Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
Satu Bulan Kemudian(Samantha pov)


__ADS_3

Flashback 1 bulan lalu


"Aku gak bisa membiarkan kamu berbicara hanya berdua dengan Bryan."


"Gak papa Kak, nanti kalo ada kakak, semuanya malah bakal ricuh."


"Tapi Sammy---"


"Tolong percaya sama aku. Kami harus bicara berdua, empat mata aja."


"Aku takut kamu diapa-apa in sama dia."


"Aku bisa jaga diri. Kakak lupa aku sabuk hitam karate, hm?"


Samudra membuang napas kasar. "Terserah kamu!" dengus Samudra kesal.


Jangan lupa, dia adalah Samantha, siapapun tidak akan pernah bisa merubah apa yang sudah menjadi keputusannya. Termasuk Samudra.


Samantha bersikukuh ingin membicarakan persoalan mereka kepada Bryan. Bagaimanapun juga Samantha harus jujur dengan cowok itu. Samudra mengkhawatirkan gadisnya ketika Samantha meminta ijin untuk berbicara berdua di tempat pertama kali Bryan membawa Samantha melihat sunset.


Iya... di mana lagi kalau bukan di sebuah bangunan terbengkalai yang ada di selatan Jakarta.


Samantha menolak ketika Samudra hendak mengantar dia menemui Bryan. Namun bukan Samudra namanya jika ia dengan begitu saja membiarkan gadisnya menemui cowok lain. Apalagi cowok itu adalah Bryan.


Samudra mengikuti perlahan mobil yang Bryan kendarai, dengan Samantha yang juga di dalamnya. Dia tidak ingin terlihat mencolok, dan tidak mau Samantha mengetahui jika dirinya membuntuti mereka.


...


Samantha duduk di samping Bryan dengan terus memandang langit sore itu. Keduanya saling terdiam, Bryan bahkan terlihat begitu marah. Dia berdiri di ujung sudut yang lain. Membelakangi Samantha dengan kedua tangan yang mengepal erat.


"Kenapa kamu tega melakukan ini, Sammy?" tanya Bryan yang masih berdiri membelakangi Samantha.


"Maaf Bryan, aku benar-benar minta maaf."


"Aku mencintai kamu dan bukankah udah dari dulu kamu juga suka sama aku hah?! tapi kenapa kamu memilih cowok lain, hah?!" bentak Bryan.


"Siapa dia? Randy? Devano?Atau Arya?" cecar Bryan emosi.


"Bukan mereka." Samantha menggeleng.


"Lalu siapa?! Oh atau anak sekolahan lain? Katakan! Biar gue hajar dia!" Bryan terus berteriak, kepalan tangannya kini meninju kuat-kuat dinding yang setengah jadi itu.


"Jawab!" teriak Bryan lagi.


"Samudra." Samantha menjawab pelan. Namun terdengar begitu jelas di telinga Bryan.


Samantha berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Bryan. Dia memandang dengan wajah bersalahnya.


"What the hell? Samudra? he's your brother Samantha!" pekik Bryan, kali ini dia mendekati Samantha dan mencengkeram kedua pundak gadis itu.


"Dia bukan kakak kandung ku."


"What the fu*ck?"


"Iya dia bukan kakak kandung ku. Tadinya aku mencoba membohongi diri ku Bryan. Aku juga berfikir jika Samudra kakak kandung ku. Dan aku harus menghilangkan rasa cinta ku ke dia. Tapi ternyata aku benar-benar mencintai dia dan faktanya kami bukan saudara kandung." Samantha menjeda kalimatnya.


Berusaha meraih pundak Bryan. Namun cowok itu menepis kuat tangan Samantha.


"Maafkan aku Bryan. Aku tau ini gak adil buat kamu tapi aku benar-benar mencintai dia. Dan perasaan aku ke kamu----"


"Apa? Lo hanya mainin perasaan gue, hah?!"


"Bukan, bukan begitu...." Samantha menggeleng cepat-cepat.


"Aku memang pernah suka sama kamu. Tapi kemudian aku menyadari kalau suka aku ke kamu itu---"


Samantha kembali menggantung kalimatnya, menjedanya sebentar dan mencoba menatap kedua iris mata cowok itu.


"Apa?! Rasa suka lo ke gue hanya sebuah pelarian? Gitu maksud lo, hah?!" Ucap Bryan melanjutkan ucapan Samantha.


Samantha hanya terdiam, dia menyesal mempermainkan perasaan Bryan. Meskipun tidak ada niat dalam hatinya untuk menyakiti cowok tampan berwajah bad boy itu.


"Sorry...."


"Sorry lo bilang?!" Bryan menyeringai kecil.


"Gak segampang itu, Bi*tch!"


Bryan menarik lengan Samantha dan mencoba mencium paksa gadis itu.


"Bryan! Lepas!" pekik Samantha.


"Lo boleh jadi milik orang lain. Tapi sebelum itu--- Lo harus jadi milik gue dulu!"


Samantha membolakan kedua netranya. Melihat kebencian dari sorot mata Bryan membuat Samantha sedikit bergidik ketakutan.


"Lepasin gue, Bryan!" Samantha mencoba melawan.

__ADS_1


Plak!


Sebuah tamparan keras dari Samantha mendarat ke rahang Bryan.


Kedua bola mata pria itu pun menyorot tajam ke arah Samantha.


"Cewek brengsek!"


Plak!


Bryan pun membalas tamparan Samantha. Hingga begitu keras. Bahkan darah segar mengucur di salah satu sudut bibirnya.


Bryan menjadi membabi buta, ia tarik kerah baju seragam Samantha dan merobeknya dengan begitu mudahnya. Menyudutkan tubuh Samantha ke dinding, mengkungkung tubuh gadis itu dan kembali mencoba mencium paksa Samantha.


Bugh! Bugh!


Samantha mendaratkan pukulan keras di perut Bryan. Namun anehnya Bryan tetap saja membabi buta melawan Samantha. Bahkan pukulan keras dari Samantha tidak memberi efek jera bagi Bryan.


"Lo cewek sialan! sok kecakepan! Lo tau? Kalo bukan karena bokap lo pemilik saham terbesar di sekolah itu--- dan kalo bukan karena tarohan itu, gue gak bakal mau sama lo!" Bryan mencengkeram erat rahang Samantha. Dan berusaha mencium paksa gadis itu.


Samantha memberontak, berusaha mengeluarkan semua jurus karate yang diajarkan oleh gurunya. Namun tenaga gadis itu telah habis dan kalah kuat dengan tenaga Bryan.


Bryan terus saja menindih tubuh Samantha.


"Tolong.....! Brengsek lo Bryan! Tolong....!!" Samantha berteriak.


"Hahaha!! Siapa yang bakal menolong lo bi*tch?" tawa Bryan.


Hingga tiba-tiba saja...


Bugh! Bugh! Bugh!


Tiba-tiba saja pukulan keras dari seseorang berkali-kali mendarat di wajah dan perut Bryan.


"Brengsek lo!"


Bugh...! Bugh...! Bugh...!


Beberapa pukulan susulan kembali mendarat di rahang Bryan.


"Kak Samudra....!" pekik Samantha sembari menangis dan berlari ke pelukan pria itu.


"Are you okey?" tanya Samudra memastikan. Ia menangkup wajah ketakutan Samantha. Dan kemudian beralih menyorot tajam Bryan.


"Lo cowok brengsek! Banci! Jangan pernah lagi gue lihat lo deket-deket Samantha!" Ancam Samudra.


"Udah! Kita pergi dari sini, please....." pinta Samantha.


Samudra yang merasa khawatir akan keadaan Samantha, lalu mengangguk pelan. Dan berjalan meninggalkan Bryan. Samudra menggandeng erat lengan Samantha. Berusaha menjaga gadis itu agar tidak sempoyongan.


Bryan yang masih tersungkur ke lantai bangunan terbengkalai itu menatap penuh emosi ke arah keduanya.


Dia berusaha berdiri dengan memegang perut serta dadanya. Bryan menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Sembari bergumam pelan. "Tunggu pembalasan gue!"


...


"Bagaimana kakak bisa ada di sini?" tanya Samantha begitu keduanya berada di dalam mobil Samudra.


"Aku membuntuti kalian."


Samudra memandang wajah Samantha dan mengobati luka Samantha dengan obat yang ada di kotak P3K dalam mobilnya.


Samudra menekan-nekan pelan kapas yang telah dioles obat merah ke luka di bibir Samantha.


"Maafkan aku...." lirih Samantha.


Samudra tidak menjawab, ekspresinya datar dan dia terlihat masih sibuk mengobati luka gadis itu.


"Harusnya aku mengikuti nasehat kakak...." lirih Samantha lagi.


"Kalau gak ada kakak.... aku gak tau bagaimana nasib aku jadinya," lanjut Samantha.


Netranya menatap sayu ke arah Samudra. Dari tadi pria itu hanya diam dan tidak menjawab ucapannya. Membuat Samantha takut jika Samudra marah padanya.


"Udah aku bilang, jangan panggil kakak lagi." Samudra akhirnya angkat bicara. Ekspresi nya terlihat masih datar, tidak seperti saat ada di atas bangunan setengah jadi tadi.


"Habisnya kebiasaan...." cicit Samantha.


"Kamu bisa panggil aku sayang.... honey.... baby.... atau apa aja."


Kali ini Samudra tersenyum kecil. Memandang lembut ke arah gadis kecilnya.


Samantha lega ketika melihat senyuman kembali menghias wajah tampan Samudra.


"Jangan lebay deh...." kekeh Samantha.


"Siapa yang lebay sih, darling?"

__ADS_1


"Kakak..." kekeh Samantha.


"Hehehe aku gak lebay."


Samantha tersenyum lalu memeluk erat Samudra yang duduk di sampingnya.


"I love you sayang..." bisik Samantha di telinga Samudra.


"I love you more, sweety..."


Samudra mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepala Samantha.


"We go home now?"


"Hm," angguk Samantha.


"Tempat ini menyeramkan. Bagaimana bisa kamu mau diajak ke sini sama cowok brengsek itu, hm?" tanya Samudra di sela-sela perjalanan pulang mereka.


"I don't know...." geleng Samantha.


Samudra pun melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, meninggalkan kawasan proyek yang mangkrak itu.


....


1 bulan kemudian(Masa Sekarang)


"Gue masih gak nyangka deh Bryan se-tega itu sama lo," ucap Jully ketika mereka sedang ada di kantin.


Amel pun mengangguk setuju akan apa yang Jully ucapkan. Kedua gadis itu selalu mengira jika Bryan cowok gantleman. Meski dari luar penampilan cowok itu slengekan dan terkesan bad boy.


"Udah sebulan berlalu dia masih aja dendam ke lo." Amel menimpali pembicaraan Jully.


"Yah... wajar si dia marah ke gue." Samantha menjawab pelan, sembari memakan cilok dagangan Jully dan menyeruput es sirup di kantin.


"Iya marah si marah tapi ini udah sebulan dan dia selalu nyebar gosip murahan tentang lo dan kak Samudra."


"Hm, apalagi tuh si Lita yang sengkongkol sama Bryan buat jelek-jelek in lo." Amel mendengus kesal.


"Sammy, kenapa sih lo gak bilang sama bokap lo soal kelakuan Bryan dan Thalita? Gedek gue sama mereka," kembali Amel mendegus kesal, bahkan cilok milik Samantha tanpa sadar ia embat juga.


"Gedek si gedek bestay... tapi cilok gue gak usah lo embat juga keles...." Samantha melotot ke arah Amel yang cengengesan sendiri.


"Hehehe.... sorry Sam, gak sengaja..." kekeh Amel sambil garuk-garuk rambutnya yang tidak gatal.


"Eh tapi Sam, kok bisa gitu sih lo sama kakak ganteng berjodoh? Harusnya jodoh kakak ganteng itu gue..." Jully cemberut lucu.


Samantha dan Amel tertawa melihat ekspresi sahabat satunya itu.


"Ish, enak aja lo. Samudra milik gue, tau...!" cebik Samantha.


"Yaelah.... iya-iya milik lo. Tapi kan sebelum janur kuning berkibar masih ada kesempatan toh? Hahaha....!" goda Jully, tak ayal membuat Samantha terkekeh geli dan pura-pura memasang wajah jutek.


"Heh...! cewek gak tau diri, bisa-bisanya ya lo masih ketawa ketiwi, hah...!"


Thalita and the gang tiba-tiba saja berdiri di hadapan Samantha dengan berkacak pinggang.


"Maksud lo apaan, hah?!"


"Lo kan si cewek yang godain kakak lo sendiri? Dasar cewek tukang selingkuh, trus selingkuhnya sama om-om. Hahaha...!" tawa Thalita.


"Parahnya si om-om itu kakaknya sendiri, hahaha...!" Thalita kembali tertawa mengejek. Dan disambut tawa ejekan juga oleh tiga pengikutnya yang lain.


"Heh...! jaga ya mulut lo!" Samantha membalas.


"Kalo gak tau apa-apa gak usah ngebacot deh lo!" Amel menimpali dan memasang badan di depan Samantha.


"Heh...! gak usah sok jadi pahlawan kesiangan lo!" Thalita membusungkan dadanya ke arah Amel dengan tatapan tajam dan meremehkan.


"Apa lo...!" seru Amel menantang


"Apa lo...!" Thalita and the gang pun membalas apa yang Amel lakukan.


"Mel...! Udah deh gak usah ladeni cewek stres kek dia. Buang-buang waktu tau!" Samantha dan Jully melerai, menenangkan Amel.


"Dan lo Lit, lo boleh kok ambil Bryan. Gak usah sok-sok an jadi kacung Bryan. Gak malu apa? kemana-mana pengen di anggap ceweknya Bryan, hm?" nyinyir Samantha.


"Lagipula gue udah gak butuh cowok banci kayak Bryan. So... kalo lo mau--- lo ambil aja. Dan gak usah ngebacot yang gak penting tentang gue." Lanjut Samantha.


"Oh ya satu lagi, bilang sama Bryan. Kalo dia ada masalah sama gue, suruh dia datang langsung ke gue. Jangan jadi pengecut dengan menyebar gosip-gosip kampungan tentang gue!" bisik Samantha di telinga Thalita.


"Iya, lagian anak-anak yang lain juga tau kok kalo Sammy gak salah. Tuh cowok idaman lo si Bryan yang mencoba kurang ajar sama Sammy." Jully menimpali, mengangkat wajah nya ke arah Thalita.


Samantha, Jully dan juga Amel pun kini meninggalkan Thalita dan ketiga temannya yang kini berwajah kesal.


"Sial...!" dengus Thalita dengan bola mata berapi-api. Dia kembali kalah telak berdebat dengan Samantha.


to be continue...

__ADS_1


__ADS_2