
"Samantha, ini aku."
"Bisa kita bicara, Sammy? Denger dulu penjelasan ku." Samudra mengetuk beberapa kali pintu kamar Samantha.
"Aku bawain kamu makanan, please buka pintunya."
Tetap tidak ada jawaban dari si pemilik kamar, Samudra tetap saja mengetuk dan mencoba membujuk adiknya.
"Aku minta maaf, Sammy.... tapi kejadian tadi bukan seperti yang kamu bayangkan." Samudra tetap tidak menyerah, mencoba membuat Samantha melunak dan mau membuka pintu kamarnya.
"Kalo kamu gak mau keluar, biar aku tidur di luar kamar kamu, biar semua tau kalo aku---"
Ceklek!
Belum sempat Samudra menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka. Menampilkan sosok Samantha yang terlihat acak-acakan. Matanya sembab dan merah, sementara kaus yang ia kenakan juga basah oleh airmata yang terus saja mengalir keluar.
"Mau lo apa lagi?" cicit Samantha.
"Aku minta maaf."
"Bullshit!" dengus Samantha.
"Kita bicara di dalam?"
Samantha menatap tajam ke arah Samudra, kemudian netranya berotasi ke kanan dan kiri sebelum akhirnya ia mengizinkan Samudra memasuki kamarnya.
"Aku membawakan kamu makan malam, kamu makan dulu ya?" Samudra meletakkan baki berisi makan malam Samantha, lengkap dengan potongan buah dan segelas susu hangat di atas nakas.
"Gue gak lapar!"
Samudra menghembuskan napas pelan.
"Sejak kapan kita jadi lo-gue?" tanya Samudra pelan. Ia duduk pada pinggir kasur dan mengaduk-aduk nasi lalu bersiap memasukan suapan nasi serta daging rendang ke mulut Samantha.
"A-A-A... buka mulut kamu." Titah Samudra dengan ekspresi yang begitu tenang.
Samantha menggeleng dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Gue bilang, gue gak lapar!" jawab Samantha sembari menggeleng-geleng pelan.
"Tapi kamu harus makan, aku gak mau kamu sakit."
"Nggak!" geleng Samantha.
Samudra kembali menarik napas, lalu meletakkan piring bundar itu ke atas nakas.
"Aku tau kamu marah," ucap Samudra, ia memandang wajah Samantha dengan begitu lembut.
__ADS_1
"Apa yang kamu liat tadi, itu bukan seperti yang kamu bayangkan." Samudra kembali menjelaskan apa yang tengah terjadi tadi.
"Aku dan Vero gak melakukan apapun."
Samantha tersenyum menyeringai kecil. Memutar bola matanya sinis ke arah Samudra.
"Kalian setengah te-lanjang di dalam kamar, hanya berdua. Trus apa lagi yang kalian lakukan kalo bukan have a se-x?" tanya Samantha sinis.
"Gue emang bodoh dan naif. Tapi gue gak sebego itu mempercayai ucapan lo lagi, Kak!" lanjut Samantha. Dia beranjak dari hadapan Samudra dan masih melipat kedua lengannya sebatas pinggang. Samantha membelakangi Samudra.
"Demi Tuhan, Sammy. Aku dan Vero gak melakukan apa-apa waktu itu."
"Jangan bawa-bawa nama Tuhan! Cinta kita aja gak bakal direstui sama Tuhan," ucap Samantha perih.
Samudra terdiam, dia juga merasakan sakit dan pedih ketika sadar akan hubungan sedarah ini. Samudra juga terluka, bukan hanya Samantha. Dia pun merasakan kehampaan ketika sadar bahwa cintanya terhadap Samantha seperti menemui jalan buntu.
"Aku mencintai kamu, Samantha, hanya kamu." Samudra mencoba meraih pundak Samantha.
"Perasaan cinta ini akan tetap sama. Dulu, kemarin, hari ini bahkan esok pun akan selalu sama." Samudra memutar badan Samantha agar keduanya saling berhadapan kini.
"Cinta ini juga dari Tuhan, dan aku gak kuasa menolaknya," ucap Samudra lagi.
Ia belai wajah Samantha dan menangkup wajah cantik itu.
"Aku tidak melakukan apa-apa dengan Veronika tadi. Dia memang mencium ku tapi aku menolaknya." Jelas Samudra tegas.
"Aku menunggu waktu yang tepat, Sammy."
"Waktu yang tepat? Untuk kalian mempersiapkan pernikahan kalian?" tanya Samantha.
"Yang aku cintai kamu, Samantha," jawab Samudra dengan penekanan. Samudra memegang kedua pundak Samantha dan memandang gadis itu dalam-dalam.
"Aku benar-benar jatuh cinta sama kamu," ulang Samudra.
"Omong kosong! Stop bikin aku ge-er. Stop bikin aku melambung setinggi langit jika ujung-ujungnya kamu hempaskan lagi, Kak. Hiks...Hiks..." Samantha kembali tidak kuasa menahan tangis. Air matanya kini mengalir tanpa kompromi di hadapan Samudra.
"Oh dear.... Aku gak pernah mencoba menghempaskan kamu."
Samudra meraih pundak kecil itu dan tanpa aba-aba, dia langsung membawa tubuh Samantha ke dalam pelukannya.
"Aku sayang kamu, tanpa bisa aku kendalikan perasaan ini," bisik Samudra.
"Tapi kita saudara, Kak.... kita gak bisa bersama, kita dosa besar jika melakukannya...." Samantha kembali menangis dalam pelukan Samudra.
Samantha melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Samudra. Menumpahkan semua air mata ke dalam dada bidang sang kakak.
"Aku akan mencari jalan keluarnya, i promise you, dear...."
__ADS_1
Samudra merenggangkan pelukannya dan menangkup wajah Samantha. Mereka saling mendekatkan kedua ujung kening masing-masing.
"We will be ok! I promise...." bisik Samudra lembut. Ia usap air mata yang selalu mengalir dari sudut netra Samantha.
"Sekarang kamu makan dulu, aku gak mau kamu sakit nanti." Samudra membawa tubuh Samantha ke sofa yang berada di sudut kamar.
Samantha menurut, kini hatinya sedikit lebih tenang. Mendengar jika Samudra akan mencari jalan keluar untuk hubungan rumit ini, memberikan sedikit angin segar bagi Samantha.
"Aku suapin?" tanya Samudra dengan sedikit senyuman.
Samantha mengangguk pelan. Wajahnya tertunduk memerah.
"A-A-A... buka mulutnya."
Samudra memberikan satu suapan ke mulut Samantha. Ia bisa tersenyum lega karena Samantha sudah tidak lagi menangis dan terlihat sedikit lebih baik kini.
"Makan yang banyak, aku gak mau liat kamu kurus seperti ini," ucap Samudra menggoda.
Tanpa Samudra duga, Samantha kembali terlihat cemberut. "Jadi kamu sukanya cewek bahenol dan seksi seperti Veronika?" bibir Samantha mengerucut.
"Tuh kan salah paham lagi."
"Habisnya Kak Am---"
"Kalau sedang berdua, jangan panggil aku 'Kak!'" potong Samudra dengan penekanan.
....
Veronika semakin menempelkan telinganya tepat di lubang kunci kamar Samantha. Kedua matanya membola terkejut tatkala sayup-sayup mendengar pembicaraan dua orang yang tengah berada di dalam kamar itu.
Apa yang ia pikirkan selama ini ternyata benar. Hubungan mereka lebih dari hubungan saudara.
Veronika tidak habis pikir, kenapa Samudra bisa-bisanya mencintai adik kandungnya sendiri.
Apa yang akan Maya dan Samuel katakan jika keduanya mengetahui cinta terlarang dari kedua anaknya.
Veronika sedikit merasa syok dengan pengakuan Samudra tentang hubungan dia dengannya. Menunggu saat yang tepat? Apa Samudra akan memutuskan hubungan mereka? Hubungan yang sudah terjalin hampir dua tahun? Dan keduanya pun telah melakukan hal yang dianggap tabu itu selama beberapa kali.
Dan semuanya tidak berarti apa-apa bagi Samudra? Hanya gara-gara gadis ingusan dan naif bernama Samantha?
"Brengsek!" gumam Veronika pelan.
"Gue gak akan biarkan cinta terlarang itu mengalahkan gue," batin Veronika.
"Kalian akan liat apa yang bisa gue lakukan!" Veronika bermonolog pelan.
to be continue...
__ADS_1