
~ Berusaha menghampirimu ~
Jerry mengendarai mobilnya sendiri menuju desa berilmu. dia ingin menemui dan melihat langsung wanita yang begitu dia rindukan beberapa hari ini.
Jerry mengendarai mobilnya tanpa rem sehingga dalam waktu satu jam saja dia sudah sampai di desa berilmu.
Dia ingin masuk. namun, pintu gerbang desa berilmu di jaga ketat oleh beberapa orang yang berpakaian seperti hansip. Jerry mencari cara agar bisa melewati ketiga hansip yang sedang bertugas di pintu gerbang desa.
Jerry mencoba mengalihkan ketiga hansip itu dengan melempar sesuatu ke arah samping. Jerry melihat pintu gerbang terbuka sedikit. dia melihat peluangnya untuk masuk ke dalam desa ada.
"Suara apa itu?" tanya salah satu hansip dan memeriksanya. Kedua temanya lalu mengikutinya untuk memeriksa juga.
Jerry yang melihat kesempatan. langsung menerobos masuk tanpa melihat sekitar lagi. Kini dia sudah masuk ke dalam desa dan dia mencari rumah yang di dikirimkan oleh Bimo kepadanya semalam.
"Dimana rumah ini? bagaimana aku bisa menemukannya jika begitu banyak rumah di sini." keluh Jerry.
Meski dia sempat mengeluh, tapi semangatnya tidak luntur. dia tetap mencari ke beberapa arah untuk menemukan rumah dan juga Gladis.
__ADS_1
Jerry yang sedang mengatur nafasnya tiba-tiba melihat rumah yang sama dengan yang ada di dalam foto. Dia kemudian menghampirinya. Dia bersembunyi di balik pohon besar dekat rumah Gladis. Jerry menunggu orang yang di cari olehnya. dia berharap bisa melihat wajah Gladis meski hanya sebentar saja.
"Shine tunggu di sini ya. mama mau keluarin dagangan kita." Gladis meletakkan shine di dalam stroller.
Dia kemudian mengeluarkan beberapa rantang berisi menu sarapan dan juga beberapa kotak yang akan diambil oleh beberapa tetangga yang memesan kue basah darinya.
"Hai, Gladis." sapa seorang wanita yang usianya tidak jauh beda dengannya.
"Hai, jenny."
memanggil jenny membuatnya teringat dengan Jerry. dua huruf yang sama membuatnya mengingat lagi pria itu.
"Gladis ... Gladis." seseorang memanggilnya.
Gladis langsung membuka matanya kembali dan melihat sosok yang familiar ada di hadapannya.
"Kamu." kata Gladis.
__ADS_1
"Iyah aku. memang siapa yang kamu harapkan ada di hadapanmu?" tanyanya.
"Tidak, bukan siapa-siapa dan aku juga sedang tidak memikirkan siapapun." Gladis berusaha menyembunyikan perasaannya.
"Pesanku apa sudah siap?" tanyanya.
"Ah, sudah. ini, semuanya jadi seratus lima puluh ribu." ujar Gladis.
"Ini uangnya. sisanya simpan untuk besok. pesanan untuk besok, lemper dan pastel. masing-masing lima puluh pcs."
Gladis langsung mencatat pesanan agar dia tidak lupa. pria itu tersenyum kepada Gladis dan pergi menjauh dari Gladis.
"ingin rasanya aku lama-lama menatap wajahmu. Hanya saja aku harus bekerja. apa sebenarnya yang terjadi kepadamu. kenapa kamu kembali ke desa ini setelah puluhan tahun tidak pernah pulang kampung. Dan kenapa kamu hanya bersama dengan bayi mungil itu di sini. Banyak sekali yang ingin aku tanyakan kepadamu."
Semua orang mungkin di desa itu memiliki pertanyaan yang sama untuk Gladis. hanya saja mereka mengetahui batasan terhadap urusan pribadi seseorang.
Mereka hanya bisa memperhatikan. Di sana ada aturan untuk tidak ikut campur urusan tetangga kecuali dalam keadaan darurat. Sehingga dengan peraturan itu membuat kampung berilmu sangat tenang dan tak ada satupun yang mengusik tetangga.
__ADS_1
Mereka sangat menjunjung tinggi rasa hormat terhadap urusan pribadi orang lain. Bagi mereka mengusik tetangga bukanlah hal yang mudah karena bagi mereka tetangga adalah saudara terdekat. jadi sudah seharusnya tetap di jaga.