Sang Penari ( Kisah Seorang Singel Parents, Yang Menjadi Penari Malam )

Sang Penari ( Kisah Seorang Singel Parents, Yang Menjadi Penari Malam )
SP 65


__ADS_3

~ Siasat jahat ~


Gladis selesai dengan dagangannya dia lalu merapihkan semua barang dan memasukkannya ke dalam rumah.


"Shine, kamu tunggu dulu ya di sini. mama mau membereskan barang-barang ini." Gladys meletakkan putrinya di dalam kamar sedangkan dia menuju dapur untuk mencuci semua barang-barang setelah berdagang.


Gladys mencuci semua barang-barang sedangkan Shine bermain sendirian di atas kasur. Untung saja gadis kecil itu selalu anteng ketika mamanya mau beres-beres rumah.


Selesai dengan semua pekerjaan rumah dan memasak Gladis langsung menuju ke dalam kamarnya dia lagi. di sana dia sangat terkejut ketika melihat shine sudah berada di dalam gendongan seseorang yang wajahnya familiar di ingatannya.


"Mau apa kamu? jauhkan tanganmu dari anakku." kata Gladis dengan tegas.


"Hem ... kamu mau dia kembali kepadamu?" tanya Hazel dengan tatapan mautnya.


"Hazel, aku tidak pernah mengusik hidupmu. kenapa kamu harus mengganggu hidupku dan bahkan membawa anakku kedalam kemarahan mu?" tanya Gladis.

__ADS_1


"Kamu tidak pernah mengusik hidupku? justru kamu adalah orang yang selalu membuatku tidak nyaman selama hidupku. seharusnya aku sudah bisa menjadi ratu di keluargaku sendiri. hanya karena kamu, aku harus selalu dalam posisi terasingkan." Tutur Hazel yang membuat Gladis menaikan satu alisnya.


"Jangan ngaco kamu. aku tidak o nah mengenalmu sebelumnya. aku juga tidak pernah memiliki urusan denganmu di masa lalu." Cecar Gladis.


"Tidak perlu banyak bicara. kali ini aku mau kamu pergi jauh. jika tidak anakmu akan menjadi sasaran kemarahanku."


"Jangan main-main dengan putriku. aku tidak bisa membiarkan dirimu melukainya." Gladis maju dan mau merebut shine. namun, sayangnya dia langsung di pukul dari belakang dan pingsan.


"Ini akibatnya karena bermain-main denganku. aku tidak akan pernah membiarkan kamu memiliki semuanya. aku tidak menyangka kamu memiliki nasib yang sangat bagus. cucu dari seorang konglomerat dan mendapatkan cinta dari pria yang sukses dengan bisnisnya. aku tidak rela melepaskan semua yang sudah aku nikmati selama ini." Hazel berjalan keluar dari kamar Gladis.


anak buah hazel menggendong Gladis dan membawa ibu satu anak itu masuk ke dalam mobil. Mereka akan pergi ke suatu tempat. Hazel sudah menyiapkan tempat untuk membuat Gladis bungkam selama-lamanya.


ketika Gladis dan shine masuk ke dalam mobil. Naura melihatnya. dia dan Nick ingin mengejar, tapi mobil itu melesat dengan sangat cepat.


"Cepat kamu hubungi satria. Gladis pasti dalam bahaya saat ini." Naura meminta adiknya menghubungi satria.

__ADS_1


Nick langsung mengikuti perintah kakaknya. Dia menghubungi satria untuk memberikan kabar yang mereka lihat.


"apa katanya?" tanya Naura yang napasnya tersengal-sengal akibat kelelahan mengejar mobil sedan hitam itu.


"Mereka akan segera sampai. mereka sudah dekat dengan desa ini." Nick menjawab pertanyaan kakaknya.


"Ada apa ini? siapa wanita itu? kenapa dia membawa shine? dan kenapa Gladis tidak sadarkan diri. apa Gladis sakit? atau jangan-jangan dia di culik?" Naura memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi.


"Kak, jangan bicara hal buruk seperti itu. Kita tunggu pak Jerry dan juga satria." Saran Nick.


"Aku sempat memotret wanita yang menggendong Shine. kita bisa bertanya kepada orang sekitar. siapa tahu mereka mengenal wanita ini." Naura memberikan ponselnya kepada Nick.


mereka berdua mulai menanyakan wanita yang gambarnya sempat diambil oleh Naura.


"Kami tidak mengenalnya. sepertinya bukan orang dari desa ini." Ujar salah satu warga yang mereka tanyai.

__ADS_1


__ADS_2