
~Lepaskan aku~
Gladis menyusui Shine putri kecilnya yang tampak sangat senang bertemu dengan mamanya.
"Shine, maafkan Mama yang sudah membawamu masuk dalam masalah ini, Mama tidak tahu siapa mereka, tapi Mama tahu, mama harus menyelamatkan diri kita dari tempat ini." Gladis mengusap kepala putrinya yang masih sangat lembek.
Naluri seorang wanita ketika masih hidup sendirian adalah melindungi dirinya sendiri, dan Naluri seorang wanita setelah menjadi seorang ibu, adalah bagaimana caranya dia bisa melindungi anaknya dari gangguan hal buruk apapun.
Seorang ibu akan mempertaruhkan nyawanya hanya untuk seorang anak yang sudah dia kandung selama sembilan bulan lamanya.
Gladis yang seorang diri di dalam villa yang begitu banyak penjaga yang mengawasi gerak-gerik dirinya, sedang berpikir cara, bagaimana dia bisa lepas dan kabur dari dalam kurungan villa yang nampak seperti di dalam penjara.
"Aku tidak mau, Shine terluka, aku harus mencari cara agar bisa kabur dari villa ini," kata Gladis sambil meletakkan Shine untuk tertidur.
Gladis melihat sekeliling luar villa dari jendela kamar yang di tempatnya.
"Semua dijaga ketat, bahkan di depan pun terdapat dua penjaga, Tuhan, bagaimana cara aku bisa keluar dari sini?" Gladis menyandarkan tubuhnya di tembok kamar dengan kedua tangan menutupi wajahnya.
Gladis merasa putus asa, tidak ada jalan atau celah untuk dirinya kabur, semua jalan ada penjaganya, terlebih dua penjaga di luar kamar.
"Naura, pasti kamu sangat mencemaskan diriku dan juga Shine." Gladis melihat ke arah putrinya yang tertidur pulas di atas tempat tidur yang begitu empuk.
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu kamar dari luar terdengar, Gladis langsung bangun dan menggendong putrinya, nalurinya sebagai seorang ibu untuk melindungi langsung bersiap siaga.
"Siapa?" tanya Gladis dengan suara ketakutan.
"Aku Mia, baby sitter yang di minta mengurus baby Shine."
Seorang wanita dengan suara lembut berbicara dari balik pintu yang entah terkunci atau tidak, karena Gladis tidak menyentuh pintu itu sama sekali sejak dia datang ke tempat ini.
Ceklek
Gagang pintu mulai bergerak, Gladis semakin mengeratkan gendongannya, dia melihat ke arah Shine yang masih tertidur.
"Maaf Nyonya, saya di minta untuk membawa baby Shine untuk di mandikan," kata suster yang mengaku namanya adalah Mia.
"Tidak perlu, biar aku saja yang memandikannya, aku akan mengurusnya sendiri." Gladis menolak bantuan Mia.
"Tapi, Nyonya, jika Tuan tahu, saya tidak mengasuh baby Shine, dia akan marah kepada saya dan juga kepada mereka yang berada di luar sana." Mia memberi penjelasan.
"Dimana kamu akan mengurus Shine?" tanya Gladis.
"Kamar Baby Shine ada di sebelah kamar nyonya, mari saya tunjukkan." Mia menunjukkan arah ke kamar Shine.
Mia membuka pintu sebuah ruangan dan mereka berdua dengan Shine yang masih di dalam gendongan Gladis, masuk ke dalam ruangan tersebut.
Gladis begitu takjub dengan ruangan yang sudah di dekorasi seperti kamar bayi yang begitu indah, bernuansa merah muda, banyak hiasan dan juga banyak sekali mainan serta fasilitas yang ada di dalamnya untuk seorang bayi.
"Kamar siapa ini?" tanya Gladis sambil terus masuk ke dalam.
__ADS_1
"Ini kamar yang di buat oleh Tuan, khusus untuk Baby Shine." Mia memberitahukan kepada Gladis.
Gladis menggeleng, dia tidak percaya akan hal itu, tidak mungkin seorang yang tidak dia kenal memperlakukan Shine seperti seorang putri.
"Aku, tidak akan terbuai oleh semua ini, dia adalah orang asing dalam hidupku, jadi aku tidak akan pernah mau diperdaya hanya dengan harta!" Gladis hendak berjalan keluar.
"Nyonya, ikutilah perintah Boss kami, dia tidak akan menyakiti anda, dia hanya butuh anda di sini!" seorang pria bertubuh besar dan kekar melarang Gladis keluar dari ruangan bayi.
"Kenapa? dan siapa sebenarnya boss kalian? kenapa dia mengurungku di villa besar ini? kenapa dia membuat aku dan putriku terpenjara di sini? aku mau pulang ke rumahku." Gladis tak tahan lagi untuk mengurai kesedihannya dan meneteskan air matanya.
Pria itu memerintahkan Mia untuk membawa Gladis ke sofa yang ada di sudut kamar.
Mia yang menerima kode tersebut, membantu Gladis untuk berjalan menuju sofa dan duduk di sana agar bisa menenangkan dirinya.
"Tenanglah, Nyonya, mereka semua orang baik, percaya kepada ku." Mia berusaha menenangkan Gladis.
apakah Gladis akan percaya?
.
.
.
.
Gladis hanya bisa menangisi dirinya dan putrinya yang terjebak di dalam sebuah Villa milik pria yang sama sekali tidak dikenalnya.
Tap Tap Tap
Langkah kaki terdengar sedang mendekati lorong yang menuju arah kamar, Gladis menempati kamar awal dia datang bersama putrinya.
Wajah Gladis terlihat sangat tegang mendengan suara langkah kaki, dia begitu takut jika sampai yang datang adalah pria itu, meski Gladis tidak mengetahui siapa pria itu dan apa tujuannya, tetap saja Gladis takut karena dia adalah pria yang belum pernah dia temui sebelumnya.
"Naura, aku takut, tolong aku." lirihnya dalam hati.
.
.
.
.
"Nick, kemana kita harus mencari mereka berdua? Kakak sangat mencemaskan nasib mereka, aku bahkan tidak tahu, apakah Shine bersama Gladis, atau Shine sendirian diluar sana?" Naura mengigit kuku jarinya secara bergantian, itu adalah kebiasaan Naura ketika sedang panik.
"Sabarlah Kak, aku pun sedang mencari cara, aku juga tidak mengerti, kenapa CCTV bagian depan bisa rusak, padahal sebelumnya baik-baik saja." Nick merasa aneh.
Naura pun merasa demikian, selama ini, mereka selalu membayar biaya perawatan CCTV, dan tidak ada laporan kalau ada kerusakan.
"Nick, segera cari penyebabnya, aku tidak mau terjadi hal yang buruk terhadap mereka berdua, aku sangat khawatir, teman baikku dan juga anak angkat ku terluka." Naura begitu menyayangi Gladis dan Shine.
__ADS_1
Nick berusaha dengan lebih keras lagi, dia pun, sangat menyayangi Shine, dia sudah menganggap Gladis sebagai kakak perempuannya jadi dia menganggap Shine adalah keponakannya.
.
.
.
.
Braak
Pintu di buka dengan sangat kasar, Gladis yang memeluk erat putrinya terkejut.
"Bawa putrinya!" teriak pria itu.
Pria asing itu datang lagi, Gladis kini bisa melihat dengan jelas wajahnya.
"Jangan bawa putriku, aku mohon! aku tidak mau dipisahkan dari putriku!" teriak Gladis sambil mempertahankan putrinya yang masih dalam pelukannya.
"Cepat, bawa putrinya, sekarang!" teriak pria itu lagi dengan suara yang semakin keras.
Gladis ketakutan, tubuhnya gemetar, dia pun tak bisa mengeratkan pelukannya, sehingga Shine dengan mudah di rebut oleh baby sitter yang sudah di siapkan sejak awal untuk Shine.
"Aku mohon, jangan sakiti putriku." Gladis merapatkan kedua telapak tangannya dan memohon.
"Jika kamu, ingin putrimu kembali kepadamu, turuti perkataanku!" pria itu mencengkram rahang Gladis kuat.
"Apa yang kamu inginkan dari ku?" tanya Gladis dengan tatapan menantang.
"Ikuti setiap perintahku, menari dihadapanku dan ingat kamu adalah milikku sekarang, jangan berbuat hal yang bisa merugikan dirimu sendiri!" Pria itu mengangkat tubuh Gladis hingga mereka sama-sama berdiri.
Gladis masih terus menatap wajah pria itu, berusaha mengingat wajahnya, tapi Gladis merasa, pria itu tak pernah datang ke rumah bordir, jadi sudah pasti jika pria itu bukan mengincar tubuhnya, jadi apa sebenarnya maksud pria itu menahan Gladis selain untuk melihat tariannya?
"Menari lah, aku akan menyalakan musiknya." pria itu berjalan ke arah meja yang di atasnya tersusun soundsystem kecil dan juga tape lalu dia menyalakan musiknya.
Gladis merasa bingung, tubuhnya terasa enggan untuk bergerak, dia masih berdiri mematung.
"Cepat menari!" teriak pria itu memaksa Gladis menggerakkan tubuh yang sangat ingin dia lihat gerakannya.
"Kamu, adalah wanita yang sangat cocok dengan kriteria yang aku cari selama ini, wanita yang bisa membuat diriku menunjukkan sikap protes ku kepada mereka!"
Gladis semakin tidak mengerti setelah mendengar perkataan pria yang masih dia tidak tahu namanya.
Pria misterius yang datang secara tiba-tiba kedalam hidupnya.
.
.
.
__ADS_1