Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
Bali day 01


__ADS_3

Samudra menghentikan mobil berjenis SUV yang ia sewa setibanya di bandara Ngurah Rai tepat di depan sebuah hotel and resort di Bali. Hotel sekaligus resort bernuansa khas Bali langsung menyambutnya dan Samantha. Kalungan bunga dari karyawan hotel pun menjadi sambutan awal pihak hotel bintang lima itu.


"Kita nginep di sini?"


"Iya," angguk Samudra.


"Temen kakak juga di hotel ini?"


"Hm," angguk Samudra lagi.


"Kita ngga satu kamar kan kak?" Samantha menyelidik.


"Yah... kakak udah terlanjur pesen satu kamar, mana Suite Room lagi." Samudra ber-ekspresi menggoda, wajah seriusnya hanya bermaksud agar Samantha membolakan bola matanya lucu.


"Serius?! Argh...! Sammy ngga mau tidur satu kamar sama kak Am!" pekik Samantha panik, membuat beberapa wisatawan yang lain memadang ke arah mereka dengan tatapan mata heran.


"Hahaha! Ngga apa-apa lah cuma beberapa hari ini."


"Pokonya ngga mau! Inget pesen Mommy!" Dan benar saja, Samantha membulatkan kedua netranya ke arah Samudra.


"Kakak ngga ingat Moms bilang apa? Samudra...! Ingat ya! Kamu harus jaga Sammy, jangan berbuat yang enggak-enggak! Pokoknya Moms ngga akan maafin kalian kalo ada apa-apa sebelum kalian resmi menikah! ---- Kakak ingat pesen Mommy kemarin, kan?" Ucap Samantha menirukan apa yang Maya katakan sebelum keberangkatan mereka ke Bali.


Samudra terkekeh melihat kepanikan gadis itu, sebenarnya dalam hati Samudra, ia merasa kasihan karena telah mengerjai gadis itu.


"Hahahaha!"


"Ish! Kakak kok malah ketawa? Aku bilang ke Mommy ntar!" Ancam Samantha.


"Iya-iya maaf, hahaha!"


"Kakak ih...!"


Samudra masih saja terkekeh geli melihat wajah cemberut Samantha. Lucu tapi sekaligus begitu menggemaskan. Sampai-sampai jemari Samudra tidak sabar ingin mencubit kedua pipi yang kini menggembung karena cemberut.


"Kakak hanya becanda, sayang! Lagian kakak tau kok harus jagain kamu."


Samantha berdiri di hadapan Samudra dengan ekspresi yang masih kesal.


"Kakak juga harus jaga adik kecil kakak yang lain, weekkk!" Samantha menjulurkan lidahnya ke arah Samudra. Sembari tertawa kecil, gadis itu pun berlari dari hadapan Samudra yang masih mematung karena bingung akan maksud ucapan Samantha barusan. Namun setelah pria itu tersadar, ia pun segera melihat ke arah sesuatu di bagian bawah tubuhnya. Sesuatu yang....


Ah.... jangan sampai pikiran kotornya membuat 'dia' terbangun 😆


"A-aappa maksud kamu, Sammy?!" seru Samudra yang menyadari kenakalan gadis kecilnya itu.


"Hahaha! Pikir aja sendiri, weekkk!" Samantha menoleh ke arah Samudra sambil kembali menjulurkan lidah, mengejek.


"Eh jangan lari! Awas ya kamu! Udah mulai nakal, hm?!"


"Hahaha!"


Samantha semakin menambah kecepatan lari-nya ketika ia melihat Samudra yang mulai menggejar di belakang.


....


"Ini kamarnya?"


"Hm," Samudra mengangguk pelan sembari membuka knop pintu kamar bertipe Delux Room yang akan ditempati oleh Samantha.


Netra Samantha mengerjap begitu melihat interior dalam, sesuai dengan harga kamar yang lumayan fantastis dalam semalam.


Kamar yang diisi dengan perabot serba mewah serta ranjang yang begitu tebal dan empuk. Dilengkapi dengan televisi berlayar LED dengan ukuran lumayan besar. Lengkap dengan chanel-chanel TV unggulan dari luar maupun dalam negeri. Lemari pendingin yang lengkap beserta isinya. Kaleng minuman soda, beberapa bungkus biskuit serta coklat dan sekerajang penuh buah-buahan segar menjadi isi-an kulkas mungil satu pintu itu.


Tak hanya itu, yang paling membuat Samantha mengerjap adalah pemandangan yang ada di luar kamar, hamparan samudra luas berwarna biru menjadi pesona tersendiri di kamar Samantha. Gadis itu langsung berlari menuju balkon, membuka pintu kaca yang terhubung langsung dengan kamarnya dan berdiri di tepi-an balkon sembari menghirup udara dalam-dalam. Merasakan segarnya hembusan angin dan deburan ombak yang tidak terlalu besar.

__ADS_1


Aroma pantai selalu bisa membuat Samantha merasa benar-benar nyaman.


Samudra yang melihatnya, perlahan mengulum senyum. Dia mendekat ke arah gadis yang saat ini tengah berdiri di atas balkon sembari mengamati hamparan air laut biru yang begitu luas.


"Kamu bisa liat sunset dari sini." Ucap Samudra yang tiba-tiba merangkulnya dari belakang. Pria itu melingkarkan kedua lengan kekarnya di pinggang Samantha, lalu menempelkan wajah yang bak malaikat ke pipi Samantha.


"Benarkah?"


"Hm," Samudra mengangguk merespon.


"Kamu suka?"


"Iya-aku suka." Senyum Samantha mengembang, netranya masih memandang luas samudra berwarna biru, dengan sedikit kilau air yang ditempa sinar mentari. Membuatnya seperti banyak berlian yang berkilauan. Begitu memukau.


Samudra yang masih saja memeluk erat tubuh Samantha dari belakang, hampir saja lupa akan wejangan yang Maya ucapakan sebelumnya.


Ah sial! dengus Samudra dalam hati. Memang vibes yang Bali berikan seolah mereka adalah pasangan yang sedang ber-honeymoon.


Samudra kini merenggangkan pelukannya. "Kakak ke kamar dulu."


"Kamar kakak ngga jauh kan?"


"Of course, my room's next to your room." (Tentu saja, kamar kakak ada di sebelah kamar kamu)


Samudra menjawab sambil mengusap puncak kepala Samantha. "Kamu istirahat dulu gih, kakak juga mau mandi, gerah." Lanjut Samudra lagi.


"Okey, see you kak Am..." Samantha melambaikan tangan, kemudian segera menutup pintu kamar begitu Samudra telah benar-benar keluar dari kamarnya.


"I want to take a bath too." (Aku juga ingin mandi) Samantha bergumam sendiri.


....


"Hi, dude...!" (Hai, bro!) Seru dua orang pria berwajah blesteran. Kedua pria yang hanya mengenakan kaus dan celana pendek casual, terlihat melambaikan tangan ke arah Samudra.


Pria dengan tubuh atletis dan gaya rambut ber-pomade itu pun berjalan mendekat ke arah dua pria blesteran tadi. Samudra menuju ke arah kedua sahabatnya yang duduk di bagian selatan cafe hotel. Tempat duduk dengan pemandangan khas Bali di daerah Nusa Dua.


"Hi dude, long time no see. How are you?" (Hai bro, lama tak bertemu. Apa kabar?)


"Well.... you can see for yourself. You are doing? still comfortable in Boston?" (Kalian bisa lihat sendiri. Kalian pa kabar? masih betah di Boston?)


Ketiganya lalu saling berpelukan sebagai sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Seperti kebiasaan pria pada umumnya, ketiganya saling bercanda tentang perempuan ataupun beberapa hal yang dianggap tabu oleh sebagian dari kita.


"Lo tau Am? girls in Bali is very hot! Crazy man...!" gumam Cameron. Cowok playboy dengan segala trik rayuan maut-nya.


"What the hell! Semua cewek juga lo sebut hot! Dasar lo kampret!" Samudra mendengus lalu tertawa.


"Hahaha! Oh come on Am... but I still lost to you. You have more girls than me.(Ayolah Am, aku tetap aja kalah dari lo. Cewek lo lebih banyak dari cewek gue) Hahaha!" Tawa Cameron sembari menyeruput wine yang ada dalam gelas kristal di genggamannya.


"Oh ya Am, lo kesini sendiri? Tumben lo! Setelah putus dari Vero, masih ngejomblo? Hahaha!" William yang lumayan lancar berbicara menggunakan bahasa Indonesia, kini terkekeh.


Samudra mendengus. Menyambar kaleng soda yang ada di hadapan kedua sahabatnya lalu meneguknya.


"Banyak ba*cot kalian! Gue kesini bukan buat denger bacot*an lo-lo pada!" Samudra kembali mendengus.


"Keep calm, dude! taking easy... Hahaha!" giliran William yang tertawa.


"Dasar kutu kupret!" Samudra pun ikut terkekeh dan menoyor bahu William.


Ketiganya lalu kembali tertawa sambil menyesap wine masing-masing. Khusus Samudra, dia hanya meminum minuman dingin bersoda. Sudah hampir tujuh bulan ini pria itu berusaha meninggalkan minuman ber-alkohol serta rokok yang dulu menjadi gaya hidupnya.


"Lo ngga minum martini? or wine? at least for sampanye?" tanya William.


"No, I'm quit!" (Ngga, aku sudah berhenti!)

__ADS_1


"What?! Gila lo bro!" William sedikit berteriak merespon. Membuat Cameron terlihat bingung.


"What?" Tanya Cameron dengan wajah idiot-nya.


"He say, that he stopped for a drunk!" (Am bilang, jika dia berhenti minum)


"What? Really? Seriously?" Giliran Cameron membelalak kaget.


"Sial! Gue yang berhenti mabok, kenapa kalian yang heboh?!" Dengus Samudra.


"Hahahaha!" Tawa William.


Beberapa jam mereka saling mengobrol, becanda dan membicarakan persoalan yang sebenarnya tidak terlalu penting. Samudra sesekali tertawa lepas begitu mendengar cerita dua sahabatnya tentang para tetangga di apartemen mereka.


Dan mendadak tawa Samudra menghilang, ketika baik Cameron ataupun William bercerita soal kabar Veronika di Boston.


"Jadi dia belum dekat lagi dengan satu pria pun saat ini?" tanya Samudra.


"Not yet (belum)," geleng William.


"Now, where is your girl? I haven't seen her yet." (Sekarang, dimana cewek lo? Gue belum ngelihat dia) Tanya Cameron.


"She's here. Ok, I will call her, now." (Dia di sini. Oke, aku hubungi dia sekarang)


Samudra lalu meraih handphone di atas meja, tak jauh dari posisinya.


Sebuah panggilan ke nomor Samantha.


Cameron dan William bisa melihat perubahan ekspresi Samudra ketika menelepon gadis itu. Ekspresi yang penuh semangat serta kerinduan seorang pria akan sosok gadis, yang kedua pria blesteran itu bahkan belum mengetahui seperti apa wajah gadis itu.


"She will come?" (Dia akan datang?) tanya Cameron.


"Yeah, she will." (Iya, tentu saja) Angguk Samudra.


....


Di tengah-tengah suasana canda tawa Samudra, Cameron dan juga William, tiba-tiba saja netra Samudra tertuju ke arah seorang gadis yang berjalan menuju ke tempatnya. Cameron dan William pun mengikuti arah mata Samudra. Dan benar saja, sesuai dugaan William dan Cameron jika Samudra memfokuskan pandangannya pada seorang perempuan cantik bersurai ikal berwarna merah, perempuan itu berjalan begitu anggun dengan gaun berwarna pastel yang melekat di tubuhnya. Gaun dengan belahan dada yang sedikit rendah, gaun ketat di atas lutut hingga memperlihatkan lekukan tubuh indah perempuan itu.


Seperti yang Cameron pikir. Dia sudah menduga jika gadis yang saat ini dekat dan menjadi kekasih Samudra adalah tipe gadis seperti itu, yang saat ini berjalan dengan anggun ke arah mereka. Hampir mirip dengan Veronika. Cantik, putih, tinggi dan dengan ukuran da*da sekitar 38.


Cameron sedikit menarik senyum.


"Your girl is so hot, dude!" gumam Cameron. Sedangkan William hanya fokus dengan netra yang membola. Tanpa ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.


Namun apa yang terjadi ketika perempuan tadi mendekat. Dia hanya melewati ketiganya. Membuat Cameron dan juga William melongo. Kenapa perempuan seksi itu hanya melewati mereka? Mereka tidak habis fikir, karena mereka kira----


"Hey baby..." Ucap Samudra sembari memeluk seseorang. Wait a minute...! What the heck is this? Samudra malah memeluk dan mencium kening gadis kecil dengan pipi sedikit chuby? Gadis sepantaran adik atau keponakan bagi pria seumuran mereka? Pikir Cameron heran. Dan begitupun dengan William. Kedua pria itu pasti memiliki pikiran yang sama.


Gadis kecil itu bahkan hanya mengenakan outfit jumpsuit pendek se-lutut berbahan jeans yang dipadu dengan kaus yang juga berlengan pendek berwarna pink. Bahkan rambut ikal kemerahan-nya hanya ia kuncir kuda tinggi. Sepatu sneaker putih pun menjadi pelengkap penampilannya. Sangat kekanakan, pikir Cameron dan William.


Pacar Samudra seorang anak sekolah?


Oh what the fu*ck?! pikir kedua pria blesteran itu.


to be continue...


...----------------...


Cuplikan bab selanjutnya!


"She's your girl friend? Are you kidding me, Am?" (Dia pacar lo? Lo ngga becanda kan, Am?) Cameron sedikit mencibir.


Cameron memandang Samantha dari ujung rambut hingga kaki. Dia masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Samudra. Jangan bilang Samudra berubah menjadi seorang fedofil, batin Cameron.

__ADS_1


Next Part >>>


__ADS_2