
Thalita menatap bayangannya di cermin besar yang ada di toilet perempuan. Memerhatikan wajahnya yang baru dibilas dengan air dan ia keringkan. Terlihat lebih segar setelah sebelumnya tampak mengerikan.
Tadinya kening Thalita berlipat-lipat dan matanya tampak mengantuk, lalu cemberut. Gara-gara pusing dengan pelajaran Fisika dan Matematika yang terasa seperti memeras otak. Pelajaran menghitung bukan keahlian Thalita, tapi tetap saja nilai yang didapatkan harus naik terus dari sebelumnya.
Thalita lebih pandai dalam pelajaran Bahasa Indonesia atau pun Bahasa Inggris, nilainya pun selalu bagus dalam pelajaran itu.
Tapi ia tidak mengerti dengan kemauan orang tuanya, yang selalu memaksa agar dia bisa mendapat nilai bagus di pelajaran Matematika dan tidak mempedulikan nilai pelajaran lainnya. Bukankah itu sama saja dengan mematikan potensi anak?
Thalita menepuk-nepuk wajahnya, lalu dengan iseng membuat ekspresi marah. Meskipun yang dia rasakan saat ini memang seperti itu.
Rasa marah dan tidak puas pun merasukinya. Dia cantik, semua orang mengenalnya dengan image yang ramah, baik dan supel. Semua cowok pun antri untuk bisa jadi pacarnya, tapi entah kenapa tidak begitu dengan dua cowok most wanted di SMA Unggulan. Bryan dan Benua.
Oke Thalita tidak tertarik dengan Benua karena beberapa alasan. Benua memang tampan tapi mulut pedas cowok itu membuat Thalita enggan untuk mencoba mendekatinya. Lagipula sepertinya Benua akhir-akhir ini terlihat dekat dengan adik kelasnya yang terlihat slengekan dan bad girl.
Dan Thalita mencoret nama Benua dalam daftar cowok yang ingin ia taklukkan.
Tapi Bryan? Baiklah siapa yang bisa menyangkal pesonanya? Sulit.
Dan Bryan pun lebih memilih Samantha, gadis tomboy dan paling random yang ada di sekolahnya. Okelah Samantha memang anak pemilik saham terbesar di sekolah ini, tapi Thalita juga anak dari orang paling penting dalam yayasan sekolah SMA Unggulan.
Thalita juga mengakui jika Samantha memang cantik, tapi tentu saja Thalita merasa dirinya lebih baik.
Thalita menoleh ke arah seseorang yang baru saja masuk ke dalam toilet. Matanya melebar ketika mendapati orang itu adalah Samantha, baru saja ia memikirkan dia dan pacaranya.
"Hai," Thalita menyapa sambil melambaikan tangannya.
Samantha menoleh, mengerjap beberapa kali sambil membalas melambaikan tangan. "Hey."
"Lo pacarnya Bryan, kan ya?"
"Iya."
"Ih dulu gue pernah nanya kan tapi gu--"
"Duh, lit lo tahan dulu ya ngomongnya, gue lagi kebelet nih." Samantha memotong ucapan Thalita dan melesat masuk ke dalam salah satu bilik. Thalita yang shock hanya menatap pintu yang ditutup dengan setengah dibanting itu.
What the hell? batin Thalita.
Beberapa saat kemudian Samantha keluar dengan wajah sumringah, seperti baru menang lotre satu milyar. "Lanjutin lo ngomong tadi, Lit. Sorry gue tadi motong ucapan lo, habisnya udah gak tahan."
Thalita berdehem, menghembuskan napas perlahan dan tersenyum. "Gue pernah nanya, lo pacaranya Bryan ato gak, dan lo udah jawab sih. Tapi ya gitu gue suka penasaran, maklumin ya."
"Iya nggak papa, kepo itu manusiawi meski kadang nyebelin," jawab Samantha cuek.
"Oh ya sebelum Bryan pacaran sama lo, gue pernah naksir dia, udah lama juga sih hahaha pas gue ikut-ikutan suka kayak yang lain."
__ADS_1
Samantha hanya mengangguk sebagai respon.
"Yah gitu sih, tetep aja kalo liat suka demen lagi. Iya gak? Lo pasti pernah gitu juga kan sama orang yang lo taksir?" lanjut Thalita.
Samantha kembali mengangguk spontan. "Iya," jawab Samantha pelan.
"Langgeng yah sama Bryan." Thalita menampakkan senyum palsu, padahal dalam hatinya ada rasa sakit yang mendera dan membuat kerongkongannya kering.
"Takutnya dia malah suka sama orang lain, apalagi gue, jangan deh," ucap Thalita lagi.
Samantha memiringkan kepala. "Emang Bryan mau sama lo, Lit?"
"Hah?" Thalita yang sedang melipat tangan di dada menampakkan ekspresi tidak percaya tatkala mendengar jawaban Samantha yang menohok. Sial, batin Thalita. Gak Benua, gak Samantha. Kedua anak kembar tidak identik itu sama-sama bermulut pedas.
"Ya udah ya Lit, gue duluan." Samantha meninggalkan Thalita yang masih bungkam. Ia tidak begitu peduli dengan keadaan itu. Itu kan gara-gara Thalita yang memancingnya berbicara, udah tau kalo Samantha cewek paling random dan slengekan bisa-bisanya Thalita sengaja menabuh genderang perang.
Samantha bukan gadis lemah.
....
"Bryan, siniin tas aku."
"Gak, gak mau. Udah deh Biar aku bawa tas kamu."
"Udah deh gak usah bawel." Bryan tetap bersikukuh untuk membawakan tas berwana biru laut milik Samantha.
"Bryan, gak usah aneh-aneh deh. Malu kan dilihat yang lain. Ntar mereka nyangkanya aku cewek manja deh," dengus Samantha.
"Biarin, lagipula ngapain sih kamu mikirin kata orang, Sammy? Hidup ini kita yang jalanin."
"Iya tapi aku gak mau ngerepotin kamu."
Samantha masih mengerucut saat berjalan di samping Bryan. Cowok itu terlihat begitu aneh, berjalan dengan menenteng dua tas sekaligus. Malah mirip seperti seorang renternir yang hendak menagih uang pinjaman.
Samantha terkekeh geli melihat Bryan.
"Bryan!"
"Gak, aku bilang gak ya nggak. Tuh motor nya udah deket." Bryan menggandeng lengan Samantha dan membawa gadis itu berjalan di ujung lapangan parkir sekolah.
Ada yang janggal ketika Samantha dan Bryan hendak menghampiri motor sport Bryan. Seseorang menghampiri langkah mereka. Dia seorang laki-laki dan sepertinya bukan anak SMA lagi.
"Samantha!"
Samantha langsung saja menoleh ke arah orang yang mendekat ke arahnya tadi. Matanya membola, bibir yang tadinya tersunging senyum kini mendadak kaku.
__ADS_1
Ekspresi terkejut dan bahagia seolah bertemu dan membentuk sebuah ekspresi janggal yang aneh menurut Bryan.
"Kamu pulang bareng kakak!"
Tanpa basa-basi lagi, Samudra menarik lengan Samantha dan membawanya menjauh dari Bryan.
"Tapi, Kak..."
Belum sempat Samantha bicara, Samudra dengan begitu saja menarik lengan gadis itu tanpa mempedulikan ekspresi Bryan saat itu.
"Sammy...! Kak Samudra, tunggu!" Bryan mencoba mencegah. Ia pun memegang salah satu lengan Samantha yang lain.
"Apa mau lo, hah?!" Samudra mendengus dan menatap tajam ke arah Bryan. Kilatan api amarah terlihat jelas di sorot mata coklat miliknya.
"Lo ini kenapa sih, Dude? Datang-datang seperti orang kesetanan?" ucap Bryan heran.
Samudra semakin mengeraskan ekspresinya. "Ini bukan urusan lo, Bryan."
"Jelas ini urusan gue. Samantha cewek gue dan gue berhak melindungi dia." Bryan kini memasang badan, membusungkan dadanya ke arah Samudra, seolah bersiap untuk menantang pria bertubuh atletis itu.
"Bryan, udah cukup. Aku gak papa kok." Samantha mencoba melerai. Memegang kedua lengan Bryan dan menjauhkan dia dengan Samudra dalam beberapa jengkal.
Sementara semua mata tertuju ke arah mereka bertiga. Seolah penasaran dengan bahasa tubuh dua laki-laki itu yang seperti hendak berkelahi.
"Bryan, please.... It's ok, aku pulang bareng kak Samudra, okey?"
"Tapi...."
"Bryan...." Samantha menatap wajah Bryan dan mencoba untuk mendinginkannya.
Bryan mendengus dan hanya bisa mengangguk pasrah ke arah Samantha. "Terserah lo aja," ucap Bryan akhirnya. Dia pun kini memasang helm full face ke mukanya dan berlalu begitu saja dari hadapan Samantha dan juga Samudra.
"Bryan....!" teriak Samantha namun tidak direspon, Bryan malah semakin menarik dalam-dalam gas motor besarnya dan berlalu begitu saja dengan emosi yang meluap.
Sementara Samudra hanya membiarkan pria berseragam SMA itu pergi jauh-jauh dari Samantha.
"Kita pulang." Samudra menarik lengan Samantha dan membawanya menuju ke arah sebuah mobil hitam mengkilat.
"Aku bisa jalan sendiri, Kak!" Samantha berusaha melepas pegangan tangan Samudra. Ia tidak habis pikir dengan kakaknya itu, apa yang ada dipikiran Samudra ketika ia datang ke sekolahnya dan menyeretnya seperti anak kecil.
Samantha berusaha menarik tangannya dari cengkeraman tangan Samudra, namun gagal. Samudra begitu erat mencengkeram punggung tangannya sehingga menimbulkan tanda kemerahan di tangan putih Samantha.
"You... be a good girl, please," bisik Samudra dengan sorot mata tajam ke arah Samantha.
to be continue....
__ADS_1