
Bagaimana tidak kesal, ia baru saja menyelesaikan rapat bersama seluruh direksi rumah sakit dan mengecek ponselnya karena mendapat banyak notifikasi yang masuk. Jangan tanyakan siapa yang membuat ponselnya berdering terus menerus. Jelas saja itu ulah para sahabat laknatnya yang memanas-manasi Samudra tentang unggahan terbaru Samantha di sosial media. Samudra benar-benar marah, bagaimana ia tidak marah jika sang gadis yang sudah ia klaim menjadi kekasihnya bahkan calon istrinya kini memamerkan lekuk tubuhnya di sosial media.
Samudra akui, selain Samantha cantik, ia juga terlihat lebih dewasa dan menggairahkan. Sialnya itu bisa dilihat laki-laki lain dan bahkan ada yang merayu dan mengajak Samantha untuk menjadi kekasihnya. Oh yang benar saja, Samudra tidak menyukai jika miliknya dilihat bahkan digoda oleh pria lain.
Heri pun tak luput dari sasaran kemarahan Samudra. OB yang biasa melayani Samudra itu tidak banyak berkomentar, ia tau jika sang bos sedang dalam mood yang buruk. Ia sudah dapat menebak apa penyebabnya, meski Heri hanya seorang office boy di rumah sakit Medika Center, Heri selalu mengikuti update berita-berita terbaru tentang gosip yang beredar di sosial media. Heri pun tau penyebab sang dokter yang uring-uringan hari ini, tak lain karena foto postingan gadis yang sedang dekat dengan Samudra di Instagram terbaru gadis itu. Bodohnya lagi, Heri ikut-ikutan memberi like pada foto itu dan sukses membuatnya mendapat amukan dari Samudra.
Samudra yang merasa kesal akhirnya mengetikkan chat singkat kepada Samantha.
^^^Sammy, angkat telfon kakak. Apa maksud kamu mengabaikan panggilan kakak, hm?!^^^
Send
Samudra menunggu dengan gelisah respon dari Samantha, namun tak kunjung mendapat respon tersebut. Ponselnya tetap saja sunyi. Samudra mencoba menelpon lagi dan ternyata handphone Samantha dinonaktifkan. Samudra tak henti-hentinya memaki dan mengumpat dengan segala sumpah serapahnya. Samantha, gadis itu berhasil memancing emosinya.
"Maaf dok, Tuan Baskoro meminta Anda datang ke perusahaan beliau yang ada di jalan Asia-Afrika." Ucap Aisya tiba-tiba.
"Sekarang?" tanya Samudra dengan sedikit nada ketus.
"Iya, dok." Aisya mengangguk sopan, lalu kembali keluar dari ruang pribadi Samudra.
"Ah sial!" geramnya. Kenapa disaat seperti ini, kakeknya yang juga pimpinan tertinggi direksi rumah sakit Medika Center, meminta untuk datang ke perusahaan? batin Samudra kesal.
Tapi tunggu dulu! Bukannya mall yang dikunjungi Samantha berada di daerah yang sama? pikir Samudra. Kali ini dengan cepat pria itu menyambar kunci mobil, handphone dan dompet dari atas meja. Sekalian saja dia menemui Samantha di mall itu, semoga saja gadis itu masih berada di sana. Batin Samudra lagi.
....
"Gimana rencana kita, Sammy? Berhasil?" tanya Amel penasaran.
"Tentu saja, dia bahkan menghubungi gue lebih dari sepuluh kali. Terakhir dia juga ngirim gue pesen tapi ngga gue balas," jawab Samantha sambil memperlihatkan layar ponselnya kepada Amel dan Jully.
"Ih-rencana lo jahat ngga sih Mel?" ucap Jully sambil menyeruput es boba mocacino miliknya.
Mereka saat ini tengah bersantai di sebuah restoran yang ada di pusat perbelanjaan siang itu.
Samantha merespon apa yang Jully ucapkan barusan. Kini ekspresi khawatir pun bergelayut di wajah cantiknya. "Iya Mel, gimana kalo Samudra malah marah? Dan---apa kita ngga jahat ngerjain dia seperti ini?" ucap Samantha khawatir.
"Ngga bakal kak Samudra marah ke elo. Dia kan cinta mati sama lo." Jawab Amel.
Netra Amel berotasi kemudian, menangkap sosok yang mampu membuatnya mendapat ide baru yang bisa dibilang lebih briliant dari yang sebelumnya.
"Aha....!" pekik Amel tiba-tiba. Spontan saja membuat Samantha dan Jully kaget dan saling memandang heran satu dengan yang lain.
"Apaan sih lo Mel?! Ngagetin aja!"
"Iya nih, kesambet setan apaan lo, Mel?" Jully pun mengerucutkan bibirnya kesal, hampir saja ia tersedak boba yang yang minum.
"Gue punya ide yang lebih heboh!" Ucap Amel sambil tersenyum lebar, beberapa kali ia menarik alis tebalnya sembari memberi kode ke arah kursi yang ada di pojok depan, restoran.
"Apaan?"
"Gini, lo mau yang lebih panas lagi buat ngetes kak Samudra?" tanya Amel sembari tersenyum penuh misteri.
"Maksud lo?" Samantha mengerutkan kening ke arah Amel dengan penuh selidik.
"Lo harus mengunggah foto kalian ke Instagram lo." Jawab Amel sambil matanya menunjuk ke arah Bryan yang saat itu tengah duduk sendiri di pojok restoran.
"Yang benar aja, ntar Samudra tambah ngamuk," geleng Samantha.
"Ya kan itu tujuannya. I mean... ngga buat kak Samudra ngamuk beneran. Lo pengen liat ngga reaksi kak Samudra gimana?" Amel melanjutkan.
"Gimana menurut lo, Ly?"
Jully mengedikkan kedua bahu kecilnya. "Terserah lo aja sih, Sam."
Setelah berfikir beberapa detik, akhirnya Samantha menganguk menyetujui ide briliant Amel. Atau bukan ide briliant? Melainkan ide gila Amel.
Samantha akhirnya menarik keluar ponsel yang tadinya di dalam tasnya dan mengirimkan chat ke nomor Bryan.
__ADS_1
^^^Bryan lo di restoran ini juga?^^^
Sending...
Samantha menekan tulisan send di layar handphone. Hanya menunggu beberapa menit saja untuk menunggu chat balasan dari Bryan.
Ting....
Akhirnya ponsel Samantha berdering singkat.
^^^Kamu dimana, Sammy?^^^
^^^Bryan Viander^^^
look at the window to your right.
Bryan terlihat merotasikan netra dan kepalanya, mencari sosok si pengirim pesan singkat.
Samantha terlihat melambaikan tangan begitu pandangan Bryan tertumbuk padanya.
^^^Aku kesana, boleh?^^^
^^^Bryan Viander^^^
Samantha tentu saja mengangguk pelan dari seberang, sembari menulis kata Oke dari ponselnya.
Sosok tubuh tinggi atletis Bryan pun mendekat ke arah meja tiga gadis cantik yang seumuran dengannya.
Bryan tersenyum kecil ke arah Samantha sebelum ia duduk tepat di sebelah Samantha.
"Hey, aku ngga tau kalo kalian ada di sini juga."
"Ish yang bener aja, lo tau dari unggahan Samantha di IG kan?" ucap Amel mencibir.
Bryan terkekeh. "Sialan! jiwa cenayang lo ngga pernah ilang ya Mel?Hahaha!" canda Bryan sambil terkekeh sebentar.
Amel mencibir begitupun dengan Jully yang saat itu memang sengaja bergeser tempat duduk, agar Bryan dapat duduk berdampingan dengan Samantha. Seperti rencana mereka sebelum Bryan menuju ke arah meja mereka.
"Lo udah pesen makanan?" tanya Samantha.
Bryan mengangguk pelan. "Udah."
"Oh-ya kamu rencana mo kuliah ke mana, Sam?"
"Belum tau," geleng Samantha.
Sejenak ada keheningan diantara keduanya. Membuat Amel dan Jully memutar bola matanya dan mendengus pelan.
"Kalo lo Bryan? Lo rencananya mo ngelanjutin kemana? London? Singapure? Atau Aussy?" Amel kini angkat bicara. Sesekali memberi kode ke arah Samantha agar segera menjalankan rencananya. Apalagi kalo bukan berselfi ria sama Bryan.
"Boston. Bokap gue nyaranin gue ke Harvard."
Samantha spontan membolakan matanya lebar. "Boston?" tanyanya.
"Iya. Emang kenapa? Kamu mo ke sana juga?" Ada raut kegembiraan di wajah Bryan. Mungkin berharap gadis itu juga akan melanjutkan sekolah di sana.
"Belum tau," geleng Samantha lagi.
"Ehemmm...!"
"Lo kenapa Mel? Haus?"
Eh buset ni bocah, dari tadi ngga ngerti kode dari gue?
"Iya nih, kekeringan gue!" Amel membulatkan bola matanya ke arah Samantha. Sedangkan Jully dari tadi sibuk dengan memandangi wajah Bryan.
"Oke-oke... wait a minute..." Samantha bergumam sedikit berbisik ke arah Amel.
__ADS_1
"Em-Bryan---kita selfi yuk? Eh-udah lama kan kita ngga selfi bareng?" Ucap Samantha akhirnya.
Bryan tentu saja langsung mengangguk cepat. Baginya ini adalah kesempatan yang lama ia tunggu-tunggu. Dan akhirnya Samantha memintanya juga.
"Oke," angguk Bryan semangat.
"Amel-Jully.... kalian ngga ikut?"
"Kita mah ntar aja, setelah kesempatan selfi kedua atau ketiga, hehehe!" Amel terkekeh memberi kode.
Sialan nih anak! Ngga akan ada kesempatan kedua atau ketiga. Sekali aja gue ogah selfi bareng Bryan. Kalo aja bukan karena ide gila lo, Amelia Hutomo! rutuk Samantha dalam hati.
Akhirnya, chesee...
Samantha dan Bryan pun berpose di depan layar pipih ponsel Samantha.
Cekrek! Cekrek! Cekrek!
Beberapa kali keduanya mengambil foto bareng. Samantha mencoba memasang muka kocaknya agar terlihat nyaman berada di dekat Bryan. Sebenarnya hal ini membuatnya jengah.
"Oke deh, thank's Bryan..." Amel langsung saja menyambar handphone milik Samantha, mengasingkan diri dan berkutat dengan benda pipih itu.
Samantha yang melihatnya, tiba-tiba merasa khawatir. Takut-takut jika Amel melakukan hal gila tentang ide-nya tadi.
"Oh ya Sammy, prom night nanti kamu ada pasangan?" Ah pertanyaan yang bodoh, rutuk Bryan.
"Em-U-dah---" Samantha menjawab ragu.
"Lo datang bareng gue aja, Bryan..." Jully menyambar percakapan keduanya.
Bryan hanya tersenyum simpul merespon.
Sementara Samantha melihat Amel yang sedari tadi masih terlihat asik dengan handphone miliknya.
"Eh gue ke Amel dulu ya, Ly lo gpp kan gue tinggal bentar?"
Jully mengangguk cepat sembari senyum-senyum sendiri memandang Bryan.
Membuat Bryan sedikit tidak nyaman.
...
"Mel!" ucap Samantha mendekat.
"Eh-gue udah pilih satu foto yang pas banget buat lo upload di IG lo," kata Amel semangat.
Ia lalu memperlihatkannya pada Samantha.
"Gimana menurut lo?"
Samantha tidak langsung merespon. Ia sedikit berfikir apakah ide Amel ini akan berbuntut baik ato ngga nantinya.
"Sammy?!"
"Eh-ya udah deh, serah lo aja."
Amel tersenyum mengangguk.
"Jadi fix ya yang ini?"
"Iya!"
Amel pun kemudian mengunggah satu foto Samantha dengan Bryan. Keduanya terlihat begitu kompak dan menggemaskan. Tanpa menuliskan caption apa-apa. Hanya sebuah emoticon hati berwarna merah yang menjadi penanda postingan tersebut.
876.662 likes SamanthaOlivia ❤ View all 450 comments
__ADS_1
Benar saja selang beberapa menit unggahan itu sukses membuat Samudra semakin berang. Samudra mencoba menelpon Samantha lagi dan mengiriminya banyak pesan yang isinya sama. Mengancam Samantha untuk mengangkat telepon darinya. Tentu saja keras kepalanya Samantha tidak mengindahkan ancaman Samudra.
to be continue...