
Bandung
Tentu saja Samudra akan bersikap lebih berhati-hati lagi jika berhadapan dengan Veronika. Ia mengetahui tipe perempuan seperti apa Veronika itu.
Sedikit egois dan menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang menjadi kemauan dia.
Dan kebiasaan mabuk Veronika masih saja yang menjadi masalah utamanya. Samudra pun mengakui bahwa dirinya pun penikmat segala jenis minuman dengan kadar alkohol tinggi, namun dia tahu batasannya.
Lagi pula Samudra adalah seorang dokter dan harus bisa mengontrol jumlah kadar alkohol dalam mengkonsumsi minuman tersebut.
Samudra pun menutup pintu kamar lalu menguncinya dari dalam. Dia lalu menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk.
Isi chat dia dengan Samantha masih menjadi beban pikirannya malam ini.
Berani-beraninya Bryan mencium Samantha, lagipula apa yang ada di pikiran Samantha saat laki-laki lain itu mencium bibirnya? Batin Samudra kesal.
Samudra memastikan akan menjadwalkan kepulangannya lebih awal. Dia tidak peduli akan protes yang pasti dilontarkan oleh Veronika.
Bagi Samudra, urusan Samantha lebih penting.
"Sial!" gumam Samudra.
....
Jakarta
Entah demi apa yang ada di pikiran Samantha saat memberitahukan kepada Samudra, perihal ciuman Bryan.
Awalnya mungkin ingin membuat Samudra khawatir? Marah? Atau cemburu? Entahlah...
Mungkin Samantha ingin Samudra merasakan semuanya itu. Seperti apa yang ia rasakan ketika melihat gambar-gambar yang Veronika unggah di sosial media milik mereka.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" gumam Samantha sembari memukul-mukul pelan kepalanya.
"Kenapa gue bisa se-bege ini sih?" gumamnya lagi.
Apa yang akan Samudra pikirkan tentangnya? Apa dia akan mengira jika adik kesayangannya itu telah berubah menjadi seorang Bi*tch?
"Sial!" dengus Samantha.
...----------------...
"Morning Mom..." sapa Samantha begitu ia turun dan menuju meja makan.
Maya tersenyum dan menerima kecupan kecil Samantha di kedua pipinya.
"Morning, sayang..."
"Morning, Dad...." Kini giliran Samantha mencium pipi laki-laki berusia sekitar empat puluh tiga tahun, namun ketampanan dan aura jiwa mudanya masih begitu kentara.
"Morning, honey..."
"Tumben Dad belum berangkat ke kantor?" tanya Samantha begitu ia duduk di samping ayahnya.
"Nanti agak siang dikit Dad ke kantornya. Lagipula ada sesuatu yang ingin Dad bicarakan sama kamu."
Samantha mengernyit, tidak biasanya ayahnya ber-ekspresi se-serius ini.
"Soal apa, Dad?" Samantha menarik sedikit ujung alisnya."
'Jangan-jangan ini soal Samudra?' batin Samantha panik.
"Ini soal kuliah kamu nanti."
Samantha akhirnya bisa bernapas lega.
__ADS_1
"Owh..... soal itu," Samantha mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya lega.
"Kamu ini udah kelas dua belas lho Sammy, dan harusnya udah bisa nentuin jurusan kuliah apa yang hendak kamu ambil. Dan perguruan tinggi mana yang kamu pilih."
Samantha mengerucut mendengar ceramah Samuel.
"Sam... ini kan lagi sarapan, nanti aja lah ngomong soal ini."
Maya kembali menjadi juru penyelamat Samantha ketika sedang diceramahi oleh ayahnya
"Iya nih, Dad. Daddy slow aja, gak usah terlalu mikirin Sammy."
"Tapi, Sammy..... sampai kapan kamu akan memberi jawaban surat-surat dari beberapa perguruan tinggi itu, hm?"
"Nanti pasti Samantha jawab kok, Dad tenang aja."
"Gimana Dad bisa tenang jika kamu masih aja bersikap slengekan gitu? Atau Dad yang akan carikan kamu sekolah di London? Biar Om Daniel yang akan carikan rekomendasinya, hm?!"
Samantha membolakan kedua matanya sambil mencomot roti selai dari Maya.
"No, Dad....! Samantha gak mau ke Inggris," geleng Samantha.
"Sam....! Berapa kali aku bilang, waktunya makan jangan bicara kerjaan atau urusan lain." Maya kembali mengingatkan.
Dan seperti biasa, Samuel selalu menurut apa yang menjadi titah Maya. Samuel menghela napas pelan dan mengangguk, lalu kembali menikmati makanan yang telah Maya siapkan untuk mereka.
Samantha kini menarik napas dalam-dalam, merasa sedikit lega dengan penyelamatan yang ibunya lakukan barusan.
"Thanks, Mom...." ucap Samantha tanpa bersuara ke arah Maya. Dan di balas respon anggukan oleh Maya, tanpa sepengetahuan Samuel.
....
Bandung
Veronika membuka kedua bola matanya perlahan, sempat ia memicing sebentar dan melihat ke sekeliling ruang kamar. Gadis itu bangkit dari tidurnya dan masih terduduk lemas di atas kasur empuk dan berselimut tebal.
Karena yang dia ingat, semalam ketika di club, dirinya begitu banyak menghabiskan gelas martini dan beberapa gelas tequila. Ah Samudra pasti akan memarahinya pagi ini, batin Veronika.
Gadis itu perlahan berdiri dari duduknya, memegang keningnya yang sedikit berdenyut sembari melakukan peregangan otot leher dan pundak.
Hingga tiba-tiba seorang maid wanita yang berusia sekitar empat puluh tahun memasuki kamar Veronika sembari membawakan baki berisi sarapan pagi.
"Udah bangun, Non? Ini sarapannya."
Maid itu meletakkan baki berisi makanan ke atas nakas samping ranjang dan hendak pamit keluar dengan sedikit membungkuk ke arah Veronika.
"Bik, Samudra udah bangun?"
"Sudah, Non."
"Owh...." Veronika hanya ber-oh-ria lalu meraih piring berisi nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi dan sosis panggang.
"Kalo begitu saya permisi, Non."
"Iya," angguk Veronika.
Perlahan ia pun mulai menyantap sarapan yang dibawakan Bik Surti dengan lahapnya. Tiba-tiba saja pagi ini perut Veronika mendadak begitu kelaparan.
....
Setelah sarapan dan mandi guna menghilangkan bau alkohol yang masih begitu kuat melekat di tubuhnya, Veronika turunnke lantai bawah menemui Samudra.
Tiba-tiba kedua matanya menyipit, melihat Samudra yang sudah begitu rapi sepagi ini.
"Kamu mau kemana, beb?"
__ADS_1
Samudra memalingkan sejenak wajahnya ke arah Veronika.
"Pulang ke Jakarta," jawab Samudra datar.
"Kok pulang sih? Kita di sini baru dua hari kok udah pulang?" protes Veronika.
"Aku ada urusan, kalo kamu masih mau di sini.... It's ok. Biar aku pulang sendiri."
"Terus akunya?"
"Kan ada Bik Surti yang melayani kebutuhan kamu."
"Tapi aku gak mau kalo gak ada kamu, beb."
Samudra mendesah panjang dengan kelakuan kekanakan Veronika.
"Terus mau kamu apa? Ikut pulang ke Jakarta sama aku, hm? Ya udah ayo kalo kamu ikut," jawab Samudra.
Veronika mengerucut kesal, dihentakkannya kedua kaki ke lantai dan bersungut. "Kamu kok gitu sih?!" sungut Veronika kesal.
**
Veronika akhirnya mengikuti Samudra pulang ke Jakarta, ya mau tak mau dia harus ikut pulang ke Jakarta.
Padahal awalnya rencana Veronika mengajak liburan ke villa di Bandung, agar bisa berdua saja dengan Samudra tanpa kecanggungan terhadap keluarga pria itu. Terutama terhadap Maya.
Dan yang menjadi alasan terbesarnya adalah, dalih Samudra yang tidak mau menyentuhnya selama keduanya masih tinggal di rumah orang tua Samudra. Dan Veronika begitu merindukan sentuhan lembut pria itu, seperti ketika keduanya masih berada di Boston.
Dan jika Veronika harus menunggu hingga mereka kembali ke Boston.... Veronika bahkan tidak bisa menunggu selama itu.
Veronika menyeret kopor beroda miliknya dengan wajah cemberut.
"Ya udah kita balik Jakarta," sungut Veronika.
Samudra yang tadinya tengah sibuk dengan layar ponselnya pun kini mengambil alih kopor dari tangan Veronika dan memasukannya ke dalam bagasi mobil.
"Kamu yakin mau ikut ke Jakarta? Kamu bisa tinggal di sini dulu kalo kamu mau."
"Buat apa? Kalo gak ada kamu?" jawab Veronika dan dengan wajah jutek ia memasuki mobil tanpa sempat Samudra membukakan pintu mobil untuknya.
Samudra menarik napas panjang sebelum memasuki ke arah pengemudi. Sebenarnya ia pun merasa bersalah terhadap Veronika. Namun rasa rindu dan kekhawatirannya kepada Samantha lebih menguasai batinnya.
Samudra menekan tombol engine start dan langsung menginjak gas mobil berjenis SUV hitam mengkilat miliknya.
...
Jakarta
Samantha mendengus dan masih memikirkan usulan ayahnya. Sekolah di London? Setidaknya itu bisa membuatnya sedikit melupakan Samudra. Menjauh dari Samudra dan berharap bisa menghilangkan perasaan cinta yang semakin kuat untuk sang kakak.
Tapi apakah ia sanggup? Sementara kehadiran Bryan pun tidak membuat Samantha bisa begitu saja melupakan percikan-percikan api asmara di dadanya untuk Samudra.
"Huufftt...!" Samantha membuang napas panjang, kedua netranya kini berotasi ke arah nakas tempat ia memajang beberapa pernak-pernik hiasan serta aksesori miliknya.
Netra Samantha mendadak tertuju ke arah botol minuman air mineral pemberian Bryan dulu.
Masih utuh dan ber-segel rapat, seperti janji Samantha dulu, ia tidak akan membuka atau meminum air mineral pemberian Bryan. Cowok yang dulu selalu menjadi impian Samantha.
Iya, padahal dulu Samantha benar-benar menyukai Bryan, namun kini Samantha sedikit ragu akan perasaannya sendiri. Dia memang menyukai cowok itu, tapi dalam hati kecil Samantha. Rasa sukanya terhadap Bryan tak lebih hanya rasa kagum dan cinta monyet SMA nya. Atau mungkin ia menyukai Bryan hanya sebatas pelarian perasaannya untuk Samudra? Entahlah.
Sedangkan dengan Samudra? Perasaan Samantha selama ini terhadap pria itu begitu dalam, seolah ia ingin menjadi milik Samudra seutuhnya, begitupun sebaliknya. Samantha ingin Samudra menjadi miliknya, hanya miliknya. Namun lagi-lagi permasalahan yang pelik itu selalu membuatnya terluka.
Permasalahan yang seperti benang kusut, mau diapakan juga akan tetap menjadi persoalan sulit dan tidak akan pernah ada jalan keluarnya. Karena Samudra adalah saudaranya, kakaknya sendiri.
"Oh God.... help me, please..." gumam Samantha.
__ADS_1
to be continue....