Sang Penari ( Kisah Seorang Singel Parents, Yang Menjadi Penari Malam )

Sang Penari ( Kisah Seorang Singel Parents, Yang Menjadi Penari Malam )
SP 60


__ADS_3

~ Betapa sulit miliki hatimu ~


Gladis menjadi sangat bahagia karena mendapati putrinya sudah kembali sehat. dia tidak begitu khawatir lagi dan tinggal menjaga Shine agar tidak kembali jatuh sakit.


"Mama senang sekali karena kamu sudah kembali sehat. sekarang mama akan sangat menjagamu. mama tidak akan membiarkan sakit merebut keceriaanmu sayang/ mama takut sekali saat kamu sakit kemarin. jangan buat mama khawatir lagi." Gladis memeluk erat putrinya ke dalam dekapannya.


Malam ini Gladis akan tertidur lelap. Hilang sudah kecemasan di dalam dirinya ketika melihat keceriaan kembali datang menghampiri sang putri. Mereka malam ini akan tertidur dengan senyuman lebar di wajahnya dan akan bermimpi indah bersama setelah hilangnya kecemasan.


Ditengah lelapnya orang-orang yang sedang menikmati malam, ada seseorang yang larut dalam kegelisahannya. Pikiran Jerry terus melayang-layang dia terus memikirkan bagaimana mencegah tuan tanah atau Mr. T tidak membatalkan tanah yang sudah dia jual kepada jerry. masih ada beberapa dokumen yang belum keluar yaitu akta jual beli tanah dari notaris yang di tunjuk oleh jerry. sedangkan bisnisnya seharus sudah berjalan. Jerry dan satria sedang mencari tahu apa penyebab dari Mr.T ingin membatalkan penjualan tanah itu. Jerry sudah menyiapkan segala untuk sampai pada titik ini dan dia juga tidak mau jalan yang seharusnya mulus berubah menjadi terjal saat apa yang dia upayakan sudah hampir sampai.


"Apa belum ada kabar lanjutan dari Mr.T?" tanya Jerry kepada Satria dan Bimo ketika mereka kumpul di ruangan yang mereka sulap menjadi ruang meeting sementara.


"Belum ada sama sekali kecuali informasi kemarin tentang pembatalan penjualan dari pihak notaris." Bimo memberi jawaban.


Jerry kembali harus mengerahkan segala cara agar tanah itu tetap menjadi miliknya dan Mr.T mau menandatangani surat jual beli yang telah notaris berikan kepadanya.


"Kita pikirkan lagi besok. sekarang kita harus istriahat agar besok siap bertempur." Jerry keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang masih sangat kesal dan penuh pertanyaan yang mengalir di kepalanya.


Satria dan Bimo juga keluar dari ruangan itu dan mereka kembali ke kamar masing-masing. Mereka semua tertidur untuk siap menghadapi segala kemungkinan yang ada. Mereka berdua juga tidak mau pekerjaan yang mereka lakukan menjadi hal yang sia-sia.

__ADS_1


.


.


.


Hingga pagi mejelang Jerry masih sulit terpejam. Suara kokokan ayam bahkan sudah sangat merdu ditelinganya. Banyak ke khawatiran yang bersemayam di hatinya. Dia takut harus semakin sulit mendekati Gladis dan meyakiinkannya akan cinta yang tulus dari Jerry.


jerry memutuskan pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya dan membuat kepalanya bisa berpikir solusi apa yang harus dia pakai untuk menarik merubah keputuan tuan tanah.


"Selamat pagi, Pak." Satria menyapa bosnya yang sudah keluar kamar dengan kjondisi rapih sama seperti dirinya.


"Pak Jerry, Pak Satria. sya sudah dapat kabar mengenai penjualan yang sempat terputus itu." Bimo yang keluar dari kamarnya dengan terburu memperlihatkan artikel yang baru keluar pagi ini.


"Sepertinya ini berhubungan dengan Nona Hazel yang merupakan cucu tunggal tuan tanah itu." tutur Jerry.


"Hazel?" pekik Jerry dengan mata yang membulat begitu sempurna karena terkejut.


"Kenapa selalu ada dia dis etiap kegagalanku? dia sudah berhasil membuat Gladis salah paham dan sekarang apa ini? cucu tunggal dari Tuan Tanah?" Jerry memijat keningnya sambil berkaca pinggang.

__ADS_1


Satria ikut termenung, dia bahkan mendapatkan kabar kalau satu-satunya cucu tuan tanah menghilang bersama keluarganya.


"Tunggu, saya mendapatkan kabar dari beberapa orang di sini yang mengenal Tuan tanah . Mereka bilang cucu dari Tuan tanah itu adalah perempuan dan dia berpisah saat cucunya masih kecil. Cucunya di bawa pergi oleh anak dan menantunya karena insiden dua puluh tahun lalu." Satria menuturkan apa yang dia ketahui.


"Kamu benar. Kamu pernah bilang kalau di sini dulu tidak diperbolehkan menikah antar kampung. Lalu kenapa ada berita ini? apa Hazel adalah cucunya yang tidak dia temukan dulu?" tanya Jerry yang semakin tidak mengerti situasi ini.


"Cari tahu semuanya. dapatkan semua itu segera karena saya membutuhkanya sekarang juga. kalau bisa cari tahu masa lalu tuan tanah itu agar kita lebih mendapatkan kejelasan dan kamu Bimo, cari tahu keluarga Hazel, pastikan tidak ada yang terlewat sedikitpun informasi apun itu." Perintah Jerry.


Jerry melangkah keluar dari ruamhnya yang tertetak tidak jauh dari rumah Gladis. Dia keluar dan mendapati Gladis sudah siap dengan daganganya. jerry menghampiri dan langsung menggendong Shine yang ada di dalam troli bayi.


"Pagi anak Daddy. Semalam pasti kamu tidur lelap. Wajahmu sangat bersinar dan ceria sekali." Jerry mengecup pipi Shine dengan waktu yang lala dan memeluknya erat.


Gladis hanya bisa mencoba mengacuhkan Jerry. Dia tidak mau terlibat dengan JErry yang kemarin sempat membuat dirinya kesal karena bertengkat di depan rumahnya dengan Aldi seperti anak kecil yang memperebutkan permen.


"Daddy pergi kerja dulu ya sayang. kamu jadi anak manis jangan buat mama panik lagi. Daddy sayang sekali sama Shine." Jerry kembali meletakkan Shine di dalam troli.


Sebelum dia melangkahg pergi dari rumah Gladis. Jerry sempat menoleh dan melihat sejenak wajah wanita yang begitu dia cintai sepenuh hatinya.


"Kenapa kamu sangat sulit untuk ku raih hatinya. Apa hati itu sudah tak bisa ku singgahi? Namun, aku akan tetap berusaha." Jerry melangkah pergi dengan Satria dan Bimo di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2