Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
Rindu


__ADS_3

Samantha menarik napas dalam-dalam ketika dilihatnya sebuah foto unggahan di salah satu sosmed milik Samudra. Bukan Samudra sendiri yang mengunggahnya, melainkan Veronika. Gadis itu mengunggah dengan menge-tag akun milik sang kakak dengan caption yang membuat jengah saat membacanya.


Beberapa foto keduanya yang terlihat mesra di sebuah villa besar bernuansa alam asri. Bahkan Samudra sendiri terlihat begitu menikmati saat-saat kebersamaan dia dengan Veronika. Pria itu tersenyum kecil ketika Veronika memeluk tubuhnya. Dan ada satu lagi foto yang membuat Samantha begitu terluka. Foto ketika Veronika mencium ujung bibir Samudra yang memang sengaja diambil gambarnya oleh perempuan itu.


"Bi*tch...!" gumam Samantha kesal.


Kedua bola mata Samantha berotasi jengah dan membanting telepon selulernya begitu saja ke atas kasur empuknya.


"Aaarrgghh....!" erang Samantha kesal.


"Non... di tunggu Tuan dan Nyonya di meja makan, Non Sammy disuruh makan malam bareng," ucap Mbak Pur dari luar pintu kamarnya.


"Ya, Mbak....!" jawabnya tanpa membuka pintu tersebut.


....


Bandung


Beberapa kali Samudra memutar bola matanya jengah ketika Veronika mengajaknya untuk ber-swafoto berdua. Beberapa kali pengambilan gambar selfi yang Veronika ambil membuat Samudra terpaksa menarik sebuah senyuman di kedua sudut bibirnya.


"Ayo dong sayang.... kamu senyum jangan manyun gitu ah..." ucap Veronika saat dilihatnya wajah Samudra yang sedikit datar dan nampak lelah.


"Aku capek Ve, gak bisa foto-foto nanti aja?" Samudra berusaha menghindar. Namun dengan cepat Veronika menarik lengan pria itu mendekat ke arahnya dan mengarahkan kamera ponselnya ke arah wajah mereka.


"Senyum, Samudra! please." Veronika memohon, mau tak mau membuat Samudra tersenyum akhirnya.


Cekrek...!


Satu jepretan.


Cekrek...!


Dua jepretan, dan begitu seterusnya hingga Samudra merasa jengah.


Hingga pada jepretan terakhir Veronika. Gadis itu sengaja menempelkan bibirnya di ujung bibir Samudra. Membuat pria itu begitu kaget akan ciuman Veronika yang spontan dan tiba-tiba.


"Ve! Apa-apaan sih kamu?"


"Lho emang kenapa?" Ekspresi Veronika bahkan seperti tanpa dosa.


"Bukannya kita dulu biasanya berpose seperti itu? Dan kamu gak pernah protes?" ucap Veronika lagi.


Samudra mendengus. "Udah ya! Aku lelah Ve dan mo tidur." Wajah Samudra terlihat begitu kusut. Mungkin akibat berkendara selama kurang lebih empat jam karena arus lalulintas tol sedikit tersendat karena adanya kecelakaan. Atau gara-gara aksi ciuman Veronika tadi? Yang pasti saat ini Samudra ingin sekali menghindar dari Veronika untuk sesaat.


"Kok tidur sih, Am? Kita kan belum jalan-jalan keliling Bandung."


"Nanti."


"Tapi aku maunya sekarang!"


Samudra menghentikan langkahnya jengah. Ia menoleh ke arah Veronika seolah ingin mengatakan sesuatu yang tidak sepantasnya ia ucapkan.


Samudra membuang napas kasar, mencoba menata kembali emosinya.


"Kalo kamu mo jalan-jalan sama aku, kita jalan nanti malam. Kalo kamu maksa, lebih baik kamu pergi aja sendiri!" ucap Samudra dengan ekspresi datar.


Veronika mengerucutkan bibirnya, bola matanya melotot kesal. Ia pun menghentakkan kedua kakinya kesal melihat kelakuan Samudra.


Veronika menilai jika Samudra sekarang ini berubah, bukan seperti Samudra ketika berada di Boston.

__ADS_1


....


Samudra memasuki salah satu kamar di villa itu. Ia membuang napas berat, dan mengusap kasar rambut hingga wajahnya. Seluruh isi kepalanya saat ini hanya dipenuhi oleh bayangan Samantha, bukan yang lain. Samudra sengaja berangkat menuju villa saat gadis itu masih berada di sekolah. Karena jika tidak, Samudra tentu saja tidak akan pernah bisa melihat ekspresi sedih atau merasa dipermainkan olehnya.


Samudra menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk dan memandangi langit-langit kamar. Bayangan Samantha bahkan semakin intens dan sering muncul dalam benaknya.


Bibir penuh yang selalu berwarna peach itu seolah-olah akan cemberut sepanjang hari jika tidak ia kecup.


Mata coklat terang dengan bulu mata panjang, dilengkapi alis yang terukir sempurna seolah-olah menyiratkan ajakan pada Samudra untuk bercinta.


Helaian rambut coklat terang ikalnya seolah-olah akan kusut jika Samudra tidak membelainya hingga ujung.


Leher jenjang Samantha seolah-olah akan terus menunduk jika tidak Samudra tandai dengan banyak heckey.


Dadanya yang membusung seolah-olah menantang meminta untuk ia re*mas.


Jangan lupakan aroma bunga lilac dari tubuh Samantha yang selalu membuat Samudra limbung, hilang konsentrasi dan malah berkhayal, membuat fantasi yang tidak-tidak tentangnya.


Sudahlah. Samudra akan menyerah, segala sesuatu yang dimiliki oleh Samantha akan selalu memprofokasi sesuatu di balik celana jeans Samudra untuk me*ngeras dan tegak. Dan itu tidak enak, sangat menyiksa jika tidak dituntaskan.


Namun Samudra bisa apa? Tidak mungkin juga kan dia berbuat sesuatu yang bejat semacam itu terhadap Samantha?


Soal Moral? Jangan tanyakan tentang moral kepada Samudra jika ia berhadapan dengan Samantha.


Samudra bahkan berusaha sebisa mungkin membuang jauh-jauh moral bejatnya jika sedang berada di hadapan Samantha.


"Ah Samantha....." gumam Samudra seraya memejamkan kedua matanya.


Kini dia merasa sangat merindukan Samantha, adiknya sendiri.


....


"Oh-Alhamdulilah kalo gitu__ iya It's ok, yang penting kalian baik-baik aja di sana___ Iya salam buat Veronika__ bye Am__ love you too."


Klik


Maya mematikan sambungan selulernya setelah Samudra juga memutuskan teleponnya.


"Siapa, Mom? Tadi--- Kak Am?"


"Iya," angguk Maya.


Samantha menjatuhkan tubuhnya di samping Maya dan bergelayut manja pada ibunya.


"Mom....." Samantha menjatuhkan kepalanya di kaki Maya, dan dengan netra yang memandang wajah ibunya dari rebahnya.


"Hm?"


"Boleh aku nanya sesuatu?"


Maya tersenyum kecil dan membelai lembut rambut ikal kemerahan Samantha. "Ya boleh dong, sayang."


"Eee--- dulu Dad itu cinta pertama Mom?"


"Eemm---enggak," jawab Maya.


"Serius?" Samantha memandang fokus ke arah Maya.


"Serius!," angguk Maya pelan.

__ADS_1


"Tapi Dad itu cinta terakhir Mom." Maya melanjutkan. Senyuman bahagia mengembang penuh di kedua sudut bibirnya.


"Dulu saat Mom pertama kenal sama Dad, Mom sudah punya pacar." Maya kembali melanjutkan ceritanya.


Kali ini Samantha mulai bangkit dari rebahnya dan duduk sembari fokus menatap Maya.


"Serius?"


"Hm," angguk Maya.


"Terus cowoknya Mom gimana?"


"Ya kami putus." Maya menjawab singkat.


"Mom yang putusin?"


Maya terlihat menarik napas panjang sebelum ia kembali menjawab pertanyaan Samantha.


"Kami sama-sama mengambil keputusan itu setelah dia juga bertemu seorang gadis saat di Aussy."


"Really....?" Samantha kini terlihat bersemangat mendengar kisah percintaan kedua orang tuanya.


"Hm, dan Mom bersyukur sudah bertemu sama Dad dan menikah sama Daddy kalian." Maya tersenyum bahagia, ia belai lembut wajah Samantha yang begitu mirip dengan Samuel.


"Terus lahir Kak Am ya Mom?"


Maya terdiam, kali ini ia tidak langsung menjawab pertanyaan Samantha.


"Mom?"


"Eh-i-ya?"


"Terus kalian menikah dan lahir Kak Am ya?" Ulang Samantha.


Maya tetap tidak menjawab, dia hanya tersenyum kecil menanggapi.


"Gimana Mom tau kalo Dad itu last love nya Mom?"


"I don't know, it just happened, honey." Maya menjawab dan masih mengelus wajah serta membelai rambut ikal putrinya.


"Kamu pasti akan tau, seseorang yang kelak akan menemani kamu selama sisa hidupmu. Your heart that will lead you." Maya meletakkan telapak tangannya ke arah dada Samantha.


"Emang kenapa sih?"


"Gak, gak papa kok."


"Aneh deh, kamu tiba-tiba kepo gitu," selidik Maya.


"Mommy ihhh.... Sammy gak kepo." Samantha merengek.


"Hehehehe iya-iya, gak kepo tapi sangat kepoooo...." Maya menggoda Samantha sembari terkekeh dan mencubit kedua pipi gadis itu.


"Mommy...! sakit tau...."


"Hahaha habis kamu gemesin gitu sih, Mommy kan jadi gemes liatnya. Iiihhh...!" Maya kembali mendaratkan cubitan kecil di pipi Samantha.


"Mommy....!!" teriak Samantha manja.


"Hahaha!" tawa Maya meledak.

__ADS_1


to be continue...


__ADS_2