Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
Second Kiss


__ADS_3

Samantha berjalan menuruni tangga, Samantha pun berhenti sejenak ketika melihat Samudra yang sudah duduk bersama Veronika di meja makan. Mereka terlihat begitu mesra, sepertinya Veronika sengaja untuk bermanja-manja dengan Samudra ketika tidak ada orang lain di sana.


Samantha mengurungkan niatnya, ia berbalik ke atas sebelum sebuah suara memanggilnya.


"Sammy ayo makan malam dulu, Kakak udah masakin makanan kesukaan kamu." Siapa lagi kalau bukan Samudra. Samantha berbalik kembali, matanya justru tertuju ke arah Veronika yang terlihat sedikit cemberut menatapnya.


"Ehm- iya Kak."


Samantha pun kembali melangkahkan kakinya turun. Ia duduk di depan Samudra dengan canggung. Aneh sekali padahal sebelumnya Samantha tidak pernah se-canggung ini ketika sedang makan bersama Samudra. Setidaknya sebelum kejadian di Dufan waktu itu.


Ah, dimana ibu dan ayahnya ketika Samantha membutuhkan mereka? Atau setidaknya Benua, saudara kembar yang selalu saja mengajaknya ribut. Saat ini Samantha benar-benar membutuhkan anak itu untuk mengurangi rasa canggungnya terhadap Samudra.


Samantha bermaksud mengambil piring dan sendok, namun segera dicegah oleh Samudra.


Samudra pun berdiri dari duduknya untuk mengambil peralatan makan buat Samantha. Tak ketinggalan ia pun mengambil segelas air putih untuk gadis itu.


"Moms sama Dad kemana? Kok sepi gini?" tanya Samantha heran.


"Moms-Dad lagi keluar." Samudra menjeda kalimatnya. "Benua juga sedang keluar." Samudra melanjutkan kembali ucapannya. Lalu dia pun menyendokkan nasi putih yang begitu banyak buat Samantha.


"Cukup Kak, kebanyakan itu," protes Samantha.


Samudra pun mengurangi sepertiga dari nasi yang sudah ia sendok tadi. Ia pun mengisi piring bundar itu dengan berbagai lauk dan juga sayur sebagai pelengkap dan menaruh piring tersebut tepat di hadapan Samantha.


Veronika memutar bola matanya ke arah Samantha, lalu beralih ke arah Samudra dan mendengus kecil.


"Aku juga pengen diperhatiin seperti itu," ucap Veronika.


Ada semacam rasa jengah dan kesal yang Samantha sembunyikan ketika melihat Veronika yang berusaha menarik perhatian Samudra dan sepertinya memang dia sengaja melakukannya.


"Aku kurang perhatian apa lagi ke kamu, Ve?" jawab Samudra datar, ia pun masih terlihat sibuk memasukkan makanan ke mulutnya dan mengunyahnya perlahan.


"Kamu----" Veronika menjeda tiba-tiba kalimatnya. Dia sadar jika Samantha saat ini tengah diam-diam menguping pembicaraannya dengan Samudra. Sebenarnya tidak tepat kalau Samantha disebut menguping, karena dia memang berada di situ, di tengah-tengah mereka. Veronika tidak ingin adik kekasihnya melihatnya berdebat dengan Samudra.


"Aku kenapa?" tanya Samudra.


"Gak-gak papa. Nanti aja kita bicara di kamar berdua." Veronika melirik ke arah Samantha. Gadis itu memang terlihat tenang saat berada di meja makan, tapi Veronika tahu jika Samantha menyembunyikan sesuatu di dalam hatinya.


"Am, aku ke kamar kamu dulu. Kamu cepat naik ya." Veronika beranjak dari kursi begitu saja, lalu dengan langkah gedebak-gedebuk ia kembali menaiki anak tangga menuju ke kamar Samudra.


Samantha mendengus melihat kelakuan perempuan yang menjadi kekasih Samudra. Dia bahkan tidak habis fikir, kenapa Samudra menyukai tipe gadis seperti Veronika? Yang kekanakan, egois dan sedikit sombong itu.


"Maafin kelakuan Kak Vero, Sammy."


Samantha sedikit terkejut ketika mendengar ucapan Samudra. Seolah kakak nya itu bisa mengetahui apa yang ia pikirkan tentang Veronika.


"Hm," angguk Samantha.


"Tadi pagi kata Bibik, kamu ke Puncak sama Bryan?" tanya Samudra sembari menatap Samantha lekat-lekat.


"Iya," angguk Samantha dengan kepala setengah menunduk. Ia masih berushaa menikmati makan malam yang Samudra bikin.


"Kamu baik-baik aja kan? Gak di apa-apa in Bryan?" Ada nada khawatir dalam suara Samudra.

__ADS_1


"Aku bisa jaga diri," jawab Samantha pelan. Samantha meletakkan sendok dan garpu sehingga tercipta suara denting yang cukup keras dari piring bundar di hadapannya.


"Lagipula aku tau kok batas-batasan dalam pacaran dan gak suka adegan ranjang seperti Kak Am dan Veronika!" dengus Samantha. Membuat Samudra tercengang menatap Samantha.


"Aku udah kenyang!" ucap Samantha seraya berdiri dan mendorong kursi hingga berdecit.


"Sam...! Samantha...!" seru Samudra, namun tidak dihiraukan oleh gadis itu.


Samantha tetap saja berjalan menaiki anak-anak tangga hingga masuk ke dalam kamarnya.


....


Samantha menutup pintu kamar dengan sedikit keras. Dia menyandarkan punggungnya pada daun pintu dalam kamarnya. Napasnya memburu menahan emosi hingga tersengal-sengal. Seluruh tubuhnya bergetar, dia bahkan masih tidak percaya dengan apa yang telah ia katakan pada Samudra tadi.


Sial! Buat apa gue marah sama dia, hah?! batin Samantha kesal.


Cemburu? batin Samantha lagi. "Aku gak boleh seperti ini, kan?" cicit Samantha pada dirinya sendiri.


....


Tok.... Tok....Tok...


Sebuah suara ketukan terdengar dari luar pintu kamar Samantha.


"Boleh Kakak masuk?" Suara Samudra yang bagai sebuah candu kini terdengar dari luar.


"Sammy.... kita harus bicara." Samudra kembali membujuk gadis itu, tidak adanya jawaban apa-apa dari Samantha membuatnya sedikit khawatir.


"Sebentar saja, please..." bujuk Samudra lagi.


"Ada apa lagi, Kak?"


"Boleh Kakak masuk?" pinta Samudra dengan suara lembutnya.


Ada sedikit rasa takut yang menghinggapi diri Samantha. Bagaimana jika hal serupa saat di Dufan kembali terjadi? batinnya.


"Oke, kita bicara di luar." Ucap Samudra akhirnya. Tidak adanya jawaban dari Samantha membuatnya terpaksa bicara empat mata dengan Samantha di luar kamar.


"Kita bicara di dalam," jawab Samantha akhirnya. Ia pun mundur beberapa jengkal dan mempersilahkan Samudra memasuki kamarnya. Pintu kamar sengaja tidak Samantha tutup namun ia biarkan sedikit terbuka.


Ia lalu menyandarkan punggungnya pada tembok di balik pintu kamarnya dan berdiri tepat di hadapan Samudra.


"Maaf kalau Kak Am terlihat seperti ikut campur urusan kamu." Samudra kembali menjeda kalimatnya. Ia memandang ke arah Samantha yang tertunduk saat itu.


"Kakak cuma khawatir sama kamu, Sammy."


"Aku udah gede, Kak."


"Iya Kakak tau, tapi kamu selalu menjadi adik kecilnya Kakak."


Samudra memandang lekat wajah cantik itu.


"Dan selalu menjadi kesayangan Kakak," lanjut Samudra.

__ADS_1


"Terus mau Kakak apa, hah?" jawab Samantha sedikit berteriak.


"Kakak suka kan mainin perasaan ku?, jawab Kak!"


"Kakak mainin perasaan kamu gimana? Kakak gak pernah mainin kamu."


Samantha kali ini menatap Samudra dengan mata berkaca-kaca. Seolah ada sesuatu yang ingin dan harus ia ucapkan, namun entah mengapa lidahnya seolah kelu.


"A-aku----" Samantha tidak bisa melanjutkan ucapannya. Tiba-tiba saja air matanya keluar begitu saja.


"Sammy---- hey--- kamu kenapa nangis?"


Samudra menempelkan kedua telapak tangannya dan menangkup wajah Samantha.


"Kak Am jahat! Hiks.....!" tangis Samantha.


"Maafkan Kakak kalo ada salah."


Samudra menghapus air mata dari pipi Samantha dan tiba-tiba saja membawa tubuh Samantha ke dalam pelukannya.


"Maafin Kak Am," bisik Samudra tepat di telinga Samantha.


"Aku sayang Kak Am...." cicit Samantha lemah.


"Kakak juga sayang kamu, Sammy."


Samantha merenggangkan pelukan Samudra dan menggeleng beberapa kali. "Bukan sayang sebagai sodara... bukan sayang yang itu, Kak...!" geleng Samantha sembari terus terisak-isak.


"A-a-aku--- cinta sama Kak Am."


Entah apa yang merasuki Samantha saat itu. Namun rasanya perasaan itu tidak lagi sanggup ia sembunyikan dan berpura-pura sedang tidak terjadi apa-apa antara dia dengan Samudra.


....


Samudra tercengang begitu mendengar apa yang baru saja diucapkan adiknya. Ia pun merasakan hal yang sama, dan bagaimana mungkin ini terjadi? Entah karma apa yang akan terjadi nanti. Tapi Samudra tidak peduli. Dia mencintai Samantha, mencintai adiknya sendiri. Dan ini benar-benar perasaan cinta seorang pria dewasa pada gadis pilihan hatinya.


Samudra kembali mendekatkan wajahnya perlahan dan memiringkannya. Bibirnya kini kembali menempel dan menyatu dengan bibir Samantha. Kali ini keduanya memulai pergerakan itu, mereka saling berbalas ciuman lembut. Bukan ciuman karena naf*su melainkan karena cinta.


Samudra menempelkan telapak tangannya di leher Samantha, sementara satu tangannya yang lain memeluk pinggang gadis itu erat.


Samantha semakin terpojok ketika Samudra semakin menghimpit tubuhnya yang menempel pada dinding kamar luas itu.


Beberapa kali terdengar leguhan dari keduanya. Napas mereka pun memburu kencang. Jantung keduanya saling berpacu cepat, Samudra semakin mengeratkan pelukannya di pinggang ramping Samantha. Ciuman keduanya bahkan semakin panas, hingga pertukaran saliva terjadi tanpa ada rasa risih dalam diri Samantha.


"Samudra....! Sayang.....! kamu dimana sih?!" seru Veronika. Membuat Samudra melepas pagutan bibirnya secara sepihak.


"Maaf, kamu tunggu sebentar." Samudra berbisik di telinga Samantha dengan napas yang masih tersengal.


Samantha mengangguk pelan dan hanya memandang kepergian Samudra.


Hingga punggung Samudra tidak lagi terlihat, Samantha tetap berdiri di sana di ambang pintu kamar dengan jemari yang mengusap lembut bibir yang telah kembali direnggut oleh Samudra, kakaknya sendiri.


"Samudra...." gumamnya pelan.

__ADS_1


To be continue....


__ADS_2