
~Darah daging~
Jerry tergesa-gesa masuk ke dalam rumah yang menjadi tempat penyekapan. Dia hampir terjatuh saat menaiki tangga sangking terburu. Pikirannya kalut, dia hanya memikirkan keselamatan Gladis dan Shine.
"Hah ... Hah ...." Jerry mengatur napasnya saat sampai di tangga paling atas, sambil menarik napas panjang pikirannya masih melayang.
Jerry kembali berjalan setelah napasnya teratur, dia segera sampai di depan kamar yang tak ada penjaga.
Brak
"Dia putriku!" Kata Jerry yang mendengar percakapan papanya.
Wiharja yang mendengarnya menjadi sangat marah, pengakuan putranya atas status seorang anak dari wanita penari malam ini, membuat hati Wiharja kecewa besar.
"Putrimu? Coba kamu ulangi lagi? Kamu ulangi lagi pernyataan itu!" teriak Wiharja sangking terbawa emosi.
"Dia putriku!" Teriak Jerry dengan lantang.
Mendengar pengakuan Jerry, Gladis menjadi terperanjat, matanya terbelalak, dia tidak menyangka pria asing itu mengakui putrinya sebagai anaknya.
"Dia adalah darah daging ku! Anak dari hasil benih cinta yang kami berdua lakukan, jika Papa menyakiti anakku! Maka aku tidak akan pernah tinggal diam." Jerry menatap mata papa nya penuh ancaman.
Sebagai orang tua jelas sekali Wiharja ingin putranya menikah dengan wanita baik-baik, wanita yang sebenarnya sudah dia siapkan, dia sudah merencanakan akan menjodohkannya dengan anak teman bisnisnya, tapi jika begini ceritanya, sudah pasti semua akan menjadi sulit, di satu sisi.
"Kalau begini, bagaimana aku bisa menjodohkan mereka, di satu sisi, putraku sudah memiliki seorang putri dari wanita ****** ini, sudah pasti putri itu adalah cucuku sendiri, tidak mungkin aku akan menyakitinya," batin Wiharja yang tidak mengetahui kebenarannya.
"Gladis, kamu tidak apa-apa?" Jerry menyentuh pipi Gladis yang terlihat masih merah, dia tidak menyangka, akan melibatkan wanita itu dalam kondisi buruk seperti ini.
Jerry memandang Gladis. "Maafkan aku, aku tidak pernah bermaksud menyeretnya dalam situasi mencekam seperti ini, aku tidak menyangka, mereka bisa menerobos pertahanan anak buah ku." Penyesalan sangat terlihat di mata Jerry dan Gladis bisa melihat itu.
__ADS_1
Air mata Gladis tumpah, dia melihat seorang pria yang ternyata kehidupannya meski bergelimang harta tapi tidak bahagia, Gladis juga terharu karena pria yang bukan siapa-siapa dalam hidupnya, bisa mengakui Shine sebagai anaknya.
Antara Jerry dan Gladis yang saling memandang, terlihat seperti seorang pria dan wanita yang saling mencintai, melihat hal itu membuat Wiharja kesal, dia langsung memisahkan mereka berdua.
"Kita bicara." Wiharja langsung menarik tubuh putranya menjauh dari Gladis dan keluar dari dalam ruangan.
Mereka berdua pergi ke sebuah ruangan yang berada di sudut rumah, Wiharja langsung menjatuhkan tubuh putranya disebuah sofa.
"Apa kamu gila? Kenapa kamu bisa memiliki anak dari seorang wanita yang bekerja di rumah bordir? Apa kamu sudah tidak bisa berpikir dengan normal setelah kepergian Mamamu?" Teriak Wiharja.
Perkataan papanya membuat Jerry tersenyum tipis, dia benar-benar tidak menyangka, papanya sama sekali tidak mengenal dirinya sedikitpun.
"Percuma aku jelaskan, karena aku yakin, Papa tidak akan percaya, tapi satu hal yang harus Papa tahu, dia bukan wanita seperti wanita yang kamu jadikan seorang istri! Mereka sangat jelas perbedaannya!" Tegas Jerry sambil bangun dari duduknya.
"Apa maksudmu?" tanya Wiharja.
Wiharja tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh putranya, apa perbedaan yang dimaksud dan apa yang diketahui putranya dan yang tidak diketahui olehnya.
Wiharja menyusul Jerry namun, saat dia sampai di ruangan penyekapan, Jerry dan juga Gladis sudah tidak berada di sana lagi.
"Sial! Ke mana mereka?" Gumamnya dan langsung menuruni tangga.
.
.
"Kita mau ke mana?" tanya Gladis sambil menggendong Shine.
Jerry dan Satria, serta anak buahnya berhasil melumpuhkan para penjaga, dia langsung mencari Shine dan membawanya ke pelukan Gladis.
__ADS_1
"Kalian! Jangan pergi!" teriak Wiharja sambil mengejar mereka.
Bima langsung menghadang langkah Wiharja, dia tidak mau Bossnya dalam pertengkaran lagi.
"Boss, kita sudah kalah, sebaiknya kita biarkan mereka, lalu kita menyusun rencana kembali." Bima memberi saran.
Wiharja menatap Bima kesal, ingin rasanya dia berteriak di depan wajah anak buahnya itu, tapi dia sadar apa yang dikatakan Bima benar, jika mereka memaksa sudah pasti kondisi mereka akan lebih parah lagi.
Wiharja melihat kondisi anak buah Bima, mereka sudah babak belur dihabisi oleh anak buah putranya yang terkenal tak terkalahkan.
"Aaaahhhh!" Wiharja berteriak meluapkan emosinya.
.
.
Gladis dan Jerry berada dalam satu mobil yang sama.
"Maafkan aku Gladis, aku tidak berniat untuk membuat kalian berdua celaka, aku janji, aku akan menjaga kalian lebih dari ini." Janji Jerry.
"Tidak! Aku tidak mau, aku mau pulang ke rumah ku, aku harus kembali, aku tidak mau nyawa putriku terancam." Tangisan Gladis pecah, dia benar-benar kalut ketika mereka berdua diculik, perasannya campur aduk sedangkan dirinya tak berdaya.
"Dengar Gladis, jika kamu tidak bersamaku, sudah pasti kejadian ini akan lebih parah lagi, saat ini izin aku melindungi kalian berdua, aku tulus menyayangi Shine." Jerry kembali menyiratkan ketulusan dari kedua manik matanya.
Gladis merasakan itu semua, tapi dia juga tidak bisa percaya seutuhnya kepada pria asing yang tidak sama sekali dia kenal.
"Izinkan aku kembali ke rumahku, bukan kah, kamu berjanji, akan membawaku bertemu dengan sahabatku? Dia pasti sudah sangat khawatir." Pinta Gladis.
Jerry mengangguk menyetujui permintaan wanita yang berwajah begitu teduh, pertama kali dia melihat wajah Gladis, sebenarnya hatinya begitu damai, apalagi saat dia melihat Shine, seakan dunianya kembali hidup.
__ADS_1