
~Terhina~
Hazel yang mendapatkan perlakuan kasar dari Jerry tidak bisa menerima penghinaan tersebut. dia langsung meninggalkan butik miliknya dan pergi menemui papanya.
Hazel mengendarai mobil dengan kecepatan yang tinggi. dia ingin segera mengadukan apa yang diperbuat oleh Jerry.
"kita lihat saja Jerry. siapa yang akhirnya akan memiliki dirimu. aku tidak akan pernah mundur selangkah pun meski kamu telah menghinaku!" geramnya.
Hazel bukan wanita yang mudah digertak. Sikap mau menangnya selalu tertanam di hati. dia tidak akan pernah mudah melepaskan apa yang sudah dia inginkan termasuk ingin menjadi istri dari seorang Jerry. selain karena usaha keluarganya yang sedang tidak stabil. dia juga mencintai Jerry sejak mereka bertemu untuk pertama kalinya.
Hazel sampai di perusahaan keluarganya. dia sesegera mungkin turun dari dalam mobil. Dan segera berjalan menuju ruangan papanya yang berada di lantai tiga.
"Hazel?"
"Kamu kenapa sayang? kenapa wajahmu muram begitu?" tanyanya kepada sang anak yang wajahnya sudah tak biasa.
"Tadi Jerry menemui aku di butik. dia dengan entengnya menghinaku dan mengancam diriku. aku terima. aku mau dia menjadi milikku. karena penghinaan ini aku semakin tidak mau melepaskan dia." Hazel duduk di sofa sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Tenang saja sayang. papa pastikan kamu menikah dengannya. papa tidak akan pernah melepaskan tambang emas kita." Kertajaya memeluk putrinya.
Kertajaya sangat tidak senang ketika putrinya dihina oleh orang lain. Dia berjanji akan menekan Wihardja agar segera menikahkan anak mereka berdua.
__ADS_1
"penghinaan ini harus kau bayar Wihardja." ujar Kertajaya dalam hatinya.
...****************...
Selesai dia pergi menemui Hazel. Jerry pergi ke rumah besar yang di huni oleh sepasang suami istri yang sangat dia benci.
Jerry disambut dengan sangat baik di rumah itu. para pekerja lama sangatlah merindukan Herry yang sudah lama tidak pulang ke rumah.
"Tuan muda bagaimana kabarnya?" tanya Salah seorang wanita yang sudah lama merawatnya.
Wanita paruh baya itu sebenarnya ingin ikut dengan Jerry, tapi Jerry melarangnya ikut. Jerry ingin dia selalu mengawasi papinya dan juga istri baru papinya.
Jerry meski sangat benci kepada papinya, tapi dia tetap perduli kepada Wihardja. Jerry tidak mau wanita licik itu melukai satu-satunya anggota keluarganya yang tersisa.
"Tuan besar ada di ruangan kerjanya. mbok akan memberitahukan kedatangan tuan muda."
"Tidak perlu Mbok. biar saya saja yang langsung menemui papi di ruangan kerjanya."
Dengan langkah cepat Jerry melangkah ke arah ruangan kerja papinya.
Jerry mengetuk pintu dan Wihardja mempersilahkan masuk dirinya. Wihardja melihat anak pertamanya masuk dan dia terkejut.
__ADS_1
"Tumben sekali kamu datang ke rumah ini?" tanya Wihardja sambil beranjak dari tempat duduknya.
Mereka berdua sama-sama duduk sofa yang ada di ruangan itu. Jerry sudah memasang wajah tak enak sehingga Wihardja tahu kalau ada sesuatu yang terjadi.
"Kenapa papi mengizinkan hazel menginjakkan kakinya di rumahku?" tanya Jerry.
"Memangnya kenapa? diakan sebentar lagi menjadi istrimu. wajar dia melihat-lihat rumah yang akan dia tempati. dia mungkin akan sedikit merenovasi rumah itu." Jawab Wihardja dengan entengnya.
"Menikah? dengan wanita arogan dan tidak tahu diri itu?" tanya Jerry sambil melengos.
"Jerry jaga bicaramu. dia itu calon istrimu. tidak pantas kamu menjelekkannya." tegas Wihardja.
"Aku sepertinya salah datang kemari. Aku ternyata tidak lagi ada artinya untuk papi. semua ucapanku hanya angin lalu dianggap papi." Jerry bangun dari duduknya dan meninggalkan ruangan Wihardja.
.
.
.
.
__ADS_1