Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
Satu Bulan Kemudian


__ADS_3

Sejak kedatangan kembali Maya dan Samuel ke Indonesia, Samudra pun mendatangi keduanya secara privat. Kebetulan hari ini Samantha tengah berada di sebuah butik milik Aunty Airin, sahabat Maya.


Samudra tampak memasang wajah serius di hadapan Maya. Kalimat apa yang akan ia ucapkan pun sudah ia ancang-ancang secara matang. Samudra menunggu kedatangan ayah angkatnya. Karena baru sehari saja kedatangan mereka, Samuel tetap pergi ke kantor untuk mengurus semua pekerjaan yang ia tinggalkan selama satu bulan lebih.


Dokter muda itu pun duduk sembari berkali-kali membuang napas kasar. Menunggu kedatangan Samuel rasanya seperti membawa sebuah beban berat di pundaknya.


Maya melihat geli ke arah pria yang dulunya adalah seorang bocah kecil yang menggemaskan. Bocah yang ia besarkan bersama Samuel dengan penuh kasih.


Sepertinya Maya mengetahui maksud apa yang ingin pria itu utarakan kepada dirinya dan juga suaminya.


Maya tersenyum kecil. "Kamu yang tenang dong, Am. Om Sam sebentar lagi juga sampai rumah kok," kekeh Maya.


Samudra membuang napas berat, lalu tersenyum untuk menenangkan dirinya.


Heran, padahal dia sudah menganggap Maya dan Samuel seperti kedua orang tuanya sendiri, namun entah kenapa dirinya masih saja merasa grogi saat hendak mengutarkan maksud hatinya untuk mempercepat pernikahan dia dengan putri mereka, Samantha.


"Bagaimana pekerjaan kamu, Am?"


"Semuanya lancar, Moms."


"Good..." gumam Maya.


Ceklek!


Suara knop pintu yang terbuka pun menyita perhatian mereka. Kompak, keduanya lalu mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang terbuka itu.


"Ada apa, sayang? Kenapa kamu menyuruh aku untuk pulang? Semuanya baik-baik aja kan?" Tanya Samuel khawatir. Pria yang lengkap dengan pakaian rapi dan formal itu langsung memeluk Maya dan mendaratkan cipika cipiki di pipi Maya yang masih terlihat chuby dan kencang, sementara Maya menyambut hangat peluk dan cium suaminya. Wanita itu pun menarik satu kursi santai ke arah Samuel. "Nggak tau tuh, Samudra ingin berbicara penting katanya."


"Ada apa, Nak? Ada masalah?"


Samudra menggeleng pelan, berusaha menenangkan dirinya sendiri dan mengatur napas dalam-dalam. "Moms-Dad....." Samudra menjeda sebentar kalimatnya.


"Am pengen hari pernikahan Am dan Sammy dipercepat," sambungnya lagi.


Tentu saja membuat baik Maya dan Samuel saling memandang heran. "Kenapa Am? Bukannya rencana kalian, menikah setelah kamu selesai S2, Am?"


"Am sangat mencintai Sammy, Dad." Samudra kembali menghela napas sebelum melanjutkan kembali ucapannya.


"Dan Am pengen sebelum Am kembali melanjutkan S2, kami sudah resmi menikah."


Maya dan Samuel kembali saling berpandang, hingga beberapa menit kemudian keduanya terlihat tersenyum pelan. "Kamu sudah yakin dengan keputusan kamu?"


Samudra mengangguk yakin. "Seratus persen yakin, Dad!"

__ADS_1


"Gimana dengan kakek kamu? Dia setuju?"


"Yang Am butuhkan adalah restu kalian."


"Tapi dia juga kakek kamu, Samudra! Dan kamu juga harus meminta ijin padanya." Ucap Samuel.


"Please, Dad! Am akan selalu menjaga Samantha dan selalu mencintai dia." Tandas Samudra.


"Samudra janji, Dad!" ucapnya lagi dengan penekanan dan wajah serius.


Samuel memandang ke arah Maya, kemudian perlahan membuang napas. "Moms dan Dad setuju saja jika itu keinginan kamu. Tapi sebaiknya kita tanyakan dulu pada Sammy."


Samudra tersenyum senang, ia pun mendekat ke arah Samuel dan memeluknya erat, pelukan seorang anak ke ayahnya.


"Moms-Dad...? Kak Am? Tumben pada kumpul semua? Ada acara apa nih?" Ucap Samantha begitu ia memasuki ruangan keluarga. Wajahnya terlihat bingung, gadis itu heran melihat ayahnya yang pulang lebih awal dari biasanya. Ketiganya pun terlihat begitu serius saat ini, entah membicarakan masalah apa.


"Sayang, sini duduk dekat Moms."


Samantha mengangguk, menaruk paper bag belanjaan miliknya ke atas nakas kecil di pinggir ruangan.


"Apaan sih? Serius banget?" Samantha memandang ke arah Samudra, sedikit menarik alisnya. "Kak Am, ada apa sih?" tanya gadis itu heran.


Samudra tersenyum simpul, melihat gadis yang saat ini duduk di hadapannya dengan wajah polosnya.


"Sayang, tadi Kak Am bilang ke Mommy juga Daddy kalo rencana pernikahan kalian---"


"Kak Am, pernikahan kita nggak batal kan? Kakak udah janji kan nggak ninggalin Sammy?" Cicitnya sendu.


"Hehehe, ish-kamu ini kalo ada orang ngomong itu didengerin dulu!" Maya mencubit gemas hidung mancung Samantha sambil terkekeh geli.


Tak ayal Samudra pun tersenyum melihat ekspresi Samantha. Dasar gadis kecilnya itu memang tidak pernah berubah, selalu saja gasrak-gusruk mengambil kesimpulan sendiri.


"Terus...?"


"Kak Am pengen kalo pernikahan kalian dipercepat." Lanjut Ibunya lagi.


Spontan senyum merekah pun hadir di kedua sudut bibir Samantha. Ia pun memandang ke arah Samudra dengan senyum lebar, namun tetap saja mengalir air mata dari kedua netra gadis itu.


"Gimana? Kamu setuju nggak?"


"Iya... Sammy setuju," angguk Samantha cepat. Tak bisa dibendung lagi air mata bening yang terus saja mengalir keluar dari sudut matanya.


"Kamu sudah siap jadi seorang istri?" Tanya Maya lagi.

__ADS_1


"Siap, Mommy! Sammy siap jadi Nyonya dokter Samudra Baskoro Pratama." Jawabnya antusias sembari melirik ke arah Samudra. Gadis itu tersenyum bahagia, berkali-kali kedua mata mereka saling menatap haru. Meski jarak keduanya tidak terlalu dekat, namun seolah keduanya bisa berkomunikasi melalui tatapan mata masing-masing.


"Kalau begitu kita tetapkan tanggalnya, dan tentu saja pernikahan itu dilaksanakan di bulan ini juga, kan?" Ucap Samuel kemudian.


"Bagaimana kalau tanggal sembilan Agustus ini?" Usul Samudra.


Maya dan Samuel pun kembali saling berpandang dan mengangguk pelan.


"Boleh, kebetulan tanggal itu Sammy juga berulang tahun ke delapan belas kan?" Ucap Maya menambahkan.


Samantha pun kembali merespon menyetujui usul Samudra. Tidak bisa ia bayangkan jika sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang Nyonya Samudra Baskoro Pratama.


Samantha sangat bahagia, sungguh bahagia.


...


Veronika menerima sebuah undangan pernikahan dengan hati berkecamuk, melihat dua nama yang terukir di sana membuat hati perempuan itu hancur. Hampir saja Veronika merobek-robek undangan dengan tinta emas yang menuliskan nama kedua mempelai.


The Marriage Samudra&Samantha, begitu lah yang tertera di atas undangan berwarna pink pastel dan berhias bunga-bunga mawar.


Netra Veronika mendadak menjadi panas, ia pun menggigit bibir bagian bawah dengan sangat erat. Menahan amarah yang senantiasa mungkin bisa meledak kapan saja.


"Ve, kenapa nggak menyahut saat ayah memanggil kamu, hm?" Laki-laki berusia empat puluh tahun itu pun melangkah mendekat ke arah meja Veronika.


Veronika tergeragap gugup begitu menyadari jika sang ayah sudah berada di dekatnya.


"Kamu kenapa, Nak? Kangen sama Mama kamu?"


Sekilas Veronika menggeleng sambil menunduk.


Netra Elano menangkap sesuatu yang ia yakini telah membuat anak perempuannya terlihat sedih. Laki-laki itu pun meraih surat undangan yang terlihat begitu eksklusif. Membaca perlahan undangan tersebut. Tak kalah dengan Veronika, Elano pun dibuat terkejut dengan dua nama yang tertera di kertas berbau harum tersebut. Bukan nama sang mempelai, namun dua nama yang menuliskan Maya dan Samuel Perdana. Rupanya cerita lama itu kembali terjadi. Veronika, putrinya kalah bersaing dengan putri dari musuh bebuyutannya dulu, Samuel Perdana.


Dulu dia juga kalah dari Samuel dalam mendapatkan kembali Maya. Dan kini Veronika pun mengalami hal serupa. Elano tahu jika putrinya masih sangat mencintai Samudra.


"Kamu yang tenang, Nak. Segalanya bisa saja terjadi."


"Maksud Papah?"


"Kalau kamu masih mencintai pria itu, jangan pernah pantang menyerah. Rebut hatinya dengan kelemahan dia."


"Tapi dia sebentar lagi menikah, Pah."


Elano menyeringai kecil. "Bahkan pernikahan pun bisa saja ada perpisahan, bukan?" ucap Elano licik.

__ADS_1


"Ya, Papah benar." Seringai Veronika penuh makna.


to be continue...


__ADS_2