Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
Aku Cemburu


__ADS_3

Mata Samudra menatap nyalang pada layar handphone miliknya. Lagi-lagi gadis kecilnya itu berulah. Setelah mengunggah foto seksi-nya kini Samantha kembali mengunggah foto yang membuat Samudra lebih marah lagi.


Foto gadis kecilnya dengan Bryan di sebuah restoran yang ada di Plaza Senayan. Samudra mengenali tempat itu dia pun segera memacu sedan hitamnya menuju ke jalan Asia-Afrika. Hal pertama yang akan dia lakukan adalah menemui Samantha. Setelah itu baru menemui Baskoro, sang kakek.


Sedan hitam keluaran terbaru itu pun kini semakin melaju kencang, melewati beberapa trafic light dan kendaraan lain yang berlalu lalang.


Ddrrttt...! Ddrrttt...!


Ponselnya kini tiba-tiba bergetar. Sekilas Samudra melirik ke arah layar handphone pipih hitamnya yang tergeletak di atas dashboard.


Kakek Baskoro.


Kakeknya itu bahkan menelpon Samudra hingga beberapa kali setelah sekian kali ia tidak menjawabnya.


"Ah sial!" gumam Samudra.


^^^Iya Kek__hm, aku kesana__okey-okey, Am segera kesana__ iya sekarang__ okey see you...^^^


Klik!


Ia pun mematikan ponselnya, ah sial! Baskoro bahkan tidak ingin Samudra terlambat datang ke kantornya. Dan menyuruh agar cucunya itu segera tiba ke perusahaan beliau.


Dengan sangat terpaksa, Samudra membatalkan rencananya untuk menemui Samantha terlebih dahulu.


Damn!


...


Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar mansion. Rumah itu terlihat sepi, Maya dan Samuel saat ini tentu saja masih berlibur ke Paris. Sementara Benua, kembaran-nya itu pun saat ini disibukkan oleh urusan calon perguruan tinggi yang ia pilih. Benua sudah menetapkan pilihannya untuk bersekolah bisnis di London. Bukan atas paksaan Samuel ataupun Permana sang kakek, mereka selalu membebaskan kedua remaja itu untuk memilih kehidupan mereka nantinya. Tak terkecuali soal pilihan akademis yang akan mereka lalui.


Benua memang mempunyai bakat bisnis, seperti ayahnya dan juga Permana, sang kakek. Kelak pun kerajaan bisnis mereka akan jatuh ke tangan Benua.


Sementara Samantha, gadis itu masih belum menentukan pilihan. Antara sekolah bisnis atau mendalami bakat dan minat-nya di bidang fashion.


Dari siang tadi, perut Samantha sudah keroncongan. Bagaimana tidak? Saat di restoran siang tadi bersama sahabat-sahabatnya, Samantha hanya memakan kentang goreng dan minum segelas susu hangat. Perasaan takut menghadapi reaksi Samudra membuat selera makannya tidak dalam mood yang baik.


"Kenapa rumah sepi? Kemana Bibik dan Mbak Pur malam ini?" gumamnya pelan sembari melangkah menuju dapur. Dia mengecek sebentar pada layar handphone-nya, melihat apa Samudra kembali meninggalkan chat singkat di sana?


Dan ternyata dugaannya benar, puluhan panggilan tak terjawab dan juga chat yang belum satu pun ia baca, memenuhi roomchat-nya bersama Samudra.


Akhirnya ia kembali mengabaikan sebentar pesan-pesan tersebut, perutnya yang dari tadi sudah keroncongan tidak bisa menunggu lebih lama lagi.


Samantha akhirnya membuat makan malamnya sendiri, ia memutuskan membuat Egg benedict. Telur dadar rebus setengah matang yang di-mix dengan roti bun dan diberi toping daging ham lengkap dengan saus hollandaise. Samantha membuat dua porsi untuk dihabiskannya sendiri.



Setelah menyantap makanannya dengan cepat karena lapar, Samantha memutuskan untuk mandi berendam dalam bathtub yang sebelumnya sudah ia isi dengan air hangat dan beberapa tetes jasmine essensial oil agar membuat tubuh dan pikirannya lebih rileks.


Terkutuklah orang yang telah mengirimkan foto-foto Samudra ke ponsel-nya. Membuat kepala cantiknya selalu memikirkan foto-foto menyebalkan itu. Semoga dengan berendam membuat suasana hatinya lebih baik, pikir Samantha.

__ADS_1


Samantha keluar dari kamar mandi setelah selama kurang lebih satu jam ia menyelesaikan ritual mandinya. Ia kini tampak cantik seperti biasa. Gadis itu hanya mengenakan tank-top tipis berwarna pink nude yang dipadukan dengan hotpants berwarna hitam. Saat membalikkan badannya, betapa terkejutnya ia, mata coklatnya membulat sempurna saat mendapati sosok Samudra yang telah duduk di atas kasurnya, lengkap dengan pakaian formalnya. Tampaknya pria itu belum sempat beristirahat ataupun belum pulang ke apartemennya. Sambil bersedekap dada, mata coklat itu menyorot Samantha tajam.


"Sejak kapan kakak ada di kamarku?" tanya Samantha pada makhluk yang menurut Samantha paling seksi dan tampan.


Samudra memandang Samantha dengan seksama, tak ada senyum yang menghiasi wajah tampannya saat ini. Ia mengamati wajah Samantha yang berdiri gugup di depannya. Samudra memang sudah dari tadi berada di dalam kamar gadis itu. Ia bahkan sudah berada di sana sejak Samantha keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit tubuhnya secara minim, hingga menampilkan setengah da*da hingga pa*ha putih mulus Samantha. Akibatnya Samudra harus mati-matian menahan hasrat dan gairahnya agar tidak menerjang Samantha saat itu juga.


"Menurutmu untuk apa aku datang kemari? Apa kamu tidak merindukanku honey?" balas Samudra datar.


Walaupun diselipkan kata 'Honey' raut wajah Samudra tetap dingin. Samantha menggigil seketika, tubuhnya serasa lemas serta bibirnya kini terasa kelu, hanya karena tatapan mata yang mengintimidasi itu. Tampaknya ia benar-benar dalam masalah sekarang, karena telah membangunkan singa tidur.


"Aku lelah, kak! Sekarang please keluar dari kamarku."


"Lelah bersenang-senang dengan Bryan? Iya?!" bentak Samudra.


"Terus apa kakak ngga bersenang-senang dengan kak Aisya di rumah sakit, hm?!"


"Apa maksudmu bersenang-senang, Sammy? Kamu tau pasti kenapa aku kemari. Apa maksudnya ini. hah?!"


Samudra menunjukan layar smartphone pipih berwarna hitam miliknya ke arah Samantha.


Samantha bisa melihatnya, di sana terpampang jelas foto dirinya mengenakan gaun seksi yang tadi siang ia unggah di feed instagramnya.


"Tentu aja itu fotoku, terus apa masalahnya?" tanya Samantha berlagak bodoh.


"Tentu aja ini masalah besar, Sammy! Apa sebenarnya yang kamu lakukan dengan mengunggah foto seperti ini, hm?! Gimana kalo Moms-Dad melihatnya? Atau opah Permana atau oma Anita melihat foto ini, hah?!" bentak Samudra sebelum ia berjalan mendekat ke arah Samantha.


"Mereka mengatakan aku cantik dan seksi, tentu saja aku senang."


Samudra tampak geram, tidak bisa membendung lagi amarahnya. Ia mencengkeram lengan Samantha dengan sangat kuat, hingga membuat Samantha meringis.


"Lalu apa kamu bersenang-senang berfoto berdua dengan Bryan? Katakan!"


Samudra semakin berteriak dan mencengkeram erat lengan Samantha.


"Kak Am hentikan! Kau menyakitiku," cicit Samantha pelan.


Gadis itu meringis sambil menatap Samudra dengan mata berkaca-kaca. Samudra yang melihat Samantha hendak menangis, melepas cengkraman tangannya dan memeluk Samantha erat.


"Maaf," bisik Samudra.


"Aku sangat marah melihatmu mengumbar tubuh dan wajah cantik mu di media sosial. Apalagi saat melihat kalian foto bersama dan memamerkannya ke khalayak ramai. Aku orang yang tidak suka berbagi, Sammy! Apa yang menjadi milikku tidak akan pernah aku berikan pada orang lain. Meski hanya sekedar untuk dilihat." Lanjut Samudra lagi dengan tegas sembari membelai lembut surai gadisnya.


"Tapi aku bukan barang. Aku bukan milik siapa-siapa."


"Aku tau kau bukan barang, tapi kamu adalah gadis yang paling aku cintai dan paling spesial buatku."


"Benarkah?"


"Of course! Lagian apa yang membuatmu tiba-tiba tidak yakin?"

__ADS_1


Samantha dengan refleks melepas tiba-tiba pelukan Samudra. Ia pun beranjak dari berdirinya semula kemudian meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas samping ranjang. Ia membuka ponselnya dan mencari-cari sesuatu setelah itu menunjukannya pada Samudra.


"Karena foto-foto ini." Samantha menjulurkan layar ponsel berwarna matcha ke arah Samudra.


"A-apa ini? Kakak ngga ngerti kenapa bisa ada foto-foto ini."


"Ada nomor yang ngga aku kenal tiba-tiba aja ngirim semua foto ini." Samantha menjeda sebentar.


"Tapi masalahnya bukan siapa yang ngirim," lanjutnya lagi.


"Lalu?" Wajah Samudra bahkan mengerut tidak mengerti. Terus apa yang menjadi permasalahannya dengan foto-foto? Dan apa kaitannya dengan unggahan Samantha di Instagram?


"Kakak ngga ngerti, Sammy. Apa hubungannya foto-foto itu dengan unggahan kamu di sosial media?"


"Ck!" Samantha mencebik kesal. Wajah Samantha memberengut lucu dan menatapnya penuh permusuhan.


"I'm jealous! Tidak kah kakak tau?"


Samudra terkekeh pelan, melihat wajah gadisnya yang kini semakin mengerucutkan lucu bibir seksinya.


"Kamu cemburu sama kakak dan Aisya? Oh C'mon sweet heart... kakak dan suster Aisya ngga ada hubungan apapun selain kerjaan."


"Tapi kakak selalu deket-deket dengan dia. Dan Sammy tau kalo kak Aisya itu cantik, umurnya juga ngga jauh beda ma kakak. Pasti bisa ngertiin kakak, ngga manja kayak aku."


Samantha masih memberengut sembari membelakangi Samudra dan melipat kedua lengannya sebatas pinggang.


"Sampai kapan kakak harus bilang ke kamu, kalo kamu--- Perempuan satu-satunya yang kakak cintai?"


Samudra membalikkan badan Samantha agar kedua netra mereka bisa saling memandang. Ia mengangkat ujung dagu gadis itu dan menatapnya lekat.


"Kakak cinta sama kamu, ngga peduli jika kamu manja dan bawel. Karena emang itu yang kakak suka dari kamu." Samudra menatap dua bola mata coklat yang tampak mengerjap polos.


"Benarkah?"


"Hm, of course baby." Samudra menjawab sembari terkekeh kecil.


"Kamu terlihat menggemaskan saat sedang cemburu seperti ini." Samudra mengulurkan tangannya untuk membelai pipi Samantha yang merona.


Samantha bahkan tidak bisa menyembunyikan salah tingkahnya. Pasti pria di hadapannya ini merasa di atas angin saat mengetahui jika ia memang cemburu. Kalo gini kan jadi malu.... atau malu-malu-in? Aaarrgghh...! rasanya Samantha ingin membenamkan wajahnya dalam-dalam. Namun terlambat, mulutnya sudah mengakui jika dia cemburu. Sangat cemburu.


Samudra yang gemas dengan kecemburuan kekasihnya pun dengan segera memeluk pinggang ramping Samantha. Samudra mulai menyapukan bibir lembut milik Samantha dengan bibirnya. Ia menyecap dan melu*mat bibir yang menjadi candunya. Baru sehari ia tidak berjumpa saja sudah membuat Samudra jadi uring-uringan. Entah sihir apa yang dipakai Samantha terhadapnya, setiap kali melihat Samantha ia seperti remaja yang merasakan puber dan kasmaran. Sebelumnya Samudra tidak pernah merasakan ini dengan wanita manapun. Bahkan terhadap Veronika, mantan kekasihnya dengan masa pacaran paling lama.


Samantha memang mengakui jika dia sangat cemburu. Tangannya seketika melingkari leher kokoh Samudra dengan erat. Membiarkan lidah hangat pria itu menyusuri seluruh rongga mulutnya. Lengan kekar Samudra mengangkat tubuh Samantha dan membawa gadis itu ke pangkuannya. Ciuman mereka terhenti sejenak ketika keduanya sama-sama mengambil napas dalam-dalam, sama-sama menghirup udara sebanyak mungkin.


"Kakak mau kan menjadi pasangan prom aku?"


"Tentu sayang," bisik Samudra lembut.


to be continue....

__ADS_1


__ADS_2