
~Aku adalah nyonya~
Gladis tidak mengenal wanita yang kini berdiri di hadapannya. Wanita itu juga sedang asik melihat-lihat sekeliling rumah.
"Rumah yang sangat bagus. sepertinya aku hanya perlu sedikit mengganti dekorasinya saja." wanita itu kemudian kembali menatap Gladis.
"Apa kamu asisten rumah tangga di sini?" tanyanya seperti sedang mengejek.
"Ma-maaf. Di-dia nyonya di sini." seorang asisten rumah tangga menyahut dengan sangat gugup.
"Nyonya? apa kamu yakin? apa kamu tidak tahu siapa aku?" tanyanya dengan sangat sombong.
Mereka menggeleng semua. Mereka memang tidak tahu siapa wanita muda yang ada di hadapan mereka saat ini.
__ADS_1
Pakaian modis, riasan yang sedikit mencolok dan rambut yang di kuncir kuda. wanita itu tampak sangat sempurna sebagai seorang wanita muda. terlihat kalau dia bukanlah wanita muda biasa. pasti dia dari kelas atas. alias keluarga kaya raya.
"Perkenalkan aku adalah Hazel. tunangan dari Jerry. tuan kalian semua. jadi akulah yang akan menjadi nyonya di rumah ini. bukan wanita ini. aku yang harus kalian hormati bukan wanita ini. sekarang aku minta kalian sediakan minuman dingin untukku. diluar cuacanya cukup panas sehingga membuat tenggorokanku terasa kering." Hazel kemudian duduk seperti seorang nyonya besar dengan kaki menyilang.
"Ba-baik." mereka langsung pergi ke dapur membuatkan minuman dingin.
Gladis masih mematung tak mengerti dengan keadaan saat ini. Dia mendengar jelas kalau wanita itu adalah calon tunangan dari pria yang sudah mampu merebut hatinya.
Terasa sesak di dadanya. Dia merasa kembali tertipu dengan pria. dia tidak menyangka pria yang mengaku cinta dan sorot matanya yang terlihat sungguh-sungguh dan sangat tulus itu ternyata telah memiliki tunangan.
Ditanya seperti itu jelas jawabannya adalah Iyah, tapi gladis tidak bisa bicara sepatah katapun karena masih terasa tersakiti.
"Ini minumannya." Asisten rumah tangga membawakan minuman dingin untuk Hazel.
__ADS_1
Melihat asisten itu membawakan minuman. Gladis menghela nafas dan mengontrol perasaannya agar tidak terlihat jelas kekecewaan diwajahnya.
"Kamu, kemari duduklah." Hazel menepuk sofa satunya yang terletak di sampingnya.
Gladis berjalan menuju sofa dan duduk di sana dengan gerakan yang sangat kaku.
"Wanita kampung, kamu dengar ya. aku adalah tunangan Jerry. jadi aku harap kamu tidak mencoba merayunya. Aku tahu dia selalu baik kepada wanita yang membutuhkan pertolongan. dia melakukan itu hanya karena rasa ibanya yang tinggi." Hazel begitu mengintimidasi Gladis.
Gladis mengerti sekali apa maksud wanita itu. Dia juga pernah merasakan bagaimana sakit hatinya ketika orang yang kita cintai memperhatikan wanita lain.
"Oh ya. aku juga tidak mau melihatmu berkeliaran di rumah ini. jadi ini aku berikan untukmu uang untuk mencari tempat tinggal dan untuk kamu makan sampai mendapatkan pekerjaan. aku tekankan lagi. kalau aku tidak mau kamu berada di dekat calon suamiku. menjauh darinya!" Hazel meletakkan amplop coklat berisikan uang.
Hazel bangkit dari duduknya dan segera meninggalkan Gladis. Gladis hanya bisa menatap amplop yang itu saja tanpa berkata apapun. Hatinya terasa hancur untuk kedua kalinya, tapi kali ini rasa sakit itu lebih besar dari yang pertama saat dia melihat perselingkuhan suaminya.
__ADS_1
Bagi Gladis, Jerry adalah orang yang mampu membalut luka dihatinya dan mampu meyakinkan dirinya untuk membuka hati kembali. Maka dari itu Gladis mencoba kembali membuka hati hingga dia jatuh cinta kepada Jerry. Tak disangka ternyata hatinya kembali terkoyak hingga dia tak mampu bertahan kali ini.
Gladis membawa amplop coklat berisi yang itu ke dalam kamarnya. Dia kemudian menangis sambil meremas amplop coklat itu. Dia merasa diperlakukan seperti seorang pengemis oleh Hazel. Namun, apa daya dia tak bisa melawan. karena memang posisinya salah sebagai seorang wanita yang tidak memiliki ikatan pernikahan, tapi tinggal di rumah seorang pria.