
~Menyepakati Perjanjian~
"Jangan berani menyentuh istriku!" ucap Jerry saat menghalangi seorang wanita yang tidak dikenalnya hendak memukul wanitanya.
Gladis, Mely dan Jaka terkejut, terlebih lagi Gladis dia tidak habis pikir kali ini Jerry mengatakan kalau dia adalah suami dari Gladis.
"Suami? Kamu bahkan belum bercerai." Jaka menatap pria yang mengaku suami baru istrinya.
"Maksudku, aku calon suami barunya." Jerry merevisi perkataannya.
Jaka tertawa mendengar pernyataan pria asing dihadapannya, dia sangat mengenal betul istrinya, tidak mungkin mudah jatuh cinta kepada orang baru.
Jaka saja mengambil hati Gladis dengan bersusah payah, dia melakukan segala macam hal agar gadis yang menjadi bahan taruhan itu bisa menerima dirinya.
"Butuh waktu lama, untuk masuk ke dalam hatinya, aku bahkan bersusah payah untuk mendapatkan izinnya dan untuk dicintai olehnya."
Pengakuan Jaka membuat geram Mely, dia tidak menyangka Jaka seperti orang tidak rela melihat wanita yang menjadi istrinya selama ini dimiliki oleh orang lain.
__ADS_1
"Ooh, jadi kamu tidak terima dia menikah lagi?" celetuk Mely.
"Bukan itu maksudku, aku hanya mengenal sifatnya yang tidak mudah mengubah hatinya dengan cepat."
"Tidak, kamu tidak rela." Kemarahan mulai terlihat di wajah Mely.
"Maaf, jika kalian ingin bertengkar, pergi dari sini, aku tidak mau kalian menganggu pertemuanku dengan calon istriku." Jerry meraih tangan Gladis.
Melihat semua itu hati Jaka seakan sakit sekali, mungkin saat ini hatinya sedang merutuki Jerry, pria yang akan menggantikan posisinya.
"Dengar, meskipun kalian menikah, anak itu tetaplah anakku." Jaka menunjuk kearah Gladis dan Jerry bergantian.
Jaka tetap tidak terima. "Darah tidak bisa dihapus dari tubuhnya, seberapa kuatpun kamu menyangkalnya, dia tetap darah dagingku." Jaka pergi meninggalkan rumah Gladis.
Mely yang melihat kekasihnya pergi, langsung menyusul Jaka.
Gladis melepaskan pegangan tangan Jerry, dia lelah dengan sikap Jerry yang selalu gegabah.
__ADS_1
"Kenapa kamu mengaku sebagai calon suamiku? Kita tidak punya hubungan sepesial itu." Gladis masuk ke dalam rumahnya.
"Aku ingin menikahinya, menjadikan Shine putriku." Jerry ikut masuk.
"Tidak, aku tidak ingin menikah lagi, aku hanya ingin bahagia berdua dengan putriku." Gladis menolak dengan kuat.
"Apa kamu tidak tahu? Membesarkan anak butuh dua sosok, yaitu ayah dan ibunya, aku akan menjadi ayahnya, melengkapi kebahagiannya." Pinta Jerry.
Gladis menatap tajam Jerry. "Aku bisa bilang kalau ayahnya meninggal karena kecelakaan, dia tidak akan banyak bertanya jika sudah besar nanti, kehidupannya juga pasti akan bahagia, karena aku akan membahagiakan putriku." Begitu keras pendirian ibu satu anak ini.
Begitulah seharusnya wanita, memiliki keteguhan, kekuatan dan keberanian melawan siapapun yang bersikap tidak adil kepada dirinya.
Wanita yang sudah menjadi seorang itu tidak boleh lemah, harus bisa menyingkirkan rasa takutnya dan harus bisa berdiri di kaki sendiri.
Jerry terus memaksa untuk menikahi Gladis, ternyata benar saja apa yang dikatakan oleh pria yang diketahui sebagai suami Gladis.
"Jadi apa yang dikatakan pria itu benar? Kamu sulit melupakan pria itu? Apa kamu masih mencintai dia?" Jerry memberondong begitu banyak pertanyaan untuk Gladis.
__ADS_1
Gladis hanya bisa terdiam membisu, dia telah dikhianati pria itu bahkan pria itu membawa kabur tabungan pribadi miliknya, sudah pasti dia tidak mungkin masih menyisakan rasa.
Tapi apa jawaban yang akan diberikan Gladis kepada Jerry?