Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
Nggak Sabar


__ADS_3

Satu persatu mangkuk-mangkuk makanan tersaji dengan hidangan yang serba Korea, si negara gingseng. Makanan dengan asap yang masih mengepul membuat Samantha membolakan matanya lebar-lebar. Akhirnya salah satu wishlist-nya bisa terwujud!


Makan siang kali ini Samudra mengajak gadisnya itu makan di salah satu restoran Korea di daerah Jakarta Selatan.


Di sisa hari ini, Samudra berencana menghabiskan waktu berdua bersama Samantha. Pria itu ingin menyenangkan hati Samantha, hitung-hitung sebagai pelepas penat sehabis ujian sekolah. Selepas makan siang, Samudra akan membebaskan kemana pun gadis itu suka.


Mau belanja? Tidak masalah.


Mau nonton? Samudra oke!


Nyalon? Juga boleh.


"Selamat makan, baby girl!" Kata Samudra sembari mengelus puncak kepala Samantha.


Tak henti-hentinya netra Samantha terlihat begitu antusias melihat beberapa hidangan yang tersedia di depannya. Dari Kimchi Sujebi, Japchai, Bulgogi, Mozzarella Buldak. Kimchi Jeon hingga hidangan penutup yang sangat manis yaitu patbingsoo alias es serut Korea.


"Waaa.... ini semua buat Sammy?"


"Of course..."


Seolah ada ribuan gemintang di bola mata jernih itu, memandangi makanan yang kesemuanya adalah menu favoritnya membuat Samantha berdecak senang.


"Selamat makan juga kak Am...!" Samantha membalas antusias.


Samudra menggigit bibir dalamnya. Merasa gemas luar biasa melihat pipi Samantha menggembung yang tengah mengunyah Japchai hingga beralih menyeruput perlahan kuah Kimchi Sujebi yang masih mengepul itu. Nampaknya gadis itu sangat senang, terlihat dari ekspresi-nya yang begitu menikmati makanan Korea yang serba pedas itu.


"Gimana ujiannya? lancar?" Tanya Samudra setelah menelan makanan dalam mulutnya. Pria itu menaruh sumpit dan menarik tangan kanan Samantha yang hendak terjulur mengambil sepotong Mozzarella Buldak.


Samantha sempat bingung, tapi selanjutnya ia sadar dan mengulum senyum. Samudra menggulung rapi lengan panjang hoodie pink yang ia kenakan, supaya tidak kotor terkena makanan di meja. Pria itu juga melakukan hal yang sama untuk lengan kirinya.


"Lancar dong. Sammy gitu loh!"


Samudra terkekeh. "Matematika aman? Bisa ngerjain-nya?"


Samantha mengangguk lagi. Alih-alih menjawab karena mulutnya sedang penuh, Samantha mengacungkan jempolnya.


"Ada satu soal yang aku nggak selesai, waktunya udah mepet banget dan harus dikumpulkan segera ke pengajar. Yang lain walau agak lama ngerjain-nya tapi Sammy bisa."


"Good job...! Hebat!" Samudra memujinya dengan tulus. Tatapannya tidak beralih sedikitpun dari Samantha yang kini sedang mengunyah.


Menyadari dirinya tengah diamati oleh Samudra, membuat gadis itu pun menatap pria itu dan tersenyum salah tingkah. Bagi Samantha, tatapan tajam namun teduh Samudra selalu membuatnya salah tingkah sendiri.


"Kenapa? Cara makan Sammy norak ya?"


Samudra tidak membalas pertanyaannya, lalu tiba-tiba jemari Samudra terjulur guna mengusap saus merah yang ada di bibir Samantha.


"Ngga papa! Lanjutin makannya." Jawab Samudra sambil membersihkan sisa saus yang menempel di bibir yang selalu membuatnya tergila-gila. Sumpah demi apapun, seandainya mereka tidak sedang berada di tempat umum. Samudra tidak akan pernah membiarkan bibir itu lolos begitu saja tanpa kecupannya. Sial pikiran ja*lang Samudra kini tiba-tiba muncul di otaknya.


....


Hari sudah beranjak sore, selepas makan siang tadi, Samudra membawa gadis kecilnya ke wahana permainan di Dufan. Sebenarnya itu keinginan gadis kecilnya, Samudra hanya mengikuti kemana arah kaki Samantha melangkah.

__ADS_1


Pria itu juga heran, selama ia berpacaran tidak pernah sekalipun mantan-mantan pacarnya itu ada yang mengajaknya ke Dufan. Mereka paling suka menodong Samudra untuk membawa mereka shoping ke mall. Sepatu lah, tas branded lah, baju lah, handphone lah dan barang-barang mewah lain yang selalu mereka minta pada pria itu.


Meski ia dan Samantha tumbuh besar bersama, hingga gadis itu memasuki SMA. Keharusan Samudra untuk pindah ke Boston lah yang membuatnya sama sekali tidak mengetahui salah satu sifat aneh Samantha yang ini. Kalau untuk sekedar shoping atau ke salon kecantikan, tentu tidak menjadi soal buat Samantha. Mengingat sejak kecil gadis itu sudah bergelimang harta.


Dan mungkin hal itu lah yang menjadi penyebab Samantha tidak pernah merengek padanya untuk dibelikan semua benda-benda branded tadi. Tidak seperti mantan-mantan pacarnya terdahulu yang kebanyakan wanita mata duitan.


"Sammy, kamu di sini?"


Suara laki-laki itu membuat Samudra yang tadinya sedang menelepon seseorang, tiba-tiba saja membalikkan badan ke arah Samantha.


Samudra mengerutkan kening, seperti familiar dengan laki-laki yang tengah berbincang berdua bersama Samantha.


Samudra memang tidak sedang berada di dekat Samantha. Dia tadi berpamitan sejenak untuk mengangkat telepon dari suster asistennya, sementara Samantha tengah menunggu eskrim.


Mereka nampak akrab, Samantha juga menanggapi laki-laki itu dengan wajah dan tawa sumringah. Samudra tidak suka laki-laki berkaus putih serta berkemeja flanel itu mengusap kepala gadisnya.


Tidak itu miliknya! Ini tidak bisa dibiarkan!


"Hm, atur aja jadwal selanjutnya." Ucap Samudra melalui sambungan telepon. Ia pun bergegas menutup telepon dan melangkah mendekati Samantha. Tangannya dengan gesit merangkul pinggang ramping gadis itu. Menunjukkan teritorinya. Samantha terkejut tentu saja, namun ia segera tersenyum begitu Samudra ada di dekatnya.


"Udah eskrimnya?"


"Udah, nih..." jawab Samantha sambil memperlihatkan cup besar berisi eskrim vanila bertoping oreo.


"Ngapain lo masih deketin Samantha lagi, hm?!" Tanya Samudra mengintimidasi, setelah ia menyadari jika laki-laki yang tengah berbincang dengan gadisnya adalah Bryan.


Laki-laki kurang ajar yang pernah ia hajar gara-gara bersikap tidak senonoh dengan menyentuh tubuh Samantha waktu itu.


"Gue minta maaf waktu itu, kak! Tapi gue dan Sammy udah berdamai. Gue juga udah minta maaf ke Sammy."


Samudra hanya mendengus kasar dan masih menatap tajam mengintimidasi.


"Awas aja kalo lo masih berani berbuat kurang ajar lagi!" Ancam Samudra.


Bryan hanya mengangguk merespon.


"Kita pergi sekarang?" Tanya Samudra.


Samantha pun mengangguk meng-iya-kan. "Gue duluan ya, Bryan! Atur waktu aja kalo mau jalan rame-rame."


"Oke, ntar gue kabari kapan-kapannya."


"Siap...."


Samantha pun berlalu dari hadapan Bryan. Cowok sepantaran Samantha itu bisa melihat, bagaimana lengan kekar Samudra melingkari pinggang Samantha, menunjukkan keposesifannya. Dan nampak Samantha merasa nyaman-nyaman saja berada di dekat pria itu.


Tidak seperti saat bersamanya, Bryan menyadari hal itu. Apakah cinta tidak bisa dipaksakan? Jujur, kehilangan Samantha merupakan hal kedua yang menyakitkan baginya. Setelah ia kehilangan sang Mama.


Kini kebodohannya menjadi buah simalakama bagi Bryan. Dia telah benar-benar kehilangan gadis itu.


....

__ADS_1


"Kakak gak suka ya liat kamu deket-deket Bryan lagi." Ucap Samudra dari balik kemudi.


"Maaf, habis gimana dong? Masa iya dia nyapa duluan, aku diem-in aja?"


"Kamu kan bisa jaga jarak ato bilang kek, kalo kamu di Dufan ini sama kakak." Samudra memasang wajah jutek. Pria itu bahkan terlihat lebih menyeramkan jika dibanding beberapa saat yang lalu. Wajah teduh dan bak malaikat pelindung pun mendadak berubah menjadi seperti singa yang hendak menerkam Samantha utuh-utuh.


"Kakak cemburu?"


Sh*it! Samudra membatin. Iya gue cemburu! Apa dia nggak nyadar?


"Kak?"


Samantha membangunkan lamunannya.


"Kakak cemburu sama Bryan?" Gadis itu mengulangi pertanyaannya barusan.


"Iya! Puas?!" Dengus Samudra. Wajahnya bahkan tidak sedikit pun menoleh ke arah gadis kecilnya yang saat ini duduk di kursi penumpang sebelahnya.


"Hahahaha!" Tiba-tiba saja Samantha tertawa lebar.


What the fu*ck?! Apa-apaan dia malah ketawa? Lucu emangnya kalo gue cemburu, hah?!


"Kenapa ketawa? Ada yang lucu?" Samudra protes, menghentikan mobilnya di bahu jalan yang kebetulan saat itu kosong.


"Hm," angguk Samantha.


"Nggak ngerti dengan jalan pikiran kamu ya Sammy? Kakak cemburu ada pria lain deket-deket kamu, dan kamu bilang itu lucu, hm?!" Fix! wajah Samudra kini berubah merah padam. Menatap tajam ke arah Samantha, seolah benar-benar ingin menerkam gadis itu.


"Nggak, bukan gitu maksud Sammy. Kakak ngapain cemburu sama Bryan? Jika aku gak ada perasaan sama sekali terhadap dia? Hehehe..."


"Masih aja ketawain kakak?" Cemberut Samudra. Kali ini wajah sangar itu lambat laun berubah menjadi begitu manis.


"Kakak nggak bisa ngeliat dia atau siapapun deket-deket kamu, my little pie..." Ucap Samudra lembut.


"Kak Am harus percaya ama Sammy!"


"Sammy cinta sama kakak tapi Sammy juga ngga mau dikekang."


"Menurut kamu, kakak ngekang kamu?"


"Hm," angguk Samantha. "Sammy bebas berteman sama siapa aja termasuk Bryan. And anyway... He would only be a friend. Nothing more." Lanjut gadis itu. Samantha memandang lekat wajah Samudra. Jemarinya kini terjulur menempel di rahang tegas Samudra dan mengelusnya lembut. Jika sudah begitu, seperti ada magic yang mempengaruhi pria itu untuk menetralkan emosinya.


Samudra akhirnya mengangguk pelan. "Kakak ngga sabar nunggu kamu berusia delapan belas tahun."


"Hehehe emang mau diapain kalo Sammy udah delapan belas tahun?"


"Mau kakak kawinin. Hahaha!"


"Kak Am....!!" Pekik Samantha sambil mencubit manja pinggang Samudra.


To be continue....

__ADS_1


__ADS_2