
"Ya Tuhan, jadi karena foto ini kau ingin membalas dendam dengan foto seksimu dan selfi bersama Bryan? Oh ayolah sayang, jangan kekanakan, kamu kan bisa tanya langsung padaku daripada mempercayai foto-foto bohong murahan itu."
"Yaaa---a-aku---oke aku emang kekanakan dan selalu menyusahkan kakak!" Samantha kembali mengerucut. Apa-apaan Samudra ini, baru saja dia bilang mencintai gue apa adanya, tapi sekarang? batin Samantha.
"Bukan gitu sayang, sorry..." bujuk Samudra yang menyadari jika gadisnya itu kembali merajuk. Bukan maksud Samudra mengatai kalau Samantha kekanakan.
"Maksud kakak, lain kali kalo ada masalah seperti ini lebih baik kamu tanya atau bicara langsung sama kakak. Ngga boleh menduga-duga yang bukan-bukan, okey?"
"Jangan salahkan Sammy yang berfikir buruk tentang kakak, melihat sepak terjang kakak dulu yang sering gonta ganti perempuan." Samantha masih membela diri sambil memutar bola matanya jengah.
"Oke kakak minta maaf." Samudra kembali meraih tubuh Samantha dan membawanya ke dalam pelukan.
Jantung Samantha kembali berdebar sangat kencang, ia bahkan dapat merasakan ribuan kupu-kupu yang berterbangan dan menggelitik perutnya. Ia sungguh tak kuasa menolak sentuhan dan perlakuan manis Samudra. Samantha hanya tersenyum manis dengan wajah yang memerah seperti kepiting rebus. Bahkan wajah juteknya tadi, kini berubah menjadi begitu manis.
....
Di sebuah gedung pencakar langit terbesar di Jakarta dengan segala kemegahannya, tampak seorang pria tampan yang tengah berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Ia tengah menatap keindahan kota Jakarta dari dalam ruangan megah ber-AC dan lengkap dengan segala fasilitas mewah.
Samudra saat ini tengah berada di ruang kerja Baskoro, sang kakek.
Dia harus menunggu beberapa menit sampai laki-laki yang lebih dari setengah abad itu selesai mengadakan rapat dengan seluruh direksi perusahaan yang menaungi berbagai macam property. Seperti hotel, resort dan beberapa rumah sakit mewah yang tersebar di Jakarta dan Bali.
"Hey, Nak." Ucap seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun namun masih terlihat begitu bugar. Tubuh yang sedikit tambun dengan rambut yang hampir semua memutih itu terlihat masih sangat berwibawa.
"Sudah lama, Am?"
"Ngga lama, Kek." Samudra menggeleng dan langsung berjalan ke arah sang kakek. Ia memeluk laki-laki tua itu dengan hangat.
"Gimana kabar kamu?"
"Baik-baik saja. Kakek gimana? Jaga kesehatan jantung kakek, jangan bekerja terlalu keras, Kek."
Baskoro tertawa sejenak, sambil menepuk bahu Samudra.
"Kamu benar, harusnya kakek sudah pensiun saat ini dan menikmati masa tua kakek dengan nenek mu sekarang."
Samudra yang duduk di sebelah Baskoro hanya tersenyum. Ia sudah tau kemana arah pembicaraan kakeknya.
"Samudra...." Baskoro menjeda ucapannya.
"Iya, Kek?"
"Apa tidak bisa kamu pikirkan lagi keputusan kamu itu? Untuk meneruskan bisnis kakek ini?"
Samudra menghembuskan napas panjang. "Tapi aku tidak mengerti sama sekali tentang bisnis, Kek. Dan Am juga tidak mau ilmu yang Samudra dapat selama ini menjadi sia-sia. Kakek tau sendiri kan? Passion Am menjadi seorang dokter bukan bisnismen seperti kakek ataupun Daddy Samuel."
"Kakek tau, tapi kamu adalah cucu kakek satu-satunya. Jika bukan kamu, lantas siapa yang akan meneruskan semua yang telah kakek bangun ini?"
Kembali Samudra menarik napas dalam-dalam.
"Apalagi minggu depan akan ada pembukaan hotel terbaru kakek. Dan kakek sangat berharap kamu bisa hadir dalam acara tersebut."
"Akan Samudra usahakan, Kek."
Kembali Baskoro tersenyum simpul. Sangat susah untuk membuat cucunya itu berubah pikiran. Segala alasan dan cara sudah ia lakukan, namun Samudra masih bersikeras dengan profesi dokter yang telah ia pilih.
"Oh-ya kakek hari ini sudah minum vitamin?"
__ADS_1
Baskoro menyeringai sebentar lalu mengeluarkan cerutu dari wadah persegi yang terbuat dadi perak berlapis emas.
Laki-laki tua itu pun menyulutkan api ke ujung lintingan tembakau tersebut dan menghisap dalam-dalam di ujung yang lain.
"Kakek tidak sakit, Nak. Buat apa kakek minum obat-obat itu, hm?" Jawab Baskoro sembari menghembuskan asap yang keluar dari mulutnya.
"Itu bukan obat, Kek! Tapi vitamin." Samudra menjeda sebentar.
"Harusnya kakek berhenti merokok. Di usia kakek saat ini lebih baik mulai hidup sehat dan mengurangi pekerjaan."
Kembali Baskoro menyeringai di sela-sela hembusan asap yang terus mengepul dari mulutnya. "Kakek akan mengurangi merokok dan beristirahat, asal kamu bersedia menjadi pewaris perusahaan kakek."
Ah lagi-lagi Samudra dihadapkan dengan persoalan yang sama. Baskoro selalu saja membuat ultimatum untuknya.
"Kakek.....!" dengus Samudra.
....
Di sebuah ballroom megah yang dihias begitu indah oleh sentuhan nuansa maroon, white dan gold itu tampak beberapa tamu undangan yang berkumpul di tengah-tengah ruangan.
Di sana ada juga Boby dan Adrian, mereka juga termasuk tamu kehormatan yang memang diundang secara khusus oleh Samudra pada malam hari ini.
"Congcrats, dude. Makin kaya aja lo," seloroh Boby.
"Selamat atas pembukaan hotel baru lo Am." Kali ini Adrian yang berbicara.
"Selamat Am, bukan hanya dokter. Lo juga jadi miliyader sekarang." timpal Sean, sahabatnya yang berprofesi sebagai dokter juga. Sambil merangkul hangat pundak Samudra.
"Thank's for coming, guys!" jawab Samudra singkat sambil mengacungkan gelas minuman lalu diikuti oleh Boby dan sahabat-sahabatnya yang lain.
"Sebenarnya ini hotel milik kakek gue, harusnya kalian memberi selamat ke dia." Samudra berkata dengan sedikit rasa jengah. Seharusnya malam ini ia menghadiri pesta prom di SMA Unggulan bersama Samantha.
Beberapa kali netra Samudra berotasi jengah, rasanya ia ingin berlari dari sana dan menemui Samantha. Berbagai pikiran buruknya membayangkan jika Samantha dan Bryan tengah berdansa bareng di pesta prom itu.
"Lo kenapa Am?" tanya Boby heran.
"Nothing!" jawab Samudra singkat.
"By the way..... cewek lo ngga lo ajak malam ini?"
Mendengar pertanyaan Adrian, Samudra menggeleng pelan.
"Dia sedang ada pesta prom di sekolahnya. Dan harusnya gue nemenin dia malam ini," dengus Samudra kesal.
"Oh-jadi itu yang membuat lo gelisah dari tadi? Hahaha!" tawa Adrian.
"Ah sialan lo!" Samudra menarik senyuman sekilas saat Adrian dan kedua temannya yang lain mulai menggodanya.
Berkumpulnya ke-empat pria tampan itu sebenarnya menarik perhatian kaum hawa di sekitar mereka. Sedari tadi sudah tak terhitung banyaknya wanita-wanita yang mencuri pandang, bahkan tak segan melempar tatapan memuja serta menggoda ke arah mereka.
Mereka berempat memang selalu menjadi pusat perhatian dan tampak mencolok diantara para tamu undangan yang lain. Siapa pun tidak akan ada yang menolak pesona pengusaha dan dokter muda. Selain kekuasaan dan kekayaan yang melimpah, mereka juga memiliki fisik yang sempurna.
Selain wajah mereka yang tampan dan memikat, tubuh mereka pun indah, dipenuhi otot-otot yang membuat setiap wanita akan menjerit histeris, bahkan ingin menyentuh dan memiliki pria-pria itu.
....
Semakin larut, acara yang berada di sebuah hotel mewah di Jakarta Itu bahkan semakin ramai. Berbagai acara yang disajikan mulai dari acara musik dari artis penyanyi ternama ibu kota, hingga lawakan-lawakan dari para stand-up comeddy menjadi pengisi pembukaan hotel bintang lima dengan standart Internasional itu. Acara itu juga dihadiri oleh beberapa pejabat penting serta pengusaha-pengusaha muda dan sukses, tak lupa banyak juga para model dan artis beken lainnya yang hadir di acara tersebut.
__ADS_1
Terlihat Basoro yang tengah berbincang dengan seorang pria yang kira-kira seumuran dengan Samuel, sang ayah angkat. Hingga Baskoro akhirnya memanggilnya untuk mendekat dan bergabung dengan keduanya.
Samudra mengambil napas perlahan, padahal tadinya ia berencana untuk keluar dari sana dan menemui Samantha di pesta prom night gadis itu.
Akhirnya Samudra kembali mengalah, ia berjalan mendekat ke arah kedua pebisnis itu.
"Samudra, kenalkan ini tuan Elano Wijaya. Pemilik Wijaya Group, rekan bisnis kakek." Ucap Baskoro memperkenalkan.
Sang pria yang berumur sekitar empat puluh tahun-an itu pun menerima uluran jabat tangan Samudra.
"Selamat malam tuan Wijaya."
"Malam." Sang laki-laki berpenampilan rapih itu pun mengangguk pelan, sebuah senyum tipis tersunging di bibirnya. Rambut hitam mengkilat akibat pomade menambah kesan elit dan menarik pada diri laki-laki tersebut.
"Jadi ini cucu anda tuan Baskoro?"
Baskoro mengangguk pelan. Sembari menepuk-nepuk bahu kekar Samudra. "Iya ini cucu saya satu-satunya. Tapi sayang, dia tidak mau meneruskan kerajaan bisnis yang sudah saya bangun selama ini." Baskoro menjawab dengan nada sedikit menyindir.
Samudra hanya bisa tersenyum kecut. Selalu seperti ini, desakan Baskoro agar Samudra merubah pendiriannya.
"Sayang sekali ya. Padahal bisnis anda begitu banyak dan sedang berada di atas." Jawab pria berpenampilan eksklusif itu.
"Padahal kedua orang tua angkat dia juga menawarkan posisi yang sama buat dia dan Samudra juga menolaknya."
Laki-laki itu menarik sedikit alisnya tidak mengerti.
"Maksudnya dengan orang tua angkat?" tanyanya dengan penuh keheranan.
"Panjang ceritanya." Ucap Baskoro sembari membuang napas.
"Oh ya saya dengar-dengar anda adalah seorang dokter handal?"
Samudra tersenyum sekilas. "Saya memang seorang dokter, tapi masih dokter baru belum sehandal seperti yang anda dengar tuan Wijaya." Jawab Samudra santai.
Beberapa kali Samudra memperhatikan sosok laki-laki yang seumuran dengan Samuel. Dan seolah ia pernah menjumpai gambaran wajah laki-laki itu, tapi entah kapan dan di mana.
"Oh-saya juga mempunyai seorang putri yang juga calon dokter, saat ini dia masih menjalani pendidikannya di Harvard."
Samudra manggut-manggut tanda menyimak. "Oh benarkah?" respon Samudra datar.
Sementara yang diajak bicara pun mengangguk penuh rasa bangga.
"Siapa tau cucu anda dan putri saya berjodoh, bukan begitu tuan Baskoro? Hahaha!"
Samudra spontan membulatkan kedua matanya jengah. Cukup basa-basi ini! batin Samudra.
"Maaf Kek, aku ada urusan penting. Samudra permisi dulu." Pamit Samudra akhirnya. Harusnya ia melakukannya dari tadi, sebelum dirinya terlibat lebih jauh lagi dengan percakapan ketiganya.
"Tapi Samudra----"
Belum sempat Baskoro menyelesaikan kalimatnya, Samudra dengan terburu-buru melangkah pergi meninggalkan Baskoro dan sang klien.
"Maafkan cucu saya," ucap Baskoro penuh rasa sungkan.
Sementara laki-laki yang masih terlihat muda di usia hampir empat puluh tahun itu hanya tersenyum sekilas dan mengangguk pelan. "Tidak perlu sungkan tuan Baskoro." Ucapnya.
to be continue...
__ADS_1
*****
Disarankan untuk membaca sequel pertamanya yg berjudul MySam agar jelas jalan ceritanya 🤗