
~ Langkah pertama berhasil ~
Jerry mendapatkan kabar kalau dirinya berhasil memenangkan kompetisi kepemilikan tanah itu. Dia sangat bersyukur karena tidak sia-sia dia bekerja siang malam untuk memantapkan diri.
Jerry langsung bersiap untuk menyusun team pembangunan. Dia juga meminta satria mengurus seluruh pembayaran dan juga surat kepemilikan secepatnya. Jerry sangat bahagia karena setidaknya satu langkah awal untuk membawa Gladis ke sisinya sudah tercapai.
Dia ingin meyakinkan Gladis akan cintanya. dia juga akan menunjukkan kepada papanya kalau dia bisa lebih sukses dari pada papanya. meski dia sudah memiliki perusahaan yang besar dan sukses. Namun, dia merasa tertantang untuk mendapatkan tanah ini. terlebih tanah itu juga menjadi incaran papanya. papanya ingin melebarkan sayap bisnisnya di bidang perhiasan. Tetapi sayangnya papanya kalah dan dimenangkan olehnya.
.."Aku tidak menyangka anakmu yang akan mendapatkan tanah itu. padahal kamu sangat ingin memiliki tanah itu dan membangunnya untuk dijadikan cabang perusahaan agar bisa di wariskan untuk putra kita. apa tidak bisa anakmu itu mengalah sedikit?" yuni begitu kesal dengan kegagalan yang dialami oleh suaminya.
Wihardja menjadi marah kepada yuni, sebab tatapan yuni dan juga perkataan yuni seakan dia sangat tidak becus. Wihardja menyibakkan selimut dan turun dai tempat tidurnya. dia langsung keluar kamar katena tidak tangan dengan ocehan istrinya yang sangat menyebalkan itu.
"dia kalau sudah marah pasti akan menghindari ku. dia tidak pernah menanggapi kemarahanku. dia bahkan tidak pernah lagi membujukku dengan kata-kata manisnya." Yuni juga kesal karena Wihardja menjadi begitu dingin kepadanya akhir-akhir ini.
Wihardja yang pergi ke ruang kerjanya, duduk di kursi dan merebahkan punggungnya. dia sangat teramat kesal dengan yuni yang selalu mengkritiknya ketika dia kehilangan sesuatu untuk anaknya. sedangkan yuni tidak mengetahui seberapa berusahanya Wihardja untuk mendapatkan tanah itu. namun, apa daya dia tidak bisa memenangkan hati si pemilik tanah yang begitu misterius.
"Dia selalu seperti itu jika aku gagal memenuhi semua keinginannya. dia berubah ketika sudah memiliki seorang anak."
Yuni ataupun Wihardja saling berpikir bahwa pasangannya sama-sama berubah. mereka saling memendam rasa kesal satu sama lain. Wihardja yang kesal dengan sikap istrinya membuatnya memutuskan untuk tidur di ruangan kerjanya.
ketika bertengkar Wihardja akan lebih banyak diam karena memang dia tidak suka berdebat dengan istrinya. sama halnya ketika dia masih bersama dengan mamanya jerry. diakan lebih banyak diam dan akan pergi untuk menenangkan diri. itulah kenapa dia bisa bertemu dengan yuni di luar sana.
.
.
.
Jerry yang sudah mendapatkan semua dokumen penting untuk pembukaan usaha barunya, akan segera pergi ke tempat itu. Jerry meminta kepada anak buah satria untuk mencari sebuah rumah yang nyaman untuk di tinggali.
"Satria kamu akan ikut tinggal bersama saya di sana sampai semua rampung dan sampai saya mendapatkan kembali Gladis untuk menjadi nyonya rumah." tutur jerry yang membuat anak buahnya menjadi terkejut.
__ADS_1
Satria tidak menyangka kalau jerry bahkan akan meminta dicarikan sebuah rumah untuk menjadi tempat tinggal dan terlebih lagi dia memintanya untuk tinggal bersama.
Satria yang seorang asisten berbudi. Membuat dirinya hanya bisa mengikuti apa yang menjadi permintaan bosnya itu. Satria menghubungi anak buahnya yang menunggu di sana. Jerry meminta satria menaruh tiga anak buah untuk ditempatkan di desa berilmu. satu untuk menjaga gladis dari kejauhan sedangkan yang dua untuk mengetahui kondisi tanah dan desa agar dia bisa mengawasi terus desa berilmu. banyak hal yang harus dipelajari oleh jerry agar bisa diterima di desa tersebut. dia adalah orang asing yang akan membuat bisnis di sana. jadi perlu bagi drinya bisa mengakrabkan diri.
Jerry menutup laptopnya dan dia langsung keluar ruangan kerjanya. hari yang sudah malam membuat dia harus melepaskan pekerjaan yang cukup membuatnya lelah dan harus berpikir sangat keras.
"Saya akan pulang. kamu pulanglah dan kamu harus bersiap untuk pindah besok juga ke desa berilmu dengan ku."
perkataan jerry sebelum pergi kembali membuat Satria tidak bisa berkata-kata. dia benar-benar pusing menghadapi seorang bos yang sedang di mabuk cinta.
"Aku rasanya lebih baik menghadapi macan hutan dari pada harus menghadapi macan yang dimabuk cinta." keluh Satria sambil memegang tengkuk lehernya dengan salah satu tangannya.
Memang benar menghadapi seorang yang sedang di mabuk cinta sangatlah sulit. perasaannya yang mudah berubah dan juga akan menjadi lebih sensitif jika berhubungan dengan orang yang sangat dicintai.
Jerry yang pulang ke apartemennya kembali merasa hidupnya begitu sepi. "aku ingin sekali segera membawamu kembali kemari. Shine apa kamu merindukan Daddy?" jerry bicara sambil menatap foto yang ada di layar ponselnya. dia sengaja menjadikan shine dan gladis foto di layar depan ponselnya. dia ingin bersemangat sedikit untuk menjalani hidup sehari-hari.
Jerry melihat ke sekeliling kamarnya yang sangat luas dan tidak begitu terlalu banyak barang itu semakin membuat hati jerry merasa sakit. dia yang sudah terbiasa mendengar tangisan bayi bahkan dia juga memiliki banyak barang Shine di kamarnya di rumahnya yang besar. Hampa terasa dirinya tanpa kehadiran dua wanita itu.
"Aku harus menemuinya. aku sudah tidak sanggup lagi untuk tidak memeluknya."
Dia sampai di pintu gerbang masuk dan dia membawa serta mobilnya masuk ke dalam desa. butuh waktu dua puluh menit jika ke rumah gladis menggunakan mobil sedangkan berjalan kaki perlu tiga puluh lima menit. selain memakan waktu, juga akan membuat tubuhnya kelelahan.
Jerry menghentikan mobilnya dan dia lihat rumah itu sudah tidak menyala lagi lampunya. " Pasti dia sudah tertidur sekarang. Aku ingin sekali melihatnya." jerry meletakkan kepalanya di badan stir mobil.
Dia sangat putus asa karena tidak bisa melihat gladis. dia menjadi lesu karena gagal untuk melepas sedikit rasa rindunya.
"Eaak ... Eaaak." terdengar begitu kencang suara tangisan bayi. Jerry langsung tersadar dan menjadi cemas.
Suara tangisan bayi semakin terdengar keras. Gladis yang berada di dalam rumah sedang berusaha membuat shine tenang.. Namun, sayangnya shine tidak kunjung berhenti menangis. gladis menjadi gelisah dan dia memegang dahi putrinya.
"Shine, kamu badannya panas sekali." Gladis mendapati suhu tubuh putrinya panas. dia langsung mencari pengukur suhu tubuh dan meletakkannya di antara ketiak shine.
__ADS_1
"ya ampun sayang, tinggi sekali suhu badanmu. kita harus segera pergi ke klinik." Gladis langsung bersiap. dia meraih gendongan yang ada di sisi kasur lalu mengangkat tubuh putrinya untuk di gendong.
gladis membuka pintu kamar dan dia langsung membuka pintu rumahnya sambil terus menenangkan shine. Gladis yang membuka pintu dan keluar rumah tidak menyadari adanya seseorang yang sedang berdiri di depan teras rumahnya.
"Shine, ada apa dengannya?" tanya jerry.
Gladis yang terkejut dengan kehadiran jerry tidak bisa masuk kembali ke dalam rumah untu menghindar dari pria itu karena mengingat Shine butuh penanganan dokter.
"Aku tidak bisa meladeni kamu. aku harus pergi." Gladis berjalan melewati jerry.
"Apa kamu akan pergi dengan kondisi shine yaang menangis kejar?" tanya jerry.
"Bukan urusanmu." Gladis terus berjalan, tapi jerry berhasil menggapainya.
"Berikan Shine kepadaku, dan kamu naiklah ke dalam mobil, aku akan mengantarmu ketempat tujuanmu." jerry memaksa mengambil shine, dia ingat sekali shine selalu tenang di dalam gendongannya, makanya dia ingin kembali melakukannya.
Jerry menyentuh sedikit bagian tubuh shine dan dia menarik kembali tangannya.
"Tubuhnya panas sekali. apa dia demam? sejak kapan?" tanya jerry yang sangat khawatir.
"Sejak tadi sore, sore aku sudah memberinya obat. Namun, tadi dia menangis kencang dan aku rasakan tubuhnya tambah panas." Gladis tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
"Sebentar." jerry menelepon seseorang.
"Biar aku gendong dia dulu." Jerry mengambil ali shine dan langsung menggendongnya. di dalam gendongan jerry dia langsung berhenti menangis.
"Anak Daddy yang cantik. kamu pasti juga merindukan Daddy. Daddy akan membawamu ke dokter."
melihat anaknya langsung tenang dalam gendongan pria yang membuatnya patah hati, menjadikan gladis merasa gelisah. dia tidak mau termakan permainan pria lagi.
"Bos, saya sudah di sini." Bimo sampai di rumah Gladis.
__ADS_1
"Kamu bawa mobil saya dan kita cari klinik terdekat. apa kamu tahu klinik di sini?" tanya jerry kepada Gladis.
Gladis langsung mengangguk dan mereka langsung masuk ke dalam mobil. bimo langsung mengendarai mobilnya sedangkan Gladis dan Jerry duduk di bangku penumpang dengan shine yang masih di dalam dekapan jerry.