
Veronika menusuk potongan buah di mangkuk dengan tidak berselera. Sore ini dia menunggu Samudra dengan wajah sedikit cemberut. Gimana tidak kesal coba? Baru saja pulang dari Bandung, Samudra dengan terburu-buru melesat kembali, memacu kendaraannya ke sekolah Samantha. Bahkan pria itu tidak sempat berpamitan padanya. Veronika merasa, perhatian Samudra ke Samantha tidaklah normal. Perhatian kekasihnya itu bahkan terasa seperti lebih dari seorang kakak.
Veronika yang awalnya tidak menaruh kecurigaan, namun kini entah kenapa ia merasa ada yang aneh.
Veronika kembali memasukan buah leci ke mulutnya. Perasaan jenuhnya kini mendadak sedikit bisa ia kompromi dengan suapan buah leci ke mulutnya. Rupanya keluarga Samudra selalu menyimpan stok buah-buahan segar import di kulkas empat pintu itu.
Veronika kembali menusuk buah dalam mangkuk, kali ini giliran ia memasukan potongan pear hijau ke mulutnya.
"Lho kamu sendirian, Ver?" sebuah suara lembut tiba-tiba saja terdengar dari belakang tubuhnya.
"Eh-Tante--- Iya nih Tant, Vero ditinggal Samudra," kerucut Veronika manja.
"Lho Samudra nya kemana?"
"Jemput Samantha."
Maya membulatkan bibirnya lalu tersenyum kecil ke arah Veronika.
"Kamu udah makan?"
"Belum, Tant." Veronika menggeleng.
"Oh-gimana kalo Tante masak-in kamu sesuatu?"
Mata Veronika membulat senang. "Gak ngerepotin, Tant?"
"Gak, sekalian juga Tante mau buatin makan malam buat suami dan anak-anak Tante," jawab Maya sembari tersenyum kecil.
"Oh ya udah kalo gitu, Vero bantuin?" tanya Veronika meski dengan ekspresi sedikit ragu.
"Boleh, kebetulan bibik lagi istirahat dan Mbak Pur ada kerjaan lain di belakang." Maya berjalan ke arah dapur dan diikuti oleh Veronika.
Sebenarnya Veronika paling malas berada di dapur, apalagi jika berhubungan dengan yang namanya masak memasak. Gadis itu selalu takut badannya jadi bau bumbu dapur atau bau gosong.
Tapi kali ini apa boleh buat? Bukankah dia harus menampakkan pribadi yang baik di hadapan Maya ataupun Samuel? Meski Veronika jarang sekali bertemu dengan Samuel, karena laki-laki itu selalu sibuk di kantor dan jika ada di rumah, Samuel juga jarang sekali keluar dari kamar atau ruang kerjanya.
"Oh ya, Tante itu seperti pernah kenal seseorang yang wajahnya mirip sama kamu lho," ucap Maya sembari menyiapkan bahan-bahan makanan.
Veronika menarik alisnya, "Benarkah, Tant? Siapa?" tanya Veronika yang kini malah bertopang dagu.
"Ada lah, orangnya cantik dengan rambut ikal panjangnya."
Veronika semakin mengerutkan keningnya. "Namanya siapa Tant? Temen tante Maya?"
"Lebih tepatnya mantan tunangan om Sam." Maya menjawab sembari terkekeh kecil.
"Oh..." Veronika membulatkan bibirnya lalu tersenyum kecil.
"Oh ya Mama kamu asli Indonesia?"
"Iya," angguk Veronika.
"Terus ayah kamu?"
__ADS_1
"Ayah kandung Vero orang Indonesia juga, tapi Vero gak pernah bertemu sama dia."
"Kok bisa? Ayah kamu udah meninggal?" tanya Maya penasaran. Ia mulai sedikit iba dengan gadis itu.
"Mama gak pernah mau bicarain tentang laki-laki itu," jawab Veronika.
Maya kini semakin merasa kasihan terhadap Veronika.
"Mama kamu pasti wanita yang sangat cantik?" tanya Maya mengalihkan perhatian.
Veronika tersenyum kecil. "Iya Mama sangat cantik dan berambut ikal juga lho Tant."
"Oh ya?" tanya Maya tersenyum.
"Hm," angguk Veronika.
"Tapi Tante Maya lebih cantik, hehehe..." kekeh Veronika.
"Kamu bisa aja. Oh ya nama Mama kamu siapa?" tanya Maya sembari memotong-motong sayur dan daging.
"Freya Hastari Subagyo."
Spontan Maya menghentikan gerakannya. Matanya membola menatap wajah Veronika.
"Freya?" batin Maya.
....
"Mom.... Samantha pulang!" teriak Samantha begitu ia memasuki rumah besar itu. Sementara Samudra mengekor di belakang. Keduanya bersikap seolah tidak terjadi atau merasakan apa-apa, begitu memasuki mansion mereka.
"Sammy, aku ke atas dulu." Pamit Samudra dan dibalas anggukan kepala Samantha. Sekilas Samantha tersenyum, kedua pipinya merona dan dengan cepat-cepat ia menyembunyikan rona merah itu begitu mendengar suara jawaban dari Maya.
"Mommy di dapur, sayang...!" teriak Maya.
...
Netra Samantha membulat penuh ketika dilihatnya Maya dan Veronika yang terlihat akrab. Veronika bahkan sesekali tertawa ketika keduanya tengah berbicara.
"Mom...." ucap Samantha.
"Eh, anak Mommy udah pulang?" Maya pun tersenyum menatap Samantha.
"Kenapa agak telat?" tanya Maya sambil sibuk dengan masakannya.
"Kak Am---eemm--Kak Am ngajakin makan es cream dulu." Samantha berdalih.
Kini giliran Veronika yang membolakan matanya.
"Ow.... kalian belum makan kan?"
"Belum," geleng Samantha.
"Ya udah kamu bersih-bersih gih, mandi dulu trus udah itu kita makan."
__ADS_1
"Hm," angguk Samantha.
Samantha meninggalkan Maya dan juga Veronika. Sebelum berlalu dari sana sampat Samantha melirik ke arah Veronika yang saat itu tengah memperhatikannya juga.
"Eemm Tante, aku juga mo permisi sebentar ya. Mau ketemu Samudra dulu, hehehe....." ucap Veronika sembari terkekeh kecil.
"Baiklah," angguk Maya.
...
Veronika membuka knop pintu kamar Samudra. Dia lihat ke sekeliling, tidak nampak sosok Samudra di sana. Veronika mengerutkan keningnya, hingga ia mendengar suara gemricik air shower dari kamar mandi.
Oh rupanya pria itu tengah mandi? batin Veronika. Gadis itu tersenyum smirk, lalu dengan tanpa basa basi lagi Veronika membuka knop pintu kamar mandi dan masuk tanpa permisi.
"Sayang...." ucap Veronika begitu ia melihat Samudra yang setengah te*lanjang dan berdiri di bawah guyuran air shower.
Samudra menoleh kaget ke arah Veronika, ia usap wajahnya yang basah oleh guyuran air hangat shower bermode heavy rain.
"Apa yang kamu lakukin di sini, Ver?!" tanya Samudra yang seketika itu juga mematikan air shower dan meraih handuk untuk menutupi batas pinggangnya.
"Kamu kenapa sih Am?" Veronika mendekat ke arah Samudra dan menggelayut mesra pundak pria itu.
"Ver, lo keluar dulu dari kamar gue."
"Sayang.... kamu kok manggil aku jadi lo-gue gitu sih?"
"Ya--- maksudnya--- kamu keluar dulu dari sini, aku belum kelar mandi nih." Samudra mencoba menghindar dari gelayutan Veronika.
"Gak- aku gak mau keluar dari sini."
"Ver!"
"Samudra! Kamu kenapa jadi cuek kek gini sih?"
Samudra menarik napas panjang. "Please Vero, keluar dulu ya dari sini. Ntar kalo orang tua aku liat, aku yang gak enak, Ver!"
"Halah... alasan kamu aja kan?!" Veronika mendengus kesal.
"Pokoknya aku tetep di sini, titik!"
"Terserah!" Samudra mendengus, kemudian kembali menghidupkan air shower dan kembali berdiri dalam guyuran air hangat yang menerpa tubuhnya.
Veronika memutar bola matanya, seolah mendapat ide yang teramat brilian. Gadis itu lalu melepas pakaiannya, hanya menyisakan bra dan cd yang membungkus area intimnya. Lalu dengan langkah hati-hati, Veronika memasuki ruang shower yang hanya terpasang tirai tembus pandang, gadis itu pun langsung memeluk tubuh Samudra dari belakang.
"Aku kangen saat-saat kita mandi bareng, Am." Veronika berbisik, sembari jemari lentiknya meraba-raba dada hingga semakin ke bawah ke arah perut sixpack Samudra.
"Ver....!" seru Samudra kaget. Samudra berbalik arah. Dan langsung disambut oleh pelukan Veronika.
Veronika mengalungkan kedua lengannya ke leher kokoh Samudra dengan sedikit berjinjit. Hanya dalam beberapa detik, bibir Veronika menyambar bibir Samudra. Menciumnya hingga Samudra tidak lagi bisa menghindar.
"Ver....." Samudra berusaha melepas pagutan bibir keduanya. Namun aksi Veronika saat ini terlalu brutal. Gadis itu bahkan tetap menempelkan tubuh dan bibirnya semakin erat.
"Fu*ck*ing me, baby...." de-sah Veronika.
__ADS_1
To be continue...