Sang Penari ( Kisah Seorang Singel Parents, Yang Menjadi Penari Malam )

Sang Penari ( Kisah Seorang Singel Parents, Yang Menjadi Penari Malam )
SP 10


__ADS_3

~Mencari tahu~


Membuat semua orang penasaran dengan kehidupan pribadinya, adalah salah satu keahlian Jerry, bagi Jerry kehidupan pribadinya adalah hal yang harus terus tertutup, tidak boleh ada satu orangpun yang mengetahui tentang kehidupan Jerry, pribadi yang tertutup, dingin, terkenal kejam dan seorang pria yang sukses diusia muda, kecuali dirinya sendiri yang mengizinkan orang lain untuk mengetahui kehidupan pribadinya.


Setelah pesta usai dan semua tamu undangan bubar, Wiharja langsung mendekati putranya.


"Jerry, ikut papa ke atas." perintah Wiharja dan membalikkan badannya.


"No! aku harus mengantar gadis ku pulang!" tolak Jerry.


"Jerry!" teriak Wiharja tanpa melihat putranya.


Jerry menggenggam tangan Gladis dan mengajak wanita itu keluar dari rumah papanya.


Jerry benar-benar tidak menghiraukan perkataan papanya meski sudah berteriak keras. hubungan Jerry dan Wiharja merenggang sejak sepuluh tahun lalu, Jerry mengetahui perselingkuhan papanya dengan seorang wanita malam yang dibawa ke rumah dan bercinta.


Jerry kemudian memutuskan untuk berkuliah di jurusan bisnis, Jerry kuliah di Amerika, di sana dia dengan tekun belajar dan mulai merintis karir bersama teman-temannya.


Jerry membuat sebuah perusahaan saat kembali ke Indonesia, dia bisa menjadi pengusaha muda yang sukses dan kaya raya, bahkan kekayaannya melebihi papanya sendiri.


Jerry mengantar Gladis kembali ke Villa, di sana Gladis sudah di sambut oleh Shine yang berada di gendongan baby sitter.


"Dengar Gladis, kalau kamu selalu berprilaku baik dan menurut kepadaku, aku pastikan kalian berdua akan hidup bahagia." Jerry mendekatkan wajahnya ke telinga Gladis.


Gladis langsung bergidik ketika mendengar perkataan Jerry dan saat merasakan hembusan hangat yang keluar dari mulut pria berwajah dingin itu.


"Bisakah aku meminta satu permintaan?" tanya Gladis.


"Boleh! tapi nanti setelah kamu bekerja dengan baik!" Jerry meninggalkan Gladis dan kembali ke dalam mobil mewahnya.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Wiharja berpikir di dalam ruang kerjanya, dia masih memikirkan wanita yang datang bersama dengan putra sulungnya, putra yang begitu dia rindukan, tapi Wiharja tidak pernah tahu alasan mengapa putranya menjauh dari dirinya dan semakin tertutup.


"Darma! Darma ...," teriak Wiharja memanggil asisten pribadinya.


"Saya, Pak." Darma menghadap Wiharja.


"Darma, siapa wanita yang tadi datang bersama Jerry?" tanya Wiharja.


"Maaf, Pak, saya tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya," jawab Darma.


"Kamu, cari tahu siapa wanita itu, jika sudah mendapatkan informasi, segera laporkan kepadaku!" perintah Wiharja.


Darma langsung menyanggupi dan dia kembali ke tempatnya.


Darma bekerja dengan Wiharja sudah dua puluh tahun, semenjak Wiharja menjadi pewaris sah dari Big Collection, Darma lah yang terpilih menjadi tangan kanan Wiharja, bahkan Darma juga mengetahui perselingkuhan Wiharja dengan beberapa wanita malam.


"Dia memintamu untuk memata-matai putranya lagi?" Tanya Maya saat melihat Darma keluar dari ruang kerja suaminya.


"Benar," jawab Darma.


"Kenapa dia selalu mengkhawatirkan anak itu, anak yang sudah dewasa dan mapan!" Kesalnya dalam hati.

__ADS_1


"Permisi, Bu." Darma meninggalkan Maya yang masih melamun.


Maya selalu kesal melihat suaminya perhatian berlebihan terhadap Jerry, Maya yang sudah sudah payah mendapatkan Wiharja dalam dekapannya meski usia mereka terpaut sangat jauh, tapi Maya tetap ingin menikahinya.


Maya seorang wanita malam yang mampu menjerat Wiharja kedalam genggamannya, sehingga dirinya dinikahi dan diakui sebagai Nyonya.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Jerry sampai di rumah pribadinya, dia merebahkan tubuhnya dan merenggangkan ikatan dasi yang melingkar di lehernya.


"Pasti saat ini, pria tua itu sedang mengerahkan seluruh anak buahnya, untuk mencari tahu identitas dari Gladis." Jerry senyum menyeringai.


Jerry sangat senang dengan keadaan ini, semua sesuai rencananya, mulai dari mencari sosok wanita sampai membawanya ke pesta.


"Kali ini, aku akan mempermudah pekerjaan kalian semua, jika berita ini sampai di telinga pria tua itu, sudah pasti dia akan menghampiriku dan menceramahi ku, di situlah, waktunya aku beraksi!"


Jerry kembali tersenyum, dia benar-benar bahagia setelah menghadiri pesta yang di adakan oleh papanya.


Jerry memiliki sebuah rencana besar, namun tidak ada satu orangpun yang mengetahui apa rencana Jerry saat ini.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


"Pak Wiharja, memerintahkan untuk mencari tahu tentang wanita yang tadi datang bersama dengan tuan muda Jerry, kalian kerahkan anak buah, dan segera laporkan informasi yang didapat dengan segera!" ujar Darma kepada anak buah kepercayaannya.


"Kami akan segera bergerak, kami akan menemukan identitas wanita tersebut!" ujar salah satu anak buah Darma.


Darma selama ini sebenarnya kesulitan untuk mengorek informasi tentang anak bossnya, tapi dia tetap berusaha dan tidak menyerah, dia terkadang turun tangan sendiri untuk menemui Jerry, tapi sering kali juga dia ditolak kehadirannya.


.


.


Ayam berkokok dengan sangat lantangnya, membuat Gladis terbangun dari tidurnya yang begitu nyenyak.


Gladis membuka matanya, dia melihat Shine sudah tidak ada di sampingnya lagi.


"Shine." Gladis langsung beranjak dari ranjang.


"Shine ... Shine." Gladis rasanya sangat frustasi.


Disusurinya seluruh kamar yang dia tempati tapi tidak menemukan putrinya.


Gladis langsung keluar kamar yang di tempatnya, masih dengan menggunakan gaun tidurnya.


Gladis sangat kebingungan mencari di mana putrinya, baginya Shine adalah segalanya, dia tidak ingin kehilangannya.


Kaki kecilnya menuruni tangga villa dan mencari sosok yang dicarinya.


Terdengar di telinga Gladis suara tawa anak bayi dari sudut ruangan, dia langsung berjalan perlahan mendekati ruangan yang tertutup rapat.


Suara itu semakin terdengar jelas di telinganya, membuat Gladis semakin penasaran, air mata yang mengalir sejak tadi dihapusnya sebelum membuka pintu.


Gladis mengangkat tangannya, mencoba meraih handle pintu lalu membukanya perlahan.

__ADS_1


"Shine." Gladis langsung berteriak ketika melihat putrinya berada di dekapan pria yang sering mengancamnya.


Gladis langsung masuk ke dalam kamar dan menghampiri Shine dan pria itu segera tanpa memikirkan penampilannya.


"Kembalikan putriku! Kenapa kamu menyentuhnya?" Gladis berteriak hingga terasa pengang ditelinganya.


Jerry masih menggendong bayi mungil itu dan melihat ke arah Gladis.


"Wanita ini, kenapa berkeliaran dengan gaun tidurnya? Apa dia tidak tahu atau dia sengaja untuk memikat ku?"  Gumam Jerry saat melihat Gladis berjalan ke arahnya.


"Kembalikan Shine. Kembalikan!" Gladis kembali berteriak.


Jerry menaruh jari telunjuknya tepat di depan bibirnya. "Shuuut!"


"Dia sudah tertidur," kata Jerry dan menimang Shine.


Gladis melihat wajah putrinya. "Shine tertidur? Kenapa wajahnya begitu tenang?"  Batin Gladis.


"Aku tidak akan mencelakai bayi mungil ini, dia sangat cantik, aku jatuh hati kepadanya." Jerry tersenyum manis kepada Shine.


"Berikan dia kepadaku." Pinta Gladis dengan nada bicara yang pelan.


"Aku akan mengembalikannya, tapi aku yang akan membawanya ke kamarmu." Jerry bicara tanpa melepas pandangannya kepada Shine.


"Tidak perlu, aku yang akan membawanya." Tolak Gladis.


"Please, aku hanya tidak mau dia terbangun, karena harus dipindah-pindah."


Gladis memperhatikan kembali putrinya, Shine sangat tertidur lelap, membuat Gladis menyetujui permintaan Jerry.


.


.


Jerry meletakkan Shine di tempat tidur yang ada di ruangan yang ditempati Gladis.


"Kamu belum menjawab pertanyaan ku, kenapa Shine bisa bersamamu?" tanya Gladis.


"Tadi dia terbangun, tapi kamu masih tertidur lelap, aku meminta baby sitter mengambilnya dan aku merasa ingin bermain bersamanya," jelas Jerry.


"Aku tidak mau, kamu menyentuh putriku lagi!" Tegas Gladis.


Jerry dan Gladis saling berpandangan, dari sorot mata Gladis terlihat dirinya sungguh-sungguh dengan ucapannya.


.


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2