
Veronika menuruni anak tangga dan mendapati Maya dan juga Samuel yang tengah duduk di ruang makan. Sementara Benua berada di ruang yang lain dan masih sibuk dengan laptop serta headphone yang menempel di kedua telinganya.
"Makan dulu, Ver." Maya memanggil Veronika dengan sebuah senyum mengembang di sudut bibirnya.
Veronika mengangguk pelan, dengan ekspresi yang seperti ingin mengatakan sesuatu kepada Maya dan juga Samuel.
"Kamu kenapa, Ver? Seperti orang bingung gitu?" Maya mengernyitkan keningnya melihat tingkah Veronika yang aneh.
"Eee-ttaddi-anu---Vero denger dari kamar Samantha---kalau---" Veronika menggantung kalimatnya.
Samuel kini pun ikut mengerutkan keningnya melihat sikap kekasih Samudra itu.
"Kalau apa?" tanya Maya seolah menunggu kalimat lanjutan dari Veronika.
"Kalau---eemm---Samudra dan Samantha ada di kamar berdua."
Maya tersenyum kecil. "Iya emang Tante yang nyuruh Samudra membujuk Samantha agar mau makan."
"Tapi Tante, ini beda bukan gitu, Samudra--- eemm--- me-reka----" Veronika kembali menggantung kalimatnya, seolah masih ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu.
"Kalau gue kenapa, Ver?" ucap Samudra tiba-tiba, begitu ia turun dari anak tangga.
Samudra mendekat ke arah ketiganya sembari membawa piring bundar bekas dari Samantha.
Veronika membulatkan kedua netranya, wajahnya sedikit bersungut kesal dengan Samudra.
"Kalau kamu dan Samantha pacaran. Iya kan? Kamu mencintai Samantha kan? Adik kamu sendiri? Jawab Samudra!" ucap Veronika dengan nada suara tinggi.
Matanya berapi-api, dengan ekspresi menyalahkan Samudra yang kini terlihat terkejut dengan ucapan Veronika.
Maya dan Samuel pun tak kalah terkejut akan apa yang diucapkan Veronika.
Keduanya kini memandang Samudra seolah tidak percaya akan apa yang dituduhkan Veronika.
"Vero juga yakin, kalian pasti sudah pernah berciuman. Iya kan?"
"Diam lo, Ver!" bentak Samudra.
"Kenapa aku harus diam? Tante... Om... kalian harus menghukum Samantha, dia pasti yang menggoda Samudra, kakaknya sendiri!" ucap Veronika lancang.
"Diam lo, Ver!" Plak....!
Samudra menampar Veronika untuk kedua kalinya. Namun untuk tamparannya yang kedua ini tidak ada penyesalan sama sekali di hati Samudra.
Dia tidak bisa membiarkan Veronika menghina Samantha.
"Samudra!" bentak Samuel yang tidak bisa membenarkan kekerasan Samudra terhadap Veronika.
Bagaimana pun juga, Samudra tidak boleh bersikap kasar terhadap perempuan manapun.
"Jahat kamu, Am!" Veronika memegang pipinya dan menatap nanar ke arah Samudra.
"Lo yang jahat, Ver! Gue bosen sama sikap lo yang selalu menghalalkan segala cara untuk kepentingan lo sendiri!"
"Tapi benarkan kamu dan Samantha ada hubungan terlarang, hah?!" Veronika tetap membela diri.
"Samudra! Apa itu benar?" tanya Samuel dengan ekspresi wajah kaku. Begitu juga Maya, wanita itu tidak bisa lagi berkata-kata. Dia terlalu kaget dengan topik perdebatan Veronika dan juga Samudra.
Samudra menoleh ke arah Samuel dan juga Maya. Lalu mengangguk pelan. "Iya, Dad. Am mencintai Samantha," ucap Samudra yakin.
Samuel membuang napas kasar dan saling berpandang ke arah Maya.
"Ikut ke ruang kerja Daddy!" ucap Samuel dengan wajah tegas.
"Ayo, sayang...." Samuel meminta Maya untuk ikut dengannya. Maya pun mengangguk pelan dan mengikuti langkah suaminya.
"Tante aku ikut...."
"Ver....!" Samudra mencegah Veronika yang dengan tanpa malu nya hendak mengikuti langkah Maya.
"Kamu tunggu di sini, Ver. Ini urusan keluarga!" jawab Maya kali ini dengan ekspresi wajah tegas, tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"Am, panggil Samantha dan Benua ke ruang kerja Daddy!" ucap Maya kali ini ke arah Samudra.
Samudra mengangguk, ia pun melirik tajam ke arah Veronika yang telah membuat segalanya menjadi ricuh.
"Samudra... kamu tinggalin dia. Gadis ingusan itu kan adik kamu!" rengek Veronika sembari menggelayut lengan Samudra.
"Lepasin gue, Ver!"
"Tapi, sayang...."
"Lepas, gue bilang!" bentak Samudra.
Veronika mengedikkan bahunya kaget. Dia pun lalu menjauh beberapa centi dari pria itu.
....
Benua menatap heran ke arah Samudra, lalu pandangannya berotasi ke arah Samantha. Bibir Benua seolah tidak bisa berkata apa-apa. Masalah ini sungguh di luar dugaannya. Benua memang menyadari kedekatan Samantha dengan Samudra, namun dia tidak pernah menyangka jika dua saudaranya itu ada hubungan yang berkaitan dengan perasaan. Benua tidak ingin menyebut ini cinta terlarang. Bagaimana pun juga tidak ada yang bisa menyalahkan cinta, meskipun panah asmara itu menancap di hati yang salah.
Benua tidak ingin menghakimi kedua saudaranya. Biarlah ayah dan ibunya yang akan menyelesaikan segala persoalan yang menyangkut Samudra dan Samantha.
Benua membuka knop pintu ruang kerja Samuel. Sementara Samudra terus menggenggam erat punggung tangan Samantha. Berusaha membuat gadis itu tenang dan tidak lagi ketakutan.
....
"Duduk." Titah Samuel kepada ketiganya.
Benua menurut, duduk pada salah satu sofa panjang yang ada di tengah ruangan luas itu.
"Moms-Dad, maafin Sammy...." Samantha mencoba mendekat ke arah kedua orang tuanya. Namun Samuel dengan cepat memberi signal agar gadis itu ikut duduk bersama Benua.
"Sammy... duduk!" ucap Samuel tegas.
Samantha hanya bisa memandang nanar ke arah Maya dan juga Samuel. Dia pun hanya bisa pasrah, menerima kemarahan kedua orang tuanya.
"Ini salahku, bukan salah Samantha." Samudra menyalahkan dirinya sendiri dan berusaha melindungi gadis yang saat ini begitu ketakutan.
"Kalian diam dulu, ada yang ingin Daddy dan Mommy ceritakan ke kalian." Samuel men-desah panjang. Berkali-kali menghembuskan napas berat dan melirik ke arah Maya.
"Apa kamu benar-benar mencintai Samantha?" tanya Samuel.
Samudra mengangguk yakin tanpa sepatah kata apapun.
"Bukankah kamu tahu jika dia ini adik kamu?"
"Aku tahu, Dad! Tapi aku juga tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku mencintai Samantha sejak dulu, sejak aku SMA."
"Tapi saat itu Samantha masih terlalu kecil, Am!"
"I know, Mom--- but i can't lie to my heart anymore, i love her, Moms-Dad."
Benua mendongak kaget memandang Samudra. Perkataan kakaknya kali ini benar-benar membuat Benua merasa begitu terkejut. Rupanya kedua saudaranya ini benar-benar telah dibutakan oleh cinta.
"Maafkan kami, Moms-Dad... kami salah..." lirih Samantha dengan air mata yang mengalir keluar. Suara paraunya seolah tersekat dan begitu menyakitkan di tenggorokannya.
Samuel kembali membuang napas berat, sebelum akhirnya ia berucap sesuatu.
"Sebenarnya ini bukan salah kalian." Samuel menghentikan sejenak ucapannya.
"Ada sesuatu yang harus kamu ketahui, Samudra."
Suara Samuel terdengar begitu berat. Dia bahkan bingung dan tidak tahu harus mulai bercerita dari mana.
Setelah beberapa saat Samuel terdiam akhirnya mengalirlah cerita dari mulut laki-laki itu. Maya pun ikut angkat bicara atas cerita masa lalu yang terjadi.
....
"Jadi kamu bukanlah anak kandung kami, Am." Ucap Samuel seolah bagai sebuah sambaran petir tanpa hujan.
"Mm-mmaksud-Dad-ddy...?"
"Orang tua kamu yang sebenarnya adalah Martha Anindia Baskoro dan dokter Harris Pratama." Samuel menjelaskan perlahan kepada ketiganya.
__ADS_1
Samudra membolakan penuh kedua matanya, dia hanya terdiam, seolah tidak tahu harus berkata apa.
"Kedua orang tua kamu meninggal karena kecelakaan, Am. Dan sejak saat itu kamu---- kami yang mengasuhmu. Moms dan juga Dad sangat menyayangi kamu seperti anak kami sendiri."
"Kamu masih ingat soal mimpi kecelakaan yang sering mengganggu tidur kamu kan Am?" ucap Maya kali ini.
Samudra mengangguk pelan.
"Mungkin itu adalah mimpi tentang kecelakaan kedua orang tua kamu. Dan sakit kepala yang sering mengganggu kamu, adalah trauma masa kecil kamu. Trauma luka kecelakaan waktu itu." Maya melanjutkan.
"Maaf kan kami, Nak. Kami tidak bermaksud membohongi kalian. Kami hanya ingin melindungi kamu Samudra, agar trauma luka di kepala kamu tidak sering kambuh." Samuel melanjutkan kembali ceritanya.
"Maafkan kami yang tidak pernah berterus terang soal siapa kamu sebenarnya, Nak." Ucap Samuel lagi. Dia benar-benar tidak menyangka jika perasaan cinta antara Samudra dan Samantha terjadi. Seolah cerita lama itu terulang kembali.
Namun kali ini cinta itu tidak bertepuk sebelah tangan. Samudra, keturunan dari Martha mencintai Samantha yang merupakan anak dari Samuel.
"Jadi--- makam yang dulu Moms-Dad sering bawa Am berkunjung---- adalah makam kedua orang tua aku?" tanya Samudra yang berusaha mengingat-ingat.
Samuel dan Maya mengangguk bersamaan.
"Kenapa baru sekarang kalian menceritakan semuanya?" tanya Samudra dengan sorot mata tajam dan bingung.
"Kami belum menemukan waktu yang tepat, Nak. Kami tahu, kami salah. Merahasiakan semua ini adalah kesalahan. Tapi kami hanya berusaha melindungi kamu, Nak."
"Melindungi aku dari apa, Dad?!"
"Kami tidak bisa melihat trauma di kepala kamu kambuh lagi, Am." Ucap Maya kali ini.
Sementara Samantha masih tidak percaya dengan fakta yang sebenarnya. Selama ini dia mengira jika Samudra benar-benar saudara kandungnya. Samantha merasakan apa yang Samudra rasakan saat ini, namun dia memilih untuk tidak terlalu menekan Samudra. Biarlah pria itu menenangkan dulu pikirannya.
"Itulah sebabnya kenapa aku tidak memakai nama belakang keluarga Perdana?" tanya Samudra tercekat.
"Iya. Kami sengaja tidak pernah menghapus jati diri kamu sebenarnya Am. Karena Mommy dan Daddy memang berencana menceritakan semuanya tentang kamu."
Maya mendekat ke arah Samudra, dan meraih pundak pria itu perlahan. "Kami minta maaf, Nak...."
Samudra memandang lekat ke arah wanita yang telah berusia empat puluh tahun-an itu. Sekilas kenangannya kembali berputar, masa kecilnya dulu bersama Maya dan juga Samuel seolah kembali muncul dalam ingatannya.
"Kalian gak salah, justru aku yang harusnya berterima kasih pada kalian." Samudra memeluk erat tubuh Maya. Air matanya yang terus mengalir jatuh seolah tidak ia hiraukan. Samudra tidak peduli jika Samantha berfikir jika dia adalah laki-laki cengeng.
"Thank's, Dad...." ucap Samudra dan bergantian memeluk Samuel.
Untuk sejenak mereka sama-sama larut dalam suasana haru.
Samudra kini bahkan merasa lega dan bisa memeluk Samantha dengan erat tanpa ada perasaan canggung lagi.
Samantha pun akhirnya merasa jika Tuhan mempertemukan takdir cintanya dengan begitu indah.
"Eh tapi tunggu dulu..." ucap Maya tiba-tiba.
Samudra dan Samantha pun berhenti berpelukan, keduanya sedikit merenggangkan pelukan itu dan menatap ke arah Maya.
"Kenapa, Mom?" tanya Samantha.
"Eemm--- kalian--- belum melakukan hal-hal yang enggak-enggak kan?" tanya Maya dengan perasaan ketakutannya.
Samuel pun ikut mengerutkan keningnya khawatir.
"Ya enggak lah, Mom.... emangnya Sammy cewek apaan?" tawa Samantha.
"Syukurlah....." Maya menarik napas lega dan kembali tersenyum kecil.
"Pokoknya Mommy gak mau kalian berbuat mesum sebelum kalian SAH...." ucap Maya dengan memelototkan matanya ke arah Samudra dan Samantha.
Samudra dan Samantha pun mengangguk dengan senyum dan ekspresi bahagianya.
"Jadi bentar lagi lo jadi adik ipar gue dong Kak?" celetuk Benua.
Samudra tertawa geli mendengarnya.
"Yah kemarin lo jadi kakak gue, besok-besok lo jadi adik ipar gue. Gokil.... Hahaha!" celetuk Benua lagi dan tentu saja langsung disambut tawa bahagia dari semuanya.
__ADS_1
to be continue...