Samudra&Samantha

Samudra&Samantha
Sam&Maya Time


__ADS_3

Flash back beberapa saat sebelumnya.


Samantha berjalan dengan menundukkan kepala, di hadapan Bryan, ia sembunyikan wajahnya yang tengah tersenyum. Pelukan dan kecupan singkat Samudra di puncak kepalanya, seolah mengisyaratkan jika pria itu benar-benar memperhatikannya.


Lagi-lagi bibir peach Samantha menarik senyuman, dengan kedua bola mata yang berbinar cerah.


"Kamu ngapain senyum-senyum sendiri?" tanya Bryan heran.


"Hah? Apa?"


"Kamu ngapain senyum-senyum? Emang ada yang lucu?" ulang Bryan sembari memasangkan helm di kepala Samantha dan mengaitkan tali pengaman helm sport yang berwarna putih itu.


"Gak....." geleng Samantha. Dia harus bersikap normal, seolah saat ini hatinya tidak meletup-letup karena pelukan dan ciuman Samudra di puncak kepalanya tadi.


"Hehehe dasar kamu...." Bryan menggeleng-gelengkan kepala gemas melihat kelakuan ceweknya.


"Sudah siap?" Tanya Bryan begitu Samantha membonceng motor dan memegang erat kedua sisi kanan-kiri jaket yang Bryan kenakan.


"Kenapa gak pegangan?" tanya Bryan di balik helm sport full face miliknya.


"Ini udah pegangan kan?" jawab Samantha pelan.


"Pegangan yang kenceng," jawab Bryan sembari membenarkan posisi lengan Samantha menjadi melingkar erat di pinggangnya. Kemudian motor sport itu pun melaju meninggalkan mansion dengan deru suara knalpot khas motor besar berkekuatan 1000 cc.


Samantha sekilas melirik ke arah jendela besar mansion miliknya, samar gadis itu melihat Samudra yang berdiri mematung di depan kaca jendela dengan menatap tajam ke arahnya.


...


Samudra lekat memandang ke arah keduanya dari jendela besar mansion. Matanya menatap nyalang, mungkin ia cemburu melihat Samantha berboncengan dengan Bryan, apalagi dengan kedua lengan adiknya yang melingkar erat di pinggang Bryan. Tangannya ia kepalkan erat guna menahan emosinya, sebelum akhirnya Samudra mendekat ke arah Maya yang tengah sibuk dengan bunga-bunga dan vas kristal di sudut ruang keluarga.


Hingga pertanyaan-pertanyaan Samudra tentang mimpi kecelakaan serta nama belakang dia yang berbeda dengan kedua saudaranya.


Dan Maya dengan begitu saja yang seolah mencoba menghindar untuk menjawab apa yang Samudra tanyakan.


...


"Am menanyakan hal itu?" tanya Samuel sembari melepas kemeja serta celana kerjanya dengan hanya menyisakan tubuh yang bertelanjang dada dan celana boxer hitamnya.


"Hhm, iya." Maya mengangguk pelan, ia mengambil pakaian kotor milik Samuel dan meletakkannya di sebuah box di bath room dalam kamar yang khusus untuk menampung semua pakaian kotor mereka hingga pagi nanti, bibik yang mengambilnya.


"Terus kamu bilang apa?" tanya Samuel yang kini hendak bersiap mandi, namun kembali menggelayut, memeluk tubuh Maya.


"Aku belum jawab apa-apa. Nanti aja kita berdua yang jelasin semuanya ke dia." Maya sesekali terkekeh geli ketika Samuel mendaratkan ciuman kecilnya di leher hingga pundak Maya yang terbuka karena memakai gaun tidur berbahan sutra tanpa lengan.


"Sam.... geli ih.... hehehe....." kekeh Maya ketika bibir Samuel semakin menyapu nakal kulit yang masih terbilang mulus untuk wanita seusia hampir empat puluh tahun.


"I miss you, honey...." bisik Samuel sembari terus menyerbu tubuh dan wajah Maya dengan kecupan-kecupannya.


"Sam... setidaknya kamu mandi dulu deh."


"Kamu udah mandi?"

__ADS_1


"Udah dong."


Wajah Samuel kini terlihat sedikit kecewa.


"Kenapa?" Tanya Maya heran.


"Padahal aku pengen kita mandi bareng di dalam bathtub." Samuel menjawab dengan senyum-senyum nakal.


Maya tertawa geli dan menggeleng-geleng pelan. "Kamu ini ya suami, udah punya anak-anak remaja masih aja ganjen," kekeh Maya.


"Gak papa lah, sama istri sendiri ini. Honey.... ayo lah please...." bujuk Samuel dengan wajah memelas yang ia buat-buat.


Hingga akhirnya Maya mengangguk dan masih dengan kekeh-an gelinya.


"Yess.... love you, sayang." Samuel memeluk tubuh Maya dan perlahan melepas satu persatu gaun yang Maya kenakan serta Cd dan bra yang membungkus tubuh istrinya.


Samuel pun bersiap untuk membopong tubuh polos Maya.


"Sam, emang kamu masih kuat gendong aku?" tanya Maya bernada khawatir.


"Masih dong, sayang."


"Beneran?"


"Iya, ssttt! kamu diem dan nurut aja." Samuel mencium bibir Maya agar wanita itu berhenti protes.


Maya mengalungkan kedua lengannya di leher Samuel. Tubuh Samuel yang masih terlihat kokoh itu pun dengan begitu saja menggendong Maya ala-ala bridal style.


Maya membalas ciuman Samuel dalam gendongan suaminya, mirip seperti bayi yang tengah bergelantung di tubuh berotot suaminya. Hingga keduanya sampai di dalam kamar mandi. Dan Samuel dengan hati-hati menempatkan tubuh Maya kedalam bathtub yang telah terisi air hangat dan juga busa sabun.


Kedua mata Maya menyorot sayu ke arah Samuel. Jemarinya membelai lembut wajah pria yang telah menikahinya selama lebih dari tujuh belas tahun.


"I love you, honey... like always..." bisik Samuel lembut.


Hingga akhirnya gerakan mereka semakin dan semakin li*ar di dalam bathtub yang penuh dengan busa sabun.


.....


"Apa yang akan kita katakan pada Samudra nanti, Sam?" tanya Maya setelah keduanya selesai mandi. Maya duduk dalam pangkuan Samuel yang menghadap ke arah pria itu. Maya menyisir lembut rambut ikal suaminya dengan jemari-jemari lentiknya dan sesekali kecupan-kecupan Samuel pun mendarat di bibir istrinya yang tetap terlihat memukau.


"Samudra sudah dewasa dan sudah saatnya dia mengetahui tentang siapa dia sebenarnya." Samuel menjawab sembari melingkarkan kedua lengannya di pinggang kecil istrinya. Usapan bibir Samuel pun senantiasa kembali bermain di sekitar leher dan dada Maya, hingga meninggalkan bekas-bekas saliva yang menempel tipis di tubuh istrinya.


"Aku heran dengan Tuan Baskoro ayah Martha, kakek dari Samudra."


"Kenapa heran, May?"


"Ya.... heran aja, kenapa selama ini dia atau istrinya tidak pernah mencoba mencari tau soal Samudra, cucu mereka sendiri? Darah daging mereka." Maya menjawab dengan jemari yang masih menyisir rambut Samuel yang setengah basah.


"Padahal kan dulu kita udah memberitahu mereka jika cucu mereka dititipkan Martha dan juga Harris ke kita. Aku juga gak keberatan jika dulu mereka menemui Samudra," lanjut Maya.


"Mungkin mereka masih marah. Entahlah.... kita gak tau isi hati seseorang, kan?"

__ADS_1


"Hm, kamu benar suami." Maya mengangguk pelan.


"Sekarang kita turun untuk makan malam bersama?"


"Okey..." Samuel mengangguk pelan dan kembali mencium ujung bibir Maya.


Maya bangkit dari pangkuan Samuel lalu meraih satu Tshirt putih polos untuk suaminya.


"Aku turun dulu Sam, kaus kamu aku taruh di atas ranjang."


"Okey, thanks honey." Jawab Samuel yang masih berkaca dan mengoleskan krim pelembab kulit khusus muka ke wajah tampannya.


....


"Lho Mbak Pur, Den Samudra kenapa belum turun? kamu udah menyuruh dia untuk makan malam bareng kan?"


"Ee--- anu Nyah--- tadi Mbak Pur udah ketok-ketok pintu kamar Den Am, tapi gak ada jawaban dari Den Am."


"Terus Veronika?"


"Sama tuh Nyah.... Non Veronika juga gak menyahut panggilan saya," jawab Mbak Pur.


Maya mengernyit heran. "Jangan-jangan mereka udah berangkat ke Bandung?" gumam Maya.


"Maaf Non Maya, tadi pagi tuan muda Samudra dan non Veronika pamit ke bibik. Katanya mau langsung ke Bandung," ucap Bibik tiba-tiba setelah dia keluar dari dapur dan ikut membantu Mbak Pur menyiapkan makan malam majikannya.


"Benarkah? Kenapa dia gak pamit ke aku? Atau kenapa Bibik gak bilang sama aku, sih?"


"Ee-maaf Non, saya tidak tega mengganggu Non Maya istirahat. Soalnya tadi pagi kata Den Samudra, Non Maya tiba-tiba pusing," jawab bibik dengan wajah menyesal.


"Oh-ya udah gak papa Bik," angguk Maya memaklumi.


"Mbak Pur tolong panggil Non Samantha dan Den Benua, bilang udah di tunggu Moms-Dad nya untuk makan bareng."


"Baik, Nyah...." angguk Mbak Pur, dan wanita bertubuh sedikit gempal itu pun berjalan menaiki anak tangga.


"Kenapa, sayang?" tanya Samuel yang baru saja datang dan duduk di kursi utama di balik meja makan panjang itu.


"Samudra dan Veronika ke Bandung tanpa bilang dulu ke aku."


"Oh-mungkin dia gak mau ganggu kamu yang lagi istirahat."


"Hm, mungkin. Tapi aku kan khawatir sama mereka."


"Sayang, mereka baik-baik aja. Kita doain aja mereka selamat di jalan. Okey?"


"Hm," angguk Maya.


"Samantha dan Benua udah dipanggil buat makan?"


"Sudah tadi, dipanggil Mbak Pur."

__ADS_1


"Owh-oke." Bibir Samuel membulat lalu meraih jemari Maya untuk menenangkan istrinya.


to be continue....


__ADS_2