
"Sammy..."
"What?"
"Kak Samudra yang ganteng itu kok gak pernah jemput lo lagi sih?" tanya Jully.
"Iya Sam, padahal gue selalu siap-siap dandan yang cantik buat pujaan hati gue," timpal Amel genit.
"Ish, pujaan hati dari Hongkong?" Samantha mencibir.
"Ih, Sammy.... emang lo gak mau apa jadi adek ipar gue, hah?" jawab Amel narsis.
"Hueekkk....! Ogah gue punya kakak ipar kayak lo." Samantha memutar bola matanya malas.
Ketiganya masih terlihat cekakak-cekikik saat berjalan menyusuri lorong-lorong sekolah. Sore itu masih terlihat rame, karena bel tanda pelajaran usai baru saja berbunyi dan sebagian besar murid-murid SMA Unggulan masih berdiam diri di sekolah, baik itu di dalam kelas maupun di sepanjang lorong-lorong kelas.
"Sammy, tuh pangeran berkuda besi lo udah nunggu," tunjuk Amel seraya memajukan kepalanya guna menunjuk Bryan yang sudah bersiap-siap menunggu Samantha di atas motor sport merahnya.
Samantha mendengus pelan, ia terlihat membuang napas begitu dilihatnya Bryan dengan wajah tengilnya sedang menatap ke arahnya.
"Lo kenapa sih Sammy? Kok seperti orang gak suka aja liat Bryan." Amel bertanya selidik.
"Padahal Bryan itu orangnya cakep lho, yah... sebelas dua belas lah sama kak Samudra." Amel melanjutkan celotehannya.
"Tapi menurut gue tetep kak Samudra yang paling nomor satu." Jully ikut nimbrung percakapan keduanya.
"Ish, kalian ini bawel amat sih?! Samudra itu udah punya cewek, mana se*ks*soy lagi." Samantha mendengus pelan.
"Serius?" tanya Jully dan Amel bersamaan.
Samantha mengangguk dengan bibir yang ia kerucutkan.
"Yah.... kalah sebelum berperang nih gue," dengus Amel dengan ekspresi lebaynya. Seolah dia benar-benar terpukul mendengar kabar itu.
"Tapi kalo gue tetep cemungut! selama janur kuning belum melambai, hahaha!" tawa Jully lebar.
"Sammy, lo kenapa diem?" Amel mengernyit heran, tidak biasanya sahabatnya itu menjadi pendiam seperti sekarang. Biasanya Samantha paling getol membalas celotehan mereka dengan kelakar pedasnya.
"Gue gak papa," geleng Samantha.
"Eh gue duluan ya, bye..." Samantha melambaikan tangan ke arah kedua sahabatnya, lalu berjalan menuju arah Bryan yang sedari tadi menunggunya sembari bersenda gurau dengan teman-teman satu geng nya.
"We go home now, Bryan?" tanya Samantha lesu.
"Oke." Bryan mengangguk lalu mulai memutar kunci motor dan menghidupkan mesin berkekuatan 1000 cc itu.
"Oke gais... gue cabut dulu ya." Ucap Bryan kepada sahabat-sahabatnya setelah Samantha naik ke motor sportnya.
Ia pun melajukan motor merah itu meninggalkan parkiran sekolah.
Menyisakan tatapan-tatapan iri dari beberapa siswi murid-murid SMA Unggulan saat melihat Samantha jadian dan berboncengan dengan cowok idola mereka.
...
"Kenapa kita malah ke sini sih?" decak Samantha begitu Bryan menghentikan motor sportnya di parkiran sebuah restoran mahal.
"Aku pengen aja," jawab Bryan sembari melepas helm.
__ADS_1
Samantha turun dari motor besar Bryan, melepas helm full facenya dan kembali merapikan rambut ikalnya yang sedikit acak-acakan karena tertiup angin.
"Bryan, aku telpon Mom dulu. Bilang kalo pulang terlambat."
Bryan mengangguk pelan mengiyakan.
Setelah beberapa menit Samantha melakukan sambungan seluler ke nomor Maya, gadis itu kembali mendekat ke arah Bryan.
"Sudah?"
"Hm," angguk Samantha.
"Mommy kamu gak marah kan?"
"Gak," geleng Samantha. "Tapi Mom bilang pulangnya jangan kemaleman." Samantha melanjutkan kembali ucapannya.
"Siap...!" jawab Bryan dengan sikap memberi hormat, seperti ketika sedang upacara bendera.
Samantha tersenyum kecil melihat apa yang dilakukan Bryan barusan. Cowok itu memang kadang-kadang bisa membuat senyum Samantha tiba-tiba mengembang.
Saat ini Bryan dan Samantha duduk di ruangan rofftop restoran. Dan Bryan memang memesan tempat di rofftop. Selain romantis, pemandangan dari atas rofftop terlihat lebih indah jika dibandingkan dengan ruangan yang ada di lantai bawah.
"Sammy...."
Bryan membuka percakapan, setelah beberapa detik dirasa ada keheningan antara keduanya.
"Iya?"
"Kamu ada masalah?"
"Belakangan ini aku lihat, kamu sering diem jika sama aku. Tapi giliran kamu senyum---" Bryan menjeda ucapannya.
"Aku bahkan gak tau kamu senyum gara-gara apa dan terkadang kamu juga sibuk dengan pikiran kamu sendiri." Bryan menambahkan.
"I'm oke kok, gak ada masalah apapun."
"Kalo aku ada salah atau kalo kamu ada masalah sama aku, kamu tinggal ngomong aja. Gak usah kamu tutup-tutupi atau merasa gak enak sama aku." Bryan melanjutkan.
Samantha mendesah panjang, dia bahkan tidak tahu harus mulai darimana. Perbuatan bodoh, jika Samantha jujur akan perasaannya terhadap Samudra, kakaknya sendiri.
Selain hal itu akan membuat Bryan terluka, pastinya Bryan juga akan menganggap dirinya cewek aneh, dan tidak normal.
"Sammy....." Bryan kembali mengusik lamunan Samantha.
"Bryan--- Aku---" Samantha menggantung kalimatnya.
"Kamu suka sama cowok lain?" Tebak Bryan dengan ekspresi ketakutan.
Samantha kembali membuang napas panjang.
Sebelum akhirnya dua orang waiters berjalan mendekat ke arah mereka dengan membawa baki berisi beberapa makanan dan minuman yang mereka pesan tadi.
Akhirnya Samantha bisa bernapas lega, seolah kedua waiters itu telah menyelamatkan dia dari pertanyaan Bryan.
"Aku lapar, sebaiknya kita makan dulu hehehe...." Samantha terkekeh.
"Hm, oke...." jawab Bryan yang juga tersenyum kecil.
__ADS_1
....
Jam di pergelangan tangan Samantha, menunjukkan hampir pukul setengah delapan malam. Dan saat ini mereka malah masih berada di atas rofftop restoran. Udara dingin yang menusuk membuat Samantha tidak nyaman. Berkali-kali ia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, berusaha membuat hangat tubuhnya. Namun hal itu percuma, angin yang sedikit kencang dari atas rofftop seolah leluasa menusuk pori-pori kulitnya.
Coba aku bawa jaketnya Kak Am tadi, batin Samantha.
Sedangkan Bryan tidak menyadari kode dari Samantha yang mencoba mengatakan jika gadis itu sangat kedinginan.
Hingga Bryan menoleh ke arah Samantha dan melihat bibir gadis itu sedikit menggigil. Wajah Samantha juga terlihat memucat.
"Kamu kedinginan?"
Samantha mengangguk. 'Darimana aja lo? Kenapa baru menyadari jika gue kedinginan? super kedinginan.' Batin Samantha.
Bryan akhirnya melepas jaket yang ia kenakan dan memakaikannya ke tubuh Samantha.
Bryan mencoba mengeratkan jaketnya yang kini telah berpindah posisi ke tubuh Samantha.
Hingga jarak keduanya begitu dekat. "Kamu cantik, Sammy," ucap Bryan dengan bola mata berbinar.
Samantha yang masih kedinginan hanya bisa tersenyum ketika Bryan memujinya. Samantha bahkan tidak bisa bergerak saat tubuh Bryan menguncinya erat.
"Can I...?" ucap Bryan, kedua matanya bahkan tidak pernah terlepas dari wajah Samantha.
"Can you what?" tanya Samantha seolah tidak mengerti maksud Bryan.
"Kiss you...?" jawab Bryan lembut. Kedua netra mereka pun saling bertemu dan berpandangan.
Samantha terdiam, dicium Bryan? batin Samantha.
"Sammy?" ucap Bryan lagi, kedua netra cowok itu bahkan mengisyaratkan agar Samantha setuju akan permintaannya.
Beberapa detik tidak ada jawaban dari Samantha, membuat Bryan akhirnya nekat untuk semakin mendekatkan wajahnya.
Kini posisi kepala Bryan sudah miring dan hanya tinggal beberapa centi saja untuk mencium Samantha.
Hingga akhirnya bibir Bryan menempel di atas bibir Samantha. Satu ciuman kecil di ujung bibir Samantha pun kembali terulang. Namun kali ini bukan bibir milik Samudra, tapi bibir Bryan.
Tubuh Samantha seolah membeku. Rasanya.... ciuman itu sangat berbeda, bibir yang menyentuh bibirnya kali ini tidak memberikan kehangatan di relung hati Samantha.
Dia bahkan tidak bisa merasakan letupan-letupan kebahagiaan, seperti ketika Samudra yang menciumnya.
"Bryan...." Samantha menarik diri dari jarak mereka.
"Ini udah malam, kita harus pulang," ucap Samantha datar.
Dia pun beranjak beberapa centi dari Bryan, seolah tengah sibuk memperbaiki penampilannya dan meraih tas berwarna putih di atas meja restoran.
"Please, antar aku pulang sekarang." Samantha mengulangi lagi permintaannya.
"Oke," angguk Bryan yang juga terdengar tanpa semangat.
"Thank's...."
Bryan hanya mengangguk pelan menjawabnya.
to be continue....
__ADS_1