
Veronika berjalan lambat di lorong lobi rumah sakit, heels maroon yang ia kenakan mengeluarkan bunyi ketukan-ketukan ketika terkena lantai marmer rumah sakit. Heels yang sangat elegant, terlihat begitu kontras dengan kaki putih jenjangnya.
Setelah bertemu dengan kakek Baskoro pagi tadi, kini Veronika hendak menemui Samudra di rumah sakit.
Sebagai informasi, Baskoro selaku pimpinan direksi rumah sakit Medika Center telah menempatkan Veronika untuk menjadi dokter Koas di sana dan dengan bimbingan Samudra langsung. Itu artinya akan ada banyak waktu gadis itu untuk bertemu dengan Samudra di sepanjang harinya. Setidaknya sebelum pria itu kembali ke Boston untuk S2-nya.
Hingga gadis cantik dengan tinggi seratus tujuh puluh delapan centi meter itu menghentikan langkahnya di depan sebuah ruangan khusus Samudra.
Kata suster Aisya, Dokter Samudra siang ini sedang tidak menerima pasien. Dan dokter muda itu berada di ruangan khususnya untuk beristirahat sejenak.
Netra lentik Veronika membaca tulisan besar yang tertempel di depan pintu ruangan tersebut. Dokter Samudra Sp. JP.
Veronika tersenyum sebentar sebelum akhirnya jari lentiknya menekan knop pintu hingga menampilkan sosok pria tampan yang masih mengenakan jas kedokteran berwarna putih, sedang duduk di sebuah sofa dengan menyandarkan kepalanya. Rupanya Samudra saat ini tengah terlelap, sehingga suara Veronika yang membuka pintu dan masuk pun tidak ia dengar.
Senyum Veronika mengembang penuh tatkala melihat sosok yang dahulu pernah menemaninya. Bukan untuk waktu yang singkat, keduanya berhubungan lumayan lama saat berada di Boston. Samudra yang awalnya mengenal Veronika sebagai adik tingkat di Universitas Harvard, menjadi lebih dekat lagi ketika mereka tahu kalau sama-sama berasal dari Indonesia.
Hingga hubungan yang terjalin semakin dekat dan intim. Samudra tidak menolak, kehadiran Veronika saat itu. Karena saat itu dia beranggapan jika Samantha adalah adik kandungnya. Bisa dibilang kalau waktu itu Veronika adalah pengisi kekosongan dan pelampiasan Samudra untuk melupakan sosok Samantha.
Jangan tanyakan mengenai hubungan se-ks bebas yang mereka lakukan dulu. Samudra saat ini bahkan menyesali apa yang ia perbuat dulu bersama Veronika. Jika saja ia mengetahui rahasia mengenai dirinya, tentu saja pria tampan itu tidak akan gegabah melakukan se-ks pra nikah.
Veronika masih tersenyum dan berdiri tepat di hadapan pria itu, wajah damai Samudra saat tertidur adalah sesuatu yang ia rindukan. Dulu, saat berada di apartemen milik pria itu di Boston, Veronika selalu menemukan pemandangan yang seperti saat ini. Wajah lelah Samudra yang terlelap damai. Membuat Veronika tak sadar untuk mendaratkan satu ciuman di permukaan bibir pria itu.
Cup!
Veronika berhasil, mencium ujung bibir Samudra.
Merasa ada benda kenyal yang menempel singkat di bibirnya, Samudra pun terbangun. Ia membuka mata perlahan, mengerjap sebentar guna mengumpulkan sebagian nyawa yang belum sepenuhnya menyatu. Hingga ia melihat perempuan cantik yang memakai celana jeans bermode skinny fit, kemeja warna pastel berbahan chiffon dipadu dengan blazer dengan warna biru langit, senada dengan celana jeans yang ia pakai pun menjadi perpaduan yang sempurna. Veronika terlihat begitu perfect, pria mana yang sanggup menolak pesonanya?
"Veronika? Kamu di sini? Udah lama?" Tanya Samudra sembari mengatur posisinya. Sementara kedua netranya masih saja mengerjap bingung.
"Lumayan, sorry ya aku main nyelonong masuk tadi." Veronika kini duduk di samping pria yang masih mencoba mengumpulkan sebagian nyawanya. Menghadapi pasien yang lumayan banyak antrian, serta jadwal kunjungan pasien yang padat sejak pagi tadi membuatnya kelelahan. Belum lagi persiapan untuk pernikahan dan program S2 nya sungguh menyita waktu Samudra beberapa hari ini.
Meskipun Maya ikut membantu mempersiapkan urusan pernikahannya tetap saja Samudra harus turun tangan untuk memberi persetujuan.
"It's ok!" Jawab Samudra yang tidak menyadari ciuman Veronika tadi, karena pria itu pikir tadi adalah hanya mimpinya, mengira jika Samantha lah yang menciumnya di alam bawah sadar.
"Kamu kecapean? Aku buatin minuman hangat?"
"Nggak, ngga usah. Thank's" Samudra kini berdiri dan mengatur jas putih 'kebesarannya'.
__ADS_1
"Ada apa kamu kesini?"
"Oh, aku cuma pengen bilang kalo mulai sekarang aku jadi dokter Koas di sini. Dan kamu yang jadi pembimbing ku langsung."
"Benarkah?" Tanya Samudra kaget.
"Hm," angguk Veronika.
"Mohon bimbingannya dokter Samudra, hehehe...." Gadis itu terkekeh lucu hingga membuat Samudra pun ikut tertawa.
"Ada-ada saja kamu, Ve." Ucap Samudra dengan sedikit menarik senyuman.
"Samudra...."
"Ya?" Samudra yang tadinya sibuk memeriksa beberapa pesan yang masuk ke layar handphone, kini menoleh ke arah Veronika.
"Soal pernikahan kamu---" Veronika menjedanya sebentar, menatap lekat ke dalam iris coklat Samudra.
"Kamu serius dengan keputusan itu? Apakah nggak terlalu cepat?" Sambung gadis itu, kini Veronika mendekat ke arah pria tinggi dan tegap itu. Keduanya berdiri saling berhadapan, wajah Veronika sedikit mendongak tatkala berhadapan dengan Samudra, meski tinggi tubuh gadis itu di atas rata-rata wanita pada umumnya, tetap saja tubuh tinggi dan tegap Samudra terlihat lebih menjulang jika keduanya saling berhadapan.
"Aku serius, Ve."
Samudra merasa bersalah? Tentu saja. Pria itu bahkan tidak dapat menemukan jawaban apa yang hendak ia utarakan.
Entah kenapa dulu saat bersama gadis yang berdiri di hadapannya hari ini, Ia tidak menemukan keseriusan seperti sekarang. Dulu Samudra memang peduli pada Veronika, namun saat itu... dirinya tidak sebegitu cinta mati terhadap gadis tinggi bak model dengan surai panjang kecoklatan itu.
Cukup lama mereka saling terdiam dan memandang satu sama lain, Samudra bahkan bisa melihat iris bening Veronika kini berkaca-kaca, seperti air mata itu hendak terjun bebas di pipi tirus dan putih Veronika.
"I'm sorry, Vero." Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Samudra.
"I still love you, Samudra! Tidakkah kau bisa melihatnya? Selama ini aku masih sendiri, itu karena aku masih mengharapkan kamu kembali."
Akhirnya air mata itu pun jatuh berderai dari netra kecoklatan yang selalu jernih.
Tanpa menunggu aba-aba lagi, Veronika menjatuhkan tubuhnya di atas dada bidang milik Samudra. Kedua lengannya melingkari pinggang pria itu, memeluknya dengan begitu erat.
"Vero...! Please jangan seperti ini." Ia berusaha melepas pelukan Veronika, namun gadis itu malah semakin mengeratkan kedua lengannya di pinggang itu.
"I love you, Samudra." Gadis itu semakin tersedu.
__ADS_1
"Vero dengar---" Samudra kali ini benar-benar berusaha melepas lingkaran kedua lengan Veronika dari tubuhnya.
"Listen to me, Vero! Kamu cantik, pinter dan pria mana yang bisa menolak kamu?---"
"Kamu Samudra!" ucap Veronika memotong ucapan pria tegap itu.
"Nggak Ve, maksud aku... kamu bisa mendapatkan pria yang lebih baik lagi dariku. Aku yakin di luar sana ada yang akan mencintai kamu secara tulus, Ve."
"Tapi aku maunya kamu, Samudra!"
"Ya Tuhan, Vero!" Samudra bahkan tidak tahan lagi dengan sikap keras kepala gadis itu.
Samudra mundur sejengkal dari gadis yang masih menangis terisak di hadapannya. Ia mengusap wajahnya, seolah tidak tahu lagi harus berkata apa. Samudra merasa bersalah, namun ia tidak bermaksud menyakiti Veronika.
"Maaf, Am--- maaf atas kebodohan ku ini." Gadis itu menyeka air mata yang terus meleleh keluar. Hingga sedetik kemudian senyum yang sedikit ia paksakan pun kembali terkembang.
"Ve..."
"I'm fine..." lirih Veronika saat tatapan Samudra seolah bertanya apakah dia baik-baik saja.
"Selama kamu belum kembali ke Boston, aku mohon bimbingan kamu di rumah sakit ini dokter Samudra." Veronika berusaha menetralkan emosinya. Ia tetap memamerkan senyum manisnya sembari sedikit membungkukkan badan ke arah Samudra saat berucap tadi.
"Tentu, aku akan membantu kamu sebisa yang aku lakukan."
"Terima kasih, dokter." Veronika kembali membungkukkan sedikit badannya dan tersenyum dengan begitu manis.
Membuat Samudra kembali merasa perasaan bersalahnya.
"Aku permisi dulu, dokter."
"Ve---"
Mendengar Veronika menyebutnya dengan kata dokter yang terdengar begitu formal, semakin membuat Samudra merasa bersalah.
Hingga gadis itu keluar dari ruangannya. Samudra tetap diam bergeming, melihat kepergian Veronika. Sedikit hembusan napas berat pun keluar dari hidung mancungnya. Dia lalu melirik ke arah jam tangan Rolex yang melingkar di tangan kirinya . Ah sial! Ia terlambat menemui Samantha di butik milik Aunty Airin.
Dengan bergegas Samudra meraih remote kontak mobil dan juga dompet di dalam laci meja. Ia pun meninggalkan ruangannya dengan tergesa-gesa. Siang ini tidak ada jadwal pasien hingga pukul empat sore nanti, jadi Samudra bisa sedikit leluasa meluangkan waktu dengan calon istrinya.
to be continue...
__ADS_1