Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
Don't Leave Me


__ADS_3

"Kamu cari siapa, Nak?" Tanya Elsi begitu wanita itu melihat cucunya seperti orang bingung.


"Samantha, Nek. Aku cari dia di semua tempat tapi nggak ketemu juga." Jawab Samudra bingung.


Sang nenek pun tersenyum kecil. "Ayo ikut Nenek." Elsi menarik tangan Samudra, membawanya ke suatu tempat yang ada di lantai dua rumah besar itu.


"Tadi, setelah makan malam. Nenek mengajak Samantha ke kamar ini. Kami banyak cerita soal masa lalu dan soal kalian." Elsi tersenyum lembut sembari menepuk-nepuk lengan cucunya.


Samudra termenung, sedikit menarik kedua alis tebalnya menatap pintu sebuah kamar yang dia sendiri tidak pernah memasukinya. Iya, karena Samudra tidak pernah bisa berlama-lama jika berkunjung ke rumah besar kakek-neneknya. Samudra malas menghadapi sikap keras kepala dan kaku dari Baskoro soal pilihan hidupnya.


"Ini kamar....?"


"Kamar Mama kamu dulu." Elsi menyela pertanyaan Samudra.


"Masuklah." Titah Elsi, begitu ia melihat cucunya hanya bisa termangu menatap pintu luar kamar.


Perlahan tangan besar Samudra membuka knop pintu, netranya membelalak takjub. Melihat ruangan luas yang masih tertata rapi dan sangat bersih. Ruangan dengan warna serba matcha. Mungkin ini warna favorit mendiang mama kandungnya dulu.


Sejumlah foto gadis cantik pun terpasang di atas dinding dan juga beberapa terdapat di atas nakas yang ada di dalam kamar itu.


Hingga netra Samudra meremang, mendapati Samantha yang tertidur pulas di atas ranjang empuk berukuran queen size. Tidur gadis itu begitu damai, menyerupai seorang putri tidur.


Samudra duduk di pinggiran ranjang, menatap lekat wajah cantik yang penuh kedamaian itu.


"Sudah lama dia tertidur, Nek?"


"Entahlah, tadi saat Nenek tinggal dia masih terjaga. Tapi begitu Nenek kembali ke sini, gadis itu sudah terlelap mirip putri tidur." Elsi tersenyum, memandang wajah damai gadis itu saat pulas tertidur.


"Dasar sleeping beauty..." gumam Samudra.


Tangan besar Samudra perlahan mengelus puncak kepala Samantha. Satu kecupan pun ia daratkan di kening gadis itu.


"Biarkan dia istirahat dulu, Nak. Kasian kalau kamu bangunkan." Ucap Elsi mengingatkan. Samudra mengangguk merespon. Selang beberapa detik, Wanita itu pun keluar dari kamar besar bernuansa matcha. Selama ini Elsi selalu merasakan kesedihan setiap ia keluar dari kamar Martha dulu. Namun entah mengapa kini setelah melihat Samantha menempati ranjang Martha. Elsi seperti merasakan jika anak perempuannya kembali hadir ke rumah itu.


Setelah Elsi keluar dari kamar itu, Samudra pun perlahan berdiri dari duduknya. Bermaksud tidak ingin mengganggu tidur gadisnya.


"Kak Am, jangan pergi..."


Dengan cepat Samantha meraih lengan Samudra, menahannya agar pria itu tidak melangkah keluar dari kamar.


Spontan Samudra menghentikan langkahnya, memandang ke arah gadis yang masih terbaring namun kini kedua matanya terbuka lebar.


"Kenapa bangun? Kakak ganggu tidur kamu?" Samudra kembali duduk di pinggir ranjang, sembari mengelus lembut wajah gadis yang selama ini sangat ia cintai dengan tulus.


"Nggak." Samantha menggeleng pelan.


"Aku---"


"Kamu pura-pura tidur?"


Pipi Samantha merona merah, malu karena Samudra telah mengetahui ke-pura-pura-an nya.


"Aku liat kalian tadi." Lirih Samantha.


Samudra mengernyitkan dahinya tidak mengerti.


"Melihat apa?"


"Melihat kakak dengan kak Ve."

__ADS_1


"Oh itu---" Pria itu menghela napas, kemudian melayangkan senyum kecilnya.


"Kenapa? Kamu cemburu?"


Pipi gadis itu mendadak bersemu merah. Tentu saja dia cemburu, siapa yang tidak cemburu melihat pria yang ia cintai sedang berduaan dengan perempuan dari masa lalu.


Samudra tersenyum kecil, membelai wajah cantik gadis yang masih berbaring di atas ranjang.


"Kami hanya mengobrol, nggak lebih." Samudra menjelaskan.


"Aku mau pulang," cicit Samantha sembari ia berdiri dari rebahnya dan duduk pada pinggir ranjang.


"Nggak papa kan kalo aku pengen pulang sekarang?"


Samudra merespon, mengangguk pelan sembari tetap tersenyum memaklumi. "Ya udah kita pulang sekarang." Tangan pria itu menjulur ke arah Samantha, bermaksud ingin menggandengnya dan membawa gadis itu meninggalkan mansion milik kakek Baskoro.


"Kak,"


"Hm?"


"Tadi aku dikasih liat Nenek, foto-foto Mommy nya kakak." Ucap gadis itu di sela-sela langkahnya.


"Mommy kak Am cantik."


Samudra menoleh ke arah Samantha kemudian tersenyum simpul. "Mirip kamu," ucapnya.


Tentu saja hal itu membuat Samantha tersipu.


"Kalau kakak masih pengen di sini, aku nggak papa kok pulang sendiri."


"Kita pulang." Jawab Samudra menegaskan.


Mood Samantha hancur, sejak semalam pulang dari rumah kakek Baskoro. Samantha hanya berdiam diri di dalam kamar. Gadis itu bahkan membawa makan malamnya di dalam kamar. Ngomong-ngomong Samudra hari ini menginap di apartemennya.


Gadis itu merasa bosan sendiri di rumah sebesar itu. Rencananya mengajak Amel dan Jully hangout bareng pun harus gagal dikarenakan kedua sahabatnya itu tengah sibuk dengan urusan kuliah mereka masing-masing.


Samantha saat ini merasa menjadi seperti orang yang tidak berguna sama sekali. Beda jauh jika dibanding dengan Veronika. Bukan tanpa sebab jika perasaannya sendiri suka membanding-bandingkan dirinya dengan gadis cantik calon dokter kebanggan kakek Baskoro.


Samantha meraih remote televisi LED mencari beberapa stok film bagus di sebuah chanel berbayar. Namun tetap saja tidak bisa memperbaiki Mood-nya. Bahkan tingkah lucu Meo pun tidak mempan untuk menghilangkan lengkungan ke bawah di bibirnya.


Hingga tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar. Yang membuat Samantha dengan cepat mengusap air mata yang sempat jatuh ke pipinya. Samantha menoleh ke belakang, ke arah pintu yang entah sejak kapan sudah terbuka. Maksudnya yang sudah dibuka oleh Samudra. Buru-buru Samantha beranjak duduk saat pria yang berbalut celana jeans pendek serta Tshirt hitam itu melangkah mendekat.


"Kak Am?" Samantha menatap penuh tanya ke arah Samudra.


"Apa ini?" Tanya Samantha menatap Samudra yang baru saja menyerahkan mug padanya. Dari penerangan yang sedikit remang dari lampu tidurnya dan aroma yang terhirup, sepertinya mug itu berisi coklat hangat.


"Coklat, minum." Samudra menjawab setelah mengambil duduk di bagian ranjang yang kosong. Tangan pria itu terjulur guna menyisipkan sejumput rambut Samantha ke belakang telinga sembari gadis itu menyesap coklat hangat.


Bibir basah Samantha akibat minuman coklat itu pun tak luput dari usapan lembut ibu jari Samudra.


"Habis nangis?" Pertanyaan yang diajukan Samudra setelah ia menaruh mug di atas nakas. Samantha menggeleng dan tampak ragu.


"Kakak kok bisa ada di sini? Katanya mo tidur di apartemen aja?" Gadis itu bukannya menjawab malah balik bertanya.


"Gimana kakak bisa tidur di sana kalo kamu di sini nggak mau keluar kamar sejak pagi tadi?" Samudra memperhatikan Samantha yang tertunduk menatap jari-jarinya sendiri yang saling memilin di atas selimut.


"Ada masalah?"


Gadis itu kembali menggeleng.

__ADS_1


Tentu saja Samantha berbohong. Samudra tahu itu, pertanyaan tadi hanya sebagai pancingan. Sejak berada di rumah sakit pagi tadi, Ia mendapat informasi dari Mbak Pur mengenai Samantha yang tampak murung setelah malam itu. Tidak keluar kamar, dan hanya makan malam dengan porsi yang lebih sedikit dari biasanya.


"Kenapa?"


Lagi, Samantha hanya menggeleng pelan, kepalanya masih menunduk. "Nggak papa kok."


"Kalo ngomong liat kakak!" Samudra sedikit menunduk, berusaha mencari kedua netra Samantha, hingga akhirnya gadis itu menatap balik matanya. "Ada apa?What's bothering you?"


Ditanya dengan nada selembut itu semakin membuat Samantha sedih. Tak sadar jika setetes air mata kembali jatuh tanpa bisa ditahan.


Tangan besar Samudra bergerak lebih cepat dari Samantha, mengusap air mata gadis itu pelan. Air mata menjadi bukti bahwa Samantha sedang tidak baik-baik saja.


"I'm sad."


"What are you making a sad princess? You can tell me now."


Samantha menatap sekilas sebelum akhirnya ia kembali menunduk. Gadis itu ingin sekali bercerita tapi takut apabila Samudra menganggapnya sebagai gadis cengeng dan lemah.


Padahal dahulu, Samantha tidak seperti ini. Sebelum menjadi kekasih Samudra, gadis itu adalah gadis yang kuat, tidak secengeng ini.


"You can tell me anything, princess. Jangan suka menyimpan masalah sendirian."


"Sammy ngerasa kalo Sammy orang yang nggak berguna..." Samantha akhirnya membuka suara. Samudra tidak bersuara apapun, memilih untuk fokus mendengarkan.


"Aku emang nggak seperti Benua, Sammy orangnya nggak punya bakat bisnis. Bahkan soal hitung menghitung aja Sammy lemah."


Tatapan Samudra tak pernah lepas barang sedetik pun selama gadis itu bercerita, sesekali Samudra mengusap air mata yang jatuh ke pipi gadis itu.


"Aku ngerasa nggak berguna, ngerasa paling bodoh dan bahkan---" Gadis itu menggantung kalimatnya, ragu untuk meneruskan apa yang hendak ia ucapkan.


"Bahkan apa, princess? Tell me!"


"Bahkan---sepertinya kakek Baskoro tidak menyukai aku."


"No, of course not."


Ucapan Samudra sontak membuat gadis itu mendongak hingga tatapan mereka bertemu.


"Kakek Baskoro hanya belum mengenal kamu aja. Kakak yakin, nanti setelah kakek Baskoro mengenal siapa kamu, kebaikan kamu--Beliau pasti akan menyukai kamu, sayang."


Samudra menjeda sebentar ucapannya, mengamati dengan seksama kedua mata Samantha yang semakin berkaca-kaca, bibirnya juga tambah cemberut.


"Dan kamu bukan orang yang nggak berguna. Setiap orang punya kelebihan serta kekurangan masing-masing. Kelebihan kamu ada dalam karya desain kamu. Gambar-gambar desain pakaian yang kamu buat bagus-bagus kok, kakak aja suka. Apalagi jika nanti setelah diaplikasikan ke sebuah pakaian---"Samudra kembali menjeda.


"Kamu pasti akan jadi seorang desainer go internasional," lanjutnya lagi.


Gadis itu terlihat mengerjapkan mata beberapa kali. Tidak ingin membuat Samudra melihat air matanya yang turun semakin deras, Samantha bergerak maju. Sama sekali tidak Samudra duga bahwa Samantha akan melingkarkan kedua lengannya ke leher kokoh pria itu. Memeluk erat, menyusrukkan kepalanya ke leher Samudra.


Samudra tambah terkejut saat tau-tau gadis itu duduk di pangkuannya, membuat Samudra seketika menahan napas karena tangannya tidak sengaja menyentuh paha Samantha yang terekspose akibat gaun tidurnya yang tersingkap. Pria itu bisa mengendalikan diri beberapa saat setelahnya.


"Ada lagi yang buat kamu sedih saat ini, princess?"


Samantha menggelengkan kepalanya, tetapi ia semakin mengeratkan pelukannya. Gadis itu kini malah semakin terisak, membuat Samudra semakin ikut mengeratkan pelukannya. Berbagai kata penenang pria itu ucapkan sembari tangannya yang tidak berhenti mengusap punggung Samantha. Cukup lama mereka berada dalam posisi seperti itu karena memang Samudra membiarkan gadis itu menangis sepuasnya. Walaupun pria itu merasa pegal akibat posisi duduknya yang tidak nyaman.


"Kakak nggak nyesel kan, punya tunangan yang nggak bisa ngapa-ngapain?" tanya Samantha dengan suara isak-an yang berat.


"Of course not, baby! Jangan lagi ada pikiran seperti itu."


Samantha sekali lagi mengangguk dan semakin memeluk erat tubuh kekar itu. "Don't leave me, Kak Am," bisik Samantha pelan.

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2