
Setelah menutup panggilan telepon dari Samudra. Pandangannya kini tersita pada modul Matematika yang terletak di meja belajarnya. Meski kembali merasakan sedikit bad mood saat mengingat tentang ujian Matematika hari ini, Samantha menyipitkan matanya ketika melihat ada kertas yang terselip di sana. Gadis itu pun segera menariknya dan membaca tulisan yang ada. Ini kan latihan soal Matematika yang ia kerjakan kemarin!
Samantha kembali membelalakkan matanya melihat kertas coretan yang sudah penuh. Ada beberapa jawaban yang ia yakini bukan tulisan tangannya. Tiga nomor itu juga merupakan nomor-nomor yang ia tidak bisa.
Pasti Samudra!
Samantha tersenyum senang. Selain menuliskan langkah demi langkah pengerjaan soal nomor empat, enam dan delapan. Lelaki itu juga memberitahu dimana letak kesalahan jawaban Samantha di nomor empat dan enam.
Dengan cepat Samantha kembali membuka chatroom ponsel-nya dengan Samudra dan menuliskan sebuah pesan di sana.
Makasih buat jawaban latsol semalem, kak! Makasih juga buat bunga dan coklatnya. Semangat prakteknya, love you ❤
Me
....
Samudra benar-benar menepati janjinya untuk menjemput Samantha. Pukul dua belas tepat, mobil sedan hitamnya sudah terparkir di depan lobi sekolah.
Samantha tersenyum kecil ketika melihat sedan hitam mengkilat yang ia hafal itu adalah mobil milik Samudra.
"Lo dijemput kak Samudra?" tanya Jully sembari mengemut permen lolipop-nya.
"Iya."
"Wahhhh senengnya punya sopir plus bodyguard pribadi yang gantengnya MashaAllah....!" ucap Jully sembari mengerjapkan kedua matanya namun mulutnya tetap saja mengemut lolipop rasa mangga.
"Ish, makanya lo cari cowok biar gak jomblo akut!" Amel menggetok kepala Jully, membuat gadis itu memekik mengaduh.
"Auw...! Sakit Amel!" Jully mengerucut kesal.
"Hahaha! Sorry...sorry..." Tawa Amel terdengar tidak berperikemanusiaan di telinga Jully.
Melihat sahabatnya masih manyun tanda permintaan maafnya belum diterima, Amel kembali terkekeh. "Ntar deh gue traktir bakso."
"Yeeee.... kalo gitu gue maafin lo, Mel!" pekik Jully girang.
Samantha hanya tersenyum geli melihat dua kelakuan sahabatnya. Kini Samantha merasa, setelah lulus SMA nanti, ia pasti akan merindukan dua gadis konyol itu.
"Kalian ini ada-ada aja ih! Gue pasti bakal kangen banget sama kalian bedua."
Samantha merangkul keduanya dan memeluknya erat. Ketiga gadis cantik itu pun saling berpelukan, saling menempelkan kepala masing-masing dengan ekspresi lucu.
"Gue juga, pasti kangen sama lo Sammy. Secara lo kan bakal kuliah di LN iya kan? Nggak mungkin kalo lo nggak kuliah di sana." Amel berkata dengan wajah sedihnya, sementara Jully mengangguk-angguk membenarkan.
"Nggak tau juga gue."
Ketiganya kini saling diam sebentar.
"Tapi janji ya, kita bertiga ngga bakal hilang kontak. Tetep jadi sahabat. True bff..." ucap Samantha sembari mengangkat jari kelingking-nya. Amel dan Jully pun melakukan hal yang sama. Saling menautkan ketiga kelingking mereka sembari kompak berteriak. "Tentu dong, kita akan selamanya jadi BFF... Best Friend Forever...." pekik ketiganya.
"Love you all...." ucap Samantha dengan memeluk kedua sahabatnya.
"We love you too...." jawab Jully dan Amel merespon.
Hingga beberapa detik Samantha merenggangkan pelukannya. "Eh gue duluan ya, kasian Samudra udah nunggu."
"Iya-iya buruan deh, takutnya si kakak ganteng keburu disamber setan-setan gatel. Hahaha!" Tawa Amel.
"Hm, udah dulu ya, bye...." Samantha melambaikan tangannya dan berjalan menjauh dari Amel dan Jully yang masih berdiri sembari melambaikan tangan menatap kepergian Samantha.
....
"Udah lama nunggunya?"
Samantha membuka pintu depan mobil dan duduk di kursi samping kemudi.
"Nggak juga. Ah-ya gimana tadi ujiannya?" Samudra menoleh ke arah Samantha dan menatapnya lembut.
"Hm-aman. Semua berkat kak Am, thanks ya..."
Samudra hanya mengangguk sembari tersenyum kecil. Pria itu pun mulai menyalakan mesin mobil dan bersiap keluar dari area parkir sekolah.
__ADS_1
"Kita mau kemana?"
"Makan siang, kamu belum makan, kan?"
Samantha menggeleng pelan. Ia menurut saja apa yang telah menjadi ucapan Samudra.
"Ikut ke rumah sakit bentar yah?" Samudra melirik ke pergelangan lengan kiri-nya. Jam tangan Rolex miliknya menunjukkan pukul dua belas lebih dua puluh menit.
"Hm," angguk Samantha. "Emang ada yang ketinggalan?"
"Nggak sih, aku lupa kalo hari ini ada janji dengan salah satu pasien. Nggak papa kan?" tanya Samudra memastikan.
Kembali gadis itu menggeleng pelan. "Iya nggak papa kok."
Samudra kemudian kembali memutar arah sedan hitamnya.
...
Samantha mengikuti langkah Samudra saat memasuki lobi rumah sakit. Samudra sempat menghentikan langkahnya saat mengetahui Samantha berjalan di belakangnya. Tanpa ragu Samudra membawa tangan mungil Samantha ke dalam genggaman dan memelankan laju langkahnya agar Samantha dapat mengimbangi.
Samantha tidak menolak digandeng seperti itu. Jujur ada banyak pasang mata yang dengan terang-terangan menatap ke arahnya. Ah... atau mungkin ke arah Samudra? Ia tidak nyaman menjadi pusat perhatian seperti sekarang ini.
Tentu saja gadis itu kini menjadi pusat perhatian oleh banyak suster-suster wanita ataupun dokter-dokter perempuan muda dan cantik yang masih berstatus menjadi mahasiswi atau dokter coas di sini.
Apalagi dengan seragam SMA yang Samantha kenakan semakin menyipitkan banyak mata itu karena heran.
Selama mulai praktek dan tercatat menjadi dokter tetap di Rumah Sakit ini, belum sekalipun mereka melihat Samudra dekat dengan perempuan mana pun. Bahkan pria itu begitu dingin saat berhadapan dengan suster-suster muda maupun mahasiswi kedokteran yang kebanyakan gadis-gadis cantik dan modis. Kini tiba-tiba saja dokter tampan itu menggandeng seorang gadis berseragam SMA? Membuat banyak pasang mata itu seolah kaget plus iri. Iya mungkin itu arti tatapan mereka, iri melihat Samantha yang begitu mudahnya diperlakukan manis oleh dokter idola mereka.
Tanpa sadar Samantha merapatkan tubuhnya pada Samudra. Ia juga semakin mengeratkan genggamannya.
Samudra yang menyadari gelagat aneh gadis itu lalu mengedarkan pandangan, mendapati para suster dan mahasiswi kedokteran yang saat itu berada di sekitar lobi dan lorong-lorong Rumah Sakit tengah menatapnya dengan berbagai arti.
Mengetahui Samudra membalas mereka dengan tatapan tajam, semua suster dan dokter coas perempuan, langsung mengangguk sopan dan mengalihkan pandangan mereka.
Samantha bernapas lega setelah Samudra membawanya masuk ke pintu lift hingga pintu itu tertutup. Satu hal yang mengganggu pikiran Samantha, dari tadi tidak ada satu orang pun yang menaiki lift yang sama dengannya. Padahal di lift sebelahnya, Samantha melihat banyak bejubel orang-orang yang mengantre hingga sudah tidak ada space lagi di dalam lift.
"Kak?"
"Kenapa tadi yang lain nggak naik lift ini juga? Kan di sini masih banyak space yang kosong?"
Samudra mengulum senyum, tangannya menepuk puncak kepala Samantha dengan gemas. "Ini lift khusus dokter dan direksi, sayang..."
"Ow.... gitu." Bibir Samantha membulat lucu, membuat Samudra tersenyum kecil. Lalu perhatiannya tersita pada pantulan bayangan dirinya dengan Samantha. Sangat kontras bagaimana tubuh tinggi dan tegapnya yang tampak dewasa dengan pakaian rapi dan blazer abu-abu bersanding dengan tubuh mungil Samantha yang berbalut seragam putih abu-abu serta berhoodie pink. Samantha terlihat sangat kecil di dekatnya.
Seperti pasangan om dan keponakan.
Sial! Samudra membatin.
....
Samudra membukakan satu ruangan dan meminta Samantha untuk memasukinya. "Kamu tunggu di sini sebentar ya."
"Kakak mau kemana?"
"Ke ruang praktek sebentar, tadi suster Aisya kirim pesen kalo pasien kakak udah dateng." Samudra menjelaskan.
"Oh-gitu... ya udah aku nunggu sini ngga papa kok."
"Sebentar aja, paling dua puluh menit."
Samudra melepas blazer abu-abu dan menggantinya dengan blazer dokter kebesaran-nya. Ia lalu berjalan mendekat dan mencium kening Samantha.
"Okey...."
Setelahnya Samudra kembali keluar dari ruang pribadinya. Tentu saja, pria itu memiliki ruangan khusus, tidak semua dokter di Rumah Sakit itu yang mempunyai ruang khusus lengkap dengan sofa empuk, kulkas, televisi LED dan kursi pijat yang terletak di pojok ruangan.
Rumah sakit tempat Samudra praktek saat ini adalah milik Baskoro Group, sang kakek. Sejak pertemuannya dengan Samudra kemarin, Baskoro menawarkan posisi dokter spesialis jantung kepada Samudra.
Dan pria itu menyetujui tawaran tersebut, meski dia belum menyelesaikan studi S2-nya namun Samudra adalah dokter yang sangat berkompeten. Baskoro bahkan berencana untuk memberikan Rumah Sakit itu sepenuhnya kepada cucu satu-satunya.
"Sepertinya ini ruangan pribadi kak Am deh," gumam Samantha sambil berkeliling. Sama dengan apartemen Samudra, ruangan ini juga didominasi warna hitam dan abu-abu.
__ADS_1
Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Samantha. Gadis itu lalu mengalihkan pandangannya ke arah seorang perempuan yang baru saja memasuki ruangan tersebut. perempuan muda dan manis berseragam baju batik dan bercelana hitam panjang serta memakai sepatu flat yang juga berwarna hitam.
Perempuan itu lalu meletakkan piring berisi biskuit serta segelas minuman dingin berwarna merah yang ia bawa tadi. "Silahkan diminum," ucap perempuan itu sopan dan ramah. Samantha pun membalasnya dengan senyuman juga.
"Terima kasih."
Samantha kembali sendirian setelah perempuan itu keluar dari pintu.
Canggung, itu yang Samantha rasakan. Meskipun ia hanya sendiri di dalam ruang tersebut, namun ia tetap saja merasa canggung di tempat baru atau yang jarang ia kunjungi. Tempat ini sama seperti apartemen Samudra, penuh dengan hawa-hawa mengintimidasi.
Lima belas menit berlalu, belum ada tanda-tanda Samudra memasuki ruang berpendingin udara tersebut. Sambil menyesap minumannya, Samantha memutuskan untuk memainkan handphone-nya. Ia teringat belum menjawab chat dari Bryan tadi setelah bertelepon dengan Maya, meminta ijin keluar dengan Samudra setelah pulang sekolah.
^^^Gimana ujian Matematika tadi, Sam?^^^
^^^Bryan Viander^^^
Luar biasa gan! Sampai ngebul!😔
Me
^^^Mental aman?^^^
^^^Bryan Viander^^^
Nyaris gila sih, yah tapi overall oke lah😄
Me
^^^Hahaha! Eh betewe jalan yuk, bareng-bareng, lo boleh ngajak Amel dan Jully. Itung-itung refreshing^^^
^^^Bryan Viander^^^
Kapan?
Me
^^^Siang ini, di cafe yang dulu kita pernah kesana^^^
^^^Bryan Viander^^^
Sorry ngga bisa, gue udah ada agenda
Me
^^^Oh, kalo besok gimana?^^^
^^^Bryan Viander^^^
**
"Sorry lama!" Tiba-tiba suara pintu terbuka. Suara Samudra membuat Samantha mendongak dan mengalihkan perhatiannya dari layar handphone di pangkuannya.
Dengan langkah tegapnya Samudra berjalan mendekat ke arah Samantha. Pria itu tampak gagah dengan blazer serba putih khas seorang dokter. Sepatu pantofel hitam merk Buccheri membuat suara ketukan di lantai saat Samudra berjalan mendekat ke arahnya.
"Maaf ya."
Samantha tersenyum simpul. "Ngga papa kok, ngga lama nunggunya."
"Yuk." Kata Samudra, setelah mengambil sebuah kunci, dompet dan handphone di atas mejanya.
"Hm," angguk Samantha.
"Kamu mau makan apa?"
"Mm, kakak aja yang nentuin."
"Ya udah kita ke restoran favorit aku, mau?"
"Oke." Samantha mengangguk pelan dan meraih tangan Samudra yang terjulur di depannya.
__ADS_1
To be continue....