
~Terima Kasih~
Jerry membawa Gladis ke sebuah ruangan tidur.
"Ini kamar kalian. Jangan pernah coba-coba kabur ya."
"Maaf, aku bukan mengancam dirimu. Aku hanya mengkhawatirkan keselamatan kalian."
Tatapan mereka beradu saat ini. Gladis memeriksa sorot mata pria yang sedang di hadapannya.
.
.
Wiharja kembali bertemu dengan Kertajaya di sebuah restoran. Mereka bertemu berdua untuk membicarakan tentang perjodohan anak-anak mereka.
Wiharja masih sangat berharap kalau perjodohan ini akan berhasil. Dia mau putranya memiliki pendamping yang baik seperti dirinya saat ini.
"Bagaimana Pak Wiharja? Apa putramu sudah setuju untuk menikah dengan putriku?" tanya Kertajaya.
"Aku sedang berusaha membujuknya."
Wiharja merasa letih dengan usahanya yang sia-sia.
"Apa putramu masih berhubungan dengan wanita penari itu?" tanya Kertajaya.
__ADS_1
"Menurut informasi, dia masih bersama wanita itu." Wiharja menjawab pertanyaan sahabatnya.
Kertajaya merasa dirinya tidak dihargai. Sebab sejak awal mereka menyepakati perjodohan. Wiharja sama sekali tidak terlihat usahanya untuk mendekatkan Jerry dengan putrinya Hazel.
"Aku harap kamu bisa menjauhkan mereka. Jika berita ini tercium oleh media. Sudah pasti akan berpengaruh kepada bisnismu." Kertajaya memperingati Wiharja.
Mendengar peringatan sahabatnya. Wiharja menjadi semakin kesal dan merasa terancam, tapi jika dia membatalkan perjodohan sudah pasti beritanya lebih cepat menyebar.
"Aku akan segera membawanya untuk melamar putrimu." Wiharja berusaha tenang.
"Aku akan menunggumu. Rencana kerjasama kita harus terlaksana. Maka dari itu pernikahan ini harus terjadi." Kertajaya berdiri dan meninggalkan Wiharja.
"Kurang ajar!" Wiharja berteriak kesal. Dia merasa Kertajaya tidak menghormatinya lagi. Padahal dulu dia sangat hormat dan menggebu.
"Aku harus menemui putraku secepatnya. Aku harus memaksanya."
Keinginan Wiharja untuk menikahkan putranya dan putri Kertajaya malah membuatnya menjadi terjebak. Disaat dia ingin menikahkan putranya malah putranya memiliki skandal dengan wanita lain.
.
.
Suasana malam sudah mulai datang. Jerry yang masih sibuk di kamarnya dan berkutat dengan laptopnya hampir tidak menyadari kalau hari sudah mulai gelap.
Ketukan pintu terdengar dari depan. Jerry meregangkan tubuhnya sedikit dan langsung bangkit untuk membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
"Gladis?" Jerry terkejut Gladis sudah berdiri didepan kamarnya.
"Maaf. Saya hanya ingin memberitahukan kalau hari sudah malam. Makan malam sudah siap." Gladis membalikkan badannya setelah memberitahu Jerry.
"Tunggu." Jerry menghentikan langkah Gladis.
Gladis menghentikan langkahnya dan kembali menoleh ke arah Jerry.
"Siapa yang siapkan makan malam?" tanya Jerry.
"Saya. Maaf karena di kulkas hanya ada beberapa bahan saja. Jadi saya membuat masakan sesuai bahan yang ada."
Jerry memang tidak mempekerjakan asisten rumah tangga yang menetap di rumahnya. Karena dia hanya butuh untuk membersihkan rumah saja jadi asisten rumah tangganya tidak menetap.
"Kamu memasak?" tanya Jerry.
"Benar, Pak. Saya memasak. Ini untuk ucapan terima kasih saya. Karena Bapak telah menyelamatkan Shine untuk kesekian kalinya." Gladis bicara tanpa menatap wajah Jerry.
"Baiklah. Saya akan ke ruang makan. Ikutlah makan bersama saya." Pinta Jerry.
Jerry menutup pintu kamarnya segera dan langsung pergi menuju ruang makan.
Jerry melihat beberapa masakan yang di masak oleh Gladis. Ayam goreng kecap, Nasi, Sayur tumis jamur. Semua itu sebenarnya bahan masakan yang dia hari lalu Jerry beli untuk dia masak. Jerry suka memasak di rumah jika libur bekerja. Dia pria yang bisa memasak.
"Duduk. Temani aku makan malam dan kamu juga ikut makan." Jerry melihat hidangan di meja makan membuat perutnya ingin segera terisi.
__ADS_1