Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
Satu Bulan Kemudian(Samudra pov)


__ADS_3

Satu Bulan Kemudian


Setelah satu bulan berlalu sejak rahasia jati dirinya terungkap, Samudra memutuskan tinggal di apartemen. Dia juga belum berencana untuk kembali lagi ke Boston.


Sementara Veronika--- sejak kejadian waktu itu, dia memilih meninggalkan Jakarta. Tentu saja Veronika masih tidak rela hubungannya dengan Samudra kandas begitu saja. Namun, keputusan yang Samudra ambil tidak bisa diganggu gugat.


Samudra memutuskan hubungannya dengan Veronika. Meski dia merasa menjadi orang yang begitu jahat, namun Samudra harus melakukannya. Dia memilih Samantha. Tentu saja...


...


Samudra kembali menghisap rokoknya yang tinggal sedikit dengan hikmat sebelum mematikannya pada asbak. Tak lama kemudian sebuah panggilan masuk ke ponsel-nya yang ia letakkan begitu saja di atas nakas.


"Halo, sayang?"


Senyum Samudra mengembang ketika melihat siapa si penelfon.


^^^"Samudra! pulang sekarang! Pacar kamu ribut di depan aku!"^^^


"Hah?!" Samudra melongo tidak mengerti akan maksud Samantha barusan.


Dia pun mematikan ponselnya dan buru-buru meraih kunci mobil lalu melesat keluar dari apartemen.


...


Entah kesialan apa lagi yang menimpanya. Samudra benar-benar ingin meninju sesuatu untuk melampiaskan emosi.


Sepanjang perjalanan dari apartemen menuju rumah, Samudra tidak berhenti merutuk.


Pacar dari Hongkong?


Satu bulan ini Samudra tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun selain Samantha. Wanita mana lagi yang mengaku-ngaku jadi pacarnya kali ini? Apa mungkin Veronika kembali lagi ke Jakarta?


Jam masih menunjukan pukul delapan malam. Jakarta tentu saja masih rame. Untung saja jalan yang ia lewati tidak terlalu macet, sehingga dia bisa tancap gas, menyalip kanan-kiri. Hanya butuh waktu sekitar dua puluh menit dari waktu normal untuk Samudra sampai di mansion Samuel dan Maya.


Pak Edi selaku satpam dengan sigap membuka pintu pagar begitu melihat sedan Genesis G90 warna hitam mengkilat milik salah satu Tuan Mudanya itu berada di luar pagar.


Mengklason dua kali tanda terima kasih, Samudra langsung tancap gas menuju lobby rumahnya.


"Shi*t!" Umpat Samudra sesaat setelah ia keluar dari mobilnya. Ada minicooper berwarna merah yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri.


Itu mobil Gaby, mantannya sewaktu masih kuliah di jakarta dulu. Wanita hedon itu ia putuskan karena dahulu sangat menyebalkan. Selalu ingin ikut campur segala urusannya hingga ke ranah privasinya. Meskipun Gaby termasuk pacar paling singkat Samudra, namun hingga saat ini dia selalu memata-matai Samudra melalui sosial media yang perempuan itu ikuti. Dan Samudra muak akan kelakuannya.


Tak ingin membuang waktu lama, Samudra melangkahkan kaki berbalut celana pendek selutut memasuki rumah. Tidak ada suasana ribut, sepertinya suasana sudah kondusif.


Kemudian Samudra berjalan menuju ruang utama dan menjumpai Samantha yang saat itu tengah duduk di single sofa.


Gaby, si wanita hedon berwajah sombong terlihat duduk di sofa yang saling berhadapan dengan Samantha. Jangan lupakan kedua tangan yang saling bersedekap di depan dada dengan raut muka yang saling memancarkan permusuhan.


"Samudra! She hurt me!" Gaby seketika berdiri dari duduknya begitu mendengar suara langkah kaki dan menunjuk ke arah Samantha.


"No, i'm not...." geleng Samantha ke arah Samudra.


Samudra membuang napas pelan.


"Samudra! I miss you, honey..." ucap Gaby manja. Gadis itu pun mendekat ke arah Samudra dan bergelayut manja di salah satu lengan Samudra.

__ADS_1


Samantha membulatkan kedua matanya seketika.


Samudra melepas gelayutan Gaby. "What the hell are you doing here?" Tanya Samudra dengan suara rendahnya. Kedua netranya menatap tajam, mengintimidasi.


"Samudra... aku jauh-jauh datang ke sini karena kangen kamu. Udah lama kan kita gak ketemu."


"Gue gak pengen ketemu lo,"dengus Samudra yang kini mendekat ke arah Samantha.


Samantha bahkan masih terlihat duduk tenang di single sofa dengan mata melotot ke arah Samudra.


"Samudra.... aku tau kamu masih kesel karena putus sama Veronika itu kan? Tenang aja honey, ada aku yang akan selalu di samping kamu." Gaby kembali berbicara dengan sikap sok akrab.


"Gaby, kita udah lama gak ada hubungan apa-apa lagi dan stop bertingkah seolah-olah kita masih saling komunikasi ya!" Samudra bersikap tegas terhadap gadis cantik itu.


"Samudra... aku mo minta maaf atas kesalahan aku yang dulu."


"Udah gue maafin!"


"Aku juga pengen kita balikan lagi, gimana?"


"Ogah gue!"


Gaby cemberut.


"Asal lo tau ya, gue udah punya calon istri."


Gaby membulatkan kedua matanya. "Siapa?" Tanya Gaby pelan.


"Dia." Samudra menunjuk ke arah Samantha.


"Heh cewek halu! stop ganggu-ganggu tunangan gue ya. Kalian ini udah lama putus tapi lo masih aja ngejar-ngejar dia. Gak malu apa?" Samantha melengus dan mencebik ke arah Gaby.


"Lo yang halu, dasar lo anak kecil, anak ingusan!" Gaby kini giliran mencebik. Matanya menyorot tajam ke arah Samantha.


"Cukup, Gaby! Sebaiknya lo pergi dari sini!" Samudra membentak gadis itu.


"Tapi, Am...."


"We are is over....! Gak ada lagi yang perlu dibicarakan lagi."


Samudra menatap tajam dan mengintimidasi ke arah Gaby. Gadis itu mengerucut kesal, memandang ke arah Samantha dengan tatapan penuh kebencian.


Sama seperti tatapan Veronika sebulan yang lalu. Oh.... masalah apalagi ini? batin Samantha.


Di sekolah Thalita dan Bryan yang selalu memusuhi dan membuat gosip aneh-aneh tentang dia, sekarang ada lagi nenek lampir menerornya di rumah dia sendiri.


Gaby dengan langkah gedebak-gedebuk berjalan keluar dari rumah besar itu. Sebelum benar-benar keluar dari sana, gadis itu menoleh sebentar ke arah Samudra. "Aku masih mencintai kamu, Am!" cicitnya pelan.


"Keluar!" ucap Samudra tanpa ekspresi apapun.


Gaby keluar dari mansion itu, memasuki minicooper mewahnya dan menarik gas dalam-dalam. Hingga suara decitan ban yang bergesekan dengan aspal halaman mansion terdengar berdecit kencang.


Samudra menggeleng pelan, tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja Gaby kembali hadir dalam hidupnya. Sebenarnya tidak terlalu heran jika gadis itu tiba-tiba muncul di hadapan Samudra.


Sebelum kejadian malam ini, sebenarnya beberapa kali Gaby mengirimkan pesan singkat ke ponsel Samudra. Seolah menerornya dengan ocehan-ocehan yang tidak begitu penting, tentu saja tidak pernah mendapatkan respon dari Samudra.

__ADS_1


"Kenapa dia bisa kemari?" tanya Samudra.


Samantha menggeleng pelan dan menatap Samudra penuh ketidak tahuannya. "Aku gak tau, tiba-tiba aja dia datang-datang marah-marah nanyain kamu."


"Kamu gak papa kan? Gak di apa-apa in dia?" tanya Samudra khawatir.


"Gak, aku gak papa. Untung aja Moms-Dad gak di rumah."


Samudra memeluk Samantha erat dan mencium lembut ujung kening Samantha.


"Lain kali kalo dia atau siapa pun ke sini nyariin aku, kamu usir aja. Suruh Pak Edi atau Mbak Pur buat ngusir dia."


Samudra menangkup wajah Samantha, memandangi lembut gadis itu.


"Hm," angguk Samantha pelan.


"Kakak udah makan?" Tanya Samantha.


"Belum."


"Aku bikinin sandwich? atau nasi goreng mentega?"


Samudra mengernyit heran, sedikit tersenyum kecil ke arah Samantha.


"Emang kamu bisa?" tanya Samudra menggoda.


"Bisa dong, enak aja. Aku kan kadang suka bantuin Mom masak."


Samantha mencebik lucu.


"Ya udah aku bantuin kamu di dapur?"


Keduanya pun berjalan ke arah dapur dan sesekali tawa kecil Samantha terdengar sembari cubitan-cubitan manja gadis itu mendarat ke pinggang Samudra.


"Benua kemana? Kok sepi?"


"Lagi keluar, nge-date sama Lalisa mungkin," jawab Samantha sembari sibuk membuat bumbu nasi goreng.


"Benua udah punya cewek?"


"Hm, mungkin..."


"Kok mungkin?"


"Ya soalnya si Lalisa tu anak paling bar-bar di sekolah, adik kelas sih cuma preman banget anaknya." Samantha mengedikkan bahunya dan memutar bola matanya lucu.


"Mirip kamu dong, sayang. Hehehe...." kekeh Samudra.


"Ish, enak aja..." cebik Samantha lucu.


Samudra terkekeh kembali, melihat rona merah di wajah Samantha.


Gadis itu menyembunyikan rona merah di balik tubuhnya dan masih terlihat sibuk dengan masakannya.


to be continue....

__ADS_1


__ADS_2