
"Hey Sammy...." Ucap seorang wanita cantik berhijab begitu Samantha memasuki sebuah butik dengan desain interior mewah.
"Aunty Airin..."
Keduanya kemudian saling cipika cipiki, Airin bahkan mengamati Samantha dari ujung rambut hingga kaki, tersenyum lebar tatkala melihat sosok gadis di depannya yang beranjak dewasa.
"Kamu udah besar, cantik banget sih... mirip Maya banget..." Ucap Airin tak percaya.
"Masa sih Aunty? Padahal kata Moms, Sammy mirip Dad."
"Hahaha! Iya sih kamu itu perpaduan Maya dan Sam." Airin menambahkan, kembali memeluk gadis itu erat.
"Lama ya kamu nggak main ke butik Aunty? Moms-Dad kamu gimana kabarnya? Sehat?"
"Aku kemarin ke sini kok, Aunty Airin aja yang sibuk nggak pernah ada di butik. Hm, Moms-Dad sehat, Alhamdulilah..."
"Syukurlah kalo mereka sehat. Kemarin? Hehehe maaf, Aunty sibuk ada acara pameran sana sini."
"Makin sukses ya nih ceritanya?" Samantha tersenyum sembari mengerlingkan kedua netranya.
"Alhamdulilah... hehehe! Oh ya kamu sendirian? Nggak bareng Samudra? Mau fitting gaun pengantin kan?"
Samantha mengangguk. "Hm, Tau tuh Kak Am, katanya dia agak telat sih."
"Oh gitu..." Airin kemudian membawa Samantha memasuki ke ruangan pakaian pengantin.
"Kalo ini ruang khusus buat wedding dress." Ucap Airin.
Mata Samantha mengerjap beberapa kali begitu lampu ruangan dinyalakan. Ada banyak koleksi gaun pengantin di butik Airin. Mulai dari gaun pengantin ala Eropa, dari desain mewah hingga simple namun tetap terlihat elegant.
Ada juga beberapa model pakaian pengantin adat. Dari Jawa, Sunda hingga adat Jakarta.
"Bagus-bagus banget...." gumam Samantha takjub.
"Ini desain Aunty sendiri?"
Airin mengangguk pelan. "Ada beberapa desain Aunty ada juga beberapa desain dari perancang-perancang muda yang kerja sama dengan butik Aunty.
"Oh..." Samantha membulatkan bibir membentuk huruf O.
"Aunty denger, kamu juga mau masuk ke sekolah desain?" Tanya Airin antusias.
"He em, rencana nya sih gitu."
"Bagus dong." Airin menjawab dengan penuh antusias.
"Tapi Sammy nggak ngambil desain wedding dress, hehehe..." ringis gadis itu.
"No problem... apapun yang bisa membuat kamu happy aja."
Samantha mengangguk, kembali berjalan berkeliling ruangan. Melihat satu gaun ke gaun yang lain. Sebenarnya Samantha ingin sekali membuat desain sendiri khusus di hari bahagianya. Namun karena waktu yang begitu singkat, sehingga tidak memungkinkan jika dia harus mendesain sendiri gaun pengantinnya.
Selagi Samantha masih melihat-lihat gaun mana yang cocok buatnya. Tiba-tiba datang seorang gadis cantik berusia sekitar enam belas tahunan. Gadis yang berpenampilan sedikit tomboy dengan celana jeans sobek-sobek, Tshirt putih polos serta sepatu converse berwarna hitam putih.
"Hey Kak Sammy...." ucap gadis itu menyapa.
__ADS_1
"Hey...." Samantha memandang sebentar ke arah gadis cantik dengan mode rambut yang ia gelung kecil di kedua sisi kepalanya, model rambut ala-ala tokoh anime buatan Jepang. Samantha sedikit terkekeh geli melihat model rambut yang menurut Samantha lebih mirip seperti kue onde-onde.
"Kak Sammy serius mau nikah muda?" tanya gadis itu.
"Serius."
"Yakin?" gadis itu kini menghadap ke arah Samantha yang berdiri di depan kaca besar saat mencoba beberapa gaun.
"Yakin, bawel! Ish-kepo aja sih lo?" kerucut Samantha.
"Mending sono tuh lo kepoin kembaran laknat gue di London."
Sementara gadis muda tadi hanya cengengesan membalas.
"Bilang sama kembaran Kakak, awas aja kalo di London dia kecantol ama cewek-cewek bule." Ucap gadis itu sembari mencebik lucu.
"Ogah, bilang aja sendiri!" kekeh Samantha.
"Emang Benua nggak pernah kirim chat?" tanya Samantha sembari melirik ke arah gadis dengan mata hitam jernih.
"Hm, kalo dia sih nggak bisa sedetik aja nggak kirim chat ke Lalis."
"Hahaha! emang tuh orang kalo udah sayang bisa bucin setengah mati." Samantha terkekeh.
"Seperti Kak Samudra dong ya?" Balas gadis itu, sembari memberi kode dengan merotasikan kedua mata ke arah pintu masuk ruang penyimpan gaun pengantin.
Samantha pun mengikuti arah kemana mata lentik gadis yang ia ajak bicara tadi. Benar saja, dia melihat sosok tinggi dan tegap Samudra berjalan mendekat. Melayangkan senyuman paling mempesona ke arahnya.
"Hey Kak..." sapa gadis berusia enam belas tahun itu. begitu Samudra mendekat.
"Baik dong Kak."
Samudra tersenyum sebentar sebelum akhirnya mendekat ke arah Samantha dan memeluknya erat.
"Sorry telat. Kamu udah mencoba gaunnya?"
Samantha mengangguk pelan. "Hm, udah beberapa tapi aku kurang suka."
"Duh romantisnya..." ucap Lalisa menggoda. Sementara Samantha hanya mencebik lucu membalas.
"Eh gue mo ketemu Mama dulu deh, nggak enak kalo di sini cuma jadi obat nyamuk doang. Hehehe..." Lalisa pun tersenyum jahil ke arah Samantha.
"Udah sana lo, ganggu aja hehehe..." jawab Samantha mengerucut.
"Lalis! bilang sama Aunty Airin kalo gue masih mo cobain gaun yang lain...!" Ucap Samantha sedikit berteriak, karena gadis yang ia panggil tadi sudah terlihat berjalan agak jauh.
"Siap, Kak!"
....
Samantha mencoba kembali gaun rancangan Airin, kali ini ia mencoba gaun dengan model lebih simpel. Model mermaid dengan bahan bruklat broken white. Sangat simpel dan elegant. Gadis itu bahkan tidak memerlukan banyak aksesoris untuk menonjolkan dirinya.
Netra Samudra kini membelalak takjub, melihat gadisnya yang terbiasa berkelakuan manja dan kekanakan. Tapi kini gadis itu menjelma menjadi seorang putri dari negeri dongeng. Samudra bahkan tidak pernah mengerjapkan matanya, netra kecoklatan miliknya terus saja menatap sosok gadis berpakaian serba putih bak seorang putri duyung. Layer panjang yang menjuntai di belakang pinggangnya pun menambah kesan jika gadis itu benar-benar seperti tokoh princess Disney.
"Kak Am...."
__ADS_1
Samudra terhenyak begitu mendengar suara lembut itu. Ia pun kemudian menarik satu senyuman.
"Kamu cantik sekali, princess..." gumam Samudra yang memeluk gadis bergaun pengantin itu.
Untuk sesaat kedua netra mereka saling berpandang, seakan saling berbicara bahwa keduanya saling memiliki cinta yang begitu besar.
"Sammy...! Ya Tuhan! Kamu cantik sekali, Nak..." Suara tinggi itu pun membuyarkan tatapan mata mereka. Airin berdecak kagum, seolah tidak percaya jika gadis yang ada di hadapannya saat ini adalah Samantha Olivia Perdana. Putri dari Maya dan Samuel Perdana sahabatnya.
"Kamu mirip banget sama Maya waktu jadi pengantin dulu." Ucap Airin antusias.
Samantha tersenyum, lalu merotasikan pandangannya ke arah Samudra. Sepertinya pria itu memahami apa yang ingin gadisnya itu utarakan. Hingga anggukan kecil pun tercipta.
"Aunty, aku pilih yang ini aja."
"Perfect, dear." Airin mengangguk setuju. Wanita itu pun segera memanggil salah satu pegawainya untuk membantu Samantha melepas gaun tersebut. Dengan hati-hati, pegawai tadi pun menuntun Samantha ke ruang ganti, melepas dengan sangat hati-hati sekali gaun berwarna broken white dengan manik-manik mutiara dan permata yang menghiasinya.
"Samudra, kamu harus jaga gadis itu baik-baik. Kamu mengerti?" Airin membulatkan matanya seolah memberi penekanan untuk ucapannya barusan.
Samudra mengangguk merespon. "Tentu Aunty!" Jawabnya penuh percaya diri.
"Jaga dia seperti Samuel menjaga Maya." Airin menambahkan, kedua netranya bahkan sedikit menyipit mengintimidasi Samudra.
"Of course, You've got my promise Aunty Airin."
....
Sepulang dari butik milik Airin, keduanya pun saat ini berkutat dengan padatnya lalu lintas Jakarta. Samantha duduk di kursi penumpang, di samping Samudra. Melirik sekilas pria yang siang ini terlihat lebih pendiam. Gadis itu sempat menarik kening, membatin apakah kekasihnya itu sedang ada masalah pekerjaan?
"Kakak baik-baik aja kan?"
Samudra menoleh sebentar kemudian kembali fokus dengan kemudinya. "Yah tentu aja, emang kenapa kamu tanya begitu?" tanyanya bingung.
"Habisnya dari tadi diem mulu."
Samudra tersenyum sebentar, menoleh ke arah Samantha dan mengelus puncak kepala gadis itu dengan tangan kirinya.
"Sorry, Kakak hanya sedang banyak kerjaan aja."
"Bukan stress karena pernikahan kita kan?"
"Of course not."
Keduanya kembali hening, Samudra yang mulai fokus dengan lalu lintas di hadapannya, sedang Samantha yang tengah sibuk mengamati sosok di sampingnya.
"Kau mau kemana setelah ini? Makan es krim?"
Samantha langsung saja mengangguk penuh semangat. "Boleh?"
"Tentu aja boleh," pria itu tersenyum sembari kembali mengelus puncak kepala kekasihnya.
Samudra hanya bingung saja, bagaimana caranya untuk mengatakan kepada tunangannya jika Veronika baru saja berkunjung menemui dirinya dan menjadi dokter Koas dibawah bimbingannya. Dan itu berarti kalau dia mau tak mau harus bertemu dengan Veronika lebih sering lagi.
Semoga saja Samantha tidak bereaksi berlebihan saat ia membicarakan hal ini.
to be continue...
__ADS_1