Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
Jebakan?


__ADS_3

"Jadi lo dan kak Samudra udah tunangan?"


"Hm."


"Kapan? Kok nggak ngundang-ngundang?"


"Itu kejutan dari kak Am, lagian cuma dihadiri sama keluarga doang. Privat." Jawab Samantha.


"Ish Amel! Mereka kan baru tunangan ntar deh kalo mereka nikah baru tu si Sammy ngundang-ngundang kita, iya nggak bestie?" timpal Jully sambil menyeruput es lyche tea miliknya.


"He em," angguk Samantha.


"Terus tujuan lo pengen ketemu si pengirim pesan kaleng itu apa? Lagian ngapain juga lo main rahasia-rahasiaan ama kak Samudra?" Amel kembali nerocos melontarkan pertanyaan-pertanyaan.


"Ya kali gue ngasih tau kak Am? Yang ada malah dia ngelarang gue buat ketemu ni orang. Penasaran gue sama ni orang." Samantha mendengus kesal.


"Trus kalo ntar nih lo ada apa-apa gimana?" Amel melanjutkan lagi kecerewetan-nya.


"Kan ada lo berdua. Ngapain gue ajak kalian kalo bukan buat jaga-jaga?"


"Sialan! Jadi lo jadiin kita bodyguard lo?" dengus Amel.


"Hehehe... sesama bestie kan saling menjaga, iya nggak Ly?"


"Yo'i!" Alih-alih menjawab, Jully yang saat itu mulutnya masih penuh dengan daging panggang hanya mengacungkan jempol merespon.


Amel lalu memutar bola matanya ke arah lain dan melirik ke arah jam tangannya. "Udah lebih dari jam delapan kenapa belum ada tanda-tanda sosok misterius itu sih?" ucap Amel, kepalanya kini terlihat celingak-celinguk, netranya menyisir setiap sudut ruangan restoran bergaya Amerika itu.


"Iya nih, sial! Apa gue dikerjain ya?"


"Hm, bisa jadi." Ucap Jully sembari mengangguk pelan.


"Gimana kalo lo coba hubungi nomor dia, Sam?"


"Iya, kenapa nggak kepikiran? Tumben pinter lo Mel?" Samantha meringis mendapati sahabatnya yang terlihat cemberut lucu.


Samantha akhirnya meraih ponsel yang ada di atas meja restoran dan mencari sesuatu di sana. Langsung saja gadis itu melakukan sebuah panggilan ke nomor yang pagi tadi mengirimkan chat ke ponselnya.


Tut....!


Tut....!


Tut....!


"Nggak di angkat." Ucap Samantha sembari mengedikkan kedua bahunya.


"Coba lagi Sam?"


Samantha mengangguk, lalu kembali menekan nomor yang sama. Dan lagi-lagi hanya terdengar nada memanggil. Hingga bunyi 'Tut-Tut' panjang tanda panggilannya di reject oleh orang tersebut.


"Tetep nggak di angkat, sial! Siapa sih yang berani-beraninya ngerjain gue?" Dengus Samantha.


"Kualat lo sama kak Samudra." Amel mencibir sambil memasukan makanan ke mulutnya.


"Padahal gue penasaran pengen tau dia siapa."


"Udah deh Sammy, nggak usah cari masalah. Orang iseng kek gitu nggak usah lo tanggepin." Ucap Amel dan direspon anggukan dari Jully.


...

__ADS_1


Jam tangan di pergelangan tangan Samantha menunjukkan pukul sebelas siang. Gadis itu masih saja kekeh menunggu orang yang mengirimnya pesan misterius. Sedangkan Amel dan Jully terpaksa pulang terlebih dahulu. Amel harus mengurus urusan pendaftaran ke perguruan tinggi swasta di Jakarta, sedangkan Jully harus mempersiapkan test masuk perguruan tinggi negeri favoritnya di Jogjakarta. Dan besok adalah test keduanya untuk bisa diterima di sepuluh besar kandidat mahasiswa perguruan tersebut dengan fasilitas beasiswa.


Samantha membuang napas sebentar, kembali melirik ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia merutuki kebodohannya sendiri. Benar kata Amel, orang tidak jelas seperti ini harusnya tidak perlu ia ladenin.


Hampir saja Samantha beranjak pergi dari sana, tiba-tiba saja sebuah tangan hangat menahan lengannya.


"Sammy, kebetulan ketemu di sini?"


Samantha mendongak melihat pria yang saat ini tengah berada di sebelahnya, tersenyum dengan sedikit seringai khas tertarik di semua sudut bibirnya.


"Bryan? Lo juga ada di sini?"


"Iya kebetulan aku ada janji sama temen, tapi kayaknya dia nggak bisa dateng."


"Kok bisa samaan sih? Gue juga ada janji sama seseorang, setelah nunggu lebih dari tiga jam tuh orang nggak keliatan batang hidungnya," dengus Samantha kesal.


"Siapa? Cowok?"


"Em-nggak, nggak penting juga kok." Samantha menggeleng pelan dan tersenyum kecil.


"Ya udah kebetulan ketemu di sini, kita duduk dulu sebentar?" Ucap Bryan yang tanpa basa-basi langsung mengajak gadis itu kembali menempati kursinya tadi.


"Tapi Bryan, gue---"


"Bentar aja, Sam."


"Tapi---"


"Oh ayolah, kita udah lama nggak ketemu. Terakhir kali saat kita ketemu di Dufan kan? Itu pun cuma bentar." Ucap Bryan sedikit memaksa.


"Em-ya udah-tapi aku nggak bisa lama, soalnya---"


Samantha mengangguk pelan, mengerti akan sosok siapa 'dia' yang dimaksud oleh Bryan. Meskipun cowok itu tidak mengatakan nama secara langsung.


....


"Jadi lo udah fix ke Harvard?" tanya Samantha.


Bryan mengangguk meng-iya-kan.


"Lalu kamu sendiri?"


Samantha mengedikkan kedua bahunya. "Mungkin aku ke Paris atau ke Milan, maybe?" jawab gadis itu.


"Jadi ambil fashion design?"


"Hm," angguk Samantha.


"Kamu pasti bakal jadi designer hebat nanti, Sam. Gambar-gambar rancangan kamu bagus-bagus." Bryan memuji antusias.


"Thanks, tapi nggak tau juga sih, soalnya kak Am kan bentar lagi mo ngelanjutin S2 dia di Harvard juga. Dan kayaknya kuliah gue harus nunggu dulu setahun atau dua tahun."


Bryan menarik sedikit alis tebalnya, dengan pandangan mata yang fokus ke arah Samantha. "Why?" Tanya Bryan tidak mengerti.


"Gue kan harus ikut kak Am ke Boston."


"Serius? Emang dia selalu seperti itu ya?"


"Maksudnya?" Ekspresi Samantha menyiratkan ketidak mengertian akan maksud ucapan Bryan.

__ADS_1


"Dia selalu ngekang kamu? Kemana-mana harus ijin dari dia, kemana-mana harus ada kamu di dekat dia? Emang kamu nggak risih? Kamu juga butuh privasi Sammy."


Samantha tersenyum sebentar. "Gue nggak keberatan kok kalo diminta ikut kemana kak Am pergi. Kan bentar lagi gue mo nikah sama dia."


Giliran Bryan yang membelalak kaget mendengar kabar itu.


"Secepat itu?"


"Lebih cepat lebih baik kan?" Jawab Samantha singkat.


Ekspresi diam Bryan merespon cepat perkataan gadis cantik bersurai ikal di hadapannya kini.


"Yah baguslah kalo gitu ntar kita bisa ketemu di Boston dong, lo kan mau ngikut dia ke sana, iya kan?" ucap Bryan akhirnya.


...


Cekrek!


Cekrek!


Cekrek!


Seorang perempuan muda dengan sengaja mengambil gambar keduanya ketika mereka tengah berbincang. Rupanya si perempuan itu tahu betul kapan waktunya ia harus mengambil gambar. Menunggu moment yang pas, saat Samantha melengkungkan senyuman ke arah laki-laki yang duduk di hadapannya. Seolah-olah berekspresi bahagia saat keduanya saling bertemu.


Senyuman smirk pun menghias di bibir tipis perempuan tadi ketika mempunyai hasil jepretan yang sangat memuaskan kliennya.


....


Sementara di rumah sakit, Samudra yang tengah melepaskan penat di ruangan pribadinya setelah berjibaku dengan operasi pasien yang baru saja selesai, dibuat memicingkan kedua netra ketika melihat sebuah amplop coklat yang terletak di atas nakas di pojok ruangan.


Merasa heran melihat amplop yang tanpa nama pengirim. Karena beberapa jam yang lalu sebelum operasi pasien berlangsung, ia yakin tidak melihat penampakan amplop tersebut di atas nakas yang terbuat dari ukiran kayu tersebut.


Dengan penuh rasa penasaran, Samudra berdiri dari duduknya dan bermaksud mendekat ke arah amplop coklat itu. Hampir saja niatnya untuk meraih amplop tersebut, tiba-tiba saja sebuah ketukan terdengar dari luar ruangan.


"Masuk!"


Sosok pria polos office boy menyembulkan kepala-nya saat mendapat ijin memasuki ruangan khusus Samudra.


"Minumnya, Dok!" tawar Heri sembari meletakkan cangkir kopi espresso di atas meja kerja Samudra.


"Her, kamu tau siapa pengirim amplop ini?"


Sekilas Heri menoleh ke arah amplop yang ada di tangan Samudra. Pria itu lalu menggeleng pelan. "Saya tidak tau, Dok."


"Tolong panggil suster Aisya dan suruh ke ruangan saya."


"Baik, Dok." Angguk Heri. OB itu pun kemudian pamit dan keluar dari ruangan yang Baskoro khusus sediakan untuk cucu satu-satunya itu.


Samudra menatap penasaran akan amplop coklat yang terletak rapi di atas nakas. Tanpa ada nama pengirim ataupun keterangan lainnya.


Tanpa menunggu lama lagi, ia membuka amplop tersebut dan seketika itu juga ekspresinya berubah. Matanya melotot tajam dengan jemari tangan yang ia kepalkan erat. Wajah menyeramkan dari Samudra mendadak kembali ia tunjukkan. Marah! Tentu saja pria dengan jas dokter 'kebesaran-nya' itu marah melihat kekasihnya tengah berdua bersama pria yang selalu menjadi duri dalam daging.


Entah kenapa Bryan selalu bisa berada di dekat Samantha saat gadis itu tidak sedang bersamanya.


Samudra memang selalu bersikap posesif terhadap Samantha, entah kenapa. Padahal sebelum bersama gadis kecil itu, Samudra bahkan tidak begitu peduli jika perempuan-perempuannya dekat dengan laki-laki lain.


Tapi tidak dengan Samantha, gadis kecil itu hanya miliknya. Tidak boleh ada seorang pun yang boleh mendekati gadis itu. Siapa pun!


to be continue...

__ADS_1


__ADS_2