Sang Penari ( Kisah Seorang Singel Parents, Yang Menjadi Penari Malam )

Sang Penari ( Kisah Seorang Singel Parents, Yang Menjadi Penari Malam )
SP 71


__ADS_3

~ Ku temukan kamu ~


Gladis bersembunyi di sebuah masjid yang sudah lama terbengkalai. Shine diberinya asi. Shine yang sudah kehausan langsung meminum asi dengan sangat lahap. Gladis yang melihatnya begitu sedih. dia tidak pernah melihat putrinya tersiksa seperti ini. Dia tidak pernah mendapati putrinya yang kehausan seperti saat ini.


"Maafkan mama sayang. mama tidak menyangka kita akan kembali mengalami masa sulit seperti ini. saat dulu di culik dengan Daddy Jerry. kamu bukan mengalami penderitaan, tapi kita diberikan fasilitas yang mewah. kali ini adalah hal terburuk yang pernah mama hadapi bersamamu." Gladis menangis hingga sesenggukan.


Shine yang sudah kenyang dan langsung terlelap dalam gendongannya. Gladis melihat sekitar dia harus memastikan keadaan sudah aman. Dia tidak mau tertangkap dan shine mengalami hal buruk lagi.


"Sepertinya sudah aman." gumamnya sendirian. Dia bersiap berdiri dari duduknya. lalu dia tak sengaja mendengar suara langkah kaki.


Gladis mengurungkan diri untuk keluar dari persembunyiannya. Gladis memeluk Shine dengan sangat erat.


"Gladis .... Shine ... kalian di mana? ini Daddy." Teriak Jerry sambil terus mencari.


Gladis mendengar suara Jerry dengan jelas dia langsung berdiri dan keluar dari tempatnya bersembunyi. Dia melihat Jerry yang sedang mencarinya. Jerry juga melihat Gladis yang sedang menggendong Shine berdiri di dekat pintu pagar masjid.


"Gladis." teriaknya memanggil nama wanita yang begitu dia cintai.

__ADS_1


DOR!


Suara tembakan terdengar dan mengenai bahu Jerry. Gladis terhenyak dia tidak menyangka kalau orang-orang yang menculiknya memiliki senjata api.


"Jerry!" teriak Gladis histeris dan menangis melihat Jerry terjatuh ke tanah.


"Pak Jerry! Kalian ringkus mereka!" Teriak satria saat melihat Jerry terkapar di tanah.


Satria langsung menghampiri Jerry dan menolongnya segera. Gladis juga menghampiri Jerry karena orang-orang yang menculiknya berhasil di ringkus oleh anak buah Jerry dan satria.


Bimo mengkondisikan orang-orang yang menculik calon nyonya bosnya. Mereka memborgol kedua tangan dan menjaga agar tidak kabur.


"Jangan menangis, aku baik-baik saja." Jerry bicara dengan suara yang sudah lemas. Jerry tersenyum sebelum dia akhirnya pingsan.


"Bawa nyonya dan shine ke mobil. Saya akan membawa bos ke rumah sakit." perintah Satria kepada Bimo dan anak buah mereka lainnya.


"saya ikut." Cegah Gladis

__ADS_1


"Maaf, anda sebaiknya pulang dengan anak buah Bimo. saya akan membawa pak Jerry." Satria melarang Gladis untuk ikut.


"Saya mau ikut! kalau kalian tidak mengizinkan. saya tidak akan ikut bersama kalian!" ancam Gladis.


Satria menjadi bingung. tapi dia juga tidak bisa terlalu lama. dia harus segera menyelamatkan bosnya. Satria akhirnya mengizinkan dan meminta Bimo mengantar calon nyonya bos mereka ke rumah sakit terdekat.


Mereka memapah Jerry dan memasukkannya ke dalam mobil. sedangkan Gladis dan shine berada di dalam mobil yang berbeda.


Mobil segera berjalan sedangkan anak buah mereka yang lainnya membawa anak buah hazel menuju ke kantor polisi terdekat. Mereka akan melaporkan tentang penculikan ini.


"Tolong lepaskan kami. kami hanya di suruh saja." salah seorang penculik itu memohon.


"Kalian jelaskan nanti saat tiba di kantor polisi. Kalian sudah melakukan kejahatan, jadi kalian harus mempertanggung jawabkan perbuatan kalian ini."


Tidak ada ampun bagi siapapun yang telah melakukan tindakan kejahatan. apalagi mereka melakukan tindakan kejahatan itu kepada dua orang yang sangat berharga dalam hidup Jerry.


Gladis di dalam mobil sangat gelisah dia memikirkan keselamatan Jerry yang tertembak timah panas. dia juga melihat begitu banyak sekali darah yang keluar dari bahu kanan Jerry.

__ADS_1


"Ayo jalan yang cepat. saya mau tau kondisi Jerry." Gladis terus menangis.


"Sabar calon nyonya bos. kami akan membawa anda segera." Jawab Bimo.


__ADS_2