Sang Penari ( Kisah Seorang Singel Parents, Yang Menjadi Penari Malam )

Sang Penari ( Kisah Seorang Singel Parents, Yang Menjadi Penari Malam )
SP 29


__ADS_3

~Kembalinya sang pengganggu~


Gladis selesai menyusui putrinya Shine. dia berniat untuk memasak untuk makan siang dirinya sendiri.


Gladis keluar kamar dan dia terkejut melihat Jaka sudah duduk di bangku rumahnya.


"Kemana para penjaga itu?"


Gladis sudah meminta beberapa anak buah atau penjaga yang berjaga di rumahnya untuk berhenti dan di tarik kembali oleh Jerry.


Gladis gemetar, dia tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa. Akhirnya dia masuk kembali ke dalam kamar dan mengunci pintu kamarnya.


Gladis langsung meraih ponselnya, dia menghubungi Naura tapi beberapa kali tidak diangkat.


"Apa dia sedang tidur?"


Gladis menghubungi Nick, tapi tidak juga diangkat oleh mereka.


"Percuma Gladis, kamu tidak akan pernah bisa meminta tolong kepada mereka semua. Karena mereka sudah aku berikan obat tidur." Jaka tertawa keras.


Mendengar perkataan Jaka, Gladis menjadi frustasi.


"Kenapa kamu bisa masuk ke dalam rumahku?" teriak Gladis dari dalam kamarnya.


"Gladis, apa kamu lupa? Aku pernah tinggal di sini, jadi sudah pasti aku punya kunci serep rumah ini." Jaka menjawab pertanyaan Gladis.

__ADS_1


Wajah Gladis semakin suram, dia kebingungan, dia sudah bercucuran keringat, sesekali dia melihat kearah bayi mungil yang sedang tertidur pulas.


"Buka pintunya Gladis. Berikan Shine kepadaku, jika kamu tidak mau kehilangan Shine, mari kita rujuk kembali." Jaka mengutarakan maksudnya.


Gladis menggelengkan kepalanya. Dia sampai kapanpun tidak akan pernah mau kembali kepada pria yang sudah mengkhianati dirinya.


Jaka semakin keras menggedor pintu kamar. Dia bahkan tidak tahu kalau di dalam kamar Shine sedang tertidur.


Gladis menjaga agar Shine tidak terbangun oleh ulah pria jahat itu.


"Aku harus bagaimana." Gladis mulai berpikir.


Gladis akhirnya punya cara, karena kamarnya berada paling depan dan ada kaca jendelanya. Gladis berusaha keluar rumah melalui jendela kamarnya.


Setelah berhasil keluar dari rumah, dirinya langsung menutup rapat jendela namun, saat dia menutup jendela ternyata Jaka. mendengar suara dan dia langsung berlari keluar rumah.


Jaka mendapati Gladis kabur membawa Shine dalam gendongannya.


"Hei, Jangan lari." Jaka langsung ikut mengejar Gladis.


Gladis lari sambil membawa Shine dalam gendongannya, selama berlari dirinya sesekali menarik napas panjang, mengatur pernapasannya.


Jaka terus mengejarnya, Sungguh Gladis sangat sedih, disaat dia ingin hidup mandiri bersama putrinya, Jaka kembali. Dia sudah lepas dari genggaman Jerry, tapi sekarang dia harus berlari sekencang-kencangnya untuk menghindari Jaka. Jika dia tertangkap maka Jaka akan membawa Shine lagi.


Gladis sudah sempoyongan membawa Shine berlari. Dia ingin meminta tolong, tapi sayang warga semua sedang di ladang saat ini, jadi tidak ada yang bisa membantu dirinya.

__ADS_1


Jaka berhasil menangkap Gladis yang sudah tak mampu lagi berlari kencang.


Jaka berusaha menarik kain gendongan yang dipakai oleh Gladis untuk membawa Shine.


"Lepaskan. jangan pernah memisahkan aku dengan putriku. Dia putriku, bukan putrimu." Gladis ingin berteriak tapi sudah tak bertenaga.


"Lihat Gladis, kamu saja sudah lemah. Kamu tidak bisa membesarkan putriku sendirian, kamu butuh aku." Jaka bicara dengan sangat percaya diri sekali.


Jaka kembali akan merebut Shine dari tangan Gladis, tapi tiba-tiba sebuah tangan menghalangi dan mendorong jauh-jauh tubuh Jaka hingga terpelanting.


"Jerry." Gladis terkejut tapi senang melihat Jerry membantunya.


"Jangan pernah dekati anak dan istriku." Jerry memperingatkan Jaka.


"Anak? Istri? sejak kapan kalian menikah dan dia mengandung benihmu?" Jaka tidak terima.


"Dia mengandung lebih dulu benihku dan kami akan segera menikah." Jerry membawa Gladis masuk ke dalam mobilnya.


Jaka terus berteriak meminta Shine diberikan kepadanya.


.


.


__ADS_1


__ADS_2