
~Anakku Sayang~
Gladis yang sudah tidak terikat oleh tali, kini bebas bergerak, dirinya di tinggal sendirian di sebuah kamar besar, yang di dalamnya terdapat tempat tidur king size, sofa, kulkas kecil, kamar mandi beserta bathtub di dalamnya, lemari besar, yang berada di ruang ganti, lengkap dengan semua perlengkapan pakaian wanita dan juga pakaian bayi.
"Apa dia yang menyediakan ini semua? apa dia telah mengetahui semua tentang kehidupanku?" tanya Gladis kepada dirinya sendiri.
Gladis merasa semua ini bukanlah hal yang serba kebetulan, baju wanita lengkap dengan **********, baju-baju bayi lengkap dengan peralatan mandi, susu dan juga terdapat beberapa kotak susu formula untuk sang bayi.
Gladis menyentuh semua barang yang ada di dalam kamar. "Siapa dia sebenarnya? kenapa dia bisa tahu tentang diriku?"
Semua pertanyaan itu semakin banyak yang keluar dari dalam otak Gladis, tapi dia tidak bisa menjawabnya., dia tidak menemukan sedikitpun jawaban, karena semua ini benar-benar terasa aneh.
Ceklek.
Seseorang membuka pintu kamar yang di tempati oleh Gladis, dan masuklah seorang wanita muda yang usianya sekitar dua tahun di bawah Gladis.
Gadis itu menggendong bayi dan dia berpakaian seperti seorang baby sitter.
Melihat mereka berdua yang masuk, rasa takut Gladis hilang seketika, dia langsung berlari menghampiri gadis muda itu setelah melihat bayi yang ada di dekapan wanita muda itu.
"Shine, apa benar dia Shine?" Gladis langsung mengambilnya dari gadis muda itu dan memastikannya, lalu memeluk Shine dengan penuh kerinduan.
"Jadi, kalian juga membawa Shine kemari? lalu bagaimana dengan teman wanitaku? apa dia di sini juga?" tanya Gladis panjang lebar.
Perawat itu menggeleng. "Tidak," jawabnya.
"Lalu, di mana temanku? di mana sahabatku?" Gladis bertanya sambil berteriak.
"Hei! Berisik! jangan membuat kegaduhan di sini, atau kami akan mengadukan sikapmu kepada Tuan kami!" kata pria yang berjaga di depan pintu depan.
"Ya Tuhan! banyak sekali penjaga yang berjaga di depan kamar, bagaimana cara agar aku menerobos keluar?" batin Gladis saat melihat keluar kamar.
.
.
.
.
Nick mendapat panggilan suara dari Naura.
"Hallo, kak." Nick mengangkat telepon.
"Aku akan kesana sekarang, Kakak, tunggu aku!"
Nick langsung menutup telepon dan langsung berjalan menuju motornya yang sudah standby di depan rumah bordir, Nick langsung menarik gas tangan dan pergi menuju rumah Gladis untuk menemui Naura.
__ADS_1
"Kak Gladis, di mana kamu sebenarnya? aku bukan hanya menghawatirkan dirinya, tapi sekarang aku juga mengkhawatirkan Kakakku, meski kami bukan saudara kandung, tapi bagiku, Kak Naura keluargaku satu-satunya," Nick bergumam dalam hati sambil terus fokus mengendarai motornya.
.
.
.
Naura yang sedang menunggu kedatangan Nick, berusaha untuk menghubungi Gladis.
"Gladis, kamu kemana? Shine maafkan Mami yang tidak bisa menjaga dirimu!" Naura menangis sesenggukan di lantai rumah Gladis.
Naura merasa bersalah, tapi dia juga kebingungan kenapa di saat yang sama Gladis dan Shine menghilang.
"Siapa sebenarnya mereka? apa mereka yang mebawa kalian berdua? tapi kenapa? apa yang diicar mereka dari kalian?" Naura berusaha berpikir siapa orang yang sangat menginginkan Gladis.
Gladis memang seorang penari, tapi banyak sekali pria yang ingin menjamahnya, hanya saja mereka harus menahan itu semua, tapi apa benar, salah satu dari mereka yang menculik Gladis? pertanyaan itu semua mungkin saat ini ada di pikiran Naura.
Nick langsung masuk ke dalam rumah Gladis. "Kak, kakak, kakak tidak apa-apa?" berulang kali Nick memanggil Naura yang dilihatnya sedang terkapar di lantai sambil bercucuran air mata.
Seorang adik laki-laki yang tidak miliki hubungan darah sedikitpun dengannya, sangat perhatian dan sangat mencemaskan dirinya, Nick dan Naura sejak kecil di anggap anak oleh wanita yang menjadi pengelola rumah bordir yang sekarang dijalankan oleh Naura dan Nick.
"Aku tidak apa-apa, sekarang bawa aku pulang, dan jangan sampai hilangnya Gladis dan Shine tercium oleh siapapun, aku akan menyelidikinya sendiri." Naura berusaha bangun dengan bantuan Nick.
Nick langsung memapah kakak angkatnya menuju motor yang dia parkir di depan rumah Gladis.
.
.
.
Gladis memandangi wajah putrinya. "Anakku sayang, Anakku malang, maafkan Mama yang tidak bisa menjadi ibu yang baik, andai Mama punya pekerjaan yang lebih baik, mungkin kejadian ini tidak akan pernah menimpamu, tidak akan menimpa kita berdua."
Gladis menangis, menyesali semua pkerjaannya kini, tapi mau dipikir berulang kalipun, pekerjaan inilah yang bisa menghidupi dirinya, dia tidak mungkin bisa mengurus Putrinya jika bekerja di tempat lain yang mengharuskan bekerja pagi sampai sore bahkan malam, atau bekerja shift.
Gladis menyanyikan sebuah lagu untuk putrinya, dia menimang-nimang Shine didalam dekapannya.
.
.
.
Senandung yang dilantunkan oleh Gladis terdengar sampai keluar kamar, dua orang yang berjaga di depan pintu kamar saling berpandangan.
Tidak berapa lama seorang pria menghampiri mereka dan mengurungkan niatnya untuk membuka pintu kamar.
__ADS_1
"Sepertinya dia sedang menidurkan putrinya, kalian jaga dia, jangan sampai lengah, jika kalian kehilangan dirinya, jangan harap kalian akan selamat dari diriku!" ancamnya sebelum pergi dari hadapan kedua pria bertubuh kekar itu.
"Baik Tuan, kami akan menjaga ketat mereka berdua, kami pastikan akan bekerja dengan baik dan tidak akan mengecewakan tuan," jawab salah satu pria tersebut.
Pria itu kemudian kembali menggerakkan kakinya menuruni anak tangga yang tidak jauh dari ruangan yang di tempati Gladis.
.
.
.
.
"Apa yang kalian lakukan? kenapa kalian bisa kehilangan jejaknya?" tanya seorang pria paruh baya yang bersuara sangat lantang.
Pria itu memarahi beberapa orang yang ada di hadapannya, dia tidak puas dengan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka.
"Mengikuti dia saja kalian tidak becus! selama ini tugas yang saya berikan beberapa kali gagal jika berurusan dengan anak itu! kalian sangat bodoh!" teriaknya lagi.
"Sudah ... sudah, jaga emosimu, jangan sampai sakit jantungmu kumat lagi, hanya karena memikirkan dia." Seorang pria yang berada disampingnya, mengelus lembut dada pria itu.
Wanita muda yang sering menemani pria paruh baya itu kerap kali menenangkannya, tingkah laku sang anak yang selalu membuat geleng-geleng kepala.
.
.
.
.
Seorang pria masuk bersama Jerry ke dalam rumah, lalu pria itu membisikkan sesuatu kepada dirinya.
"Jadi dia masih menyuruh orang untuk mengikutiku? Dia pikir aku akan mudah didapatkan?" decak kesal Jerry.
Jerry menyunggingkan senyuman di bibirnya, dia tidak heran jika ayahnya masih penasaran terhadap dirinya dan juga kehidupan pribadinya, seringkali beberapa orang mengukuti kemana Jerry pergi tapi sayang, mereka akan kembali kehilangan jejak Jerry, Jerry lebih lihai dan pintar dari pada ayahnya.
"Dia pikir, semudah itu menangkap kembali belut yang sudah lepas ditangan?" gumam Jerry.
.
.
.
.
__ADS_1