
~ Berkenalan ~
Gladis membuat beberapa masakan sejak jam tiga pagi. Dia membuat kulit risoles sendiri dan menggulungnya sendiri. Dia sangat beruntung shine begitu pulas tidurnya. Dia juga sangat bersemangat membuat beberapa menu akan akan dia jual selepas adzan subuh nanti.
"Syukurlah semua sudah selesai aku buat. tinggal aku tata di atas nampan saja." Gladis melihat hasil karyanya yang cantik-cantik.
Dia memang sangat jago dalam hal mengolah masakan. Dia sangat pintar membuat orang merasa puas dengan apa yang dia buat. Gladis bersiap untuk mandi agar tubuhnya menjadi bersih dan tidak bau. karena pedagang yang bersih dan wangi lebih di sukai orang karena mencerminkan orang itu selalu menjaga kebersihannya. jadi orang akan percaya masakannya juga pasti bersih.
Dengan cepat Dia membersihkan diri agar bisa menjual beberapa kue yang sudah dia buat. Gladis berharap kalau semua kuenya bisa disukai banyak orang.
.
.
.
__ADS_1
Gladis mengeluarkan semua dagangannya. "kue ... kue ... kue risol, banana roll dan kue putu Mayangnya. Kue sehat di jamin enak." teriak Gladis untuk mempromosikan dagangannya.
"saya beli risolesnya satu, kue putu Mayang satu dan roll banana. ini uangnya." ujar pria yang tempo hari mengenalinya.
"Ini kuenya." Gladis memberikan kantong plastik berisikan kue.
Dia menerima plastik kue dan langsung memakannya di tempat. Dia begitu menikmati kue buatan Gladis.
"Kue ... kue ... kuenya di jamin enak. rasanya tidak pasaran." Teriak pria itu setelah menghabiskan semua kue yang telah dibelinya dari Gladis.
"Saya mau di bungkus setiap jenis kuenya masing-masing tiga ya."
mereka semua langsung memborong kue-kue yang di buat oleh Gladis. Dagangan Gladis langsung ludes semua dalam waktu satu jam saja.
"Terima kasih." Gladis yang merasa terbantu oleh pria itu mengucapkan rasa terima kasihnya.
__ADS_1
"Sama-sama. aku membantu karena memang kue ini enak sekali. Jangan khawatir setelah ini kamu akan kebanjiran orderan. mereka semua memang orang kampung, tapi mereka rata-rata bekerja di instansi pemerintah. Di kampung kita terkenal sekali dengan sebutan kampung berilmu. karena penduduknya memiliki pendidikan yang baik dan pekerjaan yang sukses." Jelas pria itu.
Gladis baru tahu akan hal itu. karena dia memang meninggalkan desa ini sudah dua puluh tahun lamanya. semua sudah pasti berubah. hanya satu yang tidak berubah, semua penduduk di desanya hidup sederhana.
"oh ya, aku pergi dulu. karena aku harus berangkat ke sekolah." Ujarnya.
"Sekolah? kamu sudah sedewasa ini masih sekolah?" tanya Gladis sambil memperhatikan pria itu dari atas kepala hingga ujung kakinya.
Pria itu tertawa geli mendengar perkataan Gladis. "aku bilang sekolah bukan berarti seorang sisa. Aku adalah salah satu guru negeri di belakang kampung kita." katanya sambil terus terkekeh.
Gladis menjadi sangat malu karena ternyata dia salah menanggapi. "Maaf karena aku salah menanggapi perkataanmu." Gladis menundukkan wajahnya.
"Tidak apa. oh ya, kita belum berkenalan. Namaku Aldi." Aldi mengulurkan tangannya.
"Aku Gladis." Gladis menyambut uluran tangan pria yang ternyata seorang pegawai negeri dan seorang guru.
__ADS_1
Aldi berjalan mundur setelah mendengar nama wanita yang menjadi tetangga barunya itu. Aldi sangat senang bisa berkenalan dengan Gladis.