Sang Penari ( Kisah Seorang Singel Parents, Yang Menjadi Penari Malam )

Sang Penari ( Kisah Seorang Singel Parents, Yang Menjadi Penari Malam )
SP 37


__ADS_3

~Kamu dimana?~


Jerry sangat senang sekali karena semua pekerjaannya sudah selesai lebih cepat. dia dengan segera memesan tiket untuk kembali ke Indonesia. Jerry sangat tidak sabar ingin memberikan kabar bahagia kepada Gladis. Dia sudah menyusun beberapa rencana bahagia mereka berdua.


"Aku tak sabar membagikan kabar bahagia ini kepada kamu. Kamu adalah orang pertama yang harus mendengar kabar baik ini." Jerry melihat sebuah kertas kecil yang ada di tangannya.


Jerry memasukkan kertas berbentuk persegi panjang itu ke dalam tasnya. Dia lalu mengembangkan senyumannya.


"Bagi para penumpang pesawat. Semua harap bersiap pesawat akan segera lepas landas."


Sebuah pengumuman terdengar. Jerry semakin senang. Dia tak sabar menemui wanita yang dicintainya.


Jerry banyak membayangkan hal-hal indah. Dia berharap perjalanan kisah cintanya bisa sesukses karirnya sebagai seorang pengusaha. Dengan adanya Gladis dan Shine dalam hidupnya. Jerry semakin mengerti makna hidup dan dia mulai ingin mengutamakan kebahagiaan untuknya sendiri.


Jerry selama ini jarang sekali memikirkan perasaan lain yang ada di hatinya. bagi dirinya kepergian ibunya yang membuat dia kesepian dan tanpa arah adalah hal yang cukup membuat dia melupakan bagaimana caranya bahagia.


Kini dia ingin memperjuangkan apa yang membuat dia kembali hidup dan kembali bisa mengenal kebahagiaan.


...****************...


Satria dan seluruh anak buahnya, sedang berjuang mencari jejak Gladis. Dia benar-benar bingung mau mencari ke mana. Dia sudah mencari ke rumah lama Gladis dan Jaka. akan tetapi Gladis dan putrinya tidak ada. ada rasa putus asa di dalam hati Satria. namun, dia tidak bisa melakukan hal itu. dia harus terus mencari meski harus ke ujung dunia pun.


"Coba lacak ponselnya ada dimana." perintah satria kepada anak buahnya yang bertugas sebagai seorang IT.


Mereka langsung bergerak. sambil menunggu hasil pelacakan satria pergi ke rumah bordir milik Naura. dia belum mencari ke sana dan berharap calon nyonya besarnya ada di sana.


Besar harapan satria untuk menemukan Gladis. dia tidak bisa membiarkan kejadian buruk menimpa hubungan kedua insan itu.


"Sudah sampai, Pak." Supir satria menyadarkan lamunan.


Satria menatap rumah bordir itu dari dalam mobilnya dan memejamkan matanya.


Aku harap bisa menemukan Nyonya Gladis di sini.


Satria membuka pintu mobil dan keluar. dia berjalan hingga melewati dua penjaga yang sudah mengenalnya. Dia mempercepat langkahnya. dia mencari sosok wanita yang cukup dia kagumi. Diam-diam satria mengagumi Naura yang sangat tangguh membuka rumah bordir dan berani mengambil resiko.

__ADS_1


"Naura." Panggil satria.


Naura yang mendengar namanya di sebut. Dia langsung menoleh dan melihat seorang pria yang begitu gagah dimatanya berdiri tegap. Namun, dengan wajah yang cukup muram.


"Pak satria, ada apa kemari?" tanya Naura.


Naura menyeka tangannya yang tadi digunakan untuk mengelap meja dan menyusun kursi. Dia terus perhatikan wajah Satria.


"Silahkan duduk dulu dan bicaralah." Gladis duduk di bangku dan mempersilahkan satria untuk duduk.


"Tidak perlu duduk. aku kemari hanya ingin memastikan keberadaan Gladis saja. apa dia ada di sini?" tanya Satria sambil menatap Naura yang sedang duduk di kursi.


Mendengar satria mencari keberadaan Gladis. Hati Naura menjadi cemas tak terkira. dia sangat perduli kepada sahabatnya.


"Apa maksudmu menanyakan keberadaan dia? apa dia tidak bersama kalian? apa kalian kehilangan Gladis?" Naura membulatkan matanya dengan sempurna. ada rasa kecewa menjalar di seluruh hatinya sehingga membuat sesak.


Mata Naura langsung memerah dan cairan mulai membasahi bola matanya. melihat itu semua satria bisa mengetahui kalau Naura tidak mengetahui apapun saat ini. Satria membalikkan badannya dan berusaha melangkah keluar dari ruangan Naura. Dengan cepat Naura menghadangnya dan menatapnya lekat meminta penjelasan tentang semua yang di katakan satria.


"Apa yang terjadi sebenarnya? katakan kepadaku?" Naura menunggu jawaban satria.


"Aku harus pergi sekarang." Satria berusaha melewati Naura, tapi Naura kembali berhasil mencegah Satria untuk melangkah lebih jauh.


"Aku mohon, temukan sahabatku. Dia adalah keluarga yang begitu berharga untukku. Aku tahu kamu akan berusaha yang terbaik. Aku menunggu kabar dari mu. aku yakin kalian bisa menemukannya. Jaga dia dan lindungi dia. Berjanjilah kepadaku." Naura bicara tanpa menatap wajah Satria. dia berusaha mengontrol emosinya dan berusaha membuat Satria bersemangat.


Satria mengepalkan tangannya. Dia tak kuasa melihat wajah sedih Naura. Dia pergi meninggalkan Naura tanpa sepatah katapun. Perasaan Satria sangat kesal. semua ini karena ulah Hazel. si wanita ular yang membuat kacau semuanya.


...****************...


Jerry sudah sampai di bandara Internasional Soekarno-Hatta. Dia langsung pulang ke rumah. Dengan wajah berseri-seri dia membayangkan wajah bahagia Gladis setelah mendengar kabar yang akan dia sampaikan.


Satu jam sudah perjalanannya. dia melihat sebuah pagar yang menjulang tinggi dan setelah melihat Jerry keluar dari mobil. Kedua penjaga keamanan terbelalak. sebab satria bilang kalau bisa mereka akan pulang lusa.


"Se-selamat sore Bos." Mereka memberi hormat.


Jerry tidak menghiraukan kegagalan mereka saat menyapanya. Dia memberikan isyarat kepada kedua penjaga itu untuk menurunkan kopernya. sedangkan dia bergegas lari masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Mengetahui pintu rumah tidak terkunci. Jerry langsung membuka pintu dan masuk ke dalam rumah besar miliknya. dengan tergesa dia berlari menaiki tangga menuju ke lantai dua. dia melihat kamar Gladis yang terbuka sedikit. Dengan senyuman yang terus terukir di wajahnya dia membuka pintu kamar dan mencari wanita.


"Gladis, Gladis." dia mencari ke setiap sudut ruangan, tapi tidak ada.


"Gladis, Shine." Teriaknya dengan begitu lantang.


Mendengar suara pria memanggil-manggil nama Gladis dan Shine. asisten rumah tangga langsung berlari menjumpai sumber suara. Dia terkejut melihat bosnya ada di ujung tangga dan sedang menatapnya tajam.


"Dimana mereka?" tanya saat melihat wanita berpakaian seragam.


Wanita itu *******-***** tangannya dan memutar bola matanya lalu memejamkan ya sebentar. dia berusaha memberikan jawaban agar bosnya tidak marah dan khawatir.


"Dimana mereka?" teriak Jerry semakin menjadi.


Assisten rumah tangga dan kedua penjaga keamanan yang membawa masuk koper Jerry tersentak mendengar teriakan yang begitu memekakkan telinga mereka semua.


"Kenapa kalian diam saja? apa kalian bisu?" tanyanya sambil membuka kancing yang ada di kemejanya dan menggulung kemeja panjangnya.


melihat bosnya menggulung tangan kemeja, membuat bulu kuduk mereka merinding disko.


"nyonya dan nona Pe-pergi." jawab mereka dengan gugup.


"pergi? mereka berdua jalan-jalan?" tanya Jerry lega.


Mereka semua menggeleng. "Nyonya pergi tanpa berpamitan dan hanya meninggalkan sepucuk surat untuk tuan. suratnya ada di pak satria." Hanya itu yang bisa mereka beritahukan.


Jerry yang tak habis pikir menaruh satu tangannya di kening, sedang satu tangan lagi dia taruh di pinggangnya. dia memijat keningnya. Dia tak menyangka kepergiannya membuat dia kehilangan Gladis.


"Dimana satria?" tanya Jerry.


"Sedang mencari nyonya dan nona, tuan."


Jerry langsung menuruni anak tangga dengan langkah seribu. dia juga langsung mencari kunci mobilnya. dia menyalakan mesin mobil dan keluar dari gerbang rumahnya.


"Kamu dimana Gladis? Shine?" lirihnya hingga menangis.

__ADS_1


Semua hal yang sejak tadi dia bayangkan. Sirna sudah semuanya. Dia tak lagi bersemangat membayangkan momen indah itu.


__ADS_2