga papa kak, jalan kaki juga It's ok!"
"Kamu ngga kelelahan nanti?"
"Ngga," geleng Samantha.
__ADS_1
to be continue....