Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
Aneh?


__ADS_3

Samudra membuka kunci layar handphone saat suara dering ponsel terdengar. Dahinya berkerut ketika melihat pesan yang terpampang di layar, chat dari group chatroom dengan dua sahabat Samudra ketika di Boston. Cameron dan William, mereka memberitahukan jika saat ini keduanya tengah berada di Bali.


^^^Hey dude, we are in Bali, now. Can you come here? We enjoyed the sunset. (Hai bro, kita lagi ada di Bali sekarang. Bisakah kamu menyusul ke sini? Kita menikmati sunset)^^^


^^^Cameron^^^


Samudra membuang napas kasar. Tapi saat ini ia benar-benar tengah disibukkan dengan urusan rumah sakit. Suster Aisya, asistennya bahkan sudah mengatur jadwal pasien untuk beberapa minggu ke depan.


Dengan cepat pun jari Samudra kemudian mengetik sesuatu di layar ponsel panjang miliknya.


Sorry dude, I have a very busy patient schedule this week. I wish I can get there. (Sorry bro, jadwal pasienku sangat padat minggu ini. Berharap aku juga bisa kesana)


Me


Send


Samudra mengirim pesan balasan, dan tidak membutuhkan waktu lama. Kini giliran William yang membalasnya.


^^^Oh come on Am. We haven't had a good time together. Work can wait, fun will not be repeated. (Ayolah Am. Sudah lama kita tidak bertemu dan seneng-seneng bareng. Kerja bisa menunggu, senang-senang tidak akan bisa diulang)^^^


^^^William^^^


Kembali hembusan napas panjang Samudra lolos dari mulut dan hidung mancung-nya.


Ok! I'll be there. But i have time just for a two days. (Oke! Aku akan kesana. Tapi aku hanya punya waktu dua hari saja)


Me


^^^Ok, Dude! (Oke, bro!)^^^


^^^Cameron^^^


Samudra kembali menghela napas. Meletakkan kembali handphone hitam miliknya di atas meja praktek. Kemudian terlihat ia kembali sibuk berkutat dengan beberapa buku laporan pasien yang akan ia terima hari ini.


"Suster Aisya suruh pasien masuk!" perintah Samudra melalui sambungan line telepon.


....


Tok... Tok... Tok...


Sebuah suara ketukan dengan tiba-tiba saja menghentikan sejenak kegiatan pria yang saat ini terlihat sibuk dengan catatan di dalam laptop tipisnya.


"Masuk!"


Seiring dengan ijin yang diberikan, seorang gadis cantik menyembulkan kepala-nya begitu ia membuka pintu ruangan Samudra. Senyum manis pun tertarik sempurna di semua sudut bibirnya.


"Hey, kenapa gak kasih kabar dulu kalo mo kesini?" ucap Samudra antusias, pria itu berdiri dari duduknya dan menyambut kedatangan gadis yang telah membuatnya merindu setiap saat.


"Aku ganggu kakak ya?"


"Nggak, kakak malah seneng kamu ke sini." Samudra mendaratkan kecupan singkat di ujung kening gadis itu.


"Kamu gak sekolah?"


Samantha menggeleng pelan. "Habis ujian, banyak jamkos," jawab Samantha.


"Oh-- kapan pengumuman kelulusan?"

__ADS_1


"One week later, maybe...?" (Satu minggu lagi, mungkin?)


"Oh-I see --" (Oh gitu...) Jawab Samudra sambil mengangguk-angguk kecil.


"Kakak masih ada pasien?"


"Hm, masih ada beberapa. Kenapa?"


"Aku ganggu?"


"Of course not (Tentu saja tidak). Kamu boleh di sini liatin kakak periksa pasien."


"Serius?"


"Serius...! Kapan kakak pernah bohong?" ucap Samudra sembari memandang sebentar ke arah Samantha. Gadis itu saat ini duduk di atas kursi tepat di hadapan Samudra.


"Pasien kakak pasti langsung sembuh setelah liat dokternya yang ganteng, hehehe....!" Samantha terkekeh kecil.


"Kamu ini ada-ada aja." Samudra menggeleng pelan saat mendengar celotehan gadisnya.


"Oh ya weekend nanti mau ikut ke Bali?"


Samantha mengerjap, seketika merubah posisi duduknya dari bersandar santai pada sandaran kursi, kini mendadak ia memajukan sedikit tubuhnya, dengan kedua netra membola semangat.


"Ke Bali? Mau lah.... Gila aja Sammy gak mau ikut, hehehe....!" jawabnya antusias.


"Ya udah, jumat sore kita berangkat."


Samantha melompat girang dari duduknya. "Yeeee.... thank's kak Am....!" seru gadis itu, ia berdiri dari duduknya dan langsung menubruk tubuh kekar Samudra dengan sebuah pelukan.


"Eh tapi... tiket pesawat dan hotel kakak yang bayarin kan? Hehehe..." kekeh Samantha lucu.


Bibir Samantha mengerucutkan lucu dengan netra yang sedikit melirik manja ke arah Samudra.


Tok...Tok...Tok...


Ditengah tawa mereka, suara ketukan pintu kembali terdengar dari luar.


"Permisi, dok! Pasien atas nama Nyonya Damar sudah bisa masuk?" ucap seorang suster cantik berperawakan tinggi dan berkulit kuning langsat.


"Mm, suruh beliau masuk." Samudra menghentikan tawanya sejenak dan menganguk ke arah suster Aisya.


"Baik," angguk suster tadi.


"Kak!"


"Hm?"


"Serius aku boleh di sini selama ada pasien?"


"Iya, bawel! Tapi kamu duduk anteng aja di kursi situ, okey?" Samudra menunjuk ke arah sudut ruangan. Sebuah sofa kecil berwarna hitam dengan sebuah nakas kecil di sampingnya. Mungkin tempat biasa Samudra duduk santai ketika tidak ada pasien, pikir Samantha sekilas ketika melihat sofa mungil itu.


"Oh-oke!"


Samantha bergegas melangkah menuju sofa yang Samudra tunjuk tadi. Sementara dokter tampan itu mengamati gerak tubuh gadis kecilnya dan mengulum senyum setelah gadis itu duduk manis di sofa kecil tadi.


"Permisi, dok..." Ucap Aisya yang tiba-tiba saja datang. Membuat Samudra mengalihkan pandangnya dari Samantha, dan beralih ke arah suster Aisya.

__ADS_1


Aisya membawa seorang wanita yang berusia sekitar lima puluh tahun memasuki ruangan serba putih.


"Silahkan duduk Nyonya Damar." Samudra berdiri menyambut pasien wanita itu dan mempersilahkan wanita setengah baya tadi untuk berbaring di brankar dan berhadapan dengannya.


Suster Aisya dengan cekatan membantu apa yang Samudra kerjakan. Menyiapkan berkas riwayat kesehatan pasien hingga dengan sigap mengulurkan peralatan medis ke tangan Samudra saat pria itu memintanya.


Samantha melihat mereka dari sudut ruangan. Bagaimana Aisya membantu Samudra dalam bekerja. Sangat cocok, begitu kontras jika dibanding dengan dirinya ketika bersanding didekat pria itu.


Ada sesuatu yang lain tiba-tiba menggelitik ruang hati Samantha.


"Terima kasih dokter."


"Sama-sama Nyonya, tolong di ingat jaga selalu pola makan Anda dan rajin berolahraga yang ringan-ringan saja, jalan pagi atau yoga misalnya." Terang Samudra dengan sabar.


"Baik, dok." Wanita itu mengangguk. Hingga kini netra yang masih awas itu memandang ke arah Samantha yang tengah duduk diam di sebuah sofa sudut ruang praktek.


"Kalau boleh saya tau apakah dia keponakan atau adik Anda, dok?" tanya wanita tersebut.


Samudra merotasikan pandangannya ke arah Samantha. Kemudian tersenyum kecil sembari menggeleng pelan. "Dia pacar saya, Nyonya." Senyum Samudra.


Netra wanita setengah baya itu pun membelalak tidak percaya. Namun tidak ada lagi perkataan yang keluar dari mulut sang pasien tersebut. Mungkin dia sungkan atau tidak ingin dianggap lancang karena terlalu ingin tahu.


Merasa menjadi pusat perhatian dari pasien Samudra, Samantha merasa canggung. Gadis itu pun hanya tersenyum simpul sembari mengangguk sopan ke arah pasien wanita tersebut.


"Mari saya antar keluar Nyonya Damar." Aisya yang mengetahui suasana canggung itu pun dengan cepat tanggap segera menyelamatkan keadaan.


Suster Aisya menggandeng tangan Nyonya Damar dengan sangat sabar untuk keluar dari ruang praktek Samudra.


"Hey, kenapa?"


Tanya Samudra begitu menyadari raut wajah gadis kecilnya itu berubah. Ia pun mendekat ke arah Samantha lalu duduk di dekatnya.


"Nggak." Samantha menggeleng pelan.


"Gara-gara tadi?"


Samantha tetap membisu, dengan bibir yang sedikit mengerucut.


"Nggak usah diambil hati soal pertanyaan Nyonya tadi."


Tangan besar Samudra mengusap puncak kepala Samantha hingga menyelipkan ke telinga beberapa helai anak rambut yang menutup wajahnya.


"Semua orang pasti aneh saat tau kalau kita pacaran," cicit Samantha.


"Emang apa yang aneh? Nggak ada yang aneh."


"Kakak nggak ngerti sih. Tatapan mata Nyonya tadi---"


"Ssttt...! Udah kakak bilang kan, nggak usah mikirin orang lain. Ini hubungan kita dan kita yang jalanin."


"Tapi..."


Samudra dengan cepat menempelkan jari telunjuknya di ujung bibir Samantha.


"Nggak ada tapi-tapi lagi. Yang terpenting kamu siap-siap packing aja buat jumat besok."


"Okey...." Angguk Samantha, nampak sedikit perubahan ekspresi dalam wajah gadis itu.

__ADS_1


to be continue....


__ADS_2