
Samantha mengganti seragamnya dengan Dogi, baju karate yang didesain seperti kimono, pakaian tradisional Jepang.
Rambutnya ia ikat seperti sanggul kecil yang menjulang tinggi, agar tidak mengganggu nanti ketika ia melakukan gerakan-gerakan yang akan di ajarkan oleh guru karate SMA Unggulan yang terkenal killer.
Setelah selesai, Samantha dan Amel keluar dari toilet perempuan bersama-sama. Kebetulan Amel juga mengikuti ekskul yang sama, sedangkan Jully sudah pulang hari itu. Karena ekskul yang diikutinya yakni fotografi hanya diadakan hari Senin saja.
"Kata lo nanti Bryan bakal liat ekskul kita ya?"
"Iya."
Amel menyelipkan rambutnya di telinga. "Bukannya gue ganjen ya Sam, tapi kalo ada cowok ganteng liatin, gue suka gugup."
Samantha mendengus tapi mengangguk maklum. Maklum dong cewek seperti mereka agak kikkuk jika ada cogan alias cowok ganteng di sekitar mereka?
Keadaan kelas sudah sepi karena sebagian besar sudah pada pulang, meskipun ada diantara mereka masih berada di sana maupun di lorong-lorong kelas yang lain.
"Eh Sam, lo nanti pulang bareng Bryan lagi?" Amel menggendong tasnya dan duduk di atas meja, sementara Samantha melipat seragam agar lebih rapi sehingga bisa dimasukkan ke dalam tas.
"Iya, kenapa emangnya?"
"Nggak sih, kalo gitu gue minta jemput ke nyokap aja. Eh atau gue naik taksi aja ya? Ah gampang deh liat ntar aja."
"Owh, maaf gak bisa bareng."
"Gak papa, selow aja Sammy."
__ADS_1
Keduanya pun keluar dari kelas, segera menyusuri koridor-koridor kelas XII.
Ketika baru berbelok dan tinggal berjalan lurus menuju ruang khusus ekskul karate yang baru direnovasi dan lebih luas, langkah keduanya kompak berhenti ketika melihat sosok cantik Thalita berhenti melangkah dari arah berlawanan sambil tersenyum.
Senyumnya tampak ramah, tapi baik Samantha maupun Amel saling berpandang mengingat akan cerita Amel sebelumnya, tentang Thalita yang marah-marah.
"Hai," sapa Thalita sambil tersenyum, matanya menyipit menunjukkan eye smile yang mempesona.
"Hai," balas Samantha singkat. Sedangkan Amel mengangguk kikkuk.
"Katanya lo pacar baru Bryan ya?" tanya Thalita to the point. Ia memandang Samantha dari ujung rambut ke ujung kaki hingga beberapa saat. Sorot matanya terlihat jengah tapi terkesan ingin segera mendengar jawaban dari Samantha.
Thalita, cewek populer nomor satu di sekolah karena kecantikannya dan profesinya sebagai model kelas kakap, bukan ecek-ecek.
Tentu saja Thalita mengetahui siapa cewek yang ia ajak bicara saat ini. Seorang anak sultan, anak pengusaha ternama bahkan nama besar keluarga Perdana beberapa kali masuk dalam jajaran keluarga terkaya di Indonesia menurut majalah Forbes.
"Iya, emang kenapa?" Samantha balik bertanya. Ia tidak mengerti kenapa Thalita menanyakan hal tersebut.
"Oh, congcrat ya. Gak gampang lho menarik perhatian dia," ucap Thalita membuat Samantha mengernyit tak mengerti.
Seolah memahami Samantha yang terlihat sedikit bingung, Thalita membuka kembali mulutnya untuk menjelaskan lebih lanjut.
"Maksud gue, jujur susah banget dapatin hatinya Bryan. Gue aja yang susah payah ngedeketin dia gak pernah berhasil. Tapi lo cepet banget, heran aja sih gue."
Samantha menyeringai kecil, tidak tahu apakah Thalita memujinya atau bahkan sebaliknya. Atau mungkinkah Thalita mencoba membunyikan genderang perang dengannya?
Ekspresi Thalita masih ramah namun tidak begitu dengan nada bicaranya.
__ADS_1
Namun Samantha tidak ingin ada perselisihan yang serius kali itu, jadi ia berusaha mengabaikan apa yang akan menjadi niat Thalita sekarang ini.
"Ya udah ya gue duluan, bye Lit," ucap Samantha seraya berlalu dari hadapan cewek yang tingginya sekitar seratus tujuh puluh-an centi meter itu.
Samantha berlalu dan menarik lengan Amel, membiarkan Thalita berdiri mematung dengan ekspresi wajah kesalnya.
"Maksudnya apaan coba?" tanya Samantha di sela-sela langkah kakinya.
"Menurut gue sih dia suka sama Bryan."
"Tapi kan Bryan sukanya sama gue," jawab Samantha mengerucut sebal.
"Cewek macam dia sih tipe yang gak gampang nyerah gitu aja, Sam."
"Maksud lo?" Samantha mengernyit tidak mengerti.
"Ya hati-hati aja ntar ditikung."
"Gue percaya sama Bryan," jawab Samantha.
Akhirnya mereka memasuki ruang ekskul karate yang siang itu masih belum terlalu ramai. Beberapa anak yang lain terlihat belum kumpul sepenuhnya. Bryan pun belum juga menampakkan ujung hidungnya.
Samantha lalu mengajak Amel dan beberapa anak yang telah berada di sana untuk melakukan peregangan otot terlebih dahulu.
Hingga akhirnya ia melihat Bryan berjalan memasuki ruang ekskul karate dan tentu saja disambut oleh teriakan dan bisik-bisik histeris dari siswi-siswi lainnya yang kebetulan saat itu banyak yang berada di ruang ekskul karate.
Samantha merotasikan kedua bola matanya lalu sedikit mendengus melihatnya. Meski diakuinya dia sedikit kesal setiap kali Bryan berada, selalu banyak cewek-cewek lain yang tersipu ataupun histeris, dan Bryan juga terlihat begitu menikmati perlakuan itu.
__ADS_1
Lalu buat apa peraturan yang dia buat? dengus Samantha pelan.
to be continue....