
Samudra tersenyum kecil menatap sebuah foto di ponselnya yang menampilkan Samantha memakai baju kelulusan serta topi toga yang membuat gadis itu semakin terlihat cantik. Setelah wisuda kemarin, hari ini Samudra berniat hendak melamar Samantha.
Terlalu terburu-buru? Tentu saja tidak bagi Samudra. Ia bahkan menginginkan hal ini jauh sebelum kelulusan Samantha. Namun ia juga tidak ingin egois, Setidaknya ia ingin gadis itu menamatkan sekolah SMA nya terlebih dahulu sebelum ia berubah status menjadi istri kecil seorang Samudra Baskoro Pratama.
Senyum manis lagi-lagi tercipta di kedua sudut bibirnya, sementara seluruh jemari tangan kanannya sedari tadi memainkan sebuah cincin emas putih dengan bertahtakan white diamond dua koma lima karat.
Dan ini adalah harinya. Samudra bersiap hendak melamar gadis itu. Sebenarnya ini merupakan kejutan untuk Samantha. Ia serta Maya dan Samuel telah menyiapkan segala pesta kejutan ini.
Maya dan Samuel terlebih dulu akan membawa Samantha serta Benua untuk makan malam di restoran hotel bintang lima, merayakan kelulusan sekolah mereka.
Setelahnya Samudra akan datang bak seorang pangeran yang ingin mempersunting putri pilihannya. Meski tanpa kehadiran dari Baskoro dan juga Elsi, Samudra akan tetap melakukannya. Karena bagi Samudra restu Maya dan Samuel lah yang terpenting.
Kembali senyuman kecil merekah di kedua sudut bibirnya. Semuanya sudah matang ia persiapkan. Cincin, bunga dan juga satu lagi kejutan buat gadis itu yang ia harap nantinya bisa membuat Samantha senang.
Samudra sudah bersiap-siap, kemeja putih polos berpadu celana kain berwarna hitam begitu simpel melekat namun tetap memberi kesan tampan, rambut rapi ber-pomade membuatnya terlihat lebih tampan lagi, plus kaca mata hitam yang membuatnya semakin terlihat macho.
Samudra bersiap-siap, setelah sebelumnya menatap kembali ke arah kotak kecil berisi cincin berlian untuk gadis kesayangannya, Samantha.
...
Ia menghentikan sedan hitamnya di depan lobi hotel, setelah menyerahkan kunci mobil kepada seorang valet parkir, Samudra membuang napas sebentar, memantapkan diri sebelum akhirnya ia melangkah memasuki hotel mewah dengan gemerlap lampu-lampu yang menyala terang.
Samudra berjalan menyusuri sepanjang lorong hotel hingga membawanya ke sebuah ballroom restoran di hotel berbintang tersebut.
Kembali Samudra menghela napas panjang, dadanya kini bergemuruh hebat. Baru kali ini dia merasakan perasaan seperti ini. Sebelum akhirnya ia berjalan lebih dalam lagi, mencari meja yang telah dipesan oleh Samuel.
Hingga netra Samudra meremang, membuat pria itu menghentikan sejenak langkah kakinya. Bagaimana tidak ia terpukau dengan penampakan Samantha yang begitu menakjubkan malam ini, meski ia berdiri jauh dari meja mereka, Samudra dengan jelas bisa melihatnya. Gadis yang mengenakan gaun hitam dengan model lengan off shoulder, menampilkan pundak atasnya yang terbuka dan meng-ekspos pundak mulus gadis itu.
Sementara rambut yang biasa bergelombang berwarna merah kecoklatan, kini gadis itu sulap menjadi berwarna lebih gelap. Mirip seperti Maya, ibunya. Samantha hanya menguncir kuda rambut panjangnya. Ia terlihat begitu sederhana namun tetap cantik dan elegant.
Samudra kini mulai melangkahkan kakinya. Rasa gugup masih menguasainya hingga jarak mereka semakin terkikis.
Samantha mendongak dan tersenyum saat melihat sosok pria berkaca mata hitam yang mengenakan kemeja putih polos serta celana formal. Di tangannya bahkan tergenggam se-buket mawar merah segar.
"Malam Moms," ucap Samudra memeluk Maya lalu mencium kedua pipi wanita itu.
"Malam Dad," lanjut Samudra yang kini beralih memeluk Samuel, pelukan khas seorang ayah dan anak.
"Samudra... kamu terlihat tampan seperti biasanya hehehe...." kekeh Maya.
"Cucu siapa dulu dong...." Anita pun menimpali percakapan mereka.
__ADS_1
"Kalian melupakan Benua? Ben juga tampan, mirip artis korea, hahaha!" tawa Benua tergelak.
"Ish, cuma kambing yang bilang lo tampan, weekk...!" Samantha menyambar ucapan saudara kembarnya. Seperti biasa, kedua bocah itu selalu saling ejek tiap kali bertemu.
"Dari pada lo, jenong. Gue heran deh sama lo kak Am, kenapa juga bisa cinta sama nenek lampir satu ini?" Benua membalas, menjulurkan lidahnya ke arah Samantha dan mendapat respon balik dari gadis itu.
"Eh-kutu kupret! Sialan lo!" ucap Samantha dengan dengusan kesal.
"Sammy-Benua...! cukup!" Samuel kini menengahi.
"Kalian berdua ini kalo ketemu selalu saja seperti kucing dan tikus," geleng Maya.
Sementara Anita dan Permana hanya tersenyum geli melihat kelakuan dua cucu kesayangan mereka.
"Iya Mom, Sammy kucingnya, Benua tikusnya. Weekkk....!" Lagi-lagi Samantha menjulurkan lidahnya ke arah Benua, mengejek.
"Enak aja! Lo tu yang tikusnya!"
"Lo!"
"Elo!"
"Sammy-Benua!" Suara lantang Samuel akhirnya membuat keduanya saling terdiam tak berkutik.
Samudra hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua adik kembar tak identik itu.
Bukan-bukan... sebentar lagi salah satunya bukan lagi menjadi adiknya, namun akan menjadi gadis yang ia lamar. Dan nantinya tentu saja akan menjadi Nyonya Samudra Baskoro Pratama.
"Kamu sudah siapkan semuanya, Am?" tanya Maya.
"Sudah," angguk Samudra tenang.
"Emang ada apa sih Mom?" Samantha mengerutkan dahinya, melihat seperti ada rahasia yang disembunyikan antara ibunya dengan Samudra.
"Ish-kepo aja lo, Nong!"
"Biarin!" Samantha mengerucut sebal ke arah Benua. Memang kembaran laknat-nya ini selalu saja merusak rasa keingintahuannya, batin Samantha.
....
Satu jam berlalu dengan acara makan malam yang hangat, canda tawa keluarga itu mewarnai setiap moment kebersamaan mereka. Samuel dan Maya bahkan selalu tertawa ketika mendengar celotehan lucu dari kedua anak kembar mereka. Hingga Samudra kemudian berdehem di tengah suasana riuh mereka.
Ting....ting....ting....
"Eheemm! Mohon perhatiannya sebentar." Samudra mengetuk sendok ke gelas minumannya. Sambil berdiri, ia pun mulai menenangkan diri sejenak.
Spontan saja semua yang duduk membelakangi meja makan bundar itu pun mengalihkan perhatian mereka ke arah Samudra yang saat ini tengah berdiri di tengah-tengah mereka.
__ADS_1
"Ada sesuatu yang ingin Am sampaikan ke kalian. Terutama Moms Maya dan Daddy Samuel." Ucap Samudra dengan debar jantung yang kini berdegup kencang.
Samudra terdiam sebentar, memusatkan pandangannya ke arah Samantha yang kala itu menatapnya lembut.
Samudra mencoba kembali mengingat kata-kata yang telah ia rangkai sejak dari apartemen. Entah kenapa saat ini semua kalimat yang sudah ia persiapkan sebelumnya kini mendadak menghilang dari ingatannya.
Samudra membuang napas perlahan.
"Samudra meminta ijin kepada Moms Maya dan juga Dads Samuel untuk melamar putri kalian. Samantha Olivia Perdana menjadi istri Samudra."
Sesaat suasana menjadi hening, Maya hanya tersenyum saat mendengar ucapan Samudra. Begitu pun dengan Samuel, laki-laki itu bahkan menarik sedikit senyuman ketika mendengar permintaan ijin dari Samudra kepadanya.
Samuel meraih jemari tangan Maya dan menggenggamnya erat. Moment ini seolah mengingatkannya ketika ia hendak melamar Maya dulu.
"Sam..."
Samuel tergeragap, tersadar dari lamunnya ketika Maya memanggilnya.
"Ah-iya, Daddy dan Moms setuju-setuju saja dengan lamaran kamu, Nak. Hanya saja semua keputusan ini terserah kepada Samantha. Moms-Dad hanya bisa mendoakan semua yang terbaik untuk kalian." Ucap Samuel. Maya pun tersenyum dan mengangguk ke arah Samudra, menandakan ia setuju dengan ucapan suaminya.
"Bagaimana Samantha? Apa kamu menerima lamaran Samudra?" tanya Samuel. Kini seluruh pandangan mata yang hadir dalam acara tersebut beralih ke arah gadis itu.
Begitupun dengan Samudra, ia tak pernah berhenti memohon dalam hati, semoga saja gadis itu memantapkan hati untuk menerima lamaranya.
Samudra berharap jika Samantha tidak merubah pikirannya.
Gadis yang saat ini menjadi pusat perhatian, masih saja terdiam terpaku. Manik mata kecoklatan miliknya kini bahkan memandang Samudra dengan penuh arti. Sesaat gadis itu terdiam.
Hingga akhirnya sebuah senyum manisnya terkembang menatap Samudra, kepalanya mengangguk pelan hingga senyuman kecilnya kini berubah semakin mengembang penuh di semua sudut bibirnya.
"Iya, aku mau...." jawab Samantha.
Samudra akhirnya menghela napas panjang. Lega, itulah yang dirasakannya saat ini. Pria itu pun bergegas berjalan ke kursi Samantha duduk sembari mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
Sebuah kotak kecil berbahan beludru dengan warna biru navy kini berada dalam genggamannya. Hingga ia membuka kotak kecil tersebut dan membukanya.
Bola mata Samantha berbinar saat pantulan cahaya yang dikeluarkan oleh cincin diamond yang Samudra pegang.
Bukan karena cincin berlian itu, namun ini sebuah langkah besar yang ia ambil. Ini adalah keputusan terbaik di sepanjang hidupnya. Meski ia terbilang masih sangat muda untuk menikah, namun Samantha yakin jika Samudra bisa memberikan kebahagiaan dan rasa aman untuknya. Dia sangat mencintai pria itu, pria yang selama ini telah menjadi kakak dan pelindungnya.
Dengan perlahan Samudra menyematkan cincin berlian itu di jari manis Samantha. Hingga gadis itu berdiri dari duduknya dan langsung memeluk Samudra erat.
Anita dan Permana tersenyum haru dengan moment ini. Cucu yang rasanya baru kemarin ia timang kini telah menjelma menjadi gadis dewasa.
"Jenong! selamat ya, akhirnya laku juga lo!" kelakar Benua memecah suasana haru dan romantis.
Samantha terkekeh menanggapi celotehan Benua, kali ini bocah itu aman. Samantha bahkan terlalu bahagia untuk sekedar membalas kelakar saudara kembarnya itu.
__ADS_1
"Thank's sweetheart," bisik Samudra lembut.
to be continue...