
~Macan Hutan Kembali~
Mengetahui dirinya selalu tidak didengar dan papinya selalu saja membuatnya kesal. Jerry keluar dari rumah orang tuanya dengan perasaan yang sangat kesal.
"Aku akan membuat matamu terbuka lebar. jangan salahkan aku jika kamu akan kecewa dengan dirimu sendiri."
Jerry yang sangat kesal hanya berjalan melintasi setiap ruangan tanpa melihat mereka yang sedang memberi hormat kepadanya. Jerry nampak begitu geram dengan sikap papinya yang tidak pernah bisa melihat gajah tampak di pelupuk matanya sendiri.
Sudah jelas bagi Jerry papinya sejak awal tidak bisa berpikir dengan baik semenjak mengenal ibu tirinya itu. Bahkan sekarang papinya ingin menikahkan anaknya dengan wanita yang tidak patut masuk ke dalam keluarganya.
"Kalian semua, segera cari semua bukti tentang dia. kalian berikan kepadanya segera. Aku mau kalian bergerak sekarang juga." Perintah Jerry kepada anak buahnya.
Sebagai seorang anak dia memang berkewajiban untuk menjaga orang tuanya. Namun, sebagai seorang pria dia harus memberikan nasehat dan pencerahan agar papinya bisa melihat dan membuka matanya lebar-lebar untuk mengetahui kenyataan yang selama ini tak pernah dia ketahui sama sekali.
...****************...
Wihardja juga mengalami kekesalan yang cukup besar. dirinya yang sama sekali tidak memahami putranya dan pemikiran putranya. hanya bisa mendengus kesal melihat sikap putranya yang kaku dan keras kepala.
Mereka berdua bahkan bertahun-tahun lamanya sering bertengkar bahkan saling menyakiti.
"Haruskan aku melakukan kekerasan lagi kepadamu seperti dulu? tapi dulu kau adalah seorang anak remaja yang tidak bisa sedikitpun menyentuhku. kini kau telah dewasa, bahkan aku sekarang yang tak bisa menyentuhmu. sebenarnya apa maumu Jerry. Papi bahkan tidak mengenal dirimu sejak kepergian mamimu." keluh Wihardja.
Ceklek
pintu terbuka dan istrinya membawa sang anak ke hadapannya.
__ADS_1
"Sayang, aku lihat tadi Jerry kemari. apa ada masalah?" tanyanya.
"Hai, anak papi. Sini sayang. papi mau peluk kamu." Wihardja kemudian menggendong putranya dengan sangat hati-hati karena baru berusia sepuluh bulan.
Maya hanya bisa tersenyum kecut. Entah kenapa Wihardja seperti mengabaikan dirinya. Namun, bukan Maya namanya kalau tidak bisa membuat suaminya kembali menginginkan dirinya.
"Sayang, berikan Willy kepadaku." pinta Maya.
"Aku baru memeluknya. kenapa kamu malah memintaku melepasnya?" tanya Wihardja.
"Sudah berikan saja dia kepadaku." Maya langsung meraih putranya dari tangan suaminya.
Dia keluar ruangan dan memberikan putranya kepada sang baby sitter. Tak lama Maya kembali ke ruangan suaminya dan langsung membuka satu persatu kancing bajunya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Wihardja yang seakan tak tergoda oleh istrinya.
Tanpa aba-aba Maya langsung ******* bibir suaminya yang kaya raya itu. Dia bahkan membuat suaminya tak bisa berkutik. kemampuan Maya sebagai seorang istri patut diacungi jempol. Dirinya bisa sangat buas ketika merasa posisinya terancam. Dengan gaya erotisnya Maya melucuti satu persatu pakaian suaminya.
Wihardja hanya bisa mendesah menikmati setiap serangan yang diberikan istrinya. Wihardja tidak akan pernah bisa menolak jika istrinya sudah menawan dirinya.
"Lakukan dengan cepat. aku sudah tidak bisa menunggu lama." bisik Wihardja sambil menggigit kecil daun telinga istrinya.
Maya mengerlingkan salah satu matanya. Dia mempercepat gerakannya dan siap bergoyang dengan sangat menggoda diatas tubuh suaminya. Begitulah cara Maya agar posisinya tetap aman di hati dan juga di rumah suaminya.
...****************...
__ADS_1
"Satria, apa kalian sudah menemukan dimana Gladis?" tanya Jerry saat dia berpapasan dengan satria di depan pintu rumahnya.
"Saat ini belum ada informasi apapun, pak. Saya sudah mencoba bertanya kepada beberapa tetangga hanya saja tidak ada satupun yang mengetahui keberadaannya saat ini. ada informasi kalau saat kedua orang tuanya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. sejak itulah dia hidup sebatang kara." Jelas satria.
"Aku mau kalian segera menemukannya. Atau hidup kalian yang akan menjadi sasaran amukan ku. Jika kalian bisa bekerja dengan sangat baik. tidak mungkin hal ini terjadi." Jerry begitu marah.
Jerry kembali melempar tatapan tajam yang bisa menembus dan menusuk mata mereka semua. Ujung pisau yang tajam akan kalah tajam dengan tatapan tajam bos mereka itu.
Brak!
Pintu di banting sekuat tenaga oleh Jerry sehingga tertutup dan memberikan efek suara yang menggelegar. Mereka sontak melompat setelah mendengar bunyi yang hampir saja membuat jantung mereka mendadak copot.
"Bagaimana ini pak satria? jika kita tidak menemukan nyonya Gladis dan Nina shine. tamatlah riwayat kita semua." Salah satu anak buahnya merasa tertekan dan sangat resah.
"Jangan khawatir. kita coba mencarinya lagi dan bekerja sebaik mungkin. yakinlah kalau pasti akan menemukannya." Satria menepuk pundak anak buahnya.
Satri juga sebenarnya sangat merasa takut dan sangat kecewa kepada dirinya sendiri karena gagal menjadi seseorang yang memegang amanah.
Mereka semua benar-benar baru saja mendapati kenyamanan saat bekerja. dan sekarang karena kejadian ini. mereka kembali dalam genggaman dan ancaman macan hutan yang selalu mereka takuti melebihi apapun itu.
.
.
.
__ADS_1