
"Sam...." lirih Maya begitu ketiga anaknya telah keluar dari ruang kerja Samuel.
"Hm?"
"Veronika...." ucap Maya sembari memandang wajah Samuel lekat.
"Kenapa dia? Oh soal hubungan dia dengan Samudra?"
"Bukan," geleng Maya.
"Lalu apa?" Samuel mengerutkan dahinya dan menatap heran ke arah Maya.
"Veronika anak perempuan Freya."
Samuel tercengang akan ucapan Maya. Sempat dia terdiam mematung tatkala mengetahui hal tersebut.
"Bagaimana kamu tahu, May?"
"Veronika yang mengatakan kalau nama ibunya adalah Freya Hastari Subagyo. Itu nama panjang Freya kan?"
Samuel mengangguk pelan. "Iya," jawab Samuel datar.
"Jadi kalau begitu dia anak Elano dong Sam?" ucap Maya lagi.
Kembali Samuel mengangguk. "Tentu saja jika Veronika anak yang Freya kandung beberapa tahun lalu, gadis itu anak kandung Elano." Samuel menjawab dengan wajah yang seolah tidak percaya dengan semua rahasia masa lalu yang terungkap dan kini saling berkaitan satu sama lain.
"Veronika tidak mengetahui ayah kandung dia. Terus--- apa kita ceritakan tentang Elano dan juga masalah yang berhubungan antara ibunya dengan kita dulu?" tanya Maya.
Samuel menghela napas panjang dan terlihat sedikit berfikir. Kemudian ia menggeleng pelan. "Kita tidak perlu ikut campur urusan keluarga dia."
"Hm, baiklah." Maya mengangguk setuju dan ikut-ikutan menghela napas panjang.
"Aku gak nyangka jika kejadian di masa lalu kita dulu kembali terulang dengan anak-anak kita, Sam."
Samuel mengangguk pelan kemudian meraih tubuh Maya dan mendekapnya erat.
"Semua sudah di atur oleh Tuhan, sayang. Aku yakin Allah telah mengatur jalan cerita dalam keluarga kita." Samuel memeluk Maya dari belakang dan sesekali mencium ceruk leher Maya. Menghirup dalam-dalam aroma parfum khas bunga lilly yang dari dulu selalu membuat Samuel bertekuk lutut pada istrinya.
"Aku senang Samantha, anak kita berjodoh dengan Samudra," cicit Maya yang sesekali tersenyum geli dengan ciuman Samuel di leher hingga pipinya.
"Aku yakin mendiang Martha dan Harris juga pasti senang dengan hubungan mereka." Maya berucap lagi.
"Kamu gimana, Sam?" tanya Maya. Kali ini ia menoleh ke belakang guna melihat ekspresi Samuel.
"Aku akan selalu mendukung pilihan anak-anak kita, sayang. Selama itu yang terbaik buat mereka."
Samuel kembali mencumbu mesra Maya, semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Maya dan mencium lembut leher jenjang wanita itu.
"Sam...."
"Hm?"
"Kamu ini masih aja ganjen kalo lagi berdua," kekeh Maya.
__ADS_1
"Gak ngerti kenapa setiap ada di dekat kamu, bawaan nya selalu pengen cium kamu terus, May." Samuel mengelus wajah Maya, menyelipkan anak rambut Maya ke belakang telinga wanita itu.
"I always falling in love with you, every day...." bisik Samuel.
"Why?"
"I don't know why..." Samuel menjawab dan terus menciumi wajah Maya.
"I love you too, suami..." bisik Maya lalu menautkan bibirnya ke bibir tebal Samuel. Keduanya saling berciuman, dan rasanya masih sama seperti tujuh belas tahun lalu.
....
Veronika sedikit heran tatkala melihat Samudra yang menggandeng erat tangan Samantha saat menuruni anak tangga.
Netranya membola, ekspresi anehnya tercipta ketika mendapati Samudra dan Samantha yang semakin mesra. Apa yang ada dalam pikiran Maya dan Samuel?Apakah mereka merestui hubungan sedarah itu? pikir Veronika.
"Samudra.... kenapa kamu masih aja deket sama dia sih?" tanya Veronika bingung.
"Emang kenapa?" Samudra berseringai kecil tanpa mempedulikan wajah heran Veronika.
"Kalian kan...."
"Ver, kita harus bicara."
"Oh ya udah, kita bicara di kamar kamu?" Veronika menggeser tubuh Samantha dari sisi Samudra dan Veronika juga berusaha menggelayut mesra di tubuh Samudra namun dengan cepat laki-laki itu menghindar dari rayuan Veronika.
"Kita bicara di sini." Samudra melepas gelayutan tangan Veronika.
"Ver, Lepasin tangan kamu." Samudra berkali-kali melepas jemari-jemari lentik Veronika dari lengan dan pundaknya.
"Kalian bicara aja dulu. Aku masuk ke kamar duluan," ucap Samantha sembari tersenyum kecil ke arah Samudra.
"Hm, sweet dream honey..." jawab Samudra sembari mencium kening gadis berusia tujuh belas tahun itu.
Samantha tersenyum kecil menerima kecupan Samudra di keningnya, sekilas ia melirik ke arah Veronika yang terlihat emosi menyaksikan semua itu. Samantha kemudian berjalan meninggalkan Samudra dan Veronika.
"Kalian sudah gak waras, hah?!" tanya Veronika emosi.
"Kalian ini kakak adik, lagian Om dan Tante kenapa gak marah atau misah-in kalian?" tanya Veronika lagi.
"Kenapa mereka mesti marah?"
Veronika membulatkan kedua netranya, seolah masih tidak percaya akan semua kegilaan keluarga ini.
"Kalian saudara kandung kan, Am?"
Samudra tertawa kecil seolah perkataan Veronika adalah hal yang lucu.
"Aku dan Samantha bukan saudara kandung."
Veronika semakin membelalak kaget.
"Maksud kamu?" tanya Veronika heran.
__ADS_1
"Iya-kami bukan saudara kandung."
"Ttt-aa-piii...." Veronika melongo, tidak bisa lagi berkata-kata.
"Aku minta maaf Ver. Aku tau aku salah, aku tidak bermaksud mempermainkan kamu, tapi aku benar-benar mencintai Samantha."
Veronika menggeleng kuat-kuat, memandang nanar ke arah Samudra. Seolah ia tidak rela jika Samudra meninggalkannya hanya gara-gara gadis ingusan seperti Samantha.
"Nggak.... nggak mungkin. Sayang.... hubungan kita kan udah lama. Kita bahkan----"
"Ver....!" Samudra memotong pembicaraan Veronika.
"Aku minta maaf tentang kita. Tapi aku gak bisa bohongi perasaan aku Ver. Aku mencintai Samantha jauh sebelum aku mengenal kamu."
Veronika terperangah mendengar pengakuan Samudra. Bahkan setelah dua tahun hubungan mereka, Samudra dengan begitu saja bilang mencintai perempuan lain?
"Jadi selama ini hubungan kita--- gak ada artinya buat kamu?" cicit Veronika lemah.
"Maafkan aku Ver."
"Hanya kata maaf kamu bilang?!" ucap Veronika lemah.
"Iya kamu pantas membenci ku Ver. Aku mengaku salah."
"Samudra....!! Kita bahkan sudah melakukan hal itu, apa kamu sedikit aja gak ada hati untuk mengingatnya?" lirih suara Veronika begitu terdengar parau.
Samudra diam, kini ia merasa begitu bodoh dan menyesal akan masa lalunya yang pernah tidur dengan Veronika.
"Jawab Samudra!" pekik Veronika.
"Maaf Ver...." Samudra beranjak pergi dari hadapan Veronika.
"Samudra....! Tunggu....!" teriak Veronika dan mengikuti langkah kaki Samudra.
...
Samudra mondar-mandir di atas balkon kamarnya, beberapa kali ia terlihat meninju samsak yang bergelantungan di balkon kamar.
"Sial!" gumam Samudra. Napas nya memburu kencang.
Bugh! Bugh! Bugh!
Beberapa kali pukulan nya mengenai samsak merah yang kini berayun-ayun terkena kepalan tangannya.
"Kenapa gue dulu begitu bodoh mau tidur sama Veronika, hah....?!" gumam Samudra menyesal.
"Bodoh lo Samudra! Bodoh! Aarrgghhh!!!" Samudra berteriak sendiri. Dengan perasaan kesal dia kembali memukul-mukul samsak tinjunya.
Semoga saja perbuatan bejat gue dulu tidak berakibat buruk yang bisa menghancurkan hubungan gue dengan Samantha nanti, batin Samudra.
"Sial!" dengusnya lagi.
to be continue...
__ADS_1