
~Memberi waktu~
Jerry sudah dua hari tidak menemui Gladis dan juga Shine. Rindu di hatinya sudah menumpuk. Dia memang tidak merindukan Gladis tapi dia merindukan Shine.
"Pak, ini berkas yang harus dipelajari. Berkas ini untuk meeting nanti siang." Satria menyerahkan beberapa berkas penting kepada Jerry.
"Sat, nanti sore coba kamu hubungi anak buahmu, aku ingin melakukan panggilan video. Minta mereka memperlihatkan kegiatan Gladis dan Shine." Jerry memberi perintah.
Satri merasa bosnya sedang dilanda angin rindu. Dia sedang galau pastinya, dia pastinya sedang menahan rindunya demi memberi waktu untuk Gladis.
"Apa perlu kita kerumah Bu Gladis?" tanya Satria.
"Tidak perlu, aku tidak mau Gladis mengira dirinya dalam tekanan." Jerry menolak tawaran Satria.
"Saya permisi dulu." Satria izin pamit.
Jerry langsung melihat album foto yang berada di ponselnya, dia mengganti wallpaper ponselnya dengan foto Shine. Sungguh pria yang kebapakan.
.
__ADS_1
.
Gladis mengajak Shine berkeliling kampung, dia ditemani oleh satu bodyguard. Sebenarnya dia sudah menolak tapi mereka tetap memaksa dan mengikuti Gladis.
Gladis menikmati suasana kampung halamannya,
"Shine, apa kita harus keluar dari kampung ini? Mama mau kita hidup berdua saja tanpa gangguan dari siapapun, tanpa khawatir kau direbut oleh pria itu." Gladis bicara kepada dirinya sendiri namun seolah tengah mengajak anaknya bicara.
Pria yang mengikuti Gladis menjaga jarak, tapi dia tetap bisa mendengar samar-samar perkataan Gladis.
Pria itu langsung menghubungi Satria diam-diam, pria itu tidak mau dicap pengaduan oleh Gladis.
"Kamu terus awasi. Jangan sampai lengah lagi." Titah Satria sebelum menutup teleponnya.
Gladis terus mendorong troli bayi, dia bertemu dengan beberapa tetangganya dan bicara sebentar.
Gladis merasa lebih segar setelah menyapa beberapa tetangganya.
"Gladis, kemana saja kamu? Sudah lama uwak tidak melihat kamu." Wanita paruh baya memanggilnya.
__ADS_1
"Maaf Wak, Gladis tinggal beberapa hari di rumah teman," Gladis menjawab pertanyaan dari wanita yang dipanggil uwak oleh beberapa gadis muda.
Gladis melanjutkan perjalanannya, dia mengambil jalan pintas untuk pulang ke rumahnya.
"Bu Gladis, kalau kelas saya bisa bantu mendorong troli Nona Shine." Bodyguard Gladis menawarkan diri membantu.
"Tidak perlu, tidak jauh lagi rumah kami terlihat." Gladis menolak bantuan bodyguardnya.
Sekarang Gladis tidak akan pernah mempercayai siapapun. Dia takut kalau orang itu bersekongkol dengan Jaka. Bagi Gladis, tidak ada niat orang yang bisa terbaca dan kita tidak akan tahu siapa yang akan berbuat jahat kepada kita.
Waspada adalah jalan satu-satunya yang bisa Gladis lakukan saat ini. Kelengahannya tempo hari tidak akan dia biarkan terjadi lagi. Gladis akan menjadi seorang ibu yang kuat untuk putrinya. Dia akan melindungi putrinya sendiri dengan kedua tangannya, Gladis tidak mau mengandalkan atau bergantung kepada siapapun saat ini dan disaat mendatang. Dia akan menjadi orang tua tunggal yang hebat dan bisa dibanggakan oleh putrinya. Shine dan dia akan hidup mandiri.
"Kita tidak boleh bergantung kepada siapapun, Nak. kamu dan Mama akan hidup mandiri bersama. Tumbuhlah menjadi anak yang hebat dan kuat. Jadilah selalu pelipur lara Mama. Mama sangat sayang Shine," tutur Gladis.
Gladis sampai di depan rumahnya.
.
.
__ADS_1