Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
What did You Drink?


__ADS_3

"Ada satu lagi kejutan buat kamu, my princess..." bisik Samudra saat keduanya berada di dalam sedan hitam mengkilat itu.


"Kejutan apa?"


"Rahasia, kamu liat aja sendiri." Samudra menyeringai kecil.


"Ish, kak Am ini main rahasia-rahasiaan segala."


"Hahaha iya dong, yang namanya kejutan kalo disebutin sekarang, bukan kejutan lah."


Samantha memutar bola matanya kesal. Kalau tau Samudra bakal membuatnya penasaran seperti ini, lebih baik tadi ia ikut mobil orang tuannya.


"Malam ini nginep di apartemen kakak."


Bukan sebuah pertanyaan, namun ini lebih ke sebuah perintah Samudra yang harus Samantha patuhi.


"Harus?"


"Hm," angguk Samudra. "Katanya pengen tau dapat kejutan apaan? Ya harus wajib nginep ke apartemen kakak." Ucapnya lagi.


"Curang..." Samantha memutar bola matanya lucu. Bibirnya sesekali mengerucut menggemaskan.


...


Sesampainya di apartemen milik Samudra, gadis itu merotasikan pandangannya ke segala penjuru ruang apartemen. Sesekali melirik curiga ke semua sudut ruangan.


"Bukan di situ kejutannya," ucap Samudra seolah mengetahui apa yang ada dalam pikiran gadisnya.


Samantha terkekeh lucu, tak jarang ia menggaruk-garuk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


"Kak, sebutin dong kejutannya apa...?" rengek Samantha.


"Mau tau banget?" Samudra terus saja menggoda, terkekeh kecil saat melihat wajah penuh ke-kepo-an gadisnya.


"Kakak...!" pekik Samantha.


"Hahaha! iya-iya. Kamu tutup mata kamu dulu."


Pria itu membawa Samantha duduk di sofa dan menutup kedua netra gadis itu dengan sebuah syal sutra.


"Jangan kenceng-kenceng...." rajuknya.


"Iya." Samudra mulai menutup kedua netra gadis itu.


"Kamu duduk di sini, wait a minute okey?"


Samar, Samantha mendengar suara langkah kaki pria itu mulai menjauh dari tempat ia duduk. Hingga beberapa menit berlalu akhirnya terdengar derap langkah kaki seseorang.


"Sekarang buka mata kamu," ucap Samudra.


Samantha membuka syal penutup mata, sedikit memicingkan kedua netra saat melihat ke arah Samudra yang sudah duduk di hadapannya sembari membawa sesuatu berbulu lebat. Boneka? Samantha rasa itu bukanlah sebuah boneka karena benda berbulu itu bergerak-gerak.


Meow...!


Meow...!


Hingga suara meong-an pun keluar dari mulut makhluk dengan gumpalan bulu lebat berwarna putih itu. Mirip seperti gumpalan kapas hidup.


"Aaa... kucing...." Samantha berteriak girang. Lalu dengan cepat ia mengambil alih kucing itu dari tangan Samudra.


Samantha menggendongnya, menciumi serta memeluk erat makhluk berbulu tersebut.


"Hey... what's your name sweety?" Samantha menimang makhluk lucu itu.


Meow!


Meow!


Meow!


"Meo, sekarang nama kamu meo! Okey manis?"


Meow!


Meow!


Meow!


Seolah hewan berbulu lebat itu mengerti dan setuju dengan apa yang Samantha ucapkan, kucing itu pun menjawab dengan suara khasnya.

__ADS_1


"Dia langsung suka deh sama kamu." Samudra tersenyum melihat ekspresi Samantha malam itu.


"Hm, aku juga langsung jatuh cinta sama Meo," jawabnya sembari terus menciumi gemas binatang berbulu tersebut.


"Jadi punya saingan nih aku?"


"Hahaha! Kakak lebay ish, cemburu kok sama kucing." Samantha mencebik lucu.


"Biar kucing-kucing begitu, dia cowok lho!" jawab Samudra memasang muka jutek.


"Hahahaha! Please deh, Kak!" Kembali Samantha mencebik lucu.


....


Tiga hari setelahnya


"Meo, apa aku harus telpon kak Am aja ya?"


Meow!


"Bener?"


Meow!


Samantha dengan sigap meraih handphone yang terletak tidak jauh darinya. Menengok jam, sudah hampir jam makan siang. Layar ponselnya sudah menunjukkan profil Samudra. Gadis itu menatap Meo sejenak, tampak ragu untuk menekan tombol panggil. Tapi mendapati Meo yang menduselnya, seolah menyuruh untuk segera memanggil Samudra. Gadis itu pun menekan tombol hijau.


Berdering!


Samantha tersenyum girang, tak sabar untuk segera mendengar suara pria yang selama ini membuatnya rindu. Tapi sayang, pada detik ke lima, panggilannya ditolak. Seketika bibir Samantha melengkung ke bawah.


"Ditolak, Meo." Katanya sedih, kedua matanya jadi berkaca-kaca. Tak mau berputus asa, Samantha kembali mencoba melakukan tombol panggil. Dibenaknya mungkin Samudra salah tekan. Tapi sayang seribu sayang panggilan yang kedua ini malah tidak tersambung.


....


Malam harinya.


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam saat Samudra memarkirkan mobil di garasi mansion milik Samuel. Ia baru saja pulang dari praktek. Beberapa hari ini ia begitu disibukkan oleh urusan pekerjaan sebagai dokter. Ada salah satu pasien khusus yang harus ia tangani. Salah satu anak dari seorang pejabat pemerintah yang mengalami penyakit jantung bawaan sejak lahir. Dan itu sangat menyita perhatian Samudra yang sebagai dokter spesialis jantung sekaligus dipercaya oleh kedua orang tua anak itu sebagai dokter spesialis pribadi anak tersebut.


Malam ini harusnya ia pulang kembali ke apartemen, namun rasa lelah yang menderanya membuat Samudra lebih baik beristirahat di rumah kedua orang tua angkatnya. Karena jaraknya yang lebih dekat dari rumah sakit tempat ia praktek. Selain itu Samudra juga kangen dengan gadisnya. Sejak terakhir mereka bertemu, di malam pertunangan itu. Setelahnya, selama beberapa hari Samudra selalu disibukan dengan urusan pekerjaan di rumah sakit. Dan Samantha pun disibukkan juga dengan urusan perguruan tinggi yang akan ia pilih nantinya.


Mungkinkah pernikahan mereka akan diundur dulu? entah lah.


Samudra mengambil dua kaleng bir dari lemari pendingin. Ia langsung menuju ke ruang kerja di mansion itu. Ia harus segera memeriksa laporan kesehatan pasien khususnya, segera setelah ia mandi dan membersihkan diri.


Tidak ada istirahat sebelum ia menyelesaikan analisis nya dengan data-data pasien. Niatnya memang begitu. Tapi setelah beberapa menit berfokus pada pekerjaannya. Notifikasi dari handphone yang baru saja ia aktifkan mengambil alih fokusnya.


Ada beberapa chat dari Samantha, menanyakan apakah dia sudah makan atau belum, melaporkan segala kenakalan Meo, malam ini ia pulang ke apartemen atau ke rumah keluarga mereka, dan memintanya untuk tidak selalu pulang larut.


Ah, Samudra merasa bersalah pada gadis itu karena beberapa hari ini sedikit mengabaikannya. Apalagi siang tadi ia terpaksa menolak panggilan gadis itu. Bukan apa-apa, Samudra saat itu tengah sibuk dengan urusan pasien dan ia juga tidak ingin dicap sebagai dokter yang tidak berkompeten saat merawat pasien.


Menenggak bir dari kaleng, perhatian Samudra lalu teralihkan akibat sebuah suara pelan yang memasuki indera pendengarannya.


"Kak..."


Samantha di sana, di depan pintu ruang kerja. Kening Samudra mengernyit, menengok jam di layar ponselnya. Sudah jam sebelas lebih lima belas menit, gadis itu belum tidur? Atau terbangun dari tidur?


Samudra menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya, melihat gadis itu yang kini berjalan mendekatinya. Kedua mata Samudra sibuk mengawasi karena Samantha berjalan sempoyongan, sepertinya ia terbangun dari tidurnya dan nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. Batin Samudra.


"Eh!" gadis berpiyama strowbery itu tersentak kecil saat tersandung kakinya sendiri, membuat Samudra mendesis gemas.


"Ngapain? Kamu kebangun?" Tanya Samudra sesaat setelah gadis itu berdiri di samping meja kerjanya.


"Kakak kenapa mengabaikan aku? Kakak udah ngga sayang Sammy lagi?"


"Kakak lagi sibuk akhir-akhir ini."


"Bohong!" pekik Samantha. Gadis itu saat ini berposisi berdiri menghadap Samudra langsung, sambil tak henti mengusap pipi Samudra.


Samudra mengernyitkan kening saat mencium bau sesuatu dari bibir Samantha yang tampak basah.


"What did you drink?"


Alih-alih menjawab, Samantha malah kini tiba-tiba menangis tersedu mendengar nada bicara yang digunakan Samudra.


"Jawab!" Tekan Samudra, sebelah tangannya ia gunakan untuk mencengkeram rahang Samantha agar mau menatapnya. "Habis minum apa?!"


Baunya seperti.... Astaga semoga bukan!


"Minum."

__ADS_1


"Iya, minum apa, Sammy? Samudra gemas sendiri mendengar jawaban dari gadisnya.


"Galak!" celetuk Samantha, lagi-lagi tidak nyambung. Kepalanya kini menunduk. Tapi kemudian gadis itu tersentak kaget, membuat Samudra mengukuti arah pandang gadis itu.


"Kakak minum..."


Rahang Samudra seketika mengeras. Dihadapkannya lagi wajah gadis itu padanya. "Jawab yang jujur, kamu minum ini?" Samudra mengangkat kaleng bir tepat di depan mata Samantha.


"Nggak enak."


"Kamu minum ini apa nggak? Jawab yang jujur, Sammy!"


"Jangan marah-marah...."


"Astaga Sammy!" Pekik Samudra saat gadis itu malah tersenyum sendiri kemudian tak lama kembali terisak dan tak menjawab pertanyaannya.


"Kakak marah?"


"Yes of course! I'm mad. Kakak marah kamu minum ini. Ini alkohol Sammy, astaga!" Samudra memijit keningnya yang bertambah pening antara merutuki kebodohannya menaruh kaleng bir sembarangan dan mendengar Samantha yang semakin menangis tersedu.


Ya Tuhan! Harusnya gue gak coba-coba lagi minum alkohol! batin Samudra.


"Maafin Sammy, kakak jangan pergi, jangan marah sama Sam."


Lihat? Gadis itu melantur lagi. Tidak nyambung. Gadis itu beneran mabuk karena banyak minum bir! Astaga! Samudra semakin merutuki kebodohannya.


Menghela napas pelan, Samudra menunduk sekejap sebelum kembali menatap ke arah kedua mata gadis itu. Kali ini tatapannya sedikit melunak tapi tetap saja mengintimidasi. Gadis itu terus saja melantur tentang ancaman, teror, perempuan jahat dan sebagainya.


"Liat orang yang kamu ajak bicara!" Sela Samudra geram sekaligus gemas karena Samantha terus saja menunduk. Dengan satu tangannya, Samudra mengangkat dagu gadis itu hingga tatapannya bertemu.


"Kakak jangan pergi dari Sammy. Gimana kalo dia ambil kakak? Terus Sammy sama siapa? Jangan mengabaikan Sammy lagi, juga Meo."


Lagi-lagi gadis itu bicara melantur. Membuat Samudra mende-sah pelan. Ia merasa bersalah karena telah mengabaikan gadis itu beberapa hari ini.


"Sammy cintanya sama kakak, bukan Bryan. Kakak cinta Sammy juga kan? Meo juga kan? Meo.... Sammy juga mau peluk Meo. Jangan ambil Meo dari Sammy."


Samudra menghembuskan napas kasar. Jika Samuel tahu kalau Samantha mabuk gara-gara ia ceroboh menuruh kaleng bir. Dirinya pasti akan dihajar habis-habisan oleh ayah angkatnya itu. Perlahan ia usap ujung kepala gadis yang kini sudah terlalu mabuk itu.


"Denger, kakak ngga akan ninggalin kamu. Ngga akan ada satu orang pun yang nyakitin kamu, I promise. Kamu itu milik kakak, tanggung jawab kakak. Kamu ngerti?"


Samantha mengangguk menjawabnya.


Samudra merasa gemas luar biasa pada tingkah gadis yang hidung dan pipinya memerah di hadapannya. Entah karena menangis atau mabuk.


"Be a good girl for me. Promise?"


"Promise."


"Samantha punyanya kakak, ngerti?"


Samantha mengangguk lagi, pelan. Kedua matanya sudah sangat tidak fokus, sayu sekali ingin terpejam. Entahlah, Samantha seperti terkena hipnotis malam ini.


"I need your words." Titah Samudra. Kedua matanya menatap serius wajah Samantha yang berjarak hanya sejengkal dari wajahnya.


"Iya, Samantha punyanya kakak." Kata gadis itu pelan tapi masih bisa di dengar oleh Samudra. Sesaat setelah Samantha merampungkan kalimatnya, Samudra segera menahan tengkuk gadis itu dan mempertemukan bibirnya dengan bibir Samantha yang sedari tadi menjadi incarannya.


Ah sial! Samantha benar-benar meminum birnya!


to be continue.....


************


Cuplikan part selanjutnya


Semilir angin dari pendingin ruangan dalam kamar itu menerpa kulit, membuat bulu kuduk gadis itu merinding karena kedinginan. Refleks ia merapatkan selimut tebal yang membalut tubuh kecilnya. Kepalanya semakin menunduk, membuat dia seperti bayi yang tertidur meringkuk.


Kenyamanan dari kasur yang super duper empuk dan kehangatan dari selimut tebal yang menimpa tubuhnya membuatnya semakin berat untuk membuka kedua matanya. Lalu sebelah tangan gadis itu terangkat guna meraih guling yang biasanya ia peluk ketika tidur.


Wangi.


Gulingnya wangi sekali. Tapi wanginya bukan seperti wangi guling yang biasanya ada di atas kasurnya. Apa mbak Pur mengganti merk pewangi? Bisa jadi, kan? Karena wanginya sangat memanjakan indera penciumannya. Samantha semakin menyusrukkan kepalanya dan memeluk gulingnya itu. Tapi hal itu yang malah membuatnya bingung. Keningnya mengernyit saat wajahnya merasa geli. Dirabanya guling itu dan semakin membuatnya bingung. Sejak kapan gulingnya bertekstur seperti ini? Seperti ada rambut-rambutnya. Sarung guling model baru kah?


Tunggu! rambut?!


"Hah????!" Samantha terkejut saat membuka matanya. Tubuhnya reflek bangkit dan mundur menjauhkan diri dari sosok yang ia temui pagi ini. Sumpah! benar-benar di luar dugaan. Bagaimana bisa Samudra berada di sini? Jadi sedari tadi yang ia peluk adalah kepala Samudra?


Astaga!


"Kakak!!! Ngapain di sini?"

__ADS_1


........ Next part 👉


__ADS_2